"Saya terima nikahnya Yuna bin Adnan..."
Suara berat Labib saat mengucapkan kalimat itu tadi malam masih terngiang jelas di telinga Yuna. Pernikahan mendadak ini adalah wasiat terakhir almarhum ayahnya, sahabat karib Labib meskipun usia mereka terpaut jauh. Ayah Yuna tahu hidupnya tak lama lagi karena sakit, dan ia memercayakan putri tunggalnya pada satu-satunya pria yang ia tahu punya integritas tinggi: Labib.
"Yuna Anindya."
Suara berat itu memecah lamunan Yuna. Ia tersentak, mendongak, dan mendapati seisi kelas kini tengah berbalik menatapnya. Di depan sana, Labib sedang memegang daftar absensi, menatapnya lurus tanpa ekspresi ragu sedikit pun. Profesional. Seolah tadi malam ia tidak menyematkan cincin di jari manis Yuna.
"Ya, Pak. Hadir," sahut Yuna pelan, mengangkat tangannya sedikit.
Labib mengangguk sekilas, lalu beralih ke nama berikutnya tanpa jeda. Tidak ada perlakuan khusus. Memang itu yang Yuna inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinding Di Samping Kulkas
Suara pintu kamar mandi terbuka bersamaan dengan menguapnya aroma sabun mint yang segar. Labib melangkah keluar sambil mengeringkan rambut hitamnya dengan handuk kecil. Pria 31 tahun itu hanya mengenakan celana pendek santai dan kaos putih polos, tampak sangat rileks setelah seharian menghadapi rapat dekanat yang melelahkan.
Namun, langkah kakinya langsung terhenti begitu melihat atmosfer kamar yang mendadak berubah mencekam.
Yuna berdiri di samping nakas, membelakangi tempat tidur dengan kedua tangan yang bersendekap di dada. Sepasang matanya yang bulat kini menatap Labib dengan pandangan yang begitu tajam, sarat akan luka dan amarah yang meledak-ledak.
"Oh, iya... Pak Labib yang terhormat," ucap Yuna membuka suara. Nadanya begitu dingin, lambat, dan penuh dengan penekanan sindiran yang kentara di setiap kata. "Ada chat tuh masuk ke HP-nya. Dari Bu Citra, katanya: 'Gimana mas, enak puding mangganya?'"
Labib langsung mengernyitkan dahi dalam-dalam. "Yuna, apa maksud—"
Belum sempat Labib menyelesaikan kalimatnya atau meraih ponselnya di atas nakas, Yuna sudah melangkah lebar melewatinya begitu saja. Bahunya sengaja menyenggol lengan Labib dengan kasar saat ia berjalan menuju pintu kamar.
Brak!
Yuna menutup pintu kamar dengan hentakan keras, lalu menghentakkan kakinya dengan emosi yang membuncah menuruni anak tangga menuju lantai bawah. Dadanya terasa sesak bukan main. Kata "Mas" dari perempuan lain di ponsel suaminya benar-benar menggores harga dirinya sebagai seorang istri sah, meskipun pernikahan mereka dirahasiakan.
Di dalam kamar utama, Labib mematung selama beberapa detik sebelum akhirnya menyambar ponselnya dengan cepat. Ia membuka aplikasi WhatsApp dan memeriksa nomor tidak dikenal yang baru saja mengirimkan pesan tersebut.
Rahang Labib seketika mengeras begitu membaca baris kalimat di layarnya. Ada kilatan amarah sekaligus frustrasi di mata elangnya. Pria itu mengembuskan napas kasar, melempar handuk kecilnya ke atas kasur, lalu berjalan cepat keluar kamar untuk menyusul istrinya yang sedang terbakar api cemburu di lantai bawah.
Yuna duduk membisu di salah satu kursi kayu meja makan. Di depannya, sebuah gelas kaca berisi air putih yang tinggal setengah berembun, mencerminkan ketegangan yang mendera dirinya. Di dalam kulkas dua pintu yang berada tepat di sampingnya, tersimpan puding mangga dari Bu Citra—puding yang kini terasa seperti bom waktu bagi Yuna. Ia sama sekali tidak berniat menyentuh, apalagi membuka wadahnya.
Suara derap langkah kaki Labib yang tergesa menuruni tangga memecah keheningan rumah. Pria berumur 31 tahun itu langsung melangkah lebar menuju area dapur, mendapati istrinya yang berusia 21 tahun itu sedang menatap kosong ke arah gelas dengan rahang yang mengatup rapat.
Labib menarik kursi di sebelah Yuna, lalu mendudukinya. Ia memajukan tubuhnya, mencoba meraih jemari Yuna yang bertumpu di atas meja, namun dengan cepat Yuna menarik tangannya menjauh dan menyembunyikannya di bawah meja.
