NovelToon NovelToon
Bos Kucing Oranye

Bos Kucing Oranye

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:955
Nilai: 5
Nama Author: La Runa

Kinanti mengira tantangan terbesar dalam hidupnya hanyalah menghadapi Arkan, CEO perusahaannya yang terkenal dingin, perfeksionis, dan bermata tajam seperti predator. Sampai suatu malam, saat lembur badai di kantor, sekelebat petir menyambar dan Arkan tiba-tiba lenyap dari kursinya—menyisakan setelan jas mahal kosong dan seekor kucing oranye gembul yang mengeong galak.

​Ternyata, sang CEO jenius terkena kutukan turun-temurun: ia akan berubah menjadi kucing oranye biasa setiap kali hujan turun atau saat emosinya tidak stabil. Celakanya, sifat "ras terkuat di bumi" sang kucing tetap terbawa. Ia tetap bosan, sombong, dan menuntut—tapi dalam wujud yang sangat ingin didekap.

​Satu-satunya orang yang mengetahui rahasia ini adalah Kinanti. Kini, tugas Kinanti berlipat ganda: menjadi sekretaris profesional di siang hari, dan menjadi babu pelindung sang CEO di malam hari agar ia tidak diculik oleh saingan bisnisnya... atau tidak sengaja mengejar tikus saat rapat penting.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Runa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

uji Coba Pendekatan Baru

Suasana di dalam mobil sedan hitam itu mendadak sepuluh kali lipat lebih canggung daripada saat mereka berangkat tadi pagi. Perjalanan pulang dari Menteng menuju pusat kota Jakarta dilewati dalam keheningan total. Arkan fokus menyetir dengan rahang yang mengeras—bukan karena marah, melainkan karena menahan malu yang luar biasa akibat interogasi Eyang Widya. Di sebelahnya, Kinanti terus menatap ke luar jendela, berpura-pura sangat tertarik pada pemandangan kemacetan jalanan korporat, padahal pikirannya sedang berputar-putar memikirkan kata-kata "ketulusan tanpa syarat".

Mencintai Pak Arkan dalam wujud manusia dan kucing? Yang benar saja! jerit Kinanti dalam hati. Menghadapi satu wujud saja sudah menguras setengah umur, apalagi harus menerima keduanya sebagai satu paket takdir.

Mobil akhirnya memasuki basemen apartemen Kinanti. Arkan mematikan mesin, namun ia tidak langsung membuka kunci pintu. Pria itu menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke depan, lalu mengembuskan napas panjang.

"Kinanti," panggil Arkan, suara baritonnya memecah keheningan dengan sangat tiba-tiba.

"Y-ya, Pak?" Kinanti menoleh kaku.

"Jangan masukkan kata-kata Eyang tadi ke dalam hati," kata Arkan tanpa menatapnya. "Beliau sudah tua dan terlalu banyak menonton drama fiksi. Hubungan kita adalah hubungan profesional. Saya menaikkan jabatanmu karena kompetensimu, bukan karena ramalan kuno tentang kutukan ini."

Ada sedikit bagian di sudut hati Kinanti yang mendadak terasa agak aneh mendengar penegasan itu—seperti ada kekosongan kecil yang tidak ia pahami. Namun, sebagai profesional, Kinanti langsung tersenyum tipis dan mengangguk. "Tentu saja, Pak Arkan. Saya sangat paham. Bapak tidak perlu khawatir, saya tidak akan memanfaatkan situasi ini untuk... bertindak di luar batasan kerja."

Arkan menoleh, menatap mata Kinanti selama beberapa detik. Ada kilatan emosi yang tak terbaca di mata elangnya, sebelum ia akhirnya mengangguk singkat. "Bagus. Silakan turun. Sampai bertemu hari Senin."

Kinanti membuka pintu mobil, turun, dan melambaikan tangan kaku saat sedan mewah itu perlahan bergerak meninggalkan basemen. Gadis itu berjalan menuju lift dengan bahu yang agak merosot. "Kenapa rasanya malah agak menyebalkan ya? Dasar CEO kaku," gerutu Kinanti pelan.

