NovelToon NovelToon
SAJADAH Di Atas BARA

SAJADAH Di Atas BARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:494
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Sebuah proses perjalanan pulang seorang wanita yang tersesat jauh dari Agama.
karena,kehancurannya di masa lalu.
Perjalanan mencari makna hidup,keikhlasan,dan cinta yang tulus untuknya.

happy reading💗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENYEMBUHKAN LUKA DENGAN KEIKHLASAN

Maira menatap sosok pria di hadapannya dengan keterkejutan yang berusaha ia sembunyikan. Angin malam berembus menerpa jilbabnya, menciptakan keheningan sejenak di antara mereka di atas jembatan sepi itu.

"Fatih? Lo... ngapain di sini?" tanya Maira, suaranya agak serak. Ia mencoba mengulas senyum tipis di bibirnya, meski sepasang matanya yang sembap sama sekali tidak bisa berbohong tentang gurat kesedihan dan kelelahan yang teramat pekat. "Gue... gue habis dari suatu tempat tadi. Sengaja ke sini cuma pengen jalan kaki aja, cari angin. Tenang aja, Fatih... gue gak ada niatan buat loncat lagi kayak waktu pertama kali kita ketemu kok."

Fatih mengembuskan napas panjang, tampak pundak tegapnya merosot rileks mendengar penuturan itu. Ia membetulkan posisi helmnya yang belum sempat dilepas. "Huh... Alhamdulillah deh kalau begitu. Saya benar-benar kaget tadi. Jujur, saya agak trust issue setiap kali melihat kamu berdiri sendirian di dekat pembatas jembatan atau jalan raya sepi larut malam."

Maira terkekeh, merasa bersalah sekaligus tersentuh karena pria sesibuk Fatih ternyata masih menyimpan kekhawatiran sebesar itu padanya. "Lo... baru habis pulang kerja?"

"Iya, pekerjaan saya baru benar-benar selesai jam segini. Makanya tadi saya terpaksa tidak bisa menjemput Aisyah," jawab Fatih tenang. Ia melirik jam tangan digitalnya sebelum kembali menatap Maira. "Lalu, kamu sendiri kenapa jam segini belum pulang ke rumah?"

"Iya... tadi ada urusan mendadak sebentar di sekitar sini," jawab Maira menggantung, enggan menceritakan drama menyakitkan bersama ibu kandung dan mantan ayah tirinya di rumah sakit. "Ya udah kalau gitu, gue duluan ya, Fatih."

Maira membalikkan badan, bersiap melangkah. Namun, suara Fatih kembali menahannya.

"Kamu jalan kaki? Malam-malam begini? Mau saya antarkan saja pakai motor?" tawar Fatih tulus.

Maira langsung menggelengkan kepalanya cepat. "Gak usah, Fatih. Nggak apa-apa kok. Lagian dari sini rumah gue udah lumayan dekat. Gue jalan kaki aja. Takutnya... nanti malah ada yang lihat dan salah paham kalau kita boncengan malam-malam."

Maira sengaja menolak. Di dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia sebenarnya sedang mati-matian membangun benteng pertahanan. Maira tahu dirinya harus tahu diri. Ia berusaha keras memangkas jarak dan membatasi interaksi agar hatinya tidak tenggelam terlalu jauh dalam rasa suka pada Fatih—sebuah perasaan yang ia yakini hanya akan berujung menyakiti dan mempermalukan dirinya sendiri mengingat perbedaan kasta moral mereka yang bagaikan langit dan bumi.

Fatih terdiam sejenak, memahami kekhawatiran Maira. Namun, ia juga tidak bisa membiarkan hati nuraninya abai. "Kalau memang tidak mau dibonceng, bagaimana kalau saya temani saja kamu berjalan kaki sampai ke depan gang rumah?"

Maira menghentikan langkahnya, menoleh dengan dahi berkerut. "Nggak usah, Fatih. Lo pasti capek banget kan habis kerja seharian? Langsung pulang aja, istirahat."

