NovelToon NovelToon
Cintai Aku

Cintai Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Orang Disabilitas
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Di balik senyum ceria Nadia, tersimpan ketangguhan luar biasa. Meski ia tidak bisa bicara dan berasal dari keluarga sederhana, kecerdasannya membawa Nadia meraih beasiswa di universitas swasta ternama.

Namun, dunianya yang begitu sempurna seketika runtuh saat kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan tragis. ​Demi masa depannya, Nadia membalut lukanya dengan senyuman. Sayangnya, badai kembali datang seolah tidak membiarkan Nadia hidup dengan tenang, hingga ia bertemu dengan seorang pria yang membantunya dari kejamnya dunia.

Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang terjadi pada Nadia? Siapakah pria yang membantu Nadia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3

Pagi ini, suasana di rumah kecil Nadia diwarnai kesibukan kecil. Ibu Sintia telah menyiapkan beberapa toples lauk kering, kering tempe, abon dan rendang telur di atas meja dapur. Di sudut ruang tamu, Ayah Herman sedang merapikan tas pakaian yang akan mereka bawa ke Purwakarta.

​Nadia berjalan mendekati kedua orang tuanya dengan senyum lebar yang tak pernah absen dari wajahnya, jemarinya bergerak lincah memperagakan pesan agar mereka berhati-hati di jalan. Nadia melingkarkan tangannya di pinggang sang ibu, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu wanita yang sangat dicintainya itu.

​Ibu Sintia tersenyum hangat, mengusap pipi putri semata wayangnya. "Kamu jaga diri baik-baik ya, jangan lupa makan, jangan lupa istirahat. Ayah sama Ibu usahakan cepat pulang,"

Melihat Ibu Sintia membelai lembut rambut bergelombang Nadia, Ayah Herman pun ikut mendekat dan menepuk bahu Nadia pelan dengan binar mata yang memancarkan rasa bangga sekaligus kasih sayang yang tak bertepi.

​"Ingat pesan Ayah, kalau ada apa-apa langsung hubungi Ayah," gerak isyarat Ayah Herman penuh penekanan.

​Nadia mengangguk mantap, jemarinya bergerak heboh memperagakan gerakan hormat ala prajurit, diselingi ekspresi wajah jenakanya yang membuat kedua orang tuanya tertawa pelan.

Nadia lalu meraih tangan kedua orang tuanya, menciumnya penuh hormat dan memberikan pelukan hangat sebelum kedua orangtuanya berangkat.

"Nadia tunggu Ayah sama Ibu ya, jangan lama-lama. Nanti Nadia kangen,"

"Ayah sama Ibu nggak akan lama, nggak mungkin juga Ayah sama Ibu ninggalin kamu lama-lama,"

​Nadia melambaikan tangan hingga kendaraan Ayahnya menghilang dari jarak pandangannya dan menyisakan keheningan di dalam rumah sederhana yang biasanya dipenuhi interaksi hangat mereka. Nadia menghirup udara pagi dalam-dalam, mengulas senyum penuh semangat, lalu berbalik masuk untuk bersiap-siap menuju kampus.

​Suasana lantai tiga gedung Fakultas Desain terasa begitu tenang saat Nadia melangkah masuk ke ruang laboratorium komputer. Hari ini tidak ada jadwal kuliah tatap muka, namun Nadia sengaja datang pagi-pagi sekali untuk memanfaatkan fasilitas perangkat lunak desain kelas atas milik kampus demi menyelesaikan draf karyanya.

​Jemarinya menari dengan sangat lincah di atas drawing tablet, garis demi garis arsitektur modern berpadu motif batik tradisional mengalir deras dari imajinasinya. Dalam keheningan dunianya, Nadia adalah seorang maestro. Setiap goresan warna dan bentuk adalah caranya berbicara kepada dunia, suara visual yang jauh lebih lantang dan berjiwa dari sekadar kata-kata.

​Beberapa mahasiswa lain mulai berdatangan dan mengisi meja-meja di sekitarnya, Nadia menyapa mereka dengan lambaian tangan ramah dan senyuman lesung pipitnya yang khas. Kebanyakan dari mereka membalas dengan anggukan atau senyum tipis. Bagi mereka, Nadia adalah sosok jenius yang pendiam namun selalu memancarkan energi positif.