Hari Senin kembali menyapa dengan ritme kerja yang super padat. Hari ini adalah hari pertama Kinanti resmi menempati ruangan barunya sebagai Pelaksana Tugas Direktur Operasional. Ruangan itu sangat luas, berdinding kaca besar yang menghadap ke gedung pencakar langit Jakarta, dan yang paling penting: ada sebuah pintu kayu geser rahasia di balik lemari buku yang menghubungkan ruangannya langsung dengan ruang kerja Arkan.

Baru saja Kinanti duduk di kursi manajernya yang empuk, pintu geser itu mendadak terbuka.

Bukan Arkan dalam wujud pria berjas yang muncul, melainkan seekor kucing oranye gembul yang berjalan dengan langkah angkuh sambil membawa selembar kertas memo di mulutnya.

Kinanti terbelalak, langsung melirik ke luar jendela besarnya. Benar saja, di luar langit mendadak mendung gelap, dan rintik hujan baru saja mulai membasahi kaca. Pemicu itu bekerja lagi.

Arkan melompat ke atas meja kerja Kinanti, menjatuhkan kertas memo yang sudah agak basah oleh air liurnya ke depan laptop Kinanti. Kucing itu kemudian duduk, melipat kaki depannya, dan mengeong pendek dengan nada menuntut.

Kinanti mengambil memo itu dengan jijik sekaligus geli. Di sana tertulis tulisan tangan cakar kucing yang agak berantakan: “K-O-P-I”

"Bapak berubah jadi kucing lagi dan hal pertama yang Bapak minta adalah kopi?" Kinanti berkacak pinggang, menatap bos gembulnya dengan gelengan kepala. "Pak, kafein itu beracun untuk struktur tubuh kucing! Saya tidak mau bertanggung jawab kalau Bapak mendadak kejang-kejang di atas meja saya."

Arkan mendelik tajam, telinganya mendatar ke belakang. Ia maju satu langkah, menepuk memo itu dengan cakarnya berulang kali, lalu mengeluarkan meongan panjang yang terdengar seperti omelan maut. ‘Saya ini manusia di dalam tubuh kucing, bodoh! Saya butuh kafein untuk membaca laporan ini!’

"Tidak boleh tetap tidak boleh, Pak Arkan," kata Kinanti tegas, menerapkan otoritas barunya di kantor baru. "Di ruangan ini, saya yang berkuasa atas kesehatan Bapak. Sebagai gantinya..." Kinanti membuka laci mejanya, mengeluarkan sebotol susu khusus kucing bebas laktosa yang sudah ia siapkan sejak akhir pekan. "...Bapak minum ini saja. Lebih sehat dan bagus untuk bulu premium Bapak."

Kinanti menuangkan susu itu ke piring kecil yang memang sudah ia sediakan di pojok meja.

Arkan menatap piring susu itu dengan pandangan luar biasa jengkel. Ego manusianya berteriak menolak, namun insting tubuh kucingnya mendadak tergoda oleh aroma susu yang gurih. Dengan sangat terpaksa, dan sambil tetap memberikan tatapan mematikan kepada Kinanti, si kucing oranye mendekati piring dan mulai menjilati susu itu dengan cepat.

Nyam, nyam, nyam.

Kinanti tersenyum puas melihat pemandangan menggemaskan itu. Ia kembali fokus pada laptopnya, mulai memeriksa laporan divisi pemasaran. Suasana di dalam ruangan itu mendadak menjadi sangat tenang, hanya menyisakan suara ketikan papan ketik Kinanti, rintik hujan di luar, dan suara decapan lidah Arkan yang menikmati susunya.

Setengah jam berlalu dalam kedamaian korporat, sampai tiba-tiba interkom di meja Kinanti berbunyi nyaring.

Klik.

"Mbak Kinanti? Ini Shinta dari HRD. Ada perwakilan investor dari Jepang, Mr. Tanaka, datang mendadak tanpa janji. Beliau bilang jadwalnya dimajukan karena ada urusan penerbangan sore ini. Beliau ingin bertemu dengan Pak Arkan sekarang di ruang rapat utama," suara Shinta terdengar panik.

Jantung Kinanti langsung mencelos. Ia melirik Arkan yang baru saja selesai menghabiskan susunya dan kini sedang membeku di atas meja dengan sisa putih susu di sekitar mulut kecilnya.

