Bagus , seorang pemuda yang di tolak cintanya dengan cara menyakitkan, mengambil jalan pintas untuk mendapatkan cintanya. apa yg terjadi ? jika ternyata semua yang dia dapatkan hanya kenikmatan semu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 : Penolakan Yang Menyakitkan
“Ketulusan yang kau injak-injak hari ini adalah bahan bakar terbaik untuk menghancurkan kesombonganmu di masa depan. Jangan pernah meremehkan pria miskin yang telah kehilangan rasa takutnya.”
— Sang Alifas Yang Merumput
Layar handphone baret-baret yang terpasang di stang motor Beat karbu milik Bagus bergetar berisik. Sebuah notifikasi Instagram tiba-tiba muncul di bar atas layar. Dengan jempol yang masih terbungkus sarung tangan motor bolong-bolong, Bagus mengusap layar itu malas-malasan. Namun, detik berikutnya, napas Bagus tercekat. Sebuah postingan foto menampilkan Sri sedang tersenyum lebar di sebuah kafe estetik daerah Senopati. Di samping Sri, berdiri seorang cowok klimis berkaos branded, lengkap dengan sebuah kunci mobil mewah berlogo Eropa yang sengaja digeletakkan di atas meja kafe.
Dada Bagus langsung berdenyut nyeri, rasanya persis seperti dihantam benda tumpul. Sebagai kurir ojol yang seharian ini kepanasan dan kehujanan menembus macetnya Jakarta demi mengejar bonus recehan, foto itu telak menghantam harga dirinya. Badannya yang lelah seolah langsung kehilangan tenaga begitu saja di pinggir jalan raya yang bising.
Malam itu, dengan rintik gerimis yang mulai turun membasahi jaket hijaunya, bermodal nekat Bagus langsung tancap gas ke area parkiran belakang gedung kantor Sri. Gadis itu bekerja sebagai staf admin biasa di sana. Sambil menunggu di atas motor, tangan Bagus yang agak gemetar meraba kantong jaketnya. Ada sebuah kotak bludru merah kecil di sana. Isinya cuma kalung perak murah, tapi dibeli dari hasil memeras keringat narik ojek subuh ketemu subuh selama tiga bulan terakhir. Bagus bahkan rela menahan lapar dan tidak jajan kopi demi bisa membeli kado tersebut.
"Sri, tunggu!" panggil Bagus saat melihat siluet gadis itu berjalan keluar dari pintu belakang kantor menjelang jam malam. Suaranya bergetar menahan dingin dan gugup.
Bagus langsung turun dari motor dan melangkah cepat mencegat jalan Sri. Ia menyodorkan kotak merah itu dengan tangan yang sedikit gemetar. "Sri, aku tahu aku cuma kerja narik ojol. Aku belum bisa kasih kamu kemewahan sekarang. Tapi perasaanku ke kamu beneran tulus. Aku mau serius sama kamu, Sri."
Sri menghentikan langkahnya secara mendadak. Tatapannya tertuju pada kotak merah di tangan Bagus, lalu beralih menatap jaket ojol Bagus yang dekil terkena debu jalanan. Tatapan mata Sri bener-bener gak bisa bohong, penuh dengan rasa jijik. Cewek itu melipat tangan di dada, lalu tertawa renyah yang terdengar sangat merendahkan di telinga Bagus.
"Tulus? Hari gini masih modal tulus doang, Gus? Sadar diri dong!" cibir Sri dengan nada ketus. "Tolong ngaca. Motor yang kamu pakai narik saja knalpotnya sudah ngebul begitu. Cicilannya juga pasti masih megap-megap, kan? Mau kasih makan apa aku nanti kalau kita nekat nikah? Makan ketulusan kamu itu?"
Sri maju selangkah, menatap mata Bagus dengan pandangan dingin tanpa perasaan. "Jangan mimpi ketinggian, Bagus. Level kita sekarang sudah beda jauh. Aku butuh cowok yang punya masa depan jelas, bukan kurir miskin yang cuma bisa kasih janji manis. Mulai malam ini, jangan pernah hubungi aku lagi. Gak usah datang-datang ke kantor atau rumahku. Jujur, kamu bikin aku risih dan malu kalau kelihatan sama temen-temen kerjaku!"
Tanpa aba-aba, Sri merebut kotak merah itu dari tangan Bagus secara kasar. Tapi bukannya disimpan, Sri malah melempar kotak berisi kalung perak hasil perjuangan tiga bulan itu ke dalam tempat sampah besar yang basah di pojok parkiran. Setelah itu, tanpa peduli wajah Bagus yang sudah pias, Sri langsung melenggang pergi begitu saja.
Di seberang jalan, sebuah mobil sedan hitam mewah sudah menunggu dengan lampu hazard yang menyala. Seorang cowok berpakaian rapi keluar dari mobil, membukakan pintu depan untuk Sri sambil melemparkan senyum sinis ke arah Bagus. Mobil mewah itu kemudian melesat cepat membelah genangan air hujan, meninggalkan cipratan air kotor yang mengenai celana jin Bagus yang sudah usang.
Bagus cuma bisa mematung di bawah guyuran hujan yang makin deras. Air hujan menetes lewat helmnya, bercampur dengan air mata hangat yang runtuh tanpa bisa ia tahan lagi. Kalimat tajam Sri barusan benar-benar sukses menguliti harga dirinya sebagai seorang laki-laki sampai habis tak bersisa. Kalung perak di dalam tong sampah itu menjadi saksi bisu betapa ketulusannya malam ini dianggap tidak lebih berharga dari kotoran.
Rasa sakit hati yang teramat sangat perlahan berubah menjadi amarah yang bergejolak hebat di dalam dada Bagus. Kedua tangannya mengepal kencang di dalam saku jaket sampai kuku-kukunya menusuk telapak tangan sendiri. Matanya yang memerah menatap tajam ke ujung jalan raya tempat mobil mewah tadi menghilang.
Malam itu, di tengah malam yang dingin mencekam, terbersit niat gelap mulai tumbuh dan mengakar kuat di kepala Bagus. Sifat baiknya telah mati malam ini, ikut membusuk bersama kalung di dalam tempat sampah kantor Sri. Jika kerja keras yang halal dan niat baik yang tulus sudah tidak dihargai lagi di dunia yang serba memandang harta ini, maka cara terkutuk dan jalur hitam sekalipun akan ia tempuh untuk membalikkan nasibnya. Bagus bersumpah, suatu hari nanti, Sri dan cowok kaya itu yang harus merangkak di tanah untuk memohon ampunan di depannya. Balas dendam ini resmi dimulai.