Kepindahan Arumi ke sekolah elit di ibu kota membawanya menjadi wali kelas Azzam dan Azzura, si kembar anak konglomerat yang dikenal paling bermasalah. Dengan ketulusan dan kesabarannya, Arumi berhasil mengubah mereka menjadi pribadi yang lebih baik.
Takdir kemudian mempertemukannya kembali dengan Zaky Tanuwijaya, ayah si kembar sekaligus cinta pertama yang pernah menghancurkan hatinya di ambang pernikahan. Kini, Zaky yang telah menjadi duda ingin menebus kesalahan masa lalu dan memenangkan kembali hati Arumi.
Namun, ibunda Zaky terus menanamkan ketakutan kepada Azzam dan Azzura bahwa ibu tiri hanyalah wanita yang mengincar harta. Di tengah penolakan si kembar dan luka lama yang belum sembuh, mampukah Arumi membuka kembali hatinya dan membuktikan bahwa kasih sayang tulus mampu mengalahkan prasangka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2
Di depan kelas yang riuh dan berantakan, Pak Bima dan Arumi berdiri berdampingan. Pak Bima kembali menghembuskan napasnya pelan, memijat pelipisnya yang mulai terasa pusing. Pria paruh baya itu sadar, ia harus memiliki stok sabar yang luar biasa banyak jika ingin menghadapi murid-murid luar biasa di kelas 7 C ini.
Sambil melirik Arumi dengan tatapan penuh rasa bersalah, Pak Bima berbisik pelan.
"Bu Arumi, jika Anda merasa tidak sanggup mengajar dan menjadi wali kelas di sini, saya benar-benar tidak keberatan jika Ibu ingin mengundurkan diri sekarang juga," ujarnya merasa tidak enak, bersiap memberikan jalan keluar sebelum mental guru baru itu terguncang.
Namun, dugaan Pak Bima keliru. Justru kejadian pelemparan penghapus dan kekacauan ini membuat adrenalin di dalam diri Arumi bergejolak hebat. Baginya, menghadapi siswa dan siswi bermental manja dan urakan seperti ini bukanlah musibah, melainkan sebuah tantangan baru yang sangat menarik. Bukannya mundur dan mengalah pada takdir, jiwa pendidik Arumi justru tertantang untuk menjinakkan mereka.
Arumi menatap Pak Bima dengan senyum tipis namun sarat akan keyakinan.
"Anda tenang saja, Pak Bima. Saya pastikan, saya tidak akan mundur menjadi wali kelas 7 C. Percaya sama saya!" ujarnya tegas dan lantang.
Suara Arumi yang menggelegar di dalam kelas seketika membuat suasana ruangan berubah. Perkataan berani itu terdengar jelas oleh seluruh kuping murid kelas 7 C. Alih-alih kagum, mereka justru semakin tidak menyukai sosok Arumi. Di mata anak-anak kaya yang manja itu, Arumi dianggap sebagai guru baru yang sok jagoan dan cari perhatian.
Pak Bima yang mendengar jawaban mantap tersebut sempat tertegun, sebelum akhirnya tersenyum lega. "Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu, Bu Arumi. Kalau Ibu ada apa-apa atau situasi mulai tidak terkendali, langsung menghadap saya saja!"
"Baik, Pak!" jawab Arumi mantap.
Dengan berat hati dan langkah yang agak ragu, Pak Bima akhirnya melangkah keluar, meninggalkan Arumi sendirian di sarang kelas 7 C. Di dalam hati, Pak Bima sangat berharap Arumi benar-benar bisa mengatasi murid-murid paling nakal di sekolah ini. Ironis memang, mereka bahkan belum genap satu tahun menimba ilmu di sekolah ini, namun pengaruh dan kekuasaan orang tua mereka yang merupakan pejabat dan pengusaha besar membuat pihak sekolah sering kali tidak berkutik.
Begitu pintu tertutup, Azzam si provokator utama langsung mencondongkan badannya ke depan. Ia berbisik licik kepada teman-teman di sekitarnya, mengomandokan sebuah rencana untuk memberikan pelajaran pertama bagi wali kelas baru mereka agar kapok.