"M-Mr. Tanaka? Bukankah jadwal beliau besok kamis?" Kinanti mencoba menahan kepanikan dalam suaranya.

"Iya, Mbak! Tapi beliau bilang ada urusan mendesak di Tokyo jadi harus dipercepat hari ini. Bagaimana, Mbak? Pak Arkan bisa ditemui? Di ruangan beliau lampunya menyala tapi pintunya dikunci dari dalam."

"Shinta, dengar saya," kata Kinanti dengan nada setenang mungkin. "Katakan pada Mr. Tanaka bahwa Pak Arkan sedang... sedang menyelesaikan analisis akhir untuk draf mereka di ruangan kedap suara dan tidak bisa diganggu selama lima belas menit ke depan. Bawa beliau ke ruang VIP, suguhi teh hijau terbaik, dan saya akan segera ke sana."

"Baik, Mbak Kinanti!"

Klik.

Sambungan diputus. Kinanti langsung menatap Arkan dengan panik. "Pak Arkan! Bagaimana ini? Mr. Tanaka itu investor paling sensitif yang kita punya! Kalau kita menolak bertemu, investasi lima ratus miliar untuk proyek energi terbarukan bisa melayang!"

Arkan melompat dari meja, berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Bulu-bulunya kembali berdiri tegak. Emosi panik yang merayapi dirinya justru membuat sihir kutukan itu mengunci wujud hewannya semakin kuat. Hujan di luar juga tampaknya belum ada tanda-tanda akan reda dalam waktu dekat.

Arkan menatap Kinanti, lalu mengeluarkan meongan pendek yang terdengar sangat frustrasi. Ia melompat ke atas kursi manajer Kinanti, menunjuk layar laptop dengan cakarnya, seolah menyuruh Kinanti melakukan sesuatu.

"Bapak mau saya yang menghadapi Mr. Tanaka sendirian?" tanya Kinanti, matanya membelalak. "Pak, saya baru menjabat jadi Direktur Operasional selama dua hari! Saya belum menguasai seluruh detail teknis proposal energi terbarukan itu!"

Arkan melompat ke dekat papan ketik, menekan tombol Enter pada sebuah dokumen PDF yang terbuka. Itu adalah draf presentasi lengkap dengan catatan kaki yang sangat detail—semuanya ditulis oleh Arkan sendiri. Kucing itu kemudian menatap Kinanti dengan pandangan yang sangat intens, sepasang mata hijau zamrudnya tidak lagi memancarkan kesombongan, melainkan sebuah kepercayaan yang sangat besar. Tatapan itu seolah berkata, ‘Kamu bisa, Kinanti. Saya memilihmu karena kamu mampu. Jaga perusahaan kita.’

Melihat binar kepercayaan di mata bosnya, rasa panik di dada Kinanti perlahan-lahan surut, digantikan oleh gelombang tekad yang kuat. Ia menarik napas dalam-dalam, menegakkan bahunya, dan merapikan blazernya.

"Baik, Pak. Saya akan maju sebagai perwakilan Bapak," kata Kinanti dengan suara mantap. Ia menyalin dokumen tersebut ke tablet digitalnya. Sebelum melangkah keluar, Kinanti berlutut di depan kursi, mensejajarkan wajahnya dengan Arkan. Ia mengulurkan jari telunjuknya, menyentuh lembut hidung merah muda sang bos. "Bapak tunggu di sini dengan tenang. Jangan stres, jangan panik. Biar 'Babu' Bapak ini yang membereskan pria Jepang itu."

Arkan tertegun. Sentuhan lembut di hidungnya dan kata-kata Kinanti entah bagaimana memberikan rasa hangat yang luar biasa di dalam dada kecilnya. Kucing gembul itu mengeong sekali dengan nada sangat lembut—sebuah ucapan penyemangat yang tulus dari sang CEO untuk direktur barunya.

Kinanti berdiri, berbalik dengan anggun, dan melangkah keluar ruangan menuju medan perang ruang VIP, siap membuktikan bahwa pilihan Arkan tidak pernah salah

1
Ana Dww
😭
Ana Dww
Wait, 6 Kilogram?
Ana Dww
😭Sama seperti Cleo—Kucing oranyeku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!