Ethan, seorang Assassin paling mematikan di Neo-Veridia, memilih akhir tak terduga di hidupnya. Tanpa dia sadari, takdir membawanya ke sebuah tempat yang jauh berbeda dari sebelumnya. petualangan yang seru dan menegangkan pun tak bisa dia hindari untuk menemukan jawaban bagaimana dirinya bisa terseret ke tempat misterius ini. Apa yang sebenarnya yang terjadi pada Ethan? Bisakah dia menemukan jawaban dari semua ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sambungan Paksa Saraf Magnetik
[ Peringatan! Meridian pengguna sedang dalam kondisi Kelumpuhan Qi 85%. ]
[ Memaksakan aktivasi sistem fisik eksternal akan menyebabkan beban balik biologis sebesar 300%. Apakah Anda yakin? ]
"Lakukan," perintah Ethan dingin dalam benaknya.
BZZZZT—KLIK!
Kotak mekanis di bagian belakang kursi rodanya mendadak terbelah. Ratusan kabel mikro-serat karbon dan lempengan logam cair mencuat keluar, merambat cepat membungkus kedua kaki hingga ke punggung tegap Ethan. Ini adalah Exo-Skeleton Frame V1, sebuah perangkat penyokong fisik yang bergerak bukan berdasarkan energi Qi, melainkan berdasarkan sinyal bio-elektrik langsung dari otak Ethan.
KRETEK!
Ethan menggeritkan giginya saat jarum-jarum mikro dari setelan tersebut menembus kulitnya untuk tersambung dengan sistem saraf pusat. Rasa sakit yang teramat sangat menghantam kesadarannya, namun sepasang matanya justru berkilat dengan pendaran cahaya biru yang semakin tajam dan dominan. Berkat sokongan mekanis ini, tubuhnya kini bisa berdiri tegak dengan kekuatan fisik murni yang setara dengan monster Ranah Pondasi Spiritual Tahap Akhir.
Di depannya, pertahanan badai es elektromagnetik milik Mu Rong mulai retak. Awan racun ungu milik Leluhur Sanca Suci terus menekan ke bawah, memancarkan suara mendesis yang siap melumat apa saja.
"Bocah perempuan bodoh! Kau pikir dengan bantuan formasi aneh ini kau bisa menahan kekuatanku?!" Leluhur Sanca Suci tertawa mengejek dari balik kabut. Tangannya membentuk cakar ular, siap meremukkan kepala Mu Rong.
Namun, sebelum cakar racun itu menyentuh targetnya, sebuah bayangan hitam melesat secepat kilat dari belakang Mu Rong.
BOOM!
Ethan melompat, memanfaatkan dorongan hidrolik pada kaki Exo-Suit-nya. Di tangan kanannya, ia tidak memegang pedang, melainkan sebuah tabung logam tebal berukuran satu meter yang baru saja ia rakit dari sisa komponen lini produksi: Meriam Plasma Genggam Mikro V1.
"Ethan! Jangan!" Mu Rong berteriak panik saat melihat Ethan memaksakan diri maju ke garis depan. Sudut matanya memerah karena rasa cemas yang teramat sangat; ia tahu betul seberapa parah luka dalam yang diderita pria itu sebelumnya.
Ethan tidak menjawab. Di dalam kacamata sibernya, AI pusat telah menghitung titik kelemahan sirkulasi Qi di dada Leluhur Sanca Suci dengan akurasi hingga empat angka di belakang koma.
[ Pengisian Daya Meriam Plasma: 100%. ]
[ Jarak Target: 3 Meter. ]
Leluhur Sanca Suci terkejut melihat seorang pemuda tanpa fluktuasi Qi tiba-tiba muncul di hadapannya dengan kecepatan yang tak masuk akal. "Bocah lancang! Mati kau!"
Sang Leluhur mengalihkan seluruh pukulan racunnya ke arah dada Ethan. Namun, Ethan sama sekali tidak berniat menghindar. Ia membiarkan pundak kirinya dihantam oleh pukulan beracun tersebut hingga lempengan baja Exo-Suit-nya meleleh dan dagingnya menghitam, demi memastikan moncong meriam plasmanya menempel pas di hulu hati sang Leluhur.
"Bagi orang-orang dari dunia ini, kalian terlalu banyak bicara saat bertarung," bisik Ethan, suaranya terdengar sangat datar di telinga Leluhur Sanca Suci yang mendadak melebar karena ketakutan.
ZUUUUUUUM—BOOOM!!!
Kilatan cahaya putih murni yang suhunya mencapai sepuluh ribu derajat Celsius meledak dari moncong meriam. Energi plasma super-panas itu seketika menguapkan pelindung Qi Inti Emas milik sang Leluhur, menembus dadanya, dan menciptakan lubang menganga sebesar kepalan tangan yang menghanguskan seluruh organ dalamnya dalam sekejap mata.
"L-Leluhur... tewas?!"
Di langit, ratusan murid Sekte Sanca Suci yang masih bertahan mendadak membeku. Lentera harapan mereka runtuh seketika saat melihat tubuh kaku sang Leluhur jatuh bebas dari udara dan menghantam tanah bagaikan bongkahan batu tak berharga. Seorang ahli Ranah Inti Emas Tahap Akhir, penguasa wilayah pusat, tewas dalam satu serangan oleh seorang pemuda misterius yang bahkan tidak memiliki basis kultivasi yang jelas.
"Mundur! Mundur semuanya!" Rombongan penatua yang tersisa berteriak histeris, memutar balik pedang terbang mereka dan kabur kocar-kacir meninggalkan Kota Logam Hitam seolah tempat itu adalah neraka jidat yang dihuni oleh iblis kuno.
Ethan tidak memerintahkan pengejaran. Begitu kakinya kembali menginjak lantai tembok kota, sistem Exo-Suit-nya langsung mati secara otomatis karena kehabisan daya. Tubuh tegapnya langsung limbung ke depan.
SREK.
Mu Rong dengan cepat menangkap tubuh Ethan, membiarkan kepala pria itu bersandar di pundaknya. Air mata kecemasan yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh, membasahi pipi cantiknya yang ternoda debu pertempuran.
"Kau bodoh... kau benar-benar tidak waras, Ethan!" bisik Mu Rong dengan suara bergetar, tangannya dengan gemetar menyalurkan energi es murninya yang lembut untuk menekan racun yang mulai menjalar di pundak kiri Ethan. "Kenapa kau selalu melakukan hal-hal berbahaya seperti ini? Aku... aku tidak ingin melihatmu mati!"
Ethan terbatuk kecil, memuntahkan sedikit darah hitam akibat sisa racun. Meskipun rasa sakit yang menusuk seluruh tubuhnya hampir membuatnya pingsan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat menawan. Tatapannya dari balik visor cyber yang telah retak itu menatap langsung ke dalam manik mata Mu Rong yang berair.
"Jika aku tidak maju, persentase keberhasilanmu untuk selamat hanya dua belas persen, Rong'er," ucap Ethan pelan, napasnya yang hangat menerpa leher gadis itu. "Dan sistemku... sama sekali tidak menyukai probabilitas di mana aku harus kehilangan dirimu."
Mendengar kata-kata yang begitu blak-blakan dari mulut pria yang biasanya sedingin es itu, detak jantung Mu Rong berdesir hebat. Rasa hangat yang teramat pekat menjalar di dadanya, mengalahkan rasa dingin dari sisa pertarungan mereka. Ia mempererat pelukannya pada tubuh Ethan, mengabaikan tatapan takjub dan segan dari lima ratus anggota Corps Shadows Cyber yang berdiri di sekeliling mereka.