NovelToon NovelToon
Ternyata Bukan Aku Yang Mandul

Ternyata Bukan Aku Yang Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Menikah dengan Kerabat Mantan / Identitas Tersembunyi
Popularitas:23k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

Selama tiga tahun menjadi istri Arga Pratama, Rania selalu merasa tertekan karena dianggap gagal memberikan keturunan.
Arga mencintainya, tapi tak sanggup menahan tekanan ibunya yang mengancam akan mengakhiri hidup jika Arga tidak mau menikah lagi dan bercerai dengan Rania.

Akhirnya, Rania meninggalkan rumah tangganya dengan hati yang hancur.

Di sisi lain, Alvino Pratama, saudara sepupu Arga yang jauh lebih kaya dan berkuasa, ternyata sudah lama menyimpan perasaan pada Rania.

Rania pun menerima lamaran dari Alvino karena orang tua Alvino mengatakan Alvino juga tidak bisa memiliki keturunan. Rania berharap setidaknya ia bisa mendapatkan ketenangan karena tak lagi dikejar masalah anak.

Namun baru tiga bulan menikah, Rania dinyatakan hamil. Rania bahagia, tapi juga cemas. Bagaimana kalau kehamilannya dicurigai? Karena itu Rania menyembunyikan kehamilannya. Namun, tanpa sengaja Alvino mengetahui kehamilan Rania.

Lalu, apakah Alvino bisa menerima kehamilan Rania?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

04

.

Malam terasa begitu panjang bagi Rania. Sejak melangkah keluar dari rumah mertuanya, ia tidak tahu harus melangkahkan kaki ke mana. Kakinya bergerak begitu saja, menyusuri trotoar yang makin lama makin sepi oleh lalu lintas dan orang-orang yang pulang ke rumah masing-masing.

Lampu-lampu kota menyala terang memancarkan cahaya kuning keemasan, kendaraan berlalu-lalang dengan riuh, dan setiap orang tampak sibuk dengan urusan hidupnya sendiri. Namun bagi Rania, semua warna seolah telah memudar menjadi kelabu.

Ponsel yang ada dalam tas tangannya terus berdering. Rania tahu itu dari Arga. Terkadang panggilan masuk, terkadang notif pesan. Namun, Rania sama sekali tidak ingin mengangkat atau membacanya. Sudah tidak ada lagi yang perlu mereka bicarakan.

Air mata kembali mengalir perlahan di pipinya yang terasa dingin. Tanpa sadar, pikirannya melayang entah ke mana, membuatnya melangkah menyeberang jalan tanpa memperhatikan keadaan lalu lintas di sekelilingnya.

Hingga tiba-tiba...

TIIIINNNN!!!

Suara klakson mobil yang keras dan panjang memecah kesunyian malam. Rania tersentak kaget, baru sadar ketika sebuah kendaraan melaju cepat dan nyaris saja menabrak tubuhnya. Sopir itu segera menurunkan kaca jendela dan terlihat marah.

"Woe! Kalau mau bunuh diri, jangan di depan mobil saya dong!" bentaknya.

Rania tertegun, Ia refleks mundur tergesa beberapa langkah sambil menarik napas yang terasa terputus-putus sambil mengusap dadanya. Pikirannya benar-benar kosong. Seandainya sopir itu terlambat menginjak rem sedikit saja... mungkin semuanya sudah berakhir malam ini.

Rania jatuh terduduk di tepi jalan lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangisannya pun pecah bukan karena ketakutan nyaris tertabrak, melainkan karena merasakan ia tidak memiliki siapapun lagi di dunia.

Menjelang tengah malam, Rania akhirnya sampai di rumah orang tuanya. Meski hubungan mereka tidak pernah terlalu dekat dan hangat, tapi mereka satu-satunya keluarga yang bisa dituju.

Rumah sederhana itu masih tampak terang ketika ia tiba. Lampu ruang tamu menyala, suara televisi masih terdengar samar, dan ayah serta ibunya duduk bersantai di atas sofa. Keduanya langsung menoleh dengan wajah terkejut begitu melihat Rania berdiri di ambang pintu sendirian.

"Rania? Kok kamu datang malam-malam gini?" tanya ibunya dengan nada bingung.

Rania mencoba tersenyum, namun senyum itu langsung runtuh seketika. Air matanya kembali jatuh membasahi pipi.

"Aku..." suaranya bergetar menahan isak tangis. "Aku ingin menginap malam ini, Bu."

Kedua orang tuanya saling berpandangan sesaat, dan tatapan itu saja sudah cukup membuat hati Rania terasa tidak nyaman.

"Ada apa sebenarnya?" tanya ayahnya dengan nada datar.

Rania menunduk dalam, suaranya nyaris tidak terdengar. "Aku..."

