Berawal dari pertemuan yang tak sengaja di masa kecil, ternyata meninggalkan dampak besar bagi seorang pria tampan bernama Rengra.
Ia tak pernah menyangka, keputusannya untuk kabur demi menjauh dari hiruk pikuk masalah keluarga setelah kedua orang tuanya meninggal, justru mempertemukannya dengan Laura.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi? Akankah pertemuan itu benar-benar mengubah cara pandang Rengra terhadap seorang wanita?
Mari simak kisah mereka dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab ~ 08
Mobil sedan mewah kelas mahal berwarna hitam pekat berhenti di depan bangunan tinggi yang menjulang ke langit. Security langsung sigap membukakan pintu mobil milik pria tampan yang tak secara langsung turun. Renggra menyerahkan kunci kamar ke sang sopir yang menjadi kepercayaannya terlebih dahulu.
"Pulanglah dulu ke rumah, dan berikan ini pada bik Siska atau buk Ani. Katakan pada mereka untuk memperketat keamanan. Jangan sampai wanita yang ada di kamarku kabur atau melarikan diri. Jika sampai aku pulang nggak melihatnya di kamar, jangan salahkan aku jika kalian semua mendapatkan akibatnya."
Doni mengangguk tegas. "Baik Tuan!" pria itu menoleh sekilas ke Renggra untuk mengambil kunci yang tuannya berikan.
Renggra pun kembali pada tujuannya. Ia keluar dari dalam mobil dengan sambutan para staf kerjanya. Angga yang menunggu Renggra di depan pintu, langsung saja mengikuti langkah kaki sahabatnya untuk menuju ke dalam ruangan.
"Tolong Lo siapkan jadwal acara resepsi pernikahan gue sebagus dan semegah mungkin. Undang orang-orang seperlunya saja dan, tutup dari jangkauan awak media," perintah pria yang secara tidak langsung tersenyum tipis di kala mengingat gadis yang akan menjadi istrinya itu. Renggra tidak ingin wajah Laura tersebar ke seluruh penjuru negeri. Keamanan istrinya harus tetap dinomor satukan.
Angga tersentak untuk sekian kalinya. Jantungnya seperti ikut serta merta senam aerobik secara tidak langsung. "Lo akan menikahi wanita itu kapan?" rasanya Angga tak ingin mempercayai perkataan sahabatnya. Walau sebenarnya ia sangat bahagia mendengar berita itu.
"Secepatnya! Minggu depan! Gue ambil cuti honeymoon setelah acara resepsi pernikahan. Anggap aja ini cuti pertama gue setelah bekerja selama ini," jawab Renggra yang tak sabaran ingin menikahi gadisnya.
Sebenarnya ia mau pernikahan itu di selenggarakan secepat mungkin. Akan tetapi, ia tak perlu terburu-buru. Bukannya ia harus menyiapkan acara megah itu untuk gadisnya. Satu minggu juga adalah waktu yang cukup cepat. Lagian gadisnya akan ada di rumahnya. Mereka akan bertemu setiap waktu.
Angga mengembangkan senyumannya. Ternyata sahabatnya kali ini mengambil tindakan yang cukup tepat. "Baiklah jika itu sudah menjadi keputusanmu. Tapi Reng, bagaimana dengan wanita itu?"
"Lo nggak usah memikirkan Laura, itu hanya menjadi urusan gue." jelas Renggra penuh arti.
Oh Laura nama gadis itu, Angga menjadi penasaran dengan wanita yang bisa langsung merebut hati sang kulkas yang bekunya tak bisa di pecahkan menggunakan palu besi. "Iya Reng."
Mereka berdua telah sampai masuk ke dalam ruangan. Pria tampan yang tengah asyik duduk sembari mengotak-atik layar ponselnya dengan cepat menyingkirkan benda itu dulu untuk kembali fokus pada kedua sahabatnya.
"Apa kabar Nov, sudah lama kita nggak bertemu?"
Renggra berjabat tangan dengan Nova, mereka berdua berpelukan.
Kening pria tampan itu berkerut. Ada apa dengan salah satu sahabatnya ini? Seumur-umur bersama, baru kali ini wajah datar dan dingin itu tampak terlihat di hembus angin segar.
Nova pun melihat ke arah Angga dengan wajah penuh tanda tanya. Sedangkan Angga hanya bisa tersenyum bahagia sambil membuat kedua tangannya seperti pertanda orang yang sedang berciuman, kemudian menunjuk ke Renggra.
Nova tentunya menggeleng, masa ia, pria normal harus mencium pria dalam pelukannya. Angga membuang nafas kasar, sembari mengayunkan tangannya ke udara. Sudahlah lupakan.
Nova tak mengerti maksudnya yang menyatakan Renggra akan menikah bukan memintanya untuk mencium sahabatnya itu. Jika Nova melakukan hal itu, bisa-bisa dirinya mendapatkan bogeman mentah secara cuma-cuma.
Kedua pria itu melepaskan pelukan. "Kabar gue baik-baik aja. Gue juga baru sampai kok. Setelah sekian lama, padahal baru juga satu minggu gue pergi, udah kangen aja Lo," sindir Nova agar Renggra dapat bercerita dengan keanehannya saat ini.
Mereka duduk bersama di kursi yang memang telah di siapkan di ruangan itu sembari wajah Renggra tak berhenti tersenyum-senyum.
Dari pada lama menunggu Renggra angkat bicara dan sepertinya masih pada dunianya sendiri, lebih baik Nova menyelesaikan pekerjaan mereka dulu. "Semua urusan masalah yang Lo perintahkan, sudah selesai gue bereskan. Klien kita mr. Elroy juga sudah menyetujui untuk berkerjasama."
