Glenca Lysandra, seorang gadis yang terkenal di desanya sebagai penakluk hutan yang tak seorang pun berani memasukinya. Dia lah satu-satunya gadis yang berhasil keluar masuk hutan dalam keadaan selamat, berbeda dengan beberapa orang desa lainnya.
Namun, apa jadinya ketika dia bertemu seorang pemimpin mafia, Ethan Frederick Denaro, di sebuah villa kosong yang terkenal angker di dalam hutan yang ia jelajahi. Pertemuan tak sengaja yang membawanya menyaksikan kekejaman dan transaksi gelap seorang Ethan, juga menjadi awal hidup rumit nya.
Ethan tidak pernah membiarkan saksi mata transaksi terlarang nya hidup. Tapi, Glenca adalah pengecualian. Membawanya ke Mansion dan dijadikan mainan, cukup menghibur dirinya yang penuh dengan keseriusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aquilaliza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau Itu Milikku!
Glenca duduk diam di tepi ranjang sambil menatap pantulan dirinya dari cermin yang berada tak begitu jauh di depannya. Nafas ia hembuskan cukup kasar.
Ia menunduk, menatap perutnya yang terasa begitu lapar. Karena bangun terlambat pagi tadi, dia tidak sempat sarapan. Sekarang dia harus bisa menahannya hingga besok pagi.
Glenca membaringkan tubuhnya, meringkuk sambil menekan perut. Sejak tadi perutnya hanya terisi oleh air. Dia ingin makan, tapi tidak berani melakukannya diam-diam. Jika ketahuan, pasti hukumannya akan semakin bertambah. Atau mungkin ia yang akan dijadikan makanan Scar.
Glenca sekali lagi menghembuskan nafas. Dia sangat lelah. Ia kehabisan energi, apalagi energinya terkuras banyak ketika ia berlari meninggalkan kandang Scar menuju Mansion—jaraknya tidak bisa di remehkan.
"Astagaa!" Glenca langsung bangun terduduk. "Aku lupa. Aku tadi tidak sempat memberi makan Scar. Aku kabur begitu saja setelah dipaksa memberi makan hewan menyeramkan itu."
"Pasti akan dihukum lagi." Glenca menghembuskan nafas lelah. Dia tidak tahu hukuman apalagi nanti yang akan ia terima atas kecerobohannya.
Ketika sedang memikirkan tentang hukuman, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. Glenca dengan segera membukakan pintu.
"Pak George?"
Kepala pelayan itu mengangguk pelan. "Mulai sekarang, kau juga ditugaskan untuk menyambut Tuan setiap kali Tuan kembali."
"Aku?"
"Ya. Hanya kau satu-satunya pelayan yang tinggal di Mansion."
Glenca menarik nafas kemudian menghembuskan nya. "Baiklah, Pak George."
"Mari, Tuan sebentar lagi tiba."
Glenca dengan sedikit terpincang berjalan mengikuti George. Kenapa Ethan begitu merepotkan orang lain? Kehidupan orang kaya memang membingungkan.
Setibanya di lantai dasar, Glenca langsung berdiri di posisi kanan dan George di posisi kiri pintu.
Dan ketika Ethan memasuki rumah, Glenca mengatur nada suaranya agar tidak terlalu keras dan masih bisa di terima di telinga Ethan. Dia tidak ingin di hukum lagi.
"Selamat datang, Tuan," sapa George dan Glenca bersamaan. Ethan berhenti tepat diantara Glenca dan George.
"George."
"Iya, Tuan?"
"Mulai sekarang, kau tidak perlu menyambut ku lagi. Biarkan Glenca melakukannya sendiri."
Glenca langsung mendongakkan wajahnya mentap Ethan dari samping. Rahang kokoh Ethan sangat indah. Tapi, seindah apapun pria itu, tetap saja dia seorang yang kejam dan tidak memiliki hati—menurut Glenca.
"Baik, Tuan. Akan saya lakukan."
"Hm. Pergilah!"
"Baik, saya permisi Tuan." George sedikit menundukkan kepalanya, lalu berlalu meningalkan ruangan luas itu.
"Kau ikut dengan ku."
Glenca dengan cepat mengikuti Ethan. Walaupun kakinya terasa perih, ia tetap berusaha untuk bisa menyamakan langkahnya dengan langkah Ethan. Lagi-lagi alasannya karena tidak ingin dihukum.
"Sepertinya Ethan menikmati permainannya." Lucas berceletuk pelan.
"Mungkin bukan mainan suatu saat nanti," sahut Zack santai berjalan ke arah kamarnya. Hari ini cukup melelahkan. Dia ingin berendam untuk merelax kan tubuhnya.
"Aku juga berpikir layaknya Zack. Ethan sepertinya tertarik pada Glenca."
"Aku tahu. Jika tidak tertarik, Glenca pasti sudah menjadi bangkai di hutan." Setelah mengatakan itu, Lucas juga berlalu ke kamar. Martin pun sama. Dia juga segera ke kamarnya.
Sementara itu, Glenca dan Ethan baru saja sampai di kamar Ethan. Lelaki itu melepas jas yang ia kenakan lalu melemparnya asal di sofa.
Ethan berbalik dan menatap Glenca yang masih berdiri tak jauh dari pintu kamar. Gadis itu sepertinya ragu untuk melangkah masuk lebih dalam lagi.
Mata tajam Ethan beralih ke arah kaki Glenca. Kulit putihnya begitu memerah akibat dari tersiram air panas siang tadi.
