"Ayo bercerai, Mas!"
kalimat itu Anna ucapkan tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke lima.
Bukan karena hadirnya orang ketiga. Bukan pula karena Jeevan Aditya pernah mengangkat tangan kepadanya.
Anna hanya...lelah.
Lelah menjadi perempuan yang harus selalu mengalah, selalu kuat, selalu tersenyum, dan selalu memenuhi harapan orang lain hingga perlahan kehilangan dirinya sendiri.
Dan pada akhirnya ia memilih bercerai.
Namun, hidup ternyata tidak semudah itu.
Saat karirnya mulai bersinar, sebuah kejadian merenggut harga dirinya. Di saat yang sama, seorang teman SMA yang diam-diam mencintainya muncul sebagai pengacara yang siap membela. Sementara itu, seorang pria misterius berhelm hitam terus mengikuti setiap langkahnya.
Siapakah dia? Penguntit atau pelindung?
Temukan jawabannya di novel ini👋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 20, Aku ingin Bahagia, Apa Yang Harus Aku Lakukan?
Sore merambat turun perlahan di atas langit Jakarta. Matahari yang sejak siang bersinar terik kini mulai kehilangan nyalanya, berubah menjadi bola jingga yang menggantung rendah di balik deretan gedung pencakar langit. Cahaya keemasan menembus jendela apartemen, membentang panjang di atas lantai marmer bagai kain sutra yang digelar alam sebelum malam mengambil alih panggungnya.
Jam dinding menunjukkan lima tepat.
Di dalam apartemen, suasana begitu lengang.
Anna baru saja selesai mencuci beberapa lembar pakaian tipis miliknya. Setelah itu ia berniat menyiapkan makan malam lebih awal. Pikirannya sederhana. Jeevan biasanya tiba selepas magrib apabila tidak lembur. Ia ingin semuanya selesai sebelum suaminya pulang.
Ia membuka kulkas.
Tangannya mengambil sebungkus tulang ayam yang sejak siang sudah ia cairkan. Setelah itu ia berniat membuat kuah kaldu sederhana untuk dijadikan sup. Air di tuangkan ke dalam panci, kemudian beberapa potong tulang di masukkan bersama irisan jahe dan sedikit bawang putih yang di memarkan.
Kompor dinyalakan, api biru menari pelan dibawah dasar panci lalu Anna menutupnya sebentar.
"Nanti tinggal di tambah sayur..." gumamnya lirih.
Namun baru beberapa langkah meninggalkan dapur, kepalanya mendadak terasa berat. Seperti ada seseorang yang perlahan menekan bagian belakang tengkuknya menggunakan kedua telapak tangan.
Ia berhenti, jemarinya otomatis memijat pelipis. "Kenapa tiba-tiba migren begini?" bisiknya.
Percakapan bersama sang ibu kembali melintas begitu saja. Satu demi satu kalimat bermunculan tanpa permisi.
"Betapa bodohnya kamu...."
"melepaskan impianmu ..."
"Belum bisa mengembalikan biaya kuliah..."
Suara-suara itu bergema di kepalanya seperti gema di dalam gua yang tak memiliki ujung.
Anna menggeleng pelan. "Jangan di pikirkan..."
Ia mencoba mengusir semuanya. Sayangnya, kenangan sering kali memiliki akar yang jauh lebih kuat dibanding keinginan manusia untuk melupakannya.
Langkahnya mulai gontai, ia berjalan menuju ruang tengah lalu ia menjatuhkan tubuhnya perlahan di sofa panjang dan berbaring.
"Mungkin tidur sebentar migrennya hilang..." gumamnya seraya memejamkan mata.
Namun lima menit berubah menjadi lorong sunyi yang perlahan menyeret kesadarannya. Dadanya mulai terasa sesak, jantung yang tadi berdetak tenang kini berlari tanpa aba-aba.
Degup...
Degup...
Degup...
Degup...
Detaknya semakin keras dan cepat, lalu telapak tangannya mulai berkeringat.
Udara apartemen yang sejuk mendadak terasa sempit, seolah seluruh dinding perlahan mendekat... mempersempit ruang bernapas.
Anna membuka mata, langit-langit apartemen terlihat bergoyang tipis. Ia mencoba menarik napas, menghitungnya agar tenang. Akan tetapi semua yang ia lakukan nihil. Perasaan asing yang begitu dikenalnya kembali datang, seperti ombak hitam yang muncul dari dasar laut, lalu menghantam pantai tanpa memberi kesempatan siapa pun untuk bersiap.
Anxiety; gangguan kecemasan itu datang tanpa ia minta. Anna memeluk dirinya sendiri dengan sensasi takut yang begitu sulit di jelaskan.
"Tidak apa-apa...tidak apa-apa Anna, kamu baik-baik saja..." bisiknya.
Namun tubuhnya tidak mempercayai ucapan barusan, pikiran mulai berlari ke segala arah.
Bagaimana kalau Jeevan benar selingkuh?
Bagaimana kalau yang di katakan ibu benar?
