NovelToon NovelToon
Sistem Dewi Rubah

Sistem Dewi Rubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

terjadi kesalahan cerita, cerita akan di mulai dengan cerita baru. cerita ini tiba-tiba terjadi kesalahan yang tidak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Cinta untuk Nona Muda"

Tanpa bicara, Lucy mulai membersihkan luka itu. Gerakannya cekatan—bukan gerakan seorang gadis SMA biasa, tapi dia berharap Kaito terlalu kesakitan untuk menyadarinya. Dia menuangkan bubuk herbal ke atas luka, lalu membalutnya dengan perban, melingkarkannya di perut Kaito dengan kencang.

"Selesai," katanya, menurunkan kembali kaos Kaito. Dia berdiri, mengambil kantong belanjaannya. "Jangan banyak bergerak. Itu akan sembuh."

Dia berbalik dan mulai berjalan.

"Terima kasih."

Suara itu menghentikannya lagi. Lucy menoleh sedikit. Kaito masih duduk di tanah, satu tangannya menyentuh perban di perutnya. Wajahnya masih pucat, tapi matanya... matanya menatap Lucy dengan intensitas yang berbeda.

"Sama-sama," jawabnya singkat, lalu berbalik lagi.

"Tunggu."

Lucy berhenti. Kali ini dia berbalik sepenuhnya, menatap Kaito dengan alis terangkat. "Ada apa?"

Kaito membuka mulutnya—lalu menutupnya lagi. Dia baru menyadarinya sekarang.

Mata Lucy.

Di bawah cahaya lampu jalan yang redup, mata gadis itu bukan hitam seperti yang dia ingat dari sekolah. Mata itu biru. Biru permata. Biru yang begitu dalam dan berkilau, seperti bintang yang terjebak di dalamnya.

"Matamu..." kata Kaito tanpa sadar.

Lucy mengerutkan kening. "Apa?"

Kaito menggeleng, menyadari dia telah menatap terlalu lama. Dia melepaskan jaketnya—jaket tim basket yang sudah kotor dan sedikit robek—dan mengulurkannya pada Lucy.

"Ini. Pakailah."

"Untuk apa?"

"Hari sudah malam. Dingin. Dan kau..." Dia menelan ludah. "...kau hanya pakai kaos tipis."

Lucy menatap jaket itu. Lalu menatap Kaito. Lalu menatap jaket itu lagi.

"Jangan terima," Lili memperingatkan. "Ini tidak ada dalam rencana."

Tapi Lucy tidak mendengarkan. Karena saat dia menatap jaket itu, dia mencium aroma yang membuat indra ilahinya bergetar.

Aroma jiwa Kaito.

Begitu kuat. Begitu liar. Begitu... menggoda.

Energi. Pikirnya. Ini sumber energi yang sangat bagus.

"Baiklah." Dia mengambil jaket itu dan memakainya. Jaket itu terlalu besar untuknya—lengannya menggantung melewati ujung jarinya, dan ujung bawahnya hampir mencapai lutut. Tapi rasanya hangat. Dan aromanya... aromanya memenuhi seluruh indranya.

"Terima kasih," katanya, lalu berbalik dan berjalan pergi. Kali ini dia benar-benar pergi.

Kaito menatap punggungnya yang semakin kecil, jaketnya yang kebesaran membungkus tubuh gadis itu. Mata biru itu masih terngiang di kepalanya. Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, dia merasa... penasaran.

Lima menit kemudian, suara langkah kaki berlarian mendekat.

"Kaito! Kaito! Kau di sini?!"

Teman-teman Five Shadows muncul dari ujung gang. Wajah mereka panik, napas mereka terengah-engah. Yang pertama tiba adalah Riku—pemain basket berambut cokelat yang selalu menjadi wakil Kaito.

"ASTAGA! KAITO! DARAH!" Riku langsung meraih bahu Kaito. "Siapa yang melakukan ini?! Ke mana mereka?!"

"Sudah pergi," jawab Kaito singkat.

"Kita harus bawa kau ke rumah sakit—"

"Tidak. Bawa aku pulang. Panggil dokter keluarga."

Riku mengangguk, lalu dengan bantuan dua teman lainnya, mereka membantu Kaito berdiri dan berjalan ke mobil yang menunggu di ujung jalan.

