Sìang itu pesawat Bomber Martin B-10 Belanda terbang rendah di langit RANCAGAOK
BOOOOM!!!
Cahaya putih menyilaukan membelah malam. Tanah terlempar ke udara. Atap rumah Pak Lurah terangkat lalu hancur berkeping-keping.
"Turun!" teriak Bayu.
Semua menjatuhkan diri ke tanah. Debu dan pecahan bambu menghujani punggung mereka. Bau mesiu dan kayu terbakar memenuhi udara.
*TAT... TAT... TAT...*
Suara tembakan dari udara menyisir tanah. Peluru menancap ke batang pisang dan pematang sawah. Bayu menarik Astri ke bawah parit.
Bayu, Karta, Ningsih, Astri bertekad untuk merebut kampung halaman mereka dari tangan belanda hanya bermodal tekad berjuang dan senjata seadanya.
Kisah perjuangan anak muda melawan penjajah, semoga jadi pengibar semangat anak muda Indonesia" MERDEKA"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 : KEMBALI.......
Kabut pagi masih menebal di lembah, menyembunyikan jejak langkah yang baru saja dilewati. Udara dingin menusuk hingga ke tulang, membawa bau tanah basah dan sisa asap mesiu yang belum hilang sepenuhnya. Bayu berdiri di tepi tebing, menatap ke arah kampung yang kini tertutup kabut kelabu. Tangannya mencengkeram erat sebilah bambu runcing yang ujungnya dibakar hingga keras. Napasnya diatur perlahan, menenangkan detak jantung yang masih berpacu cepat.
Di sebelahnya, Karta muncul dari balik semak, napasnya memburu. Wajahnya penuh keringat bercampur debu, matanya melirik ke kanan dan ke kiri dengan waspada.
"Sudah aman diperiksa jalur sebelah timur," bisik Karta sambil menepuk-nepuk debu di celananya.
"Tak ada jejak pasukan Belanda. Hanya ada bekas roda gerobak warga yang melarikan diri kemarin sore."
Bayu mengangguk pelan, matanya tak beralih dari lembah di bawah sana.
"Berarti mereka memusatkan pengejaran ke arah barat," gumamnya pelan.
"Tepat ke arah yang kita suruh warga tuju."
Karta melangkah mendekat, suaranya sedikit meninggi namun tetap berbisik.
"Berarti kita terpisah jauh dari mereka, Bayu. Kalau ada apa-apa, kita tak bisa segera memberi bantuan."
"Itulah tujuannya," jawab Bayu tenang.
"Semakin jauh warga dari jangkauan pasukan Belanda, semakin aman mereka. Tugas kita sekarang bukan ikut mereka bersembunyi. Tugas kita adalah kembali."
Karta melotot tak percaya.
"Kembali? Ke mana? Ke kampung yang sudah rata dengan tanah itu? Belum tentu aman, Bayu! Kompeni bisa saja meninggalkan pasukan penjaga di sana!"
"Justru karena itu kita harus kembali." Bayu berbalik menatap Karta, matanya tajam namun tenang.
"Kita harus tahu apa yang sedang mereka rencanakan di sana. Berapa banyak pasukan yang tertinggal. Di mana mereka menaruh senjata dan persediaan makanan. Kalau kita tak tahu apa yang musuh lakukan di rumah kita sendiri, kita tak akan pernah bisa merebutnya kembali."
Karta menghela napas panjang, lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia menatap Bayu lekat-lekat seolah memastikan sahabatnya itu tidak gila.
"Keras kepala kau, ya. Sudah kubilang dari tadi, belum tentu aman di sana. Tapi kalau kau sudah bilang begitu... ya sudah. Aku ikut. Sejak kecil pun kau selalu punya alasan yang tak bisa kubantah."
Bayu tersenyum tipis, lalu menepuk bahu sahabatnya itu.
"Terima kasih, Karta. Tapi kita tak berdua saja. Sebelum berangkat, aku sudah berpesan pada beberapa pemuda yang tetap tinggal di hutan pinggir kampung. Mereka akan menyusul sebentar lagi."
