Baca dulu "CALLIE SI BOCAH GENIUS"
Pergerakannya tidak bisa ditebak. Tingkahnya sangat random seperti remaja lainnya. Namun otaknya hampir 24 jam bekerja untuk membuat senjata dan sistem, meretas, dan melakukan eksperimen. Dunia bawah dan laboratorium khusus yang diwariskan padanya dari sang Opa, membuat gadis remaja itu tumbuh menjadi sosok yang cerdik. Dia adalah Callie Noura Eleanor.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PDKT
"Callie, kemarin jum'at kemana? Kok nggak masuk sekolah? Terus aku telfon dan chat juga nggak direspons sampai sekarang," tanya seorang gadis remaja dengan pertanyaan beruntun. Dia adalah Rose yang bersama Naura dan Vita tengah menginterogasi Callie.
"Biasa orang sibuk cari duit ya begini. Bakalan sering nggak masuk sekolah dan balas chat," Callie dengan santainya duduk di samping Naura kemudian menelungkupkan kepalanya pada lipatan lengan tangan. Entah kenapa rasanya dia sangat malas datang ke sekolah padahal hari ini ada jadwal test seleksi untuk masuk peserta olimpiade matematika.
Eh... Datang-datang kok tidur sih?
Naura pun langsung menggoyangkan lengan tangan Callie agar gadis remaja itu bangun. Namun usahanya sia-sia karena malah terdengar suara dengkuran halus yang menandakan Callie tengah tidur. Bisa-bisanya Callie tidur saat bel akan berbunyi. Vita dan Rose hanya bisa saling pandang. Bingung mereka mengapa Callie bisa tidur dengan cepat begini. Namun mengingat bahwa beberapa hari ini Callie jarang di rumah, berarti memang gadis itu sangat sibuk.
Mereka berempat berada di dalam satu kelas yang sama. Lebih tepatnya Callie yang meminta pada kepala sekolah untuk membuat mereka satu kelas. Bahkan Callie sampai mengomeli kepala sekolah agar mau menuruti keinginannya. Guru masuk ke dalam kelas dan Callie masih tidur. Guru yang bernama Pak Ageng melihat ke arah sekitar ruangan kelas. Matanya berhenti pada sosok yang beberapa hari ini berbuat gaduh di kelasnya. Walaupun untuk otak, Pak Ageng mengakui kecerdasannya.
"Siapa itu namanya yang duduk sama Naura?" tanya Pak Ageng sambil menunjuk ke arah Callie.
"Callie, Pak." seru hampir semua siswa di kelas itu. Callie memang sudah seterkenal itu hingga semua orang mengetahui namanya. Padahal dia masih termasuk siswa baru.
"Kalau mau tidur, suruh pulang aja. Nggak usah sekolah sekalian biar tidak lulus," Naura yang mendengar itu langsung panik. Begitu juga dengan Rose dan Vita.
"Callie perutnya mulas, Pak. Makanya dia tiduran. Mau ijin sakit tapi nggak enak karena masih murid baru masa sudah bolos," ucap Naura memberi alasan sambil tangannya mencubit perut Callie.
Nanti kalau Callie pingsan karena dipaksa ikut pelajaran, Bapak juga lho yang disalahkan.
Ucapan dari Vita itu membuat Pak Ageng terdiam. Jika memang siswanya yang sakit, berarti menjadi tanggungjawab guru di kelas. Apalagi kalau sampai benar pingsan. Akhirnya Pak Ageng membiarkan Callie untuk tidur walaupun ada perasaan mengganjal. Sedangkan teman-teman sekelasnya yang lain memilih diam walaupun dalam hati gemas. Padahal mereka tadi melihat sendiri kalau Callie baik-baik saja.
Hoammm...
"Telur gulungku mana, Naura? Jangan dimakan semua," Saat di tengah pelajaran berlangsung, Callie terbangun kemudian menguap lebar dengan kedua tangan direntangkan.
"Mana ada telur gulung, Callie? Ini belum istirahat," bisik Naura pada Callie yang tengah mengucek matanya. Tampak sekali jika Callie belum sadar sedang berada dimana. Bahkan mata semua siswa dan Pak Ageng yang mengajar langsung mengarah pada Callie.
"Kamu masih sakit perutnya, Callie? Jika iya, silahkan ke UKS." ucap Pak Ageng yang melihat Callie sudah bangun setelah dia mengajar selama satu jam.
"Siapa yang sakit perut, Pak?" tanya Callie dengan tatapan polosnya.