Belum sempat ia melanjutkan kalimatnya, raut wajah ibunya sudah berubah menjadi tegang.

"Jangan bilang kamu membuat ibu mertuamu marah lagi?" potong ibunya cepat.

Rania menggigit bibir bawahnya agar tidak menangis lebih keras. "Bu... Aku dan Arga sudah bercerai."

"Apa?!" pekik ibu dan ayahnya bersamaan.

Suasana di ruangan itu langsung menjadi sunyi senyap. Beberapa detik terasa berjalan begitu lambat. Rania menunggu, berharap mendengar kata-kata penghiburan, pelukan, atau setidaknya ucapan yang menyatakan bahwa ia tidak sendirian dan semuanya akan baik-baik saja. Namun kenyataan yang datang justru jauh berbeda dari dugaannya.

Ibunya menghela napas panjang, dan menatapnya dengan wajah kesal

"Kamu benar-benar anak tidak berguna," ucapnya terdengar ketus.

Dada Rania terasa seperti dihantam benda berat. "Ibu? Kenapa Ibu bicara begitu?"

"Cuma hamil saja tidak bisa, dan sekarang malah dicerai. Benar-benar sia-sia kami membesarkanmu!"

Tenggorokan Rania terasa tercekat, seolah ada benang yang mengikatnya rapat-rapat. "Jadi... Ibu juga menyalahkanku?"

"Lalu mau menyalahkan siapa?" tanya ibunya sambil menatapnya tajam. "Kenyataannya kamu memang tidak bisa hamil. Padahal kalau kamu punya anak, anak itu nanti bisa menjadi pewaris keluarga Pratama."

Rania merasa bagai ditampar dengan keras. Tubuhnya membeku, air matanya yang baru beberapa saat lalu mengering kini kembali mengalir bahkan semakin deras. Rasanya sakit bukan main.

"Menurut Ibu ini salahku?" bisiknya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.

"Kamu memang salah," jawab ibunya tanpa merasa bersalah sedikit pun.

Rania tertawa kecil, namun tawanya terdengar lebih menyedihkan daripada tangisan. "Aku juga ingin punya anak, Bu. Tapi kenapa semua kesalahan selalu dibebankan padaku? Aku juga sudah berusaha. Melakukan apapun saran orang minum segala obat dan vitamin, ikut segala macam terapi. Kalau Tuhan belum memberikan aku bisa apa?"

Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut ibunya. Dan itu membuat Rania merasa lebih sakit. Bahkan orang yang melahirkannya pun menyalahkan ketidakmampuannya memberikan keturunan.

Ayahnya yang sejak tadi hanya diam akhirnya membuka suara, namun ucapannya justru membuat hati Rania makin hancur.

"Sudahlah, yang sudah terjadi biarlah berlalu. Besok coba bicara baik-baik dengan Arga."

Rania menatap ayahnya dengan secercah harapan yang masih tersisa. "Maksud Ayah?"

"Kalau dia memang mertuamu menyuruh Arga menikah lagi, lebih baik kamu mengalah saja. Yang penting kamu sama Arga harus rujuk lagi. Supaya kita tidak kehilangan semuanya."

Dunia seolah berhenti berputar mendengar ucapan itu. Rania tidak percaya apa yang baru saja didengarnya. "Ayah berpikir seperti itu?"

"Ya, lebih baik menjadi istri pertama daripada kita semua tidak dapat apa-apa sama sekali nantinya."

Rania memandang bergantian ke arah ayah dan ibunya, perlahan mulai memahami kenyataan pahit ini. Mereka sama sekali tidak memikirkan perasaan atau kebahagiaannya. Mereka hanya takut kehilangan menantu yang kaya dan berpengaruh, kehilangan status sosial, dan kebanggaan yang selama ini mereka rasakan. Mereka rela mengorbankan perasaan putri mereka sendiri.

Tangan Rania mengepal erat hingga kuku menekan telapak tangan, dan seluruh tubuhnya terasa gemetar hebat.

"Jadi Ayah ingin aku berbagi suami dengan wanita lain? Ayah rela aku selalu dihina oleh mertuaku?" tanyanya dengan suara yang bergetar menahan amarah dan kesedihan.

"Apa salahnya?" pertanyaan itu jauh lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun.

Rania tersenyum pahit, matanya sudah terasa kering. Kini ia benar-benar merasa sendirian. Tidak ada satu pun yang benar-benar berdiri untuknya. Tidak Arga, keluarga mertua, dan bahkan keluarganya sendiri.

"Aku pergi," ucapnya singkat lalu berdiri tegak.

"Rania! Sudah malam begini, menginap saja dulu di sini," seru ibunya berusaha menahan.

Rania hanya menggeleng pelan, senyum tipis terukir di bibirnya namun tidak sampai menyentuh matanya. "Tidak perlu."