Warnanya begitu kontras dengan warna kulit Glenca, membuat Ethan berpikir, bagaimana jika dia membuat warna merah lain di kulit putih dan mulus milik Glenca? Pasti akan sangat indah.
"Tutup pintunya, Glenca."
Gadis yang sejak tadi menunduk diam pun sedikit mengangkat wajahnya. Dia menatap Ethan, tapi bola matanya berkeliaran kemana-mana, tidak bisa menatap lama mata lelaki itu.
"Maaf, Tuan. Bukannya di lantai tiga ini tidak ada orang lain? Tidak tutup pintu pun bukan menjadi masalah."
Ethan tersenyum tipis. Dia berjalan pelan mendekati Glenca, membuat gadis itu gugup dan mer*mas kedua sisi rok yang ia kenakan.
Saat Ethan melewatinya begitu saja, Glenca cukup merasa lega. Tapi, suara pintu yang tertutup membuatnya melotot dan berbalik.
Ethan hanya menunjukkan smirk nya sambil mengangkat sebelah alis. Dia lalu melangkah maju, membuat Glenca bergerak mundur.
"Kau mengatur ku? Menarik." Ethan melewati Glenca lagi. Dia mendudukkan tubuhnya di sofa, sambil mata menatap ke arah Glenca.
"Kemari!" ujarnya dengan nada suara rendah.
Glenca meneguk ludahnya kasar. Bagaimana ini? Dia tidak bisa kabur kemana-mana lagi sekarang. Pintu kamar Ethan sekarang tertutup rapat dan terkunci. Tidak ada celah untuk dirinya kabur.
"Glenca?"
"I-iya, Tuan?"
"Kau tidak dengar apa yang aku katakan?"
"A-aku mendengarnya." Glenca berbicara gugup. Perlahan dia melangkah maju, mendekat ke arah Ethan. Dia berhenti tepat di hadapan pria itu.
"Lepaskan pakaian ku."
"Le-lepaskan pakaian? A-anda ingin aku lakukan itu?"
"Ya, mulai sekarang, itu tugasmu setiap kali aku kembali."
"A-apa maksud anda? Saya mengerjakan semua ini setiap hari—akh!"
Ethan tiba-tiba saja menarik Glenca hingga gadis itu terjatuh diatas pangkuannya.
"Tuan, Lepas—"
"Kenapa?" Ethan mencengkram kedua pipi Glenca, cukup keras hingga bibir Glenca terlihat sedikit maju. Sementara sebelah tangan Ethan merangkul erat pinggang Glenca, memeluknya. "Kau tidak mau aku menyentuh mu?"
"Kau membiarkan Martin memelukmu, dan tidak mengizinkan ku untuk melakukan hal yang sama?"
"Dengar...." Ethan berbisik pelan tepat di telinga Glenca. Bahkan bibirnya hampir saja menyentuh telinga gadis itu. "Kau itu milikku! Hanya aku yang boleh menyentuhmu!"
"Le-Pas!!" Dengan sekuat tenaga Glenca melepaskan cengkraman Ethan di pipinya. Ia menatap Ethan dengan kemarahan. Nafasnya pun ikut memburu.
"Aku bukan milik siapa pun! Aku juga tidak disentuh siapa pun, termasuk kau!" ucap Glenca dengan tegas.
Dia lalu melepaskan tangan Ethan yang melingkar di pinggangnya dan bergegas menjauh dari lelaki itu. Glenca dengan tegas berjalan menuju pintu kamar, hendak keluar dari kamar tersebut.
Ethan hanya menatapnya dengan senyuman tipis yang terukir.
"Selangkah lagi kau berjalan, kau tidak akan menemukan desa mu lagi. Bahkan puingnya pun tidak."
Seketika langkah Glenca terhenti. Ia berbalik dan menatap penuh kemarahan.
"Apa yang kau inginkan, hah? Kau menangkap, menjebak, memaksa, dan membawaku ke tempatmu. Dan sekarang, kau ingin melenyapkan semua warga desa? Apa yang kau ingin kan?!" Glenca berteriak keras. Namun, itu tidak berarti apapun bagi Ethan.
Lelaki itu dengan santainya beranjak dan mendekati Glenca. Dia menatap wajah gadis itu yang mulai basah oleh air mata. Dengan pelan ia mengusap air mata itu. Namun, senyum di bibirnya tidak memberi ketenangan sedikitpun. Glenca lebih menganggap jika itu adalah ejekan Ethan.
"Kau hanya perlu menurut, dan semuanya akan baik-baik saja," ujarnya tanpa perasaan.
Glenca ingin sekali memaki dan menampar pria itu. Tapi, netra tajam yang tengah menatapnya membuatnya sadar, ia terlalu jauh menentang sekarang. Satu kesalahan, bukan hanya nyawa nya yang terancam, tapi semua penduduk desa.
"Untuk kali ini, ketidakpatuhan mu aku maaf kan. Selanjutnya, bukan hanya kau yang menanggung, tapi mereka."
Ethan berbalik dan berjalan menjauh dari Glenca sambil melepaskan kemejanya.
"Aku ingin berendam. Siapkan air untukku."
Glenca mengigit bibirnya. Dengan kepala tertunduk, ia berjalan menuju kamar mandi. Beruntung George sudah menjelaskan beberapa hal yang harus ia lakukan saat menyambut dan melayani Ethan ketika pria itu tiba di Mansion.
terimakasih ❤️
untung aja glecha bisa kabur 😄
ini glencha beneran mau kabur ?? aduh pasti klo ethan tau bisa ngamuk nih😂🤔