"Tadi Naura bilang kalau kamu sakit perut makanya tidur," ucap Pak Ageng yang wajahnya sudah mulai memerah.
Tatapan tajamnya mengarah pada Naura yang memberi kode pada Callie agar pura-pura sakit. Namun Callie yang otaknya sedang lemot karena bangun tidur, tidak menyadari kode dari Naura. Bahkan Vita dan Rose sudah menendang kaki Callie agar paham dengan kode dari Naura. Ketiganya sudah tahu kalau Callie saat bangun tidur itu sangat susah diajak kerjasama.
"Callie ngantuk soalnya semalam begadang nonton final pertandingan ular tangga, Pak. Makanya datang langsung tidur," ceplos Callie sambil merapikan poninya yang berantakan.
"Tidak ada pertandingan ular tangga, Callie."
"Naura, kamu bohongin Bapak ya?" seru Pak Ageng sambil berkacak pinggang. Bahkan teman sekelasnya sudah menahan tawa melihat drama yang tersaji.
"Enggak. Tadi emang Callie sakit perut terus..."
"Naura do'ain Callie sakit perut ya?" sela Callie tak terima membuat Naura menepuk dahinya pelan.
Astaga... Ini bocah dulu kayanya genius, kok sekarang lemot banget sih kalau habis bangun tidur.
Callie, Naura... Keluar dari kelas saya dan lari seratus kali keliling lapangan,
Ha?
Hahaha...
***
Kak Kenzi...
Prok... Prok...
Saat istirahat berlangsung, hampir semua siswa perempuan berkumpul di lapangan basket. Mereka tengah melihat pertandingan basket antara kelas 11 dan 12. Beberapa siswa yang mengenal Kenzi sebagai ketua panitia MPLS pun mendukung laki-laki itu. Rose dan Vita sama semangatnya dengan yang lainnya untuk menyemangati Kenzi. Berbeda dengan Naura dan Callie yang malah asyik dengan makanan. Tadi setelah disuruh keluar, keduanya langsung ke kantin tanpa melaksanakan hukuman.
"Kenapa itu orang-orang pada berisik banget sih? Kaya nggak pernah lihat orang main basket aja. Aku juga bisa kalau cuma main basket gitu doang," ucap Callie mengomentari semua orang di lapangan basket.
"Bisa main basket? Nggak salah? Bola bekel kali. Bukan bola basket," sindir Naura sambil menggelengkan kepalanya. Bisa-bisanya Callie mengaku bisa bermain basket. Padahal untuk memasukkan bola saja tidak sampai pada ringnya.
"Bisa kok kalau digendong sama Kak avtur. Habisnya itu ring tinggi banget lho. Mau lompat tetap aja nggak bisa masuk itu bolanya," ucap Callie memberikan alasan.
"Ngeles aja kamu tuh, Callie." Naura rasanya ingin meraup wajah dari sepupunya yang terlihat menyebalkan itu.
"Daripada Naura ngomel melulu, mending nih makan telur gulungnya." Callie pun memberikan satu plastik telur gulung pada tangan Naura.
Callie sableng... Ini mah tinggal tusuknya doang,
Hahaha...
Setelah memberikan bungkusan jajan berisi tusuk telur gulung itu, Callie langsung berlari menjauh dari Naura. Pasti Naura akan mengomeli dia yang sudah menghabiskan telur gulungnya. Padahal tadi rencananya mereka beli telur gulung untuk dibagi makan berempat. Belum juga Naura, Vita, dan Rose makan tapi sudah dihabiskan oleh Callie. Sedangkan orang-orang di sekitarnya terlihat membiarkan Naura dan Callie. Mereka sudah hafal bagaimana hebohnya mereka berdua sejak MPLS. Callie duduk di bawah pohon sambil mengibaskan rambutnya. Diikuti oleh Naura, Vita, dan Rose yang menyusulnya.
"Ternyata lebih adem di sini daripada di sana. Kenapa nggak dar..."
Callie...
Aaaaaa...
"Kak Kenzi," seru Vita dan Rose secara bersamaan saat melihat Kenzi datang mendekati mereka. Beberapa siswa terlihat penasaran dan berteriak histeris saat Kenzi mendekati Callie juga teman-temannya.
"Hai, Callie." sapa Kenzi dengan senyum tipisnya.
"Hola, Kak Kenzi." sapa Callie balik yang kemudian kembali fokus pada ponselnya.
Ini cuma Callie doang yang disapa?
Kita udah kaya hantu yang tak kasat mata kali, Naura.
Eh...