Satu jam kemudian, di rumah Kaito—sebuah penthouse mewah di puncak gedung tertinggi di kota—dokter pribadi keluarga Fujiwara membuka perban yang melilit perut Kaito. Dan dia terdiam.

"Ini... tidak mungkin," gumamnya.

"Apa?" tanya Riku yang berdiri di sudut ruangan.

"Luka ini..." Dokter itu menunjuk perut Kaito. "Lukanya sudah hampir tertutup. Ini terlihat seperti luka yang sudah berumur tiga atau empat hari, bukan luka baru. Tapi Tuan Kaito bilang ini baru terjadi malam ini?"

Kaito tidak menjawab. Dia hanya menatap perutnya sendiri. Luka yang tadi masih terbuka dan berdarah, kini hanya tersisa bekas merah samar. Seperti luka lama yang hampir sembuh.

Bagaimana mungkin?

Pikirannya kembali pada gadis itu. Pada tangannya yang cekatan membersihkan luka. Pada bubuk yang ditaburkannya. Pada mata biru yang begitu indah.

"Siapa dia?" bisiknya pada dirinya sendiri.

"Tuan Kaito?"

"Tidak apa-apa." Kaito menyandarkan punggungnya ke sofa. "Kalian boleh pergi."

Setelah dokter dan teman-temannya pergi—meskipun dengan enggan—Kaito duduk sendirian di ruang tamunya yang luas. Lampu-lampu kota berkilauan di balik jendela kaca besar. Tapi yang dia lihat bukanlah pemandangan itu.

Dia melihat mata biru. Rambut hitam sebahu. Kaos tipis yang seharusnya tidak cukup untuk menahan dingin malam.

Siapa dia sebenarnya?

 

Sementara itu, di apartemen kecilnya, Lucy duduk bersila di atas kasur. Di hadapannya, makanan-makanan instan tersebar seperti pesta kecil. Ayam goreng. Mie kuah yang masih mengepul. Udang keju. Cokelat. Keripik. Anggur manusia yang rasanya biasa saja.

Lili duduk di sisi lain, menjilati makanannya sendiri—makanan kucing kalengan premium yang Lucy ambilkan dari supermarket.

"Presentase," kata Lili tiba-tiba, suaranya tercekat.

"Hm?" Lucy menggigit ayam gorengnya.

"Kaito Fujiwara. Rasa suka: ♡♡♡ | 30%. Hampir setara dengan rasa sukanya pada protagonis wanita."

Lucy mengunyah perlahan. "Tiga puluh persen? Baru saja aku menolongnya, langsung naik dua puluh persen?"

"Itu belum semua." Lili menelan ludah. "Tingkat kejahatannya menurun. Tadinya 80%. Sekarang 60%."

"Huh." Lucy meraih udang kejunya. "Cukup bagus untuk pekerjaan malam hari."

"KAU TIDAK PEDULI?!"

"Tentu saja aku peduli. Ini kemajuan." Lucy menjilati jarinya. "Tapi aku lebih peduli dengan makanan ini sekarang. Aku lapar."

"Kau baru saja menaikkan presentase secara drastis tanpa rencana, tanpa strategi, hanya karena kebetulan—dan reaksimu hanya 'cukup bagus'?!"

"Lili." Lucy menatap kucingnya dengan mata biru yang tenang. "Aku sudah bilang. Aku di sini untuk bersenang-senang. Kalau keberuntungan berpihak padaku, aku tidak akan menolaknya."

Lili hanya bisa menghela napas panjang.

Lucy menyelesaikan makanannya, lalu merebahkan diri. Matanya menatap jaket basket yang tergantung di kursi—jaket Kaito yang masih memancarkan aroma jiwa pemiliknya. Samar, tapi menggoda.

Dia menjilati bibirnya.

"Inti jiwa antagonis pria itu mungkin terasa sangat enak," gumamnya. "Tapi makanan ini mengenyangkan lebih cepat. Aku akan mencicipi makanan penutupnya nanti."

"Makanan penutup?"

"Kaito." Lucy tersenyum. "Ren. Dan siapa pun yang menarik. Tapi untuk sekarang..."

Dia menutup matanya, masih tersenyum.

"Aku kenyang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!