Katanya, cinta harus datang sebelum menikah. Tapi bagaimana jika cinta justru lahir setelah akad terucap?
Menjadi seorang PNS membuat Satria Baskara terbiasa menjalani hidup dengan aturan dan tanggung jawab. Di sisi lain, Naira Azzahra, seorang pembuat kue rumahan, percaya bahwa setiap kue memiliki resepnya sendiri.
Namun, ia tak pernah menyangka takdir justru menuliskan resep cintanya melalui sebuah perjodohan.
Tanpa proses pacaran. Tanpa janji manis. Hanya sebuah akad yang menyatukan dua hati yang sebelumnya tak saling mengenal.
Di balik sarapan hangat, bekal makan siang, dan perhatian-perhatian kecil yang awalnya terasa biasa, perlahan tumbuh perasaan yang tak mampu mereka sangkal. Namun ketika cinta akhirnya hadir, ujian demi ujian mulai mengetuk pintu rumah tangga mereka.
Akankah Satria dan Naira berhasil mempertahankan cinta yang tumbuh setelah akad? Atau justru takdir kembali menguji hati mereka, saat keduanya mulai benar-benar saling mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obrolan yang Canggung
Angin siang berembus pelan, menggoyangkan dedaunan tanaman hias yang berjajar rapi di area teras samping rumah.
Begitu kedua keluarga mempersilakan mereka untuk berbicara berdua di sana, suasana di sekitar mereka mendadak menjadi jauh lebih sunyi. Hanya ada suara gesekan daun dan deru samar kendaraan dari kejauhan.
"Silakan," ucap Satria sambil berdiri lebih dulu dekat pintu geser, membukakan jalan untuk Naira dengan sikap sopan.
"Terima kasih," balas Naira dengan anggukan pelan seraya melangkah melewatinya.
Naira mengambil posisi duduk di salah satu kursi rotan yang menghadap langsung ke arah taman kecil. Satria kemudian memilih duduk di kursi seberangnya. Jarak di antara mereka sebenarnya hanya sekitar satu meter, tetapi atmosfer di antara keduanya terasa begitu tebal, seolah dipisahkan oleh dinding tak kasatmata yang sangat tinggi.
Hening.
Tak ada kata yang meluncur. Hanya cicit burung gereja di dahan pohon mangga yang sesekali memecah kesunyian.
Satria berulang kali mencoba membuka pembicaraan. Ia membasahi bibirnya, tetapi setiap untaian kalimat yang mendadak muncul di kepalanya langsung terasa tidak tepat dan kaku. Sementara itu, Naira memilih untuk menunduk, sibuk memainkan ujung kain hijabnya yang berwarna krem untuk menyalurkan rasa gugup yang tak tertahankan.
Lima belas detik berlalu.
Dua puluh detik.
Tetap tidak ada satu pun dari mereka yang bersuara.
"Maaf—" ucap keduanya secara bersamaan.
Kata yang terlontar serempak itu membuat keduanya langsung terdiam seketika. Mata mereka tanpa sengaja saling bertatapan lagi, memancarkan keterkejutan yang sama sebelum akhirnya rileks.
"Silakan Mbak Naira dulu," kata Satria mengalah, mengulurkan tangannya sedikit.
"Tidak... Mas Satria dulu saja tidak apa-apa," sahut Naira, merasa tidak enak.
"Baik," ucap Satria, menarik napas pelan untuk menata suaranya agar tidak terdengar terlalu kaku. "Maaf kalau pertemuan mendadak hari ini membuat Mbak Naira merasa tidak nyaman atau terganggu."
Naira sedikit terkejut mendengar kalimat tersebut. Ia memiringkan kepalanya sedikit, tidak menyangka bahwa kalimat pembuka yang keluar dari mulut pria tegas ini justru sebuah permintaan maaf yang tulus. "Kenapa Mas Satria harus meminta maaf?"
"Karena... saya sendiri juga baru mengetahui rencana perjodohan ini dari orang tua beberapa hari yang lalu," jelas Satria jujur, menatap lurus pada Naira.
Naira spontan menyunggingkan senyum kecil yang manis. "Kalau begitu... berarti kita sama."
"Iya, sepertinya begitu," aku Satria.