Beberapa saat kemudian, Nadia merapikan tablet grafis dan laptopnya. Perutnya yang mulai menyuarakan protes membuatnya bergegas meninggalkan lantai tiga Fakultas Desain.

​Di lorong utama, ponsel di saku celana jinsnya bergetar. Nadia merogohnya dan mendapati sebuah pesan singkat dari Resya.

​Resya: Nad, aku tunggu di gazebo Fakultas Ekonomi ya! Jangan nyasar ke gedung manajemen!

​Nadia tertawa tanpa suara, jemarinya dengan cepat membalas pesan tersebut dengan stiker animasi kucing yang mengangguk heboh.

​Fakultas Ekonomi memang terkenal memiliki deretan gazebo kayu yang nyaman di bawah naungan pohon-pohon rindang, angin sepoi-sepoi yang bertiup di area itu selalu menjadi incaran para mahasiswa dari berbagai jurusan untuk sekadar melepas penat atau mengerjakan tugas.

​Langkah kaki Nadia terasa ringan saat menyusuri jalan setapak berpapir menuju area gazebo. Dari kejauhan, ia sudah melihat Resya yang melambaikan tangan dengan gaya heboh dan duduk di salah satu gazebo paling pojok yang dinaungi pohon beringin kecil yang rindang.

​Nadia melangkah mendekat, mengumbar senyum lebar yang memamerkan lesung pipitnya. Ia meletakkan ranselnya di atas meja kayu, lalu melempar tubuhnya ke bangku gazebo dengan helaan napas lega yang dramatis.

​"Akhirnya datang juga anak emas Desain!" seru Resya seraya menyodorkan satu cup es teh manis dingin ke arah Nadia.

"Gimana pertarunganmu sama software di lab tadi?" tanya Resya, dengan suara yang cukup keras.

​Nadia menerima es teh itu dengan mata berbinar, ia menyedotnya sebentar, lalu jemarinya mulai menari-nari di udara dengan gerakan heboh. Wajahnya yang ekspresif memperagakan bagaimana matanya hampir juling menatap layar monitor berkali-kali.

​"Otakku hampir berasap, Resya! Tapi draf utamanya selesai. Kalau bukan karena es teh dingin ini, aku mungkin sudah pingsan sekarang," gerak bahasa isyarat Nadia yang disertai mimik muka pura-pura pingsan.

​Resya tertawa terbahak-bahak hingga memukul pelan meja kayu di antara mereka, "Kamu itu ya, selalu saja bisa bikin hal melelahkan jadi kelihatan mudah," balas Resya.

Tawa Resya masih tersisa di udara saat sebuah bayangan jangkung tiba-tiba menutupi pantulan sinar matahari di meja kayu mereka. Tanpa diundang, seorang pria muda dengan kemeja kotak-kotak tergulung hingga siku dan senyum percaya diri melangkah mendekat, lalu langsung mendaratkan tubuhnya di kursi kosong sebelah Nadia.

​"Boleh gabung, kan? Kayaknya seru banget obrolan kalian dari tadi," sapa pria itu dengan suara berat yang hangat.

​Nadia sedikit terkejut, refleks menghentikan gerakan tangannya dan menatap pria di sampingnya. Pria itu adalah Roy, mahasiswa semester akhir dari Fakultas Pertanian yang nama dan wajahnya sudah tidak asing lagi di seantero kampus. Selain menjabat sebagai Wakil Ketua BEM Universitas, Roy terkenal ramah, berkarisma dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial.

​"Eh, Roy! Tumben main ke area Ekonomi? Padahal Fakultas Pertanian di sebelah utara loh," Resya menyapa lebih dulu, memajukan posisinya sambil menatap Roy penuh selidik namun tetap santai.

​"Habis ada urusan sama pihak rektorat di gedung sebelah. Pas jalan balik, ngeliat ada kalian," ujar Roy terkekeh pelan, pandangannya kemudian beralih penuh pada Nadia dan matanya menatap lembut.

"Hai, Nadia. Gimana kabarnya?" tanya Roy.

Nadia tidak dapat mendengar dengan jelas suara Roy, tapi dia bisa melihat gerak bibir Roy dan ia tahu jika Roy menanyakan kabarnya. Nadia pun mengambil buku dan pulpen di tasnya lalu menuliskan jawaban dari pertanyaan Roy.