"Yuna, dengarkan saya dulu," ucap Labib dengan nada suara yang ditekan serendah mungkin, mencoba menahan emosinya sendiri agar tidak memperkeruh suasana seperti tadi pagi. "Pesan itu memang dari Citra. Tapi ada hal yang tidak kamu ketahui."
Yuna terkekeh sinis, matanya melirik tajam ke arah Labib. "Hal apa yang nggak aku tahu, Mas? Oh, apa di kampus kalian pura-pura panggil 'Pak' dan 'Bu', tapi kalau di belakang dan lewat chat panggilannya berubah jadi 'Mas'? Gitu maksudnya?"
"Jaga bicaramu, Yuna Anindya," tegur Labib, guratan tegas kembali muncul di dahinya. "Nomor itu bahkan tidak saya simpan di kontak saya. Dia mendapatkan nomor pribadi saya dari grup koordinasi dekanat yang baru dibentuk siang tadi."
Labib menghela napas berat, lalu mengeluarkan ponselnya sendiri dan meletakkannya di atas meja menghadap ke arah Yuna. "Citra memanggil saya 'Mas' bukan karena kami memiliki hubungan khusus. Dia adalah sepupu jauh dari garis ibu saya. Kami tumbuh di lingkungan keluarga yang sama sebelum akhirnya dia melanjutkan studi ke luar negeri dan kembali sebagai dosen di kampus kita."
Yuna tertegun sejenak mendengarnya. Jantungnya berdesir, namun ego dan rasa kesalnya belum sepenuhnya mereda. "Sepupu? Terus kenapa Mas Labib nggak pernah cerita dari awal? Kenapa pas di parkiran kemarin dan tadi siang, Mas kelihatan... biasa aja pas dikasih barang sama dia?"
"Karena bagi saya, di kampus dia adalah rekan sejawat dan tidak ada urusan pribadi yang harus saya pamerkan pada mahasiswa, termasuk kamu," jawab Labib jujur, tatapannya menghunjam lurus ke dalam manik mata Yuna yang mulai goyah. "Saya baru tahu dia dipindahkan ke fakultas kita minggu lalu. Dan soal puding itu, dia memang membuatnya untuk acara keluarga besok, tapi sengaja menyisihkan sebagian untuk saya karena ibu saya yang memintanya menitipkan pada saya."
Labib kembali mengulurkan tangannya, dan kali ini ia mencengkeram lembut pergelangan tangan kanan Yuna, menariknya perlahan agar di atas meja. "Jika saya berniat berselingkuh atau bermain di belakangmu, saya tidak akan sebodoh itu meletakkan ponsel saya di nakas dalam keadaan menyala saat saya mandi, Yuna."
Yuna menarik paksa pergelangan tangannya dari genggaman Labib. Penjelasan rasional suaminya memang masuk akal, tapi rasa gengsi dan sisa cemburu yang terlanjur membakar dadanya membuat mahasiswi arsitektur itu enggan mengalah begitu saja.
"Sepupu jauh ya? Hubungan tanpa ikatan darah yang dekat, kan?" cibir Yuna dengan nada ketus, sengaja beralih memanggil Labib dengan sebutan formal kampusnya. "Zaman sekarang mana ada yang murni sepupuan, Mas. Bisa aja dia diam-diam jatuh cinta sama Bapak. Secara, Pak Labib kan dosen ganteng idola kampus yang terhormat."
Labib memijat pangkal hidungnya yang berdenyut. Panggilan 'Bapak' yang keluar dari bibir istrinya sendiri di dalam rumah mereka selalu sukses membuat urat sabarnya diuji.
"Yuna, stop kekanak-kanakan seperti ini," tegur Labib, suaranya memberat, memberi sinyal bahwa ia tidak suka dituduh tanpa bukti. "Citra sudah memiliki tunangan di Bandung. Hubungan kami murni sebatas keluarga dan rekan kerja di dekanat. Jangan melebarkan masalah ke mana-mana."
"Udahlah, Pak. Males saya," potong Yuna cepat.
Ia berdiri dari kursi meja makan, meninggalkan gelas air putihnya yang masih berembun tanpa berniat menyentuh puding mangga di dalam kulkas sedikit pun. Yuna membalikkan badan, berniat kembali mengunci diri di kamar atau mungkin mengungsi ke ruang tengah demi menghindari tatapan intimidasi suaminya.
Melihat keras kepalanya Yuna, Labib ikut berdiri. Tubuh tegap pria 31 tahun itu langsung bergeser, memotong jalur langkah Yuna hingga gadis itu hampir menabrak dadanya.
"Mau ke mana lagi? Mau kabur ke luar rumah lagi seperti semalam?" tanya Labib dingin, mengunci pergerakan Yuna dengan kedua tangannya yang kini bertumpu pada pinggiran meja makan di sisi kanan dan kiri tubuh istrinya.