"Siapa saja?" tanya Karta langsung.
"Sukria, Gombloh, dan Jaka Kelitik."
Mata Karta membelalak seketika.
"Gombloh? Yang badannya sebesar beruang itu? Bayu, kau membawa dia untuk menyusup? Kalau bergerak sedikit saja, tanah bisa berguncang! Dia itu diam saja sudah kelihatan!"
"Justru itu yang kubutuhkan," jawab Bayu tetap tenang.
"Kalau terjadi pertempuran, kekuatan fisiknya akan sangat berguna. Sukria paham seluk-beluk jalan setapak di kampung kita, dia bisa jadi penunjuk jalan. Dan Jaka Kelitik... matanya tajam seperti elang. Tak ada satu pun jejak yang bisa lolos dari pandangannya."
Belum habis percakapan mereka, dari arah belakang terdengar suara rantai berderit pelan. Tiga sosok muncul dari balik pepohonan lebat. Yang paling depan bertubuh kurus tinggi dengan mata yang bergerak lincah ke segala arah — itu Jaka Kelitik. Di belakangnya berjalan Sukria dengan langkah ringan seolah melayang di atas tanah. Dan yang paling belakang, melangkah dengan langkah berat namun mantap, adalah Gombloh. Tubuhnya yang besar membuat semak-semak di sekelilingnya tertekan ke bawah setiap kali ia lewat.
Jaka Kelitik langsung menghampiri Bayu, suaranya nyaris tak terdengar.
"Bayu, aku sudah periksa jalan utama menuju kampung. Ada dua pos penjagaan Belanda yang baru didirikan di tikungan besar. Masing-masing dijaga oleh tiga orang bersenjata lengkap."
Bayu mengangguk.
"Terus bagaimana jalur alternatifnya?"
"Masih ada," jawab Jaka Kelitik sambil menunjuk ke arah jurang di sebelah kanan.
"Lewat jalur kebun lama yang turun ke sungai, lalu naik lewat belakang pekarangan rumah Demang. Jalurnya sempit dan curam, tapi tak ada penjagaan. Mereka sepertinya lupa bahwa jalur itu ada."
Sukria melangkah maju, wajahnya serius.
"Aku tahu jalurnya. Waktu kecil aku sering lewat sana saat mengambil buah di kebun seberang sungai. Tapi sekarang tanahnya mungkin sudah longsor di beberapa bagian. Harus hati-hati."
Gombloh mendengus pelan, suaranya berat dan dalam.
"Aku ikut. Kalau ketahuan, aku yang akan menahan mereka. Kalian lari bawa informasi."
Bayu menatap ketiga orang itu satu per satu, lalu mengangguk mantap.
"Tak ada yang akan tertinggal. Tak ada yang akan mati sia-sia. Kita masuk, kita amati, kita catat semuanya. Lalu kita keluar dengan selamat. Ingat, jangan bertarung kalau belum terpaksa. Tugas kita hari ini adalah melihat, bukan membunuh. Mengerti?"
"Mengerti!" jawab mereka berempat berbaris pelan.
"Kalau begitu, berangkat sekarang. Kabut makin menipis, sebelum matahari terang sepenuhnya."
Bayu berjalan paling depan, diikuti Jaka Kelitik yang sesekali melompat ke sela-sela semak untuk memastikan jalan aman. Di belakangnya Karta dan Sukria berjalan beriringan, sedangkan Gombloh berjalan paling belakang, sesekali menengok ke belakang memastikan tak ada yang mengikuti jejak mereka.
Mereka menuruni tebing curam menuju sungai. Tanah lembap membuat pijakan licin. Bayu memegang akar pohon menjuntai, menurun perlahan tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Di belakangnya, Karta melakukannya dengan lebih hati-hati, sesekali menggerutu pelan saat kakinya hampir terpeleset.
