Bagi Kirana, kesetiaan dalam pernikahan adalah impian mutlak. Namun, kebahagiaan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika saat sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa suaminya, Rendra. Di saat yang sama, rahasia besar terungkap, Rendra meninggal bersama istri keduanya, meninggalkan seorang putri berusia dua tahun bernama Aura.
Melalui pesan terakhirnya, Rendra memohon agar Kirana sudi mengasuh Aura sebagai anak sendiri. Kirana hancur dan berada di persimpangan jalan yang menyiksa batin. Di satu sisi, ia sangat terluka oleh pengkhianatan suaminya. Di sisi lain, ia sudah memiliki seorang putri kandung berusia empat tahun yang harus ia jaga perasaannya dari kehadiran anak madunya tersebut.
Kini, di bawah satu atap, Kirana harus berjuang menekan rasa sakit hati demi membesarkan dua anak perempuan yang hanya terpaut usia dua tahun tersebut.
Mampukah Kirana berdamai dengan masa lalu dan bersikap adil, ataukah kehadiran Aura justru menjadi luka abadi yang terus mengingatkann
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 4- UGD
Dua jam berlalu sejak Kirana melangkah masuk ke dalam rumahnya.
Keisya sudah tertidur pulas di kamarnya setelah lelah menangis dan masih dengan sepatu kets merah yang belum sempat terlepas dari kaki kecilnya.
Sementara di ruang keluarga, Kirana duduk membeku di tepi sofa. Lampu utama tidak ia nyalakan, hanya menyisakan temaram sinar lampu sudut yang menimpa wajahnya yang pucat dan sembap.
Hatinya hancur meliuk-liuk. Kenangan tujuh tahun pernikahan bersama Rendra berputar bagai rekaman ulang yang menyiksa. Senyum hangat suaminya setiap pagi, janji-janji manis yang selalu terucap, hingga momen-momen kecil saat Rendra memeluknya dengan penuh kasih.
"Semua itu palsu," bisik batin Kirana.
Setiap tawa Rendra kini terasa bagai ejekan, dan setiap belai kehangatannya terasa bagai racun yang perlahan membunuhnya dari dalam.
"Kenapa, Mas... Kenapa harus ada wanita lain? Kenapa harus ada anak lain?" gumam Kirana lirih, hingga air matanya kembali menetes membasahi jemarinya yang saling bertaut kaku.
Tiba-tiba...
TOK! TOK! TOK!
Ketukan keras di pintu depan memecah keheningan malam. Kirana terperanjat, dadanya berdegup kencang secara refleks.
Apakah itu Rendra? Apakah dia memberanikan diri datang untuk membuat kebohongan baru?
Dengan hati yang dipenuhi kemarahan dan luka yang menyala-nyala, Kirana bangkit berdiri. Ia mengusap air matanya secara kasar dan membulatkan tekad untuk tidak lagi luluh atau tertipu oleh Rendra.
Ia berjalan cepat menuju pintu utama sambil menghentikan art yang hendak membuka pintu, kemudian ia memutar gagangnya dengan sentakan.
"Sudah kukatakan, Mas, tidak ada lagi yang perlu—"
Kata-kata Kirana terhenti seketika di pangkal tenggorokannya.
Nyatanya bukan Rendra yang berdiri di ambang pintu. Di hadapannya, berdiri dua orang petugas polisi berseragam lengkap dengan raut wajah yang amat serius dan prihatin.
Sedangkan di belakang mereka, lampu rotator mobil patroli memancarkan kilatan cahaya biru yang berpendar di halaman rumah.
"Selamat malam. Betul ini rumah Bapak Rendra?" tanya salah satu petugas polisi.
Kirana terpaku sejenak, firasat buruk mendadak menyergap hatinya. "I-iya, betul... Saya istrinya. Ada apa ya, Pak?"
Petugas polisi itu mengembuskan napas pelan lalu melanjutkan perkataannya, "Ibu, kami dari Kepolisian Sektor Perbatasan. Kami ingin menyampaikan kabar bahwa kendaraan atas nama Bapak Rendra baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas yang sangat berat di jalur perbukitan."
"K-kecelakaan...?"
"Benar, Bu. Mobil korban hilang kendali dan jatuh ke dalam jurang," lanjut petugas polisi tersebut. "Saat ini korban sudah dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah dalam kondisi sangat kritis. Kami minta Ibu untuk segera ikut bersama kami ke rumah sakit."
Tubuh Kirana berguncang hebat. Lututnya mendadak lemas bagai tak bertulang hingga ia hampir tersungkur jika tak berpegangan pada daun pintu.
Kemarahan dan rasa benci yang baru saja berkobar di dadanya beberapa detik lalu, seketika tersapu bersih oleh rasa syok dan ketakutan yang luar biasa.
