Cerita ini bukan tentang siapa yang tercepat menjadi terkuat, melainkan tentang bagaimana seseorang yang dianggap paling lemah belajar memahami kekuatan yang sesungguhnya: kesabaran, ketahanan, kemampuan menahan badai tanpa tumbang, dan perlahan tumbuh melampaui batas yang dianggap mustahil oleh semua orang. Ia akan bertemu teman yang setia, menghadapi musuh yang meremehkannya, dan akhirnya mengungkap mengapa jalan kuno itu dihapus dari sejarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cldazxx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Ujian Akademi yang Menipu
Pagi harinya, gerbang Akademi Batu Langit sudah dipenuhi ribuan calon murid dari seluruh wilayah sekitar. Mereka mengenakan pakaian rapi, membawa surat rekomendasi dari desa atau keluarga, dan matanya penuh harap. Akademi ini adalah satu-satunya tempat di wilayah yang bisa mengantar seseorang menjadi murid Sekte Akar Batu, kekuatan tertinggi di daerah ini.
Lin Mo berdiri di ujung barisan paling belakang. Pakaiannya yang bertambal membuat banyak orang menoleh dengan tatapan aneh, bahkan meremehkan.
"Dari mana asalnya? Berani sekali datang tanpa surat apa pun?"
"Lihat tangannya kasar seperti buruh tani. Pasti hanya membuang waktu saja."
Lin Mo tidak peduli. Ia hanya diam mengamati aturan ujian yang tertulis di papan batu besar:
Ujian Tahap Satu: Mengukur Tingkat Inti Energi. Hanya yang memiliki Inti Rendah ke atas yang boleh lanjut.
Satu per satu calon murid maju meletakkan tangan di Batu Penguji. Cahaya kuning, oranye, bahkan sesekali merah menyala, disambut tepuk tangan penguji. Namun saat giliran Lin Mo tiba, suasana berubah hening.
Tangannya menempel di batu. Tidak ada warna terang yang muncul—hanya cahaya abu-abu kusam yang berkedip pelan, lalu padam.
Kepala penguji, seorang pria berwajah kaku bernama Guru Gao, mendengus kasar. "Inti Kacau. Tidak memenuhi syarat. Minggir!"
"Tunggu sebentar," kata Lin Mo tenang. "Bukankah akademi ini menerima siapa saja yang mau berusaha? Mengapa hanya melihat inti saja?"
"Dasar bodoh!" bentak Guru Gao. "Inti adalah bakat bawaan. Tanpa bakat, sekeras apa pun kau berlatih hanya akan sia-sia. Kami tidak mau membuang sumber daya pada orang yang pasti gagal!"
Ia hendak mengusir Lin Mo, namun suara lembut terdengar dari belakang. "Biarkan dia mencoba ujian tahap kedua, Guru Gao."
Seorang wanita berjalan mendekat. Itu Guru Yu, salah satu pengajar langka yang berpikiran terbuka. Ia menatap Lin Mo dengan tatapan menyelidik. "Aturan lama pernah menyebutkan: jika ada yang tidak memiliki inti yang baik, namun memiliki tubuh yang luar biasa kuat, ia tetap berhak masuk. Biarkan dia mencoba menekan Pemberat Batu."
Guru Gao cemberut, namun tidak berani menentang secara terang-terangan. "Baiklah! Tapi jika jarumnya tidak bergerak melewati batas minimal, kau harus pergi tanpa banyak tanya!"
Pemberat Batu adalah alat uji berbentuk dudukan batu dengan jarum penunjuk. Satu pukulan akan menunjukkan kekuatan fisik murni tanpa bantuan energi. Batas minimal adalah tiga ratus jin.
Lin Mo berdiri di depan alat itu. Ia tidak mengumpulkan tenaga berlebihan, hanya mengalirkan sedikit kekuatan akar ke lengan, lalu mengepalkan tangan perlahan menghantam permukaan batu datar.
Duk!
Suara tumpul namun berat terdengar. Jarum penunjuk melesat cepat, melewati angka tiga ratus, lima ratus, delapan ratus... dan berhenti tepat di angka sembilan ratus jin—hampir seribu jin!
Kerumunan ternganga. Bahkan Guru Gao terbelalak tak percaya. "Mustahil! Tanpa energi sama sekali, bagaimana mungkin tenaganya sebesar ini?"
Guru Yu tersenyum tipis. "Lihat sendiri. Dia lanjut ke tahap kedua."