"Sialan, licin sekali tanah ini..." gerutunya pelan.
"Jangan bicara!" bisik Bayu tanpa menoleh.
"Suara bisa bergema di lembah ini."
Sesampainya di tepi sungai yang airnya keruh dan berarus deras, mereka menyusuri aliran air ke arah hulu. Air dingin menerjang betis hingga ke lutut, membuat kulit terasa kesemutan. Tetapi tak satu pun dari mereka mengeluh. Mereka tahu, menyusuri sungai adalah cara terbaik untuk menyembunyikan jejak langkah dari mata musuh.
Setelah berjalan cukup lama di dalam air, Sukria berhenti menunjuk ke arah tebing sebelah kiri.
"Di sana. Jalurnya."
Bayu mendongak. Di atas sana, samar-samar terlihat celah sempit di antara akar pohon besar yang menjalar ke mana-mana.
"Naik satu per satu," perintah Bayu.
"Jangan jatuhkan batu apa pun ke bawah."
Mereka naik satu per satu. Bayu paling depan, lalu Jaka Kelitik, kemudian Sukria, Karta, dan Gombloh paling belakang. Pijakan tanah yang rapuh membuat mereka harus berpegangan erat pada akar dan semak berduri. Tangan Bayu tergores duri tajam, darah segar menetes perlahan, namun ia tak peduli. Matanya terus menatap ke atas, mencari pijakan yang kuat.
Sesampainya di puncak tebing, mereka langsung berbaring telungkup di balik semak tebal. Di hadapan mereka, terbentang pemandangan kampung halaman yang kini berubah wajah.
Asap tipis masih mengepul dari beberapa titik reruntuhan. Di bekas lapangan balai desa, kini didirikan tenda-tenda kain bermotif loreng. Bendera Belanda berkibar lambat tertiup angin pagi. Sesekali terdengar suara teriakan kasar dan denting logam dari arah sana.
Jaka Kelitik merayap mendekat ke samping Bayu, berbisik pelan di telinganya.
"Ada sekitar dua puluh orang berseragam di sana. Sebagian membersihkan puing, sebagian berjaga dengan senjata siap arah."
Bayu memperhatikan dengan saksama. Matanya menyapu setiap sudut kampung yang dulu ia hafal luar kepala. Rumah Demang rata dengan tanah. Masjid tua di pinggir alun-alun atapnya hilang, tinggal dinding yang hitam hangus. Dan di tengah-tengah reruntuhan itu, berdiri sebuah bangunan kayu yang baru didirikan tergesa-gesa. Bendera Belanda dipasang di tiang tingginya.
"Itu markas sementara mereka," gumam Bayu pelan.
Karta merayap mendekat dari sebelah.
"Lihat di sana, Bayu. Mereka menumpuk karung-karung di dekat tenda besar. Entah isinya apa."
"Pasti persediaan makanan dan amunisi," sahut Sukria pelan.
"Mereka tak akan tinggal lama tanpa bekal cukup."
Bayu mengangguk perlahan.
"Jaka Kelitik, kau kelilingi pinggir kampung dari arah selatan. Catat berapa banyak penjaga di setiap jalan masuk. Sukria, periksa sumber air dan sumur yang masih bisa dipakai. Karta, Gombloh... kalian ikut aku ke arah kebun belakang rumah Pak Lurah. Dari sana pandangan ke arah markas mereka paling jelas."
Gombloh mengangguk pelan, tangannya mencengkeram sebilah kayu besar yang dibawanya.
"Kalau ketahuan... biar aku yang maju duluan."
"Tak akan ketahuan," bisik Bayu tegas.
"Tetap rendah. Jangan bergerak sebelum aku beri aba-aba."
Mereka bergerak terpisah. Bayu, Karta, dan Gombloh merayap perlahan menyusuri parit sempit yang tertutup ilalang tinggi. Setiap kali ada yang lewat di kejauhan, mereka langsung berhenti bergerak, menahan napas hingga suara langkah kaki itu menjauh kembali.
