NovelToon NovelToon
Pembalasan Dendam Mantan Istri Ceo

Pembalasan Dendam Mantan Istri Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Finus Ina

Lima tahun lalu, Adeline Wijaya dijebak oleh adik tirinya sendiri hingga keguguran dan diusir oleh suaminya, Bramantara, dalam kondisi sekarat. Semua orang mengira Adeline telah tewas di dasar jurang.Lima tahun kemudian, ia kembali ke Kota Jakarta dengan identitas baru sebagai Elena Vance, seorang desainer perhiasan kelas dunia yang genius dan kejam. Tujuannya hanya satu: menghancurkan mereka yang telah merebut kebahagiaannya.Demi melancarkan aksinya, Elena mendekati Nicholas Syailendra, CEO tertinggi di balik konglomerat nomor satu sekaligus musuh bebuyutan mantan suaminya.

Nicholas menawarkan kesepakatan: "Jadilah istriku, dan aku akan memberikan dunia untukmu membalas dendam." Namun, Elena tidak tahu bahwa di balik pernikahan kontrak itu, ada rahasia masa lalu yang jauh lebih besar yang siap menguji hatinya sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 12

happy reading guys

------------------------------

BAB 12: Makan Malam di Kediaman Utama Syailendra

Langkah kaki Elena Vance terasa mantap saat ia menuruni mobil limosin hitam mewah milik Nicholas Syailendra.

Di hadapannya, kediaman utama keluarga Syailendra berdiri megah laksana istana Eropa abad pertengahan.

Pilar-pilar putih raksasa menjulang tinggi, menopang atap bangunan yang diterangi oleh lampu-lampu sorot kekuningan yang megah.

Elena mengenakan gaun malam beludru berwarna hijau zamrud tua yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna, memberikan kesan keanggunan yang mahal namun misterius.

Nicholas melangkah ke sampingnya, langsung menekuk lengan kanan kekarnya agar Elena bisa menautkan jemarinya di sana.

"Ingat, Elena. Masuklah dengan kepala tegak. Di dalam sana, kamu adalah ratuku," bisik Nicholas rendah, suaranya sarat akan aura dominasi yang menenangkan.

"Aku tahu, Nicholas. Tenang saja,"

jawab Elena dengan senyuman miring yang begitu tipis, matanya berkilat memancarkan ketegasan baja yang sudah ditempa selama satu bulan terakhir.

Cklek.

Pintu ganda kayu ek berukir kuno ditarik terbuka oleh dua kepala pelayan berseragam formal.

Nicholas dan Elena melangkah masuk, membelah koridor luas berlantai marmer Italia menuju ruang makan utama.

Di tengah ruangan, sebuah meja makan kayu panjang yang sanggup menampung dua puluh orang sudah dipenuhi oleh deretan lilin perak dan hidangan kelas atas.

Di ujung meja, Ibu Suri Syailendra—Nenek kandung Nicholas—duduk dengan anggun di kursi kebesarannya.

Di sisi kanan dan kirinya, Sarah Syailendra dan Ardi Syailendra sudah menunggu dengan tatapan mata yang langsung menusuk tajam begitu sosok Elena muncul di ambang pintu.

"Nicholas, kamu akhirnya datang juga,"

sapa Sarah dengan senyuman yang dibuat-buat manis, namun matanya yang menyipit tidak bisa menyembunyikan rasa benci yang mendalam.

"Dan... ini pasti wanita asing dari Prancis yang menghebohkan seluruh Jakarta itu?"

Nicholas tidak langsung menjawab.

Ia membimbing Elena menuju dua kursi kosong yang berada tepat di hadapan Ardi dan Sarah.

Setelah memastikan Elena duduk dengan nyaman, barulah Nicholas mengambil tempat duduknya sendiri.

"Nenek,"

Nicholas mengangguk hormat pada wanita tua yang sejak tadi hanya diam mengamati mereka dengan sepasang mata elang yang sedingin es.

"Ini Elena Vance, tunangan saya."

Elena mengulas senyuman paling elegan, menundukkan kepalanya sedikit ke arah sang matriark keluarga.

"Selamat malam, Nenek Syailendra. Sebuah kehormatan bagi saya bisa diundang ke kediaman utama malam ini."

Nenek Syailendra tidak membalas sapaan itu.

Ia hanya mengetukkan jari-jarinya yang dihiasi cincin batu giok besar ke atas meja, memecah kesunyian yang mencekam.

"Makanlah dulu. Hidangan di rumah ini tidak boleh dingin karena obrolan yang tidak penting."

Suasana makan malam berjalan dengan keheningan yang menyesakkan, hanya diinterupsi oleh denting halus pisau dan garpu perak yang beradu dengan piring porselen.

Namun, ketenangan palsu itu segera dihancurkan oleh Ardi Syailendra setelah pelayan mengangkat piring hidangan utama.

Ting.

Ardi sengaja mengetuk gelas kristalnya dengan sendok, lalu bersandar angkuh di kursinya sembari menatap Elena dengan pandangan meremehkan.

"Nona Elena Vance... nama yang sangat indah. Tapi saya sedikit penasaran, Vance Jewelry di Prancis adalah perusahaan keluarga yang sangat tertutup. Bagaimana bisa seorang wanita muda seperti Anda tiba-tiba muncul dan memegang kendali atas seluruh investasi mereka di Asia? Apalagi... wajah Anda terasa sangat familiar di mata saya."

Elena meletakkan serbet kainnya ke atas pangkuan dengan gerakan yang sangat tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh nada provokatif dari sepupu Nicholas tersebut.

