NovelToon NovelToon
Jalanan Di Bawah Sayap Hitam

Jalanan Di Bawah Sayap Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Misteri
Popularitas:996
Nilai: 5
Nama Author: ArdaKings

Di sebuah kota yang dikuasai geng-geng jalanan dan kekuasaan gelap, sekelompok pemuda memilih bertahan hidup sambil melindungi warga lemah. Di markas tua mereka, tersembunyi sebuah rahasia berusia puluhan tahun — sebuah benda yang bisa mengubah nasib banyak orang, sekaligus menjadi sumber malapetaka kalau jatuh ke tangan yang salah.

Ketika kelompok berbahaya bernama Elang Darah mulai memburunya, identitas tersembunyi dan masa lalu kelam setiap tokoh perlahan terungkap. Arda yang terlihat malas ternyata menyimpan kekuatan dan tanggung jawab besar, sementara Kael dan kawan-kawannya harus memilih: ikut berebut kekuasaan, atau tetap memegang prinsip di tengah pertarungan yang melibatkan banyak pihak rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArdaKings, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Jejak yang Tertinggal

Angin malam masuk lewat lubang pintu yang rusak, bawa hawa dingin yang bikin bulu kuduk meremang. Sisa obor yang ditinggal musuh masih menyala redup, nyalanya bergoyang-goyang, bikin bayangan di dinding kelihatan bergerak-gerak kayak hantu.

Niko masih jongkok di depan pintu belakang, jari-jarinya memegang selembar kain kecil yang dia temukan tadi. Dia menggosoknya pelan, matanya menyipit rapat, seolah nggak percaya sama apa yang dia lihat.

“Kalian lihat ini?” katanya, suaranya lebih pelan dari biasanya. “Ini bukan cuma kain bekas. Ada tanda kecil di sini.”

Bastian langsung melangkah mendekat, lututnya menyentuh lantai. Dia mengamati kain itu sambil mengerutkan dahi. “Tanda apa? Aku cuma lihat noda hitam doang.”

“Bukan noda,” potong Niko, lalu mengangkat kain itu lebih dekat ke cahaya. “Ini cap dari jaringan barang terlarang. Cuma orang yang udah lama berurusan sama jalanan gelap yang tahu bentuknya. Artinya… mereka nggak cuma datang buat nyerang kita atau cek seberapa kuat kita. Mereka juga cari sesuatu yang tersembunyi di sekitar sini.”

Kael berdiri di sampingnya, tangannya diselipkan di saku jaket. Dia nggak langsung bicara, cuma menatap kain itu dengan tatapan kosong. Pikirannya melayang ke mana-mana — barang apa yang bisa bikin sekelompok orang sebesar Elang Darah sampai rela datang malam-malam, bawa banyak orang, dan berani masuk ke markas mereka?

“Jadi selama ini kita cuma lihat separuh aja dari masalahnya?” tanya Mikhael dari belakang. Dia lagi memeriksa luka kecil di lengan Bastian, dibalutnya pakai kain bersih yang dia bawa. “Mereka nggak cuma mau kuasai pasar atau jalanan. Ada barang yang jauh lebih berharga yang mereka incar.”

Di sudut ruangan, Arda sudah setengah terlelap lagi. Matanya setengah merem, tapi telinganya tetap menangkap setiap kata yang diucapkan. Dia cuma menggerakkan bahu sedikit, lalu mendengus pelan.

“Wajar aja,” ucapnya, suaranya masih berat karena ngantuk. “Kalau cuma soal tanah atau uang, mereka nggak bakal repot-repot kirim orang sebanyak ini. Barang yang dicari pasti yang nggak bisa didapat di pasar biasa. Entah itu senjata, obat terlarang, atau mungkin sesuatu yang lebih aneh lagi.”

Kael menoleh ke arahnya. “Kamu pernah dengar soal tanda ini sebelumnya?”

Arda menggeleng malas. “Banyak tanda di dunia ini. Nggak semuanya harus aku ingat. Tapi satu hal yang pasti — barang itu nggak mungkin disembunyikan sembarangan. Kalau mereka cari sampai ke sini, berarti tempat persembunyiannya nggak jauh dari jangkauan kita.”

Pembicaraan terhenti sebentar. Bastian berdiri lagi, tangannya memegang kain perban yang sudah dipakai. Dia melirik ke arah luar lewat lubang pintu yang rusak, wajahnya masih terlihat kesal.

“Terus kita harus gimana? Duduk diam aja nunggu mereka datang lagi?” tanyanya, nada bicaranya agak meninggi. “Mereka sudah tahu tempat kita, sudah tahu seberapa banyak kita, bahkan sekarang mereka cari barang yang kita sendiri nggak tahu apa bentuknya.”

“Jangan terburu emosi,” jawab Kael tenang. “Mereka cari barang, kita cari tahu apa barang itu. Kalau kita dapat lebih dulu, kita pegang kendali permainannya.”

Niko melipat kain itu rapat, lalu masukkan ke saku baju dalamnya. “Besok pagi aku keliling tanya ke orang-orang yang bisa dipercaya. Cari tahu apa yang baru masuk ke kota ini beberapa bulan terakhir. Barang apa yang disembunyikan rapat-rapat sampai bikin geng besar berani bergerak.”