Dari balik rimbunan pisang di kebun belakang rumah Pak Lurah, mereka melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi di tengah alun-alun.
Seorang perwira berseragam rapi berdiri di depan tenda besar, tangan di punggung, sambil berbicara dengan seorang prajurit di hadapannya. Suaranya terdengar meninggi, penuh amarah. Meski jarak cukup jauh, potongan kata-kata yang terdengar samar cukup untuk dipahami.
" — belum ditemukan... semua warga pergi... tidak ada informasi..."
Prajurit itu menunduk tak berani menatap. Perwira itu lalu melangkah mondar-mandir dengan wajah merah padam, menendang batu kecil di hadapannya dengan kasar.
Bayu memperhatikan gerak-gerik mereka dengan saksama. Di kepalanya mulai tersusun rencana demi rencana. Musuh marah karena tak menemukan warga. Musuh tak punya mata-mata di kampung ini. Itu keuntungan besar bagi mereka.
Namun ada satu hal yang membuat hatinya berdebar tak enak. Di sudut alun-alun, terlihat tumpukan senjata yang jumlahnya banyak. Dan di sebelahnya, ada tumpukan peti-peti besar yang dijaga ketat. Cahaya matahari pagi memantul samar dari permukaan peti itu.
"Isinya mesiu..." bisik Bayu pelan.
Karta melotot.
"Kalau itu meledak... setengah kampung bisa hancur lagi."
"Justru itu," gumam Bayu.
"Itu juga kelemahan terbesar mereka."
Belum habis kata-katanya, terdengar suara ranting patah dari arah belakang.
Keras. Jelas.
Ketiga orang itu menegang seketika. Bayu langsung memberi isyarat tangan — diam, jangan bergerak.
Dari arah semak tak jauh dari tempat persembunyian mereka, terdengar suara langkah kaki mendekat. Dua pasang sepatu bot hitam muncul di pinggir kebun. Dua prajurit Belanda berjalan sambil menatap ke sekeliling, senjata tergenggam erat di tangan.
"Sst... ada suara tadi..." kata salah satu prajurit dalam bahasa Belanda, suaranya terdengar waspada.
"Angin saja. Atau binatang," jawab yang lain sambil menunjuk ke arah semak.
"Tak ada yang bisa hidup di reruntuhan ini."
"Tetap periksa. Kapten marah besar kalau ada yang terlewat."
Mereka berjalan perlahan mendekat ke arah tempat Bayu dan yang lain bersembunyi. Ujung senjata mereka menunjuk ke depan, siap meledak kapan saja.
Karta menggenggam erat sebilah batu di tangan, napasnya tertahan. Gombloh sudah siap melompat, otot-otot di lengannya menegang kuat. Bayu melirik mereka berdua sekilas, lalu menggeleng pelan. Jangan. Belum saatnya.
Satu prajurit itu berhenti tak jauh dari semak tempat mereka bersembunyi. Matanya menyapu sekeliling. Bayu bisa melihat dengan jelas wajah muda itu, keringat menetes di pelipisnya, napasnya sedikit memburu.
Hening. Hanya suara detak jantung yang terdengar berpacu cepat di dada masing-masing.
Tiba-tiba seekor burung hantu terbang rendah dari balik dahan besar, mengepakkan sayapnya dengan keras. Kedua prajurit itu tersentak kaget, senjata terangkat ke arah burung itu.
"Sial! Burung saja!" bentak salah satu dari mereka sambil menurunkan senjatanya kembali.
"Ayo pergi! Di sini tak ada apa-apa!"
Mereka berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan kebun itu kembali hening.
Baru setelah suara langkah kaki itu menjauh sepenuhnya, napas mereka bertiga kembali teratur pelan-pelan. Karta mengusap keringat dingin di dahinya, napasnya panjang.
"Hampir saja..." bisiknya parau.
Bayu menghela napas panjang, lalu menatap ke arah alun-alun sekali lagi.
