Saat ia pikir hidupnya berakhir, seorang pria tiba-tiba mendapatkan sistem. Namun, bukannya menjadi kaya, ia justru terbangun di masa lalu... di dalam tubuh ayahnya saat masih muda.
Kini, dengan sistem di tangannya dan mengetahui masa depan, ia harus mengubah takdir keluarganya.
Mampukah ia menyelamatkan keluarganya... tanpa menghapus keberadaannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Beberapa hari kemudian, di siang hari yang terik, Raka seperti biasa lagi asyik memantau pergerakan pasar saham di PC rakitannya.
Matanya tiba-tiba tertuju pada sebuah nama asing di layar. "Saham apaan nih? Eh, bentar! Bukannya ini klub e-sport yang di masa depan bakal sukses besar dan punya valuasi triliunan ya? Ternyata di tahun 2015 ini gua bahkan bisa beli saham mereka dengan harga murah banget. Menarik nih."
Karena sisa uang di tabungan Raka masih ada sekitar 30 jutaan, dia memutuskan untuk langsung membeli saham klub tersebut, meskipun baru bisa mencicil beberapa persen saja.
"Gua cicil dulu deh, wkwk. Tapi kalau nanti ada modal lebih, seru juga sih kalau bisa bikin tim e-sport sendiri. Gua juga pengen ngerasain jadi pro-player, ya walaupun skill game gua agak ampas," gumam Raka sambil terkekeh sendiri.
Tidak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Nadia melangkah masuk sambil membawakan nampan berisi minuman dan camilan.
"Lagi ngeliatin apa sih, Mas? Dari kemarin kok mantengin layar itu terus? Nggak bosen apa duduk seharian di sana?"
"Oh, ini. Ya ini kan bagian dari kerjaan baruku juga, Nad," sahut Raka santai.
Nadia menaruh nampan di meja lalu ikut melirik layar monitor. "Iya, kah? Aku jujur kurang paham sama teknologi kayak gini. Apa aku harus mulai belajar juga ya, Mas?"
Raka langsung mengangguk setuju. "Ya harus dong, biar nggak ketinggalan zaman. Selagi ada kesempatan dan ada PC-nya, kenapa enggak?"
Tiba-tiba, Reno kecil masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai. "Ibu... Reno jatuh," adunya dengan suara pelan.
Nadia dan Raka serentak menoleh, dan sedetik kemudian mata mereka langsung melotot kaget.
Seluruh muka, baju, dan badan Reno sudah penuh dengan lumpur hitam pekat yang baunya luar biasa menyengat.
"Astaga, Reno!" pekik Nadia panik. "Kamu jatuh di mana sih? Terus kenapa malah langsung nyelonong masuk rumah, Nak? Kan lantainya jadi kotor semua!"
Raka ikut menengok ke arah ruang tengah yang sekarang sudah penuh dengan jejak kaki lumpur hitam milik Reno.
Reno dengan muka tanpa dosa menjawab, "Tadi Reno lagi ngejar monster, Yah. Reno jadi pahlawannya, terus kepeleset masuk ke selokan depan."
Melihat kondisi anaknya, Nadia langsung pening membayangkan pekerjaan rumahnya yang bakal menumpuk untuk membersihkan lantai.
Sementara itu, Raka malah spontan tertawa ngakak. "Hahaha! Emangnya dulu gua se-ajaib ini ya waktu kecil?"
Nadia dan Reno langsung melongo kompak. Mereka berdua bingung dengan maksud ucapan Raka.
Sadar dirinya salah bicara lagi, Raka langsung berdehem kikuk untuk menutupi kesalahannya. "Eh? Maksudnya... seharusnya tadi Reno bales monsternya pakai kekuatan bau selokan itu! Biar monsternya pingsan, wkwk."
Dengan gerakan salah tingkah, Raka langsung berjalan cepat keluar rumah sambil bersiul. "Wah, langitnya cerah banget ya hari ini."
DUAAARRR!
Baru juga sedetik Raka ngomong begitu, suara petir langsung menyambar menggelegar di langit.
Awan hitam mendadak pekat, menandakan hujan deras bakal segera turun.
Walhasil, Raka terpaksa masuk lagi ke rumah dan bergotong royong bersama Nadia untuk mengepel seluruh lantai yang kotor gara-gara Reno sebelum air hujan turun.
Setelah rumah kembali bersih dan Reno sudah dimandikan ulang, hujan lebat akhirnya mengguyur daerah mereka.
Sambil menunggu hujan reda, Raka iseng mengajak Nadia bermain game bareng di PC-nya.
Walaupun Nadia sama sekali tidak paham cara mainnya dan cuma asal pencet tombol keyboard, suasana rumah sore itu terasa sangat seru dan penuh tawa.
Namun, kehangatan itu mendadak terganggu ketika terdengar suara ketukan pintu yang cukup keras dari arah depan di tengah suara gemericik hujan.
Begitu Raka membuka pintu, ternyata Riko sudah berdiri di sana dengan baju yang agak basah akibat cipratan air hujan. Pria kaya itu berniat menemui Nadia lagi.
Tapi di luar dugaan Riko, kali ini Nadia langsung melangkah maju mendampingi Raka di ambang pintu. Raut wajah Nadia kelihatan jauh lebih tegas dan dingin dari biasanya.
Tanpa ragu, Nadia langsung angkat bicara sebelum Riko sempat bersuara. "Mas Riko, aku mohon dengan sangat, tolong jangan pernah dateng ke rumah ini lagi dan jangan pernah ganggu hubungan rumah tanggaku sama Mas Raka! Hubungan kita udah lama selesai!"
Riko jelas syok dan tidak terima diperlukan seperti ini. Wajahnya langsung memerah padam menahan malu dan amarah.
Dia menepis air hujan di bajunya, lalu menunjuk-nunjuk ke arah Raka dengan pandangan penuh kebencian.
"Kamu tiba-tiba berubah jadi keras kepala kayak gini pasti gara-gara dihasut sama si miskin ini, kan, Nadia?!" bentak Riko penuh emosi, langsung melemparkan semua kesalahan kepada Raka.