"Tidak apa-apa, Maira," potong Fatih lembut namun tegas. Tatapan matanya yang teduh menatap lurus ke arah Maira. "Saya tidak akan bisa tenang kalau membiarkan kamu berjalan sendirian di trotoar gelap malam-malam begini."

Fatih tidak mengatakan alasan lainnya secara gamblang, namun di dalam kepalanya, ia sangat khawatir jika tiba-tiba Rayn—mantan kekasih Maira yang tempo hari datang dengan ancaman nekat—atau orang berniat jahat lainnya mengadang Maira di tengah jalan raya yang mulai sepi ini.

Mendengar kalimat perhatian yang begitu tulus dari Fatih, dada Maira berdesir hebat. Fatih... perlakuan Lo ini bener-bener gak wajar buat gue. Tolong jangan sebaik ini... gue takut, gue bener-bener takut kalau akhirnya gue jatuh cinta sama Lo, batin Maira menjerit pilu, menundukkan kepalanya dalam-dalam demi menyembunyikan rona merah dan air mata yang hampir menetes.

"Yuk, Maira. Jalan sekarang, biar tidak kemalaman sampai rumah," ajak Fatih memecah keheningan.

Akhirnya, Maira hanya bisa mengangguk pasrah. Mereka berdua mulai berjalan beriringan menyusuri trotoar jalanan malam. Fatih berjalan sembari menuntun sepeda motornya di sisi luar yang berbatasan dengan jalan raya, sementara Maira berjalan di sisi dalam. Mereka menjaga jarak yang cukup aman, tidak ada sentuhan fisik, hanya suara langkah kaki dan deru halus mesin motor yang menemani.

Setelah beberapa menit terdiam dibungkus keheningan malam, Maira memberanikan diri untuk membuka suara. Luka dari rumah sakit tadi masih terasa berdarah di dalam dadanya, membuatnya butuh sebuah jawaban dari sudut pandang yang berbeda.

"Fatih... gue mau tanya satu hal sama Lo," ucap Maira tanpa menoleh, pandangannya lurus menatap aspal di depan mereka.

"Tanya apa, Maira?"

"Kalau seandainya... ada seorang ibu yang dengan teganya menelantarkan anaknya sendiri sejak kecil, bahkan pernah membuat hidup anak itu hancur lebur demi egonya sendiri... lalu setelah dewasa, si anak memilih untuk menjauhi ibunya, membenci ibunya, dan gak mau menganggapnya lagi... gimana menurut pandangan Lo? Atau... gimana hal itu menurut pandangan agama yang lagi gue pelajari sekarang?" tanya Maira dengan nada suara yang bergetar hebat.

Fatih memperlambat langkah kaki dan tuntunan motornya, mendengarkan setiap patah kata Maira dengan saksama. Ia mengerti, pertanyaan ini bukanlah sekadar pengandaian biasa, melainkan cerminan dari luka nyata yang sedang mengalir di hati wanita di sampingnya.

Fatih mengembuskan napas hangat sebelum mulai menjawab dengan nada suara yang sangat tenang dan meneduhkan. "Menerima atau tidak perlakuan buruk itu, sebenarnya adalah hak mutlak dari anak itu sendiri secara manusiawi, Maira. Tapi... kalau menurut pendapat saya pribadi dan apa yang diajarkan dalam agama, sebaiknya jangan pernah mengotori kesucian diri kita sendiri dengan menyimpan rasa benci atau dendam yang mendalam di dalam hati."

Maira menoleh cepat, menatap Fatih dengan pandangan tidak terima. "Maksud Lo?"