Bagaimana kalau aku gagal?
Bagaimana kalau aku tidak bisa memiliki anak? Apakah Mas Jeevan akan kecewa? Apa yang harus aku lakukan?
Air mata perempuan itu perlahan mengalir, ia bangkit dari sofa dan memilih duduk di lantai. Lalu mengelus dadanya berulang kali, berharap rasa debar itu menghilang.
Anna bahkan tidak menyadari suara kecil di dapur, air di dalam panci mulai mendidih. Gelembung-gelembung kecil muncul di permukaan. Semakin lama gelembung-gelembung itu semakin besar, uap hangat mengepul memenuhi bagian atas kompor.
Kaldu yang terus bergolak perlahan meluap melewati bibir panci. Setetes...dua tetes...lalu berubah menjadi aliran tipis yang jatuh mengenai tungku panas.
Ssssttt...
Suara desisan memenuhi dapur, namun Anna tidak mendengarnya. Kesadarannya sedang sibuk bertarung melawan badai yang hanya bisa dilihat oleh dirinya sendiri.
Bel apartemen tiba-tiba berbunyi.
Ting...
Tak ada jawaban dari dalam, beberapa detik kemudian terdengar suara kunci cadang yang memutar dari luar.
klik..
Pintu terbuka, tampak Bu Ratih masuk sambil membawa tas belanja berisi beberapa buah dan sekotak kue.
Matanya langsung tertuju pada panci di atas kompor, airnya sudah meluap begitu banyak. Gegas ia mematikan kompor dan langsung memanggil nama menantunya saat ia melihat Anna tengah bersandar di sofa duduk di lantai sambil memeluk lututnya.
"Astaga! Anak ini!" Ucapnya panik karena terkejut. "Anna!" panggilnya.
"ANNA!?" panggilnya dengan nada tinggi.
Anna membuka matanya dan menoleh ke arah sosok samar di pandangnya. Perempuan itu mendekat dan langsung mengomel, Anna hanya diam karena Anna sama sekali tidak mendengar omelan itu jelas. Yang ia tahu setiap kata adalah kekecewaan terhadap dirinya, menyalahkan, menyudutkan.
Hingga pintu apartemen terbuka, sosok Jeevan masuk dengan wajah lelah. Namun seketika Jeevan melepas sepatunya kala ia mendengar suara ibunya yang tengah mengomel-ngomel, ia sempat melirik ke arah dapur yang sedikit berantakan.
Tanpa berpikir panjang ia langsung menghampiri istrinya yang diam di lantai sambil memeluk lututnya sendiri. Seolah-olah sedang mencari perlindungan, Jeevan langsung memeluk istrinya dan mendongak menatap ipunya yang sedang berkecak pinggang.
"Sudah, Bu! Jangan terus memarahi Anna." Pinta Jeevan.
"Ibu tidak memarahinya, Jeevan. Kamu gak tahu barusan apartemen ini hampir terbakar karena keteledoran istrimu! Gak habis pikir ibu sama pikirannya. Makin hari istrimu makin aneh Jeevan!" ucapnya tanpa dosa.
Jeevan mengepalkan tangannya, ia refleks berdiri dan menatap ibunya.
"IBU KALAU KAYA GINI TERUS GAK AKAN ADA YANG INGIN TINGGAL LAMA BERSAMAKU!" bentak Jeevan pada akhirnya.
Bu Ratih tampak terkejut dengan sikap anaknya. "Kamu membentak ibu? Kamu..."
Bu Ratih memilih pergi dari apartemen anaknya dan memilih kembali pulang. Padahal ia datang ke apartemen anaknya untuk merayakan ulang tahun anaknya yang ke empat puluh tahun.
Sedangkan di apartemen, Anna menangis di dalam pelukan suaminya.
"Ibu marah ya sama aku? Maaf, tadi aku tak sengaja hampir membakar apartemenmu, Mas." Bisik Anna.
Jeevan tidak menjawab, pria itu malah memeluk Anna semakin erat.
...💞...
Keesokan harinya...
"Aku ingin bahagia..." ucapnya pelan.
Anna duduk diam di hadapan dokter Rania, jemarinya saling bertaut begitu erat hingga ruas-ruasnya memucat. Ruangan itu dipenuhi aroma lavender yang lembut, namun ketenangan tersebut belum mampu menjaga badai di dalam dadanya. Tatapannya sesekali jatuh ke lantai, seolah mencari keberanian yang tercecer diantar ubin-ubin putih. Di seberang meja, dokter Raina menyunggingkan senyum hangat tanpa sedikit pun memaksa. Perempuan itu membiarkan keheningan berbicara lebih dahulu, memahami bahwa ada luka yang tidak dapat dibuka dengan tergesa. Di balik mata Anna, tersimpan lelah yang telah terlalu lama disembunyikan dari dunia.
"Aku ingin bahagia, apa yang harus aku lakukan?" tanya Anna lagi pelan seraya menatap dokter Raina.
...💞💞💞...
Halo, mohon dukungannya ya🫶
...BERSAMBUNG ...