"Mas Rendra... Mas Rendra di rumah sakit?" bisik Kirana, suaranya hampir tak terdengar, tenggelam dalam sirine kebenaran pahit yang baru saja menghantam jalurnya.
"Mas Rendra..."
_____
________
Suara raungan sirine mobil patroli polisi membelah heningnya jalanan malam. Di kursi belakang, Kirana duduk membeku. Tatapannya kosong menatap pendar lampu jalan yang melintas cepat di balik kaca mobil yang basah oleh embun.
Sebelum berangkat tadi, Kirana sempat membangunkan Mbok Darmi, asisten rumah tangganya yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri.
Kirana memeluk Mbok Darmi erat sambil menahan tangis, dan menitipkan Keisya yang masih tertidur pulas agar tidak terbangun dan kebingungan mencari kedua orang tuanya.
Kini, di dalam mobil yang melaju kencang, pikiran Kirana melayang tak tentu arah. Hatinya seperti dicabik oleh dua perasaan yang bertolak belakang secara ekstrem.
Di satu sisi, luka pengkhianatan Rendra baru saja menganga beberapa jam yang lalu. Rasa sakit itu masih terasa nyata, seperti sembilu yang menusuk tepat di dadanya.
Namun di sisi lain, bayangan Rendra yang kini terbaring antara hidup dan mati membuat rasa benci itu terkikis oleh ketakutan yang mencekam.
"Tuhan... tolong selamatkan Mas Rendra," bisik Kirana dalam hatinya, jemarinya meremas kuat gaun yang dikenakannya hingga kusut. "Aku membenci perbuatannya, tapi tolong... jangan ambil dia sekarang. Keisya masih sangat kecil, dia masih butuh sosok ayahnya..."
Kirana memejamkan matanya rapat-rapat hingga air matanya menetes dengan pelan. Bagaimanapun sakitnya hati Kirana, ia tau betapa Keisya sangat memuja Rendra. Ia tidak sanggup membayangkan bagaimana hancurnya dunia putri kecilnya jika Rendra harus pergi untuk selamanya saat ini.
**
Setibanya di Rumah Sakit Umum Daerah, bau khas karbol dan obat-obatan yang tajam menyengat hidung. Suasana koridor Unit Gawat Darurat (UGD) tampak begitu tegang dan riuh.
Petugas polisi menuntun langkah Kirana yang gemetar menyusuri lorong berlantai putih yang terasa begitu dingin.
"Ibu Kirana, suami Ibu saat ini sedang ditangani secara intensif oleh tim dokter di dalam UGD," jelas petugas polisi tersebut sambil menghentikan langkah di depan pintu kaca tebal bertuliskan RUANG CRITICAL CARE.
Saat Kirana berdiri terpaku di depan pintu kaca tersebut, seorang dokter pria berseragam hijau operasi keluar dari ruangan dengan raut wajah yang amat letih dan penuh ketegangan.
"Dokter! Bagaimanakah keadaan suami saya?" Kirana buru-buru mendekat dan bertanya dengan suara yang parau dan bergetar hebat.
Dokter tersebut menghela napas panjang, lalu menatap Kirana dengan pandangan prihatin. "Apakah Ibu keluarga dari pasien bernama Bapak Rendra?"
"Saya istrinya, Dok! Bagaimana keadaannya? Suami saya selamat, 'kan?" tanya Kirana mendesak, matanya berkaca-kaca menatap Dokter dengan penuh keputusasaan.
"Kondisi Pak Rendra sangat kritis akibat benturan keras di bagian kepala dan dada," tutur dokter itu hati-hati dan berusaha menyampaikan kenyataan dengan sehalus mungkin. "Saat ini kami sedang berusaha sekuat tenaga untuk menstabilkan tanda-tanda vitalnya. Namun, pendarahan dalam yang dialaminya cukup parah. Kami butuh persetujuan Ibu untuk melakukan tindakan operasi darurat sekarang juga."
Deg!!
Dada Kirana serasa dihantam beban berat berton-ton. Tubuhnya oleng ke samping, tapi beruntung petugas polisi di dekatnya dengan sigap menahan lengannya.
"Lakukan apa saja, Dok... Saya mohon, lakukan apa saja asal suami saya bisa selamat!"
😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Tangis Kirana akhirnya pecah di lorong rumah sakit yang dingin itu. Ia lalu menandatangani lembar persetujuan medis dengan tangan yang begitu gemetar.
Namun, di tengah keriuhan tim medis yang bersiap mendorong Rendra ke ruang operasi, perhatian Kirana mendadak teralih oleh suara isak tangis anak kecil yang terdengar begitu pilu dari balik tirai UGD sebelah.
"Ibu... Ibu angun... Aula atut..."
Bersambung...
Enak banget si Hendra sama si ayu
Yg gk sala Karina nanggung sesak seumur hidup
Tapi emang lukanya belum sembuh...🤗