Renggra semakin mengangkat garis bibirnya. "Gue sudah yakin Lo bisa menyelesaikan pekerjaan itu, termasuk merayu mr. Elroy. Gue sih nggak masalah jika dia nggak mau. Gue juga nggak akan pernah menyetujui permintaannya untuk menikahi putrinya itu," ucap Renggra dengan membuka pulpennya sembari Angga membuka berkas yang harus Nova dan Renggra tanda tangani.
Kedua pria tampan itu menandatangani berkas masing-masing. Setelahnya Angga membereskan dokumen yang berserakan di atas meja dengan Nova masih penasaran atas tingkah sahabatnya hari ini. Rasa itu terus mendesaknya untuk bertanya.
"Reng, gue perhatikan Lo, hari ini kayak ada sesuatu. Ya, jujur sih, enak aja lihat suasana hati Lo kayak begini." Nova yang berbicara sembari memegang secangkir kopi di tangannya.
Angga sendiri telah selesai menyusun berkas itu ikut fokus mendengarkan pertanyaan Nova. Ia juga penasaran apa reaksi Nova jika mengetahui pria berhati kejam dan dingin itu ingin menikah dalam jangka waktu satu minggu.
Renggra tak bisa menyembunyikan perasaan bahagia ini. Kemarin-kemarin ia akui, bahwa dirinya itu tak bisa tenang jika gadisnya belum sepenuhnya ia miliki. Namun sekarang semuanya telah berbeda, ia tidak perlu resah lagi saat berjauhan dengan gadisnya. "Nov, minggu depan gue akan menikah," ucap Renggra. Sekalian memberitahukan kabar baik ini.
Nova yang sedang menikmati meminum kopi mahal itu langsung tersedak. Hampir saja air itu keluar menyembur wajah Renggra agar pria di hadapannya itu tidak kerasukan jin tomang lagi.
Sedangkan Angga menahan tawanya melihat reaksi Nova yang tersedak namun ia tahan agar air itu tidak keluar. Susah paya Nova menelan air kopi yang nikmat itu menjadi terasa hambar untuk masuk ke dalam kerongkongannya.
"Gue nggak salah dengar Lo mau menikah secepat itu?" tanya Nova sembari memainkan tenggorokannya agar terasa lebih nyaman. "Sejak kapan Lo punya pacar, hah?" Nova masih tak ingin mempercayai gurauan salah satu sahabatnya.
Ia bukan tak bahagia mendengar kabar baik ini, hanya saja, wanita mana yang bisa menghantam dan menerobos dinding besi yang di buat oleh Renggra. "Oh, atau jangan-jangan, Lo menghamili anak orang tanpa sadar, sehingga wanita itu mengancam Lo, agar segera di nikahi," duga Nova. Mungkin itu kebenarannya.
"Kalau itu nggak mungkin seorang Renggra melakukannya. Soalnya, dia sama gue hampir dua puluh empat jam bersama. Dimana dia, di situlah gue—coba Lo jelaskan Reng, kenapa tiba-tiba Lo ingin menikahi Laura?" tanya Angga.
"Apa? Lo juga bertemu dengan wanita yang bernama Laura, Ga. Kenapa kalian berdua nggak cerita sama gue? Kalian berdua kayaknya memang mengkhianati persahabatan kita," tanya Nova kesal.
"Gue juga bertemu dengannya pagi tadi, saat Laura menabrak Renggra waktu kami masuk ke dalam mall. Laura juga tiba-tiba nggak sadarkan diri. Lebih anehnya lagi, Renggra menyentuhnya, kemudian mengangkat Laura ke dalam mobil dan membawanya ke rumah. Jangan Lo nggak tau, gue aja nggak boleh memegang wanita itu, mengingat alerginya sahabat Lo ini," jelas Angga yang tak mau Nova salah sangka terhadapnya dan pria di sampingnya itu.
Dada Nova bergemuruh hebat, rasa penasarannya semakin meningkat. "Serius Lo? Maksudnya Laura, ah sudahlah coba Lo jelaskan Reng, jangan ada udang di balik sagu." Nova ingin mendengarkan penjelasan dari orangnya langsung.
Pria tampan berpakaian senada dengan warna kursi sofa yang ia duduki, merilekskan tubuhnya untuk menyender. "Ayolah, kalian berdua santai aja. Gue enggak pernah kayak Lo Nov, yang setiap hari gonta-ganti pacar. Awas Lo kalau sering main kayak begini, Lo akan terkena karma."
Nova menyeringai. "Jangan bahan gue, bahas Lo aja. Tolong jelaskan kenapa Lo memilih wanita ini? Apa dia cantik? Apa sangat seksi? Atau dia seorang anak dari kalangan berpengaruh?"
"Sebaliknya! Tapi kecantikannya di mata gue, dia yang paling sempurna dari wanita manapun," balas Renggra dengan kedua pria di sisi samping dan depannya, terperangah. Seorang Renggra Wijaya bisa berkata demikian.
Renggra kembali menatap serius kedua sahabatnya. "Kalian harus tau kenapa gue bersikeras ingin menikahi gadis itu."
Nova maupun Angga melirik satu sama lain sembari mengangguk pelan.
"Dialah wanita yang berani menyentuh dan membuat gue bangkit kembali. Kalian pasti masih ingat kalau gue pernah trauma dengan kejadian keluarga gue waktu itu."
Angga dan Nova kembali mengangguk.