"Dunia bisnis perhiasan internasional memang sempit, Tuan Ardi. Jika Anda sering menghadiri pameran berlian di Paris, Anda pasti tidak akan asing dengan wajah saya."

"Benarkah begitu?" Sarah menimpali dengan tawa kecil yang sarat akan racun.

"Tapi rumor yang beredar di kalangan sosialita Jakarta hari ini agak berbeda, Nona Elena. Mereka bilang... wajah Anda mirip sekali dengan mendiang istri CEO Bram Corp yang baru saja diusir sebulan lalu karena skandal perselingkuhan murahan. Siapa namanya... ah, Adeline Wijaya?"

Deg!

Suasana di ruang makan seketika membeku.

Para pelayan yang berdiri di sudut ruangan bahkan menahan napas mereka karena ketakutan.

Sarah sengaja melemparkan umpan itu langsung di depan wajah Nenek Syailendra untuk memancing kemarahan sang matriark terhadap reputasi Nicholas.

Nicholas mengepalkan tinjunya di bawah meja, rahangnya mengeras dan sepasang matanya memancarkan aura membunuh yang sangat pekat ke arah bibi kandungnya.

Namun, sebelum Nicholas sempat mengeluarkan suaranya yang mematikan, Elena sudah lebih dulu mengulurkan tangan kirinya, menyentuh lengan Nicholas dengan lembut untuk menahannya.

Elena menoleh, menatap langsung ke arah Sarah dengan sepasang mata yang dipenuhi oleh keangkuhan yang dingin.

Sebuah kekehan renyah keluar dari bibir merah meronanya.

"Bibi Sarah,"

Elena menyebut panggilan itu dengan nada yang sangat santai namun sarat akan ejekan.

"Saya tidak tahu kalau seorang Nyonya besar dari dinasti Syailendra ternyata gemar mengonsumsi rumor sampah dari akun gosip kelas bawah di internet. Mirip? Di dunia ini ada miliaran manusia, dan memiliki kemiripan wajah adalah hal yang lumrah."

Elena memajukan tubuhnya sedikit, menumpukan kedua tangannya di atas meja sembari memamerkan kilau cincin berlian hitam besar di jari manisnya.

"Tapi membandingkan saya—seorang perwakilan resmi Vance Jewelry yang memegang lisensi pasokan berlian internasional—dengan seorang wanita lemah yang tertindas dan diusir dari rumahnya sendiri... bukankah itu sebuah penghinaan besar bagi selera Nicholas? Dan yang paling penting... bagi reputasi keluarga Syailendra yang sedang Nenek pertahankan?"

Skakmat.

Elena dengan cerdas membalikkan serangan itu menjadi pembelaan atas nama kehormatan Nenek Syailendra.

Wajah Sarah seketika berubah merah padam menahan malu, sementara Ardi mengepalkan tinjunya dengan geram di seberang meja.

Nenek Syailendra yang sejak tadi diam, perlahan menghentikan ketukan jarinya.

Wanita tua itu menatap Elena dengan pandangan yang mendalam, mencari setitik ketakutan di mata Elena, namun yang ia temukan hanyalah keberanian seorang penguasa yang egois.

Tok!

Nenek Syailendra mengetukkan tongkat emasnya ke lantai marmer dengan keras.

"Cukup! Sarah, Ardi, jaga ucapan kalian di meja makan. Nicholas bukan anak kecil yang bisa kalian dikte tentang bagaimana cara memilih wanita."

Nenek Syailendra kemudian beralih menatap Nicholas dengan tatapan yang sangat tegas.

"Pernikahan kalian bulan depan tetap akan berjalan sesuai rencana demi stabilitas perusahaan. Tapi ingat, Nicholas... jika wanita pilihanmu ini sampai membawa skandal yang merugikan nama besar Syailendra Group, aku sendiri yang akan mendepaknya keluar dari silsilah keluarga kita."

"Itu tidak akan pernah terjadi, Nenek," jawab Nicholas dengan suara beratnya yang penuh dengan kepastian mutlak.

Makan malam menegangkan itu akhirnya ditutup dengan kemenangan pertama di tangan Elena.

Saat mereka berjalan kembali menuju mobil limosin di pelataran rumah, Nicholas tiba-tiba menghentikan langkahnya di bawah naungan pohon oak yang rindang.

Pria itu membalikkan tubuh Elena, menatapnya dengan sepasang mata elang yang dipenuhi rasa kagum dan gairah posesif yang teramat sangat.

Tanpa peringatan, Nicholas merangkul pinggang ramping Elena dengan lengan kekarnya, menarik tubuh wanita itu hingga dada mereka merapat sempurna.

"Kamu luar biasa malam ini, Elena," bisik Nicholas lirih, napasnya yang hangat menerpa permukaan kulit wajah Elena yang mendadak bersemu merah.

"Cara kamu membungkam bibi dan sepupuku di depan Nenek... membuatku semakin tidak sabar untuk benar-benar mengunci kamu di dalam hidupku."

Elena mendongak, menantang tatapan intens dari pria yang kini memeluknya begitu erat.

"Ini baru makanan pembuka, Nicholas. Para serigala di dalam rumahmu baru saja kehilangan taring pertamanya. Mari kita lihat, jebakan apa lagi yang akan mereka siapkan di hari pernikahan kita bulan depan."

Nicholas tersenyum miring, sebuah senyuman kejam namun penuh pesona maskulin yang memikat.

Pria itu membungkukkan kepalanya sedikit, mengecup kening Elena dengan begitu dalam dan posesif, menegaskan aliansi maut mereka yang kini melangkah satu tapak lebih dekat menuju jenjang pernikahan akbar yang akan mengguncang seluruh negeri.

------------------------------

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!