Ujian tahap dua adalah Menembus Hutan Jebakan. Peserta harus berjalan sejauh satu li melalui jalur yang dipenuhi tekanan berat, jebakan angin tajam, dan jalan yang licin. Tujuannya: menguji ketahanan dan ketenangan.
Banyak peserta yang sudah jatuh atau menyerah di tengah jalan. Tekanan di sana setara dengan membawa beban dua ratus jin di pundak. Namun bagi Lin Mo, tekanan itu justru terasa akrab—seolah tanah sedang menekan tubuhnya, dan ia harus menanam akarnya lebih dalam agar tidak roboh.
Ia berjalan perlahan namun pasti. Setiap langkah kakinya menapak kuat, tidak tergeser sedikit pun oleh angin atau guncangan. Bahkan saat jebakan batu meluncur ke arahnya, ia hanya menggeser tubuh sedikit dengan tenang, membiarkan batu itu lewat begitu saja.
Saat ia keluar di garis finis, ia bahkan tidak terengah-engah. Namun di sana sudah menunggu Guru Gao dengan wajah masam.
"Kau mungkin kuat secara fisik," katanya dingin. "Tapi ujian terakhir adalah menyerap butir energi. Tanpa inti yang baik, kau takkan bisa melakukannya. Ini adalah bukti bahwa kau memang tidak layak."
Ia meletakkan sebuah piringan berisi butir kristal energi di atas meja. "Serap setidaknya satu butir dalam waktu satu jam. Jika gagal, pergilah."
Lin Mo duduk bersila. Ia tahu ini adalah ujian yang dirancang untuk menggagalkannya. Jalan Inti Energi memang tidak cocok baginya. Namun ia tidak menyerah. Alih-alih mencoba menarik butir itu masuk ke dada, ia membiarkan kesadarannya turun ke bawah, membuka jalur akarnya.
Perlahan, butir-butir kristal itu tidak terserap masuk, melainkan perlahan meleleh, menyebar menjadi kabut halus, lalu menyusup melalui pori-pori kulit, menyatu dengan tulang dan darahnya.
Waktu habis. Tidak ada satu pun butir yang tersisa di piringan.
Guru Gao membelalakkan mata. "Kau... kau menghancurkannya? Itu tindakan yang tidak tahu berterima kasih!"
"Bukan menghancurkan," jawab Lin Mo tenang. "Aku sudah menyatukannya."
"Bohong! Tidak ada cara lain menyerap energi selain melalui inti!" Guru Gao marah. Ia sudah bertekad tidak akan menerima Lin Mo karena takut mengganggu murid kesayangannya sendiri—Zhang Hao yang ternyata juga mendaftar dan diterima dengan nilai tinggi. "Kau curang! Ujian ini tidak sah! Keluar dari sini sekarang!"
"Tunggu."
Suara berat terdengar dari pintu masuk. Kepala Sekolah Akademi Batu Langit berdiri di sana, diikuti Meng Chao yang pernah bertemu Lin Mo di gerbang kota.
"Aku melihat semuanya," kata Kepala Sekolah pelan. "Cara penyerapan energinya memang berbeda, tapi dia tidak curang. Aturan akademi melarang penipuan, bukan melainkan cara yang berbeda. Lin Mo diterima."
Guru Gao pucat pasi. "Tapi Kepala Sekolah..."
"Cukup," potong Meng Chao sambil tersenyum tipis. "Dia orang yang aku izinkan masuk kota. Jika dia tidak layak, berarti pengawasan gerbangku pun salah. Atau kau meragukan penilaianku?"
Wajah Guru Gao langsung pucat, tidak berani membantah lagi.
Sore itu, Lin Mo akhirnya memegang lencana murid akademi. Namun ia tahu, kemenangan ini baru permulaan. Ada orang yang ingin membuangnya, ada yang ingin mengawasinya, dan ada yang diam-diam mendukungnya. Di tempat ini, ia tidak hanya akan berlatih—ia juga harus berhati-hati agar tidak terperosok ke dalam lubang yang digali orang lain.
Saat ia berjalan menuju asrama murid baru, dari kejauhan Zhang Hao menatapnya dengan tatapan penuh dendam. Ia tidak menyangka "sampah desa" itu bisa sampai ke sini bersamanya.
"Kau mungkin masuk," bisik Zhang Hao pelan. "Tapi di sini, aku akan pastikan kau menyesalinya."