Keheningan kembali hadir di antara mereka. Namun, kali ini atmosfernya terasa jauh lebih ringan dan tidak sepekat atau secanggung beberapa menit yang lalu.
"Kalau boleh saya tahu..." panggil Satria lagi, memecah kesunyian.
"Iya?" sahut Naira, menegakkan posisi duduknya.
"Apakah Mbak Naira sebenarnya setuju dengan rencana perjodohan ini?" tanya Satria langsung pada intinya, tanpa embel-embel basa-basi.
Naira tidak langsung menjawab pertanyaan sensitif itu. Ia mengalihkan pandangannya, menatap hamparan rumput hijau di halaman rumahnya selama beberapa saat sebelum kembali menatap Satria. "Sejujurnya... aku belum tahu, Mas."
Satria mendengarkan dengan sabar, lalu mengangguk pelan menerima jawaban tersebut. "Aku juga sama."
Naira langsung mengerjapkan matanya, menatap pria di hadapannya dengan dahi berkerut halus. "Hah?"
"Saya menerima ajakan pertemuan ini murni karena ingin berbakti dan membahagiakan orang tua saya," urai Satria dengan nada bicara yang tetap tenang dan stabil. "Namun, bukan berarti saya ingin memaksakan kehendak atau membuat Mbak Naira terpaksa menerima keputusan ini."
Naira mengembuskan napas panjang, perlahan merasakan beban berat yang sejak semalam menghimpit dadanya mendadak menguap begitu saja. "Terima kasih banyak, Mas."
"Untuk apa?" tanya Satria, sebelah alisnya terangkat heran.
"Karena Mas Satria sudah mau berkata jujur dan tidak menutup-nutupinya," tutur Naira tulus.
Satria tersenyum tipis, jenis senyuman yang sangat langka dan hampir tak pernah ia perlihatkan di kantor kecamatan. "Saya memang tidak pandai berbasa-basi atau merangkai kata."
"Iya, itu sangat kelihatan," goda Naira, mulai berani melempar candaan ringan.
Ucapan Naira yang blak-blakan itu membuat Satria berkedip pelan, sedikit salah tingkah. "Maksudnya?"
"Mas Satria kelihatannya... dingin dan kaku sekali," kekeh Naira pelan.
"Banyak rekan kerja di kantor yang bilang saya mirip robot atau kanebo kering," aku Satria, mengingat kembali lelucon Doni dan Siska kemarin.
"Tapi ternyata setelah mengobrol, Mas bukan orang yang menyeramkan kok," timpal Naira hangat.
Sudut bibir Satria terangkat sedikit lebih tinggi dari sebelumnya. "Semoga penilaian itu bertahan."
Melihat senyum kecil yang tulus di wajah tegas Satria, Naira tanpa sadar ikut tersenyum. Suasana yang tadinya kaku kini perlahan mulai mencair, berganti dengan rasa nyaman yang mengalir santai.
"Kalau boleh tahu, Mbak Naira sehari-hari selalu sibuk di toko kue?" tanya Satria membuka topik baru.
"Iya, Mas. Hampir setiap hari dari pagi sampai sore ada di toko," jawab Naira bersemangat jika sudah membahas pekerjaannya.
"Pasti sangat melelahkan, ya?" gumam Satria membayangkan ritme kerjanya.
"Melelahkan sekali kalau pesanan sedang menumpuk, tetapi rasanya sangat menyenangkan," ujar Naira dengan binar mata hidup.
"Kenapa Mbak Naira memilih bidang membuat kue?" tanya Satria penasaran.
Naira menatap kedua telapak tangannya sendiri yang biasa bergelut dengan adonan. "Dulu Ibu sering sekali membuat kue rumahan saat aku kecil. Dari beliaulah aku belajar mencintai dunia *baking*."
"Lalu keterusan sampai punya toko sendiri?" tebak Satria.
"Iya, begitulah," tawa Naira renyah. "Kalau Mas Satria sendiri bagaimana?"
Satria menjawab tanpa ada keraguan sedikit pun di matanya. "Sejak lulus kuliah, saya langsung mengikuti tes dan fokus bekerja sebagai PNS di kantor kecamatan."
"Tidak pernah terpikir untuk keluar dari zona nyaman dan membuka usaha sendiri?" tanya Naira penasaran.