“Tapi hati-hati,” tambah Mikhael. “Sekarang mata-mata mereka pasti ada di mana-mana. Jangan sampai terlihat terlalu mencolok.”

Malam makin larut. Mereka bergantian jaga di depan dan belakang ruangan, sementara yang lain berusaha istirahat seadanya. Suasana nggak lagi senyaman dulu — setiap bunyi daun bergesekan, setiap langkah kaki yang lewat di jalan, bikin telinga mereka langsung menajam.

Saat jam sudah hampir menunjukkan dini hari, suara gerakan pelan terdengar dari arah jendela belakang. Orang yang jaga di situ langsung berdiri tegak, tangannya memegang gagang pisau.

“Siapa?” bisiknya.

Suara lembut menjawab dari balik kegelapan. “Aku… Lio.”

Dia melompat masuk perlahan, kakinya melangkah pelan supaya nggak berisik. Bajunya kotor kena lumpur, wajahnya pucat dan napasnya terengah-engah. Begitu sampai di dalam, dia langsung menunduk, seolah nggak berani menatap wajah mereka.

Kael langsung mendekat, tangannya memegang bahu anak itu pelan. “Ada apa? Kenapa wajahmu pucat begini?”

Lio mengangkat kepalanya, matanya berkaca-kaca. Suaranya terguncang saat bicara.

“Tadi malam… saat aku mengawasi jalan keluar kota… aku lihat mereka bawa seseorang. Orang itu dipukul sampai nggak sadar, lalu dimasukkan ke dalam gerobak tertutup. Dan aku kenal dia… dia Pak Rian, penjaga gudang beras di ujung pasar.”

Semua orang langsung terdiam. Pak Rian itu orang yang sudah lama membantu mereka — sering kasih beras murah, kadang malah memberi secara cuma-cuma kalau mereka lagi kesulitan. Dia juga yang sering kasih tahu kalau ada orang asing yang lewat di daerah itu.

“Mereka bilang apa?” tanya Bastian, suaranya tiba-tiba jadi berat.

“Mereka bicara kalau Pak Rian tahu di mana tempat persembunyian itu,” jawab Lio sambil menelan ludah. “Katanya dia nggak mau bicara, jadi mereka bawa dia ke tempat yang nggak ada orang yang bisa dengar teriakannya.”

Kepalan tangan Bastian mengeras sampai urat-urat di lengannya terlihat menonjol. Dia melangkah maju, sudah siap ambil jaket dan pergi keluar malam itu juga.

“Mereka berani menyentuh orang yang kita lindungi? Aku cari mereka sekarang juga!”

“Berhenti!” bentak Kael, suaranya cukup keras bikin semua orang menoleh. “Kamu mau masuk ke perangkap mereka lagi? Mereka tahu kita peduli sama warga sini. Mereka tangkap Pak Rian supaya kita datang sendiri, tanpa rencana, tanpa persiapan.”

Bastian berhenti di tempat, dadanya naik turun karena marah. Dia tahu Kael benar, tapi rasanya nggak terima kalau harus diam saja melihat orang baik disiksa begitu saja.

“Terus kita diam aja biarkan dia menderita?” tanyanya dengan nada kesal.

“Nggak,” jawab Kael tegas. “Kita cari cara lain. Tapi bukan dengan terburu-buru masuk ke mulut harimau.”

Di sudut ruangan, Arda duduk tegak perlahan. Dia nggak lagi terlihat mengantuk. Matanya terang, menatap ke arah dinding yang gelap seolah bisa melihat jauh ke luar kota. Dia mengusap dagunya pelan, lalu menghela napas panjang.

“Mereka memang pintar,” ucapnya pelan. “Mereka tahu kelemahan kita. Kalau kita datang selamatkan Pak Rian, kita terjebak. Kalau kita nggak datang, nama kita jadi kotor dan warga lain nggak bakal percaya lagi sama kita.”

Dia menoleh ke arah mereka, tatapannya datar tapi penuh arti.

“Jadi kali ini, kita nggak bisa menang dengan cara biasa. Kita harus main lebih licik dari mereka.”

Tepat saat dia selesai bicara, suara langkah kaki cepat terdengar lagi dari luar. Kali ini bukan satu orang, tapi beberapa orang berjalan tergesa-gesa sambil berbisik.

Mereka langsung bersembunyi di balik tiang dan tumpukan barang, siap siaga. Jendela sedikit dibuka, dan terlihat bayangan dua orang lewat di depan jalan. Salah satunya tertawa pelan, suaranya terdengar jelas masuk ke dalam ruangan.

“Besok malam mereka harus bawa jawabannya. Kalau nggak, kita bakar saja satu distrik kumuh itu supaya mereka tahu siapa yang berkuasa di kota ini.”

Suara mereka makin menjauh, lalu hilang terbawa angin.

Di dalam ruangan, hening kembali melanda. Kael menunduk, jari-jarinya kembali memutar koin peraknya — tapi kali ini gerakannya terasa lebih cepat, lebih tegang.

Mereka baru saja dapat tantangan baru. Dan kali ini, pilihan yang tersedia nggak ada yang benar-benar aman.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!