"Boleh saja kita menjaga jarak demi keamanan kesehatan mental atau fisik kita jika dirasa orang tua tersebut membawa dampak buruk," lanjut Fatih dengan bijak. "Tetapi, jangan pernah sekalipun memutuskan tali hubungan darah antara orang tua dan anak, terutama kepada seorang ibu kandung. Urusan tentang kesalahan masa lalu sang ibu yang pernah menelantarkan anaknya atau berbuat zalim, biarlah itu menjadi urusan mutlak antara dia dengan Allah kelak. Tugas dan kewajiban seorang anak di dunia ini adalah tetap berusaha berbakti dan menghormatinya sebisa mungkin, terlepas dari bagaimana buruknya perlakuan ibunya di masa lalu."

"Kok gitu?! Gak adil dong namanya!" potong Maira cepat, emosinya kembali terpancing. Air matanya kini benar-benar luruh di pipi. "Kenapa anak yang selalu dituntut untuk mengerti dan mengalah, padahal dia yang jadi korban di sini?"

Fatih menghentikan langkah kakinya total. Ia memarkirkan motornya sebentar di tepi trotoar bawah lampu jalan, lalu membalikkan tubuhnya menghadap Maira dengan jarak dua langkah yang sopan. Tatapan matanya sarat akan rasa empati yang mendalam.

"Maira... seperti yang saya ucapkan tadi, keadilan sejati itu milik Allah di akhirat kelak. Menyimpan dendam dan kebencian itu ibarat kita meminum racun, tapi berharap orang lain yang mati. Memelihara dendam justru hanya akan membuat hati si anak itu sendiri yang terus-menerus terasa sakit, lelah, dan tidak pernah menemukan kedamaian," ucap Fatih dengan kelembutan yang luar biasa, tanpa ada nada menghakimi sedikit pun.

"Beda ceritanya kalau kita memilih untuk belajar mengikhlaskan dan memaafkan," sambung Fatih lagi, suaranya terdengar bagaikan pembalut luka di dada Maira. "Kita niatkan saja bakti yang tersisa, atau rasa memaafkan yang berat itu, murni karena Allah yang memerintahkannya kepada kita. Bukan karena orang itu pantas dimaafkan, tapi karena hati kita pantas mendapatkan ketenangan. Percayalah, perlahan-lahan rasa dendam dan sakit hati yang membakar dadamu itu pasti akan terkikis dan memudar dengan sendirinya atas izin Allah."

Fatih jeda sejenak, lalu mengulas senyum paling tulus yang ia miliki. "Ya... hitung-hitung, memaafkan itu adalah cara terbaik untuk menyembuhkan luka-luka lama kita sendiri agar bisa hidup lebih bahagia ke depannya."

Maira seketika terdiam seribu bahasa. Kata-kata yang keluar dari bibir Fatih terasa menghantam langsung ke lubuk hatinya yang paling dalam. Apa yang dikatakan pria itu sama sekali tidak salah. Selama bertahun-tahun ia membenci Yudi dan ibunya, hidupnya tidak pernah bahagia; ia justru terjebak dalam lingkaran setan yang merusak dirinya sendiri. Memaafkan ternyata bukan untuk keuntungan mereka yang bersalah, melainkan untuk kebebasan jiwanya sendiri yang selama ini terpenjara oleh rantai dendam.

Maira menunduk, air matanya menetes membasahi trotoar, namun kali ini rasanya tidak sesesak tadi. Beban di dadanya perlahan terasa sedikit terangkat.

Melihat bahu Maira yang bergetar pelan karena tangis yang mulai mereda, Fatih kembali menuntun motornya dan mulai berjalan pelan di samping Maira.

"Perlahan-lahan saja, Maira... jangan terlalu dipaksakan sekaligus. Semua kesembuhan luka itu butuh proses dan waktu," ucap Fatih dengan nada suara yang teramat lembut, seolah ia tahu dan sangat paham bahwa seluruh cerita pengandaian yang disampaikan Maira tadi adalah tentang kisah hidup kelam Maira sendiri yang sedang berusaha ia tata kembali dari kehancuran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!