Arumi, yang menyadari kasak-kusuk di barisan belakang, tetap bersikap tenang. Ia meletakkan tasnya di meja, lalu membuka sebuah buku tebal bermotif batik.
"Anak-anak, sebelum kita memulai pelajaran Matematika hari ini, Ibu akan mengabsen kalian terlebih dahulu," ucap Arumi dengan nada suara yang ramah namun tetap berwibawa. "Nanti, jika namanya Ibu sebutkan, kalian cukup berdiri di samping bangku kalian masing-masing, ya."
"Baik, Buuuu!" jawab para murid secara serempak dengan nada yang sengaja dibuat-buat dan kompak. Azzam dan kembarannya, Azzura, saling melempar senyum penuh arti.
Arumi mulai menunduk, membuka halaman pertama buku absen kelas 7 C. "Agustina Gunawan?" panggil Arumi.
Srrreettt!
Tepat setelah nama itu diucapkan, bukan hanya satu orang yang berdiri, melainkan seluruh siswa dan siswi di kelas itu langsung bangkit berdiri secara bersamaan. Mereka berdiri tegap sambil menahan tawa, merasa rencana untuk mengerjai dan membingungkan sang guru baru telah berhasil total. Mereka mengira Arumi akan panik atau marah-marah seperti lima wali kelas sebelumnya.
Namun, perkiraan mereka salah besar. Arumi sama sekali tidak terlihat panik. Ekspresi wajahnya tampak biasa saja. Ia hanya menghela napasnya sejenak, menutup buku absen itu dengan pelan, lalu melipat kedua tangannya di atas meja sambil menatap seisi kelas dengan tatapan tajam yang mengintimidasi.
"Oke, baiklah. Jadi kalian suka dengan cara seperti ini?" Arumi menjeda kalimatnya, lalu tersenyum meremehkan. "Ibu akan ladeni permainan kalian!"
Tantangan terbuka dari Arumi seketika membuat para murid terkejut. Senyum-senyum nakal di wajah mereka langsung luntur, digantikan oleh rasa heran. Mereka tidak tahu bahwa di dalam buku absen baru yang dipegang Arumi, pihak sekolah sudah mengantisipasi kelakuan mereka dengan menyertakan foto profil terbaru beserta nama lengkap masing-masing murid di setiap lembarnya. Bagi Arumi yang memiliki daya ingat tajam, permainan kekanak-kanakan ini justru akan berbalik menjadi bumerang bagi mereka sendiri.
Arumi membalikkan tubuhnya membelakangi kelas, mengambil sebatang kapur putih, lalu mulai menuliskan beberapa kalimat dengan tulisan tangan yang rapi dan tegas di papan tulis. Suara gesekan kapur dan papan tulis bergema di keheningan ruang kelas yang mendadak senyap. Semua murid saling berpandangan, dirundung rasa penasaran akan apa yang sedang ditulis oleh guru baru mereka.
Saat Arumi menghentikan ketukan kapurnya dan bergeser, seluruh mata terbelalak membaca untaian kalimat di sana:
"Saya berjanji tidak akan menjadi anak yang nakal, jika saya melanggarnya, maka saya siap menerima hukuman."
Tulisan yang terpampang nyata itu sontak mengejutkan seisi kelas 7 C. Belum sempat mereka melayangkan protes, Arumi sudah berbalik dan menatap mereka satu per satu dengan sorot mata yang tak terbantahkan.
"Pindahkan tulisan ini ke dalam buku catatan kalian. Buat sebanyak sepuluh lembar penuh! Setelah itu, kumpulkan kepada saya," tegas Arumi, menjeda kalimatnya untuk memberikan penekanan. "Jika sampai ada yang tidak mengerjakannya, saya akan memberikan hukuman yang jauh lebih berat. Saya akan meminta Pak Kepala Sekolah untuk menugaskan kalian membersihkan perpustakaan selama satu minggu penuh setelah jam pulang sekolah!"
"Apa?!" ucap para siswa dan siswi secara serempak.
Wajah-wajah manja itu seketika pias. Membayangkan harus menata ribuan buku dan menyapu ruangan perpustakaan yang luas di saat teman-teman mereka yang lain sudah pulang ke rumah adalah mimpi buruk. Alhasil, meski bersungut-sungut, mereka lebih memilih untuk menulis kalimat tersebut di buku catatan daripada harus menjadi kuli dadakan di perpustakaan.