"Kita sudah melihat cukup banyak. Sekarang kembali ke pertemuan. Sebelum matahari makin tinggi."
Mereka merayap kembali perlahan, menyusuri parit yang sama, hingga mencapai tempat pertemuan yang disepakati di balik bukit kecil tak jauh dari sungai. Tak lama kemudian Jaka Kelitik dan Sukria pun muncul satu per satu. Wajah mereka serius.
Jaka Kelitik membuka pembicaraan lebih dulu.
"Ada empat jalan masuk kampung. Masing-masing dijaga tiga orang bersenjata. Dua di antaranya membawa senapan laras panjang yang bisa menembak jauh."
Sukria menyambung.
"Sumur utama di alun-alun dijaga ketat. Sumur warga di pinggir sudah rusak. Mereka mengambil air dari sungai di sebelah timur, tapi harus lewat jalur terbuka."
Bayu mendengarkan sambil mengangguk pelan. Di kepalanya semua informasi itu mulai menyatu menjadi satu gambaran utuh.
"Mereka kuat di tengah, tapi lemah di pinggir," ucap Bayu pelan namun tegas.
"Pasukan mereka sedikit, tak cukup untuk menjaga seluruh kampung. Itu sebabnya mereka hanya berjaga di jalan utama."
Karta menyela.
"Tapi mereka punya senjata banyak dan mesiu melimpah, Bayu. Kalau kita serang begitu saja..."
"Siapa bilang kita serang hari ini?" potong Bayu tenang.
"Kita belum siap. Tapi hari ini kita sudah tahu kelemahan mereka. Hari ini mereka tidak tahu bahwa kita sudah kembali."
Bayu berdiri perlahan, menatap ke arah kampung yang masih tertutup asap samar di kejauhan.
"Mereka pikir semua orang sudah lari ketakutan. Mereka pikir kampung ini sudah mati. Itu kesalahan terbesar mereka. Selama tanah ini masih berdiri, selama air masih mengalir... kampung ini tidak akan pernah mati."
Gombloh menepuk-nepuk tangannya yang besar pelan, matanya berbinar.
"Kapan kita kembali lagi?"
"Segera," jawab Bayu tegas.
"Tapi kali ini bukan untuk melihat. Kali ini kita datang membawa teman-teman lain. Dan kali ini... kita datang untuk merebut kembali apa yang menjadi milik kita."
Sukria melangkah maju, wajahnya penuh semangat.
"Aku hafal setiap jengkal jalan di kampung itu. Katakan saja kapan, aku siap."
"Begitu juga aku," sahut Jaka Kelitik.
"Tak ada satu pun gerak-gerik mereka yang akan luput dari mataku."
Karta menatap Bayu lekat-lekat, lalu tersenyum tipis.
"Sudah kubilang, sejak kecil kau selalu punya rencana yang tak terpikirkan orang lain. Baiklah. Aku ikut. Sampai kapan pun."
Bayu menatap mereka satu per satu, hatinya terasa hangat meski udara pagi masih dingin menusuk. Di saat semua terasa gelap dan tak berdaya, ternyata harapan belum benar-benar hilang. Ia masih memiliki sahabat, masih memiliki orang-orang yang siap berdiri berdampingan melawan ketidakadilan.
"Maka sekarang, pulanglah masing-masing. Kumpulkan pemuda-pemuda yang masih bersembunyi di hutan. Katakan pada mereka... kampung kita belum hilang. Dan kita akan kembali untuk mengambilnya kembali."
"Siap!" jawab mereka serempak, suara rendah namun penuh tekad membara.
Matahari mulai naik lebih tinggi, menyebarkan cahayanya menembus sisa kabut pagi. Bayu berdiri paling belakang, menatap sekali lagi ke arah kampung halaman yang kini dikuasai musuh. Di dadanya tumbuh sebuah janji yang tak akan pernah ia ingkari.
Rancagaok masih milik mereka. Dan apa yang dirampas paksa... akan diambil kembali dengan cara apa pun.