Satria menggelengkan kepalanya mantap. "Tidak. Saya tipikal orang yang lebih menyukai pekerjaan yang teratur, pasti, dan terjadwal dengan jelas."
"Hmm... kalau begitu, berarti kita berdua ini sangat berbeda ya, Mas," ucap Naira sambil menopang dagunya dengan satu tangan, menatap Satria penuh arti.
"Berbeda dalam hal apa?" tuntut Satria.
"Mas Satria menyukai segala sesuatu yang terstruktur dan terjadwal," urai Naira mendetail. "Sedangkan aku... kadang suka bereksperimen membuat resep kue baru di dapur tanpa tahu hasil akhirnya nanti bakal berhasil atau justru gagal total."
Satria memperhatikan ekspresi wajah Naira selama beberapa detik. Entah mengapa, perumpamaan sederhana tentang dunia kue yang disampaikan perempuan di hadapannya ini terdengar begitu filosofis dan menarik di telinganya. "Lalu, kalau eksperimen kuenya gagal?"
"Ya tinggal dicoba lagi, ganti takaran adonannya," jawab Naira santai.
"Kalau berhasil?" pancing Satria lagi.
"Disyukuri, lalu dijadikan menu baru di toko," sahut Naira diiringi senyum cerahnya.
Jawaban itu membuat Satria mengangguk-angguk paham, meresapi cara pandang Naira yang santai namun tangguh. "Terdengar sangat sederhana."
"Hidup memang aslinya sederhana, Mas. Kita saja yang sering membuatnya rumit," balas Naira bijak.
Keheningan kembali mendatangi teras samping itu. Namun kali ini, sunyi yang tercipta bukan lagi karena rasa canggung yang menjebak, melainkan karena keduanya sedang sama-sama menikmati kedamaian dari obrolan yang perlahan mulai mengalir harmonis.
"Naira!" panggil sebuah suara feminin dari arah dalam rumah, memecah kebersamaan mereka.
"Iya, Bu?" sahut Naira menoleh ke arah pintu geser.
"Maaf ya Ibu mengganggu sebentar," ucap Ibu Naira yang muncul di ambang pintu sambil tersenyum tak enak. "Kalau obrolan ringannya sudah selesai, ayo masuk dulu ke dalam. Ayah dan Pak Hasan mau menyudahi pertemuan siang ini."
"Baik, Bu. Kami segera masuk," jawab Naira patuh.
Naira berdiri lebih dulu dari kursi rotannya, merapikan lipatan gamisnya yang sedikit kusut. Namun, tepat saat kakinya hendak melangkah melewati ambang pintu...
"Mbak Naira," panggil Satria dengan suara baritonnya yang merendah, menahan langkah perempuan itu.
Naira langsung menghentikan gerakannya dan menoleh ke belakang. "Iya, Mas?"
Satria terdiam selama beberapa detik, seolah sedang menyusun kata-kata paling tepat di dalam kepalanya agar tidak salah penyampaian. "Kalau nanti... setelah pulang dari sini, keputusan akhir dari Mbak Naira adalah menolak perjodohan ini... saya ingin Mbak tahu bahwa saya akan sangat menghormati keputusan itu."
Naira tertegun mendengar kalimat penutup dari Satria. Ia tidak memberikan jawaban verbal apa pun. Perempuan itu hanya melemparkan sebuah anggukan pelan penuh arti, sebelum akhirnya melangkah masuk menghilang di balik pintu rumah.
Sementara itu, Satria tetap berdiri mematung di area teras selama beberapa saat, membiarkan tubuhnya diterpa angin sore yang mulai mendingin. Ia datang ke rumah ini tanpa membawa ekspektasi atau harapan apa pun di pundaknya. Namun anehnya, pertemuan singkat yang canggung tadi justru meninggalkan sebuah kesan mendalam yang sulit ia jelaskan dengan logika kaku pribadinya.
Sedangkan di balik dinding ruang tamu, tepat setelah melangkah masuk... Naira tanpa sadar mengangkat tangan kanannya, menyentuh dadanya sendiri yang bergemuruh.
Jantungnya berdegup jauh lebih cepat dan bertalu-talu, bahkan jauh lebih hebat daripada saat pertama kali mata mereka saling beradu pandang di ruang tamu tadi.
Bersambung...