"Lalu kamu mau pergi ke mana?" tanya ayahnya dengan nada cemas yang terasa terlambat.

Pertanyaan itu membuat langkah kakinya terhenti sejenak. Ia mau ke mana? Tidak mungkin pulang ke rumah Arga. Rumah orang tuanya pun kini terasa asing. Lalu ke mana ia akan pulang?

Untuk pertama kalinya seumur hidupnya, Rania sadar bahwa ia tidak lagi memiliki tempat untuk kembali. Ia menahan air mata yang hampir tumpah lagi, lalu menjawab dengan suara yang tenang namun penuh keteguhan.

"Aku akan mencari tempatku sendiri."

Setelah itu, ia melangkah keluar, meninggalkan rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman dan nyaman baginya.

1
Oma Gavin
ternyata ada dendam lama cinta ngga berbalas kok sekarang pengen mempermalukan rania di pesta ngga ngaca ratih
Ilfa Yarni
oooh ternyata Ratih ini udah lama dendam sama bu soraya toh kakaknya knpau aja sam Ratih sundal itu bodoh banget jadi laki2
Patrick Khan
ow begitu masa lalu nya ratih wes jahat ket biyen🤣🤣
dewi rofiqoh
Semoga kedepannya kehidupan rania menjadi lebih baik
Muft Smoker
akhirny mereka bersatu jugaa ,, tinggal menunggu kebenaran terungkap saja sypa yg mandul ,, 😒😒😒😒



mak semangat truus menulis ny ,, sehat2 trus mamak ku ,, 🫰🫰🫰🫰
Patrick Khan
legaaaa udah sahhhh😍
Ummee
setau q ijab qobul cuma ada di islam, mohon koreksi kalo salah🙏
Ummee: baik kak, terimakasih kembali🤗
total 2 replies
vania larasati
lanjut
sunaryati jarum
Ikut lega Rania dan Alvino sah suami istri
Felycia Fernandez
kk Thor,tolong lebih di perhatikan..
nonis tidak ada pakai ijab kabul ya.kita adanya pemberkatan di gereja.
tidak harus ada orang tua yang jadi wali jabat tangan dengan mempelai pria...
pemberkatan di lakukan oleh pendeta atau pastor,diantara dua pengantin.
mohon di perhatikan lagi kk Thor
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: sepertinya ada kesalahan penulisan. akan saya koreksi. terima kasih udah diingatkan
total 2 replies
sunaryati jarum
Pak Aksara pasti cari wali hakim😭Rania dan Alvino tetep menikah
sunaryati jarum
Tidak diberi uang banyak
Nar Sih
ada akad nikah ada peberkatan nikah jdi bingung kak ,atau mingkin lgi slh tulis ,tpi ttep semagat kak💪
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: sudah aku revisi. makasih udah diigetin
total 1 replies
Noor hidayati
apakah nonis pake wali juga,maaf aku ga tahu soalnya,setahuku cuma umat muslim aja yang butuh wali nikah,terus kok sekarang mau ijab kabul,apa agamanya rania ganti lagi🙏🙏
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: ada kesalahan penulisan dan sudah saya koreksi. makasih ya. dan jangan bosan untuk mengingatkan jika ada kesalahan lagi
total 3 replies
Hary Nengsih
agama nya apa si katanya gereja tapi ada akad
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: ada kesalahan tadi dan sudah di revisi. makasih udah diingetin 🙏
total 1 replies
imel
sejak kapan menikah di gereja pake akad nikah? pake wali hakim pula?
setau saya nikah di gereja itu namanya pemberkatan nikah oleh Pendeta.
tolong lebih diperluas referensinya. karena ketika kita membaca maka yang diharapkan ada bertambahnya pengetahuan bukan makin keliru.
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: ada kesalahan penulisan dan sudah saya koreksi. terima kasih sudah diingatkan 🙏
total 2 replies
Aditya hp/ bunda Lia
mau ngapain kamu Arga? ...
Ilfa Yarni
alhamdulillah proses akdnya selesai jg walaupun ada drama sebelumnya tp bersyukur sih klo Rani bukan ank kandung orangtua matre itu jd dia ga bisa meminta harta kpd rania wg ternyata Arga dtgelihat and nikah rania gmn rasanya arga
Yulya Muzwar
ketika nikah sama arga di gereja kecil, lalu nikah sama alvino pake ijab kabul sama penghulu.. 🙄🤔
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: iya, salah nulis tadi. makasih udah diingetin. jangan bosan untuk mengingatkan jika ada kesalahan lagi ya
total 2 replies
Oma Gavin
akhirnya sah rania jadi istri alvino dan sebentar lagi hamil biar arga dan ibunya syok dan tau kalau yg mandul anak kesayangan nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!