Nadia menunjukkan tulisan di bukunya sambil tersenyum ramah.

[Kabar baik, Roy. Kamu sendiri gimana?]

Roy membaca pesan tersebut lalu tersenyum hangat, mengangguk perlahan agar Nadia bisa membaca gerakan bibirnya dengan mudah.

"Kabar baik juga, Nad. Oh ya, kalian kan ngambil S2, kira-kira mau ikut seminar yang diadakan Fakultas Ekonomi? Kalau nggak salah kan seminarnya untuk umum, dan aku dengar banyak mahasiswa S2 ikut daftar," tanya Roy.

"Nggak sih kayaknya, soalnya Nadia sibuk sama draf karyanya, terus aku juga sibuk mau cari beberapa bahan buat di kerjakan," ucap Resya.

"Sayang banget ya, tapi yaudah deh," jawab Roy.

"Nanti kalau ada lagi kabarin aja, siapa tahu aki sama Nadia pas nggak sibuk," balas Resya.

"Yaudah deh, kapan-kapan aja kalau gitu, nanti kalau ada lagi pasti aku kabarin kalian," ucap Roy.

"Roy, ayo balik!" seru Vero, sang ketua BEM.

"Aku balik dulu ya," pamit Roy dan diangguki Resya, lalu tak lama Nadia pun ikut mengangguk saat melihat Roy menjauh.

.

.

.

Bersambung.....

1
Raisha
kluarga dari pihak Nadia apa gak di kabari & undang ya Thor,kok gak di ceritain? bibinya apa kabar, jadi mo jual rumahnya Nadia? serasa dia ahli warisnya aja,main jual rumah ayahnya Nadia sembarangan, dah kena karmanya lom bik?
Aidil Kenzie Zie
lumayan katanya tapi sampai ludes🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
ada yang masih kangen nich 🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
ah akhirnya Aksa mau juga 🥰🥰🥰
erviana erastus
rajin pulang kerumah aksa eh 🤭
falea sezi
lanjut
falea sezi
anak kuliahan klo ada hutang minta bukti. hutang klo asal ngomong gk ada hitam di atas putih itu sama aj nipu😒
falea sezi
moga aja nadia
erviana erastus
ih aksa 🤣 tuh kan terpesona kamu sama nadia makax jgn sok² nolak gtu 🤭 demi apa coba tetiba mau tidur dirumah 🤣
Raisha
moduuuuuuss...kamu dah gak bisa tahan pengin dekat² Nadia kan meski otakmu menolak tp hatimu berkata lain😂😂...untungnya papamu tau & ngerti apa yg kamu inginkan,makanya kamu gak boleh tinggal di rumahnya lagi...sabar Aksa, tunggulah sampai waktunya tiba
Naufal Affiq
buat emosi bacanya
Naufal Affiq
lanjut kak
Naufal Affiq
lanjut kak,seru ceritanya
erviana erastus
kalo jodoh nggak kemana kan aksa🤣
Rizky Manik
Aksa, kau yg ngajak Nadia nikah ya awas aja kalo kau gkbisa cintai Nadia, bakal kukutuk kau jadi batu😏🤣
Raisha
kalimatnya typo lg Thor🙏🤭....bukan "...teman anak Papa..." harusnya "...anak teman Papa..." krn yg othor tulis itu artinya temannya anak Papa pdhal Nadia kan anak temannya Papa,gitu kan maksudnya? Maaf kalo salah 🙏😃
elaretaa: Siap Kak, nanti author revisi lagi ya🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Sartini 02
bagus ceritanya dan selalu ditunggu
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
Raisha
sampai di bab ini,masih banyak typo Thor 🙏...seperti kalimat "....dg balapan kemeja hitam yg tergulung....", artinya kata "balapan" itu apa?🤔,aku kurang faham. Maaf ya Thor 🙏😃
Raisha: sama² Thor.... terimakasih untuk ceritanya ini, semangat nulisnya ya Thor 🙏😍😂
total 2 replies
Evi Rachmawati
wadidaw aska... uangku banyak....
Aidil Kenzie Zie
E e e Aksa dijodohkan sama perempuan bisu nggak mau ini malah jadi pahlawan terus 🤔🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!