NovelToon NovelToon
Aku Tak Sanggup Lagi

Aku Tak Sanggup Lagi

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / CEO / Tamat
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan rumah tangga Anjani dan Malik yang harus kandas dengan hadirnya sosok Dara, wanita yang merupakan sahabat baik Anjani yang menjadi pelakor dalam rumah tangganya. Hinaan kasar dari mertuanya juga membuat Anjani menyerah dan memutuskan untuk berpisah hingga takdir mempertemukannya dengan bule tampan asal Inggris Oliver Jones yang mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Amankan Dia Sekarang

Suara benturan logam yang sangat keras menghantam sisi kepala Dara telak. Hantaman itu begitu kuat hingga membuat tubuh kurus Dara langsung terpelanting hebat ke samping.

Jarum suntik di tangannya terlepas, melayang di udara sebelum jatuh berdenting ke lantai keramik rumah sakit. Dara tidak sempat mengeluarkan teriakan; tubuhnya langsung ambruk tersungkur ke lantai dengan posisi tengkurap, darah segar mengalir deras dari pelipisnya yang robek akibat hantaman besi tersebut.

​"Amankan dia! Sekarang!" perintah Oliver dengan suara menggelegar yang memecah kesunyian ruangan, napasnya memburu hebat seiring adrenalin yang masih mengalir deras di pembuluh darahnya.

Dalam hitungan detik, Julian bersama tiga orang pengawal pribadi Oliver langsung melompat maju. Mereka membeksekusi gerakan dengan sangat terlatih, menindih tubuh Dara yang berbaring di lantai dan memborgol kedua tangan wanita itu secara paksa ke belakang punggungnya.

​Meskipun kepalanya berdarah dan tubuhnya baru saja dihantam benda keras, Dara Mitha Dahayu tidak langsung pingsan. Jiwa psikopat yang merasuki raganya justru membuatnya meronta-ronta dengan liar bagaikan seekor binatang buas yang terjebak dalam perangkap maut. Ia meliuk-liukkan tubuhnya, menendang-nendang ke segala arah, menolak untuk menyerah pada kekalahan yang memalukan ini.

"Lepaskan aku! Lepaskan aku, keparat!" teriak Dara melengking histeris, suaranya parau dan menggema di seluruh koridor rumah sakit. Wajahnya yang kotor oleh jelaga kini semakin mengerikan dengan darah yang mengalir menutupi separuh pipinya.

​Julian dan para pengawal harus mengerahkan seluruh tenaga mereka untuk menahan berontakan liar dari wanita gila tersebut agar tidak melukai diri sendiri atau merusak fasilitas ruangan.

Di tengah kekacauan itu, Dara mendongakkan kepalanya dengan susah payah. Matanya yang merah menatap tajam ke arah Oliver, lalu beralih menatap Anjani yang terbaring lemah di atas ranjang dengan tatapan penuh kebencian yang teramat sangat. Bola matanya melotot lebar secara teatrikal, urat-urat lehernya menonjol keluar, memperlihatkan ekspresi wajah seorang iblis yang menolak tunduk pada takdir.

​"Kalian pikir kalian sudah menang?!" tawa Dara pecah di tengah rontakannya, sebuah tawa histeris yang membuat siapa pun yang mendengarnya merasa merinding hingga ke tulang sumsum. "Lepaskan aku, bodoh! Kalian tidak bisa membunuhku semudah itu!"

****

Oliver melangkah mendekati Dara yang sedang ditindih oleh para pengawalnya. Pria itu berjongkok sedikit, mensejajarkan wajahnya dengan wanita yang telah menghancurkan separuh hidup mereka. Tatapan mata biru Oliver sangat dingin, setajam es di kutub utara. Tidak ada rasa kasihan, tidak ada ampun; yang ada hanyalah ketegasan mutlak seorang algojo yang siap mencabut nyawa musuhnya.

​"Kau sudah habis, Dara," bisik Oliver dengan suara rendah yang begitu mengerikan, sarat akan ancaman kematian yang nyata. "Kali ini, tidak akan ada rumah sakit jiwa, tidak akan ada pengacara, dan tidak akan ada lagi kesempatan kedua untukmu. Kau akan membusuk di tempat paling gelap di muka bumi ini."

Mendengar ucapan itu, Dara justru semakin menggila. Ia menyeringai lebar, menampilkan deretan giginya yang sedikit bernoda darah, lalu menatap tepat ke dalam manik mata Oliver dengan sorot mata yang menyala-nyala penuh dendam membara.

​"Dengar baik-baik ucapanku, Oliver Jones!" teriak Dara dengan suara melengking penuh tekanan di setiap kata-katanya, seolah-olah ia sedang merapalkan sebuah kutukan kuno. "Aku tidak akan pernah berhenti! Aku akan kembali! Meskipun kalian mengurungku di dasar bumi, meskipun aku harus merangkak keluar dari neraka... aku bersumpah, aku akan kembali untuk merenggut nyawa wanita ini di depan mata kepala kalian sendiri! Belum selesai! PERMAINAN INI BELUM SELESAI!"

Teriakan sumpah serapah itu terus bergema bahkan ketika Julian dan para pengawal akhirnya mengangkat tubuh Dara yang terus meronta liar dan menyeretnya keluar dari kamar rawat inap tersebut secara paksa. Suara sepatu yang bergesekan dengan lantai dan makian kasar Dara perlahan-lahan menjauh menyusuri koridor rumah sakit, meninggalkan keheningan yang tegang dan mencekam di dalam ruangan.