Arumi kembali membalikkan badan ke papan tulis. Di sudut atas, ia menuliskan sebuah jam digital yang menunjukkan waktu tepat satu jam dari sekarang. Itu adalah batas waktu yang harus mereka patuhi.
Namun, tepat saat Arumi baru saja hendak membalikkan tubuhnya kembali menghadap kelas...
Wusss!
Sebuah bola baseball berwarna putih melesat cepat dari barisan belakang, mengarah tepat ke belakang kepala Arumi. Murid-murid yang melihat itu menahan napas, mengira kepala sang guru akan bocor seketika.
Hup!
Tanpa menoleh, hanya mengandalkan insting pendengaran yang tajam, tangan kanan Arumi bergerak secepat kilat ke belakang. Dengan satu gerakan memutar yang dinamis khas jurus pencak silat, jemarinya berhasil mencengkeram bola baseball tersebut tepat beberapa sentimeter sebelum mengenai hijabnya. Tubuhnya berputar luwes, menyisakan hembusan angin kecil di depan kelas.
Seluruh murid melongo tak percaya. Kelas mendadak sedingin es. Mereka tidak tahu bahwa selama mengajar di kampung dulu, Arumi adalah guru silat berprestasi yang sudah menyandang sabuk hitam. Menghadapi serangan fisik pengecut seperti ini sama sekali bukan hal sulit baginya.
Arumi menatap bola di genggamannya, lalu mengalihkan pandangan tajamnya ke arah murid-murid. "Siapa yang telah melemparkan bola ini?" tanyanya, suaranya tenang namun sarat akan intimidasi. "Ibu harap kalian jantan. Maju ke depan dan minta maaf, jangan menjadi seorang pengecut."
Suasana mencekam itu pecah saat kursi di barisan belakang berderit nyaring. Azzam bangkit berdiri. Dengan langkah angkuh dan kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, ia maju ke depan kelas.
"Saya yang sudah melempar bola itu kepada Anda, Bu Guru yang terhormat!" jawab Azzam lantang, menantang langsung Arumi di depan teman-temannya.
Arumi menatap anak laki-laki di hadapannya, lalu menggelengkan kepalanya pelan penuh kekecewaan. "Jadi, kamu sudah siap menerima hukuman atas sikapmu yang tidak bisa menghargai seorang guru?"
Bukannya takut, Azzam justru menatap Arumi dengan tatapan yang dipenuhi kobaran kebencian. Alih-alih menjawab, remaja itu justru memutar tubuhnya, berjalan angkuh melintasi meja guru, dan melangkah keluar dari dalam kelas begitu saja. Tak lama kemudian, Azzura bangkit dari bangkunya dan berjalan cepat menyusul kembarannya, ikut keluar dari kelas tanpa memperdulikan aturan.
Murid-murid lain mengira Arumi akan berteriak histeris atau mengejar mereka sembari marah-marah. Namun, Arumi justru terdiam di tempatnya. Ia sama sekali tidak menegur atau menahan langkah kaki si kembar.
Arumi terpaku karena tatapan mata Azzam yang sempat beradu dengannya tadi. Di balik topeng kenakalan dan keangkuhan remaja itu, Arumi menangkap sesuatu yang lain. Kedua bola mata Azzam tidak sekadar memancarkan kemarahan yang tak terkendali, melainkan ada luka mendalam di sana. Anak itu seperti sedang memendam rasa sakit hati yang teramat sangat dan penolakan besar terhadap dunia.
'Ada apa dengan anak itu? Apa yang sebenarnya sedang dia sembunyikan?' batin Arumi, menyadari bahwa tugasnya di kelas ini jauh lebih dalam dari sekedar mengajarkan angka-angka Matematika.
Bersambung...
sekarang si tinggal terserah lu
masih mau ga berjuang
Arumi mah udah pasrah Ama takdir
toh...gw juga bisa kok selama ini tanpa lu
dasar nenek lampir
Arumi lawan jgn diam aj, cabein aj mulut kotor Bu Maya klu ga berani suruh othor yg maju duluan ntar aku bantuin doa dari jauh 🤣🤣🤣🤣🤣🤣