​Setelah pintu kamar rawat tertutup kembali rapat-rapat, Oliver segera bangkit berdiri. Ia membuang tiang infus yang masih ia pegang ke sudut ruangan, lalu melangkah cepat menghampiri ranjang Anjani.

​Wajah Oliver berubah drastis dari seorang predator yang kejam menjadi seorang suami yang diliputi rasa cemas yang mendalam. Ia langsung meraih tangan Anjani yang terasa dingin, mencium punggung tangan wanita itu berulang kali dengan lembut, seolah ingin memastikan bahwa istrinya benar-benar masih bernapas dan aman di sisinya.

​"Jani... Jani, kau mendengarku?" suara Oliver bergetar hebat, kekhawatiran terpancar jelas di wajah tampannya. "Semuanya sudah berakhir... Wanita itu sudah dibawa pergi. Kau aman sekarang. Aku di sini."

Anjani, yang menyaksikan seluruh drama mengerikan itu dari atas tempat tidur, perlahan-lahan mengedipkan kelopak matanya. Air mata hangat menetes membasahi pipinya—bukan lagi karena rasa takut, melainkan karena kelegaan yang luar biasa sekaligus sisa-sisa ketegangan yang masih mencengkeram jantungnya. Ia mengangkat sedikit tangannya yang lemas, membalas genggaman tangan hangat suaminya.

​"Oliver..." bisik Anjani sangat pelan, suaranya hampir hilang tertelan oleh desau alat bantu napas. "Terima kasih..."

Oliver segera merengkuh tubuh Anjani dengan sangat hati-hati, membenamkan kepala istrinya ke dalam dekapannya, menghindari selang infus dan luka-luka di tubuh wanita itu. Ia memeluk Anjani erat-erat, menyalurkan seluruh kehangatan dan kekuatan yang ia miliki untuk menenangkan jiwa istrinya yang baru saja melewati gerbang maut.

​Namun, meskipun Dara Mitha Dahayu telah diseret keluar dengan borgol di tangan dan darah di kepalanya, gema sumpah serapah wanita gila itu masih terasa menggantung di udara. Ancaman itu nyata, tertanam dalam setiap detik ketakutan yang ditinggalkannya.

Di luar gedung rumah sakit, langit Jakarta mulai mendung, seolah-olah bersiap menurunkan hujan deras untuk meredam bara kemarahan yang baru saja membakar kota. Oliver menatap tajam ke arah jendela kamar rawat, bersumpah di dalam hatinya bahwa ia tidak akan pernah lagi membiarkan celah sekecil apa pun bagi Dara untuk kembali menginjakkan kaki di dekat wanita yang sangat dicintainya.

****

Cahaya matahari pagi menyusup lembut melalui jendela kaca kamar rawat inap V.I.P di Rumah Sakit Medika Sentra, memberikan kehangatan yang kontras dengan ketegangan yang sempat melanda tempat itu sehari sebelumnya. Anjani Direja duduk bersandar pada bantal empuk dengan infus yang masih menempel di punggung tangan kanannya. Warna kulitnya mulai berangsur pulih, dan meskipun sisa-sisa kelelahan serta goresan luka masih tampak jelas di tubuhnya, napasnya kini jauh lebih teratur.

Oliver duduk di kursi sebelah ranjang, mengupas sebuah apel dengan telaten. Suasana terasa begitu tenang—sebuah kedamaian yang sangat langka dan mahal bagi mereka berdua setelah rentetan teror mengerikan yang dilakukan oleh Dara.

​Namun, kedamaian itu tidak pernah diizinkan bertahan lama dalam hidup Anjani.

​Tiba-tiba, suara ketukan pintu yang digubris dengan dorongan kasar memecah keheningan pagi. Pintu kayu jati berukuran besar itu terbuka lebar dengan bantingan keras.

​Brak!

Seorang wanita melangkah masuk dengan penuh amarah. Rambut pirangnya tersibak liar, trench coat desainer miliknya tampak kusut, dan wajah cantiknya dipelototi dengan ekspresi permusuhan yang luar biasa. Itu adalah Adele Smith. Wanita dari kalangan aristokrat Inggris itu tampaknya belum cukup jera setelah menerima pukulan telak di rahangnya beberapa malam lalu. Ia datang dengan membawa sisa-sisa keangkuhan yang kini berubah menjadi histeria murni.

​"Oliver!" teriak Adele dengan suara melengking tajam, langsung menerobos masuk tanpa memedulikan keberadaan perawat yang sempat berdiri di dekat pintu.

1
Arieee
bagus👍👍👍👍👍👍👍
Serena Muna: terima kasih kak
total 1 replies
Adi Sudiro
cerita dibikin dramatis tapi penuh cela dan kebodohan
di rumah sakit kenapa tidak di bius atau di suntik mati misalkan...... tapi cerita ya tetap cerita....
Serena Muna: EMANG DIBIKIN DRAMATIS NAMANYA JUGA CERITA!
total 1 replies
Siti M Akil
g mati² ky tom Jery 🤣🤣
Heriyani Lawi
ceritanya ky film India, meskipun ditangkap bbrp kali msh aja lolos. klo aku mungkin dah kutembak mati aja tuh si dara, ngapain diserahkn ke polisi klo ujung2nya lepas lg
Heriyani Lawi
ceritanya agak aneh menurutku thor. sdh tau dara melarikan diri dan bersifat licik, knp ayahnya Anjani tidak dikawal dan dibiarkan sendiri
Dew666
👍
Iffanaya 😽
dara tu gk bisa dimasukin penjara lg, orang mcm dara lbih baik dimusnahkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!