Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.
Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.
Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.
Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Balas Budi Telah Lunas
Vira yang sedang menyusun mi instan di rak menoleh saat mendengar suara pria yang begitu familiar di telinganya.
"Ra..."
"Mau apa lagi dia?" batin Vira. Namun sesaat kemudian ia teringat sesuatu. "Oh... kalau gak salah, hari ini dia datang buat meminta modal usaha. Jangan harap."
Vira meletakkan dus mi instan yang sedang dipegangnya, lalu menatap Daril.
"Ada apa?" tanyanya datar.
Daril tersenyum tipis. "Aku mau bicara penting."
"Bicaralah. Aku masih banyak kerjaan."
Daril melirik ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada pelanggan yang datang.
"Kemarin aku dengar ada usaha yang keuntungannya lumayan. Usaha kredit pakaian," papar Daril.
Vira hanya diam.
"Aku kepikiran mau mencobanya."
"Lalu?" tanya Vira tanpa ada ketertarikan.
Daril menggaruk tengkuknya. "Aku... sebenarnya ingin mengajak kamu kerja sama."
Vira mengangkat sebelah alis. "Kerja sama bagaimana?"
"Kamu yang keluarin modal, aku yang jalanin usahanya. Nanti untungnya kita bagi."
Daril berusaha tersenyum selebar mungkin. Entah kenapa, meminta uang kepada Vira hari ini terasa jauh lebih sulit daripada biasanya.
Sudut bibir Vira terangkat tipis. dalam hati bergumam, "Jadi benar... dia datang untuk meminta modal."
"Maksudmu, kamu ingin aku membiayai usahamu?" tanya Vira dengan nada terkontrol.
"Bukan begitu." Daril buru-buru menggeleng. "Ini investasi buat masa depan kita."
Vira menatapnya tanpa berkedip. "Memangnya kamu butuh berapa?"
"Kalau ada... lima puluh juta," kata Daril penuh harap.
"Maaf. Aku gak punya uang sebanyak itu."
Wajah Daril langsung berubah. "Kalau begitu..." Pandangannya beralih ke rumah Vira. "Gadaikan saja rumahmu."
Vira tidak menunjukkan perubahan ekspresi sedikit pun.
"Nanti kalau usaha kita sudah maju, rumah itu bisa kita tebus. Bahkan kita renovasi jadi lebih bagus," bujuk Daril.
Masih kalimat yang sama... Persis seperti kehidupan sebelumnya.
Vira mengembuskan napas pelan. "Maaf. Aku gak akan menggadaikan rumah peninggalan orang tuaku."
"Ra, ini demi masa depan kita."
Vira tersenyum tipis. Namun senyum itu tidak sampai ke matanya. "Masa depan kita..." Ia mengulang pelan. "Atau masa depanmu?"
Daril terdiam.
"Rumah ini satu-satunya peninggalan orang tuaku. Dan lewat toko sembako ini aku sudah bisa menghidupi diriku sendiri."
"Tapi Ra, kalau usaha ini berhasil—"
"Kalau berhasil," potong Vira tenang. "Lalu kalau gagal?"
Daril kehilangan kata-kata.
"Aku gak akan mempertaruhkan rumah orang tuaku buat sesuatu yang bahkan belum tentu berhasil," tegas Vira.
Daril menarik napas panjang. "Kalau kamu masih belum percaya sama aku..." Ia menatap Vira lekat-lekat. "...aku akan menikahimu. Setelah kita menikah, usaha ini jadi milik kita berdua."
Vira hampir tertawa. "Usaha bersama?"
Di kehidupan sebelumnya, justru ia yang bekerja paling keras. Ia mengurus rumah, merawat Mirna, belanja barang dagangan, mencatat pembukuan. Dan melipat kembali barang dagangan yang dibuka konsumen tapi tak jadi dibeli.
Sementara Daril sering kali pulang kerja makan, lalu tidur atau pergi bersama teman-temannya.
"Ra..."
Panggilan itu membuyarkan lamunannya.
Daril tampak menunggu jawaban.
Vira menatap pria itu cukup lama. Sorot matanya begitu dingin membuat Daril merasa asing.
"Aku gak mau menikah sama kamu."
Jedar!
Ucapan itu terasa bagai petir yang menyambar kepala Daril, hingga membuat pria itu membeku.
"A-apa? Kamu bercanda, 'kan?"
"Aku serius," jawab Vira mantap.
"Ra..." Suara Daril mulai bergetar. "Kita sudah bersama selama empat tahun. Kita saling mencintai."
Vira menggeleng pelan. "Selama empat tahun itu... Apa kamu pernah menyatakan cinta sama aku?"
Daril terdiam.
"Apa kamu pernah memintaku menjadi kekasihmu?"
Keheningan menjawab. Karena meski hubungan mereka selama ini dekat layaknya orang pacaran. Tetapi nyatanya belum ada pernyataan apapun dari Daril ataupun Vira bahwa mereka mencintai satu sama lain.
"Nggak pernah," tegas Vira.
"Jadi hubungan kita selama ini menurutmu apa?" tanya Daril.
Vira tersenyum tipis. "Selama ini aku hanya membalas budi. Karena dulu kamu pernah menyelamatkan nyawaku. Jadi mulai hari ini, kita gak saling berutang apa pun lagi."
Ia menarik napas pelan. "Dan menurutku... Balas budi itu sudah lunas."
Wajah Daril kehilangan warna. "Ra..."
"Kita akhiri semuanya," putus Vira tanpa keraguan. "Tolong jangan datang lagi dengan urusan apa pun."
Vira menatapnya untuk terakhir kali. "Aku gak mau lagi memiliki hubungan apa pun sama kamu."
Daril berdiri mematung. Seolah ia tidak mampu mencerna setiap kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Vira. Atau lebih tepatnya, tidak menyangka Vira akan bicara seperti ini.
"Ra..." suara Daril terdengar lirih. "Apa aku melakukan kesalahan?"
Ia mencoba mencari tahu, apa yang sebenarnya membuat Vira berubah begitu drastis dalam waktu singkat. Namun Vira tetap menatapnya tanpa ekspresi.
"Apa karena aku belum punya uang? Belum punya pekerjaan tetap?" lanjut Daril. "Aku memang belum berhasil sekarang, tapi aku sedang berusaha. Kalau usaha ini jalan, aku pasti bisa membahagiakanmu."
Vira menggeleng pelan. "Ini bukan soal uang."
"Lalu apa?" Daril mulai kehilangan kesabaran. "Apa karena aku belum resmi melamarmu? Kalau itu yang kamu mau, aku akan datang bersama Ibu secepatnya."
Vira tetap diam tanpa kata. Ekspresi datar, tak ada lagi kehangatan dalam sorotnya.
Dan ekspresi serta diamnya Vira justru membuat dada Daril semakin sesak. "Tolong kasih tahu aku alasannya."
Vira menarik napas pelan. "Aku sudah memikirkannya baik-baik," kata Vira akhirnya. "Keputusanku gak bakal berubah."
Daril mengepalkan kedua tangannya. "Nggak mungkin." Tatapannya mulai dipenuhi kecurigaan. "Ibu benar..."
Vira mengernyit tipis, tak mengerti maksud perkataan Daril.
"Jangan-jangan..." Rahang Daril mengeras. "Kamu sudah dekat sama laki-laki lain?"
Sorot mata Vira tetap setenang air danau tanpa riak. "Itu bukan urusanmu lagi."
Jawaban singkat itu membuat wajah Daril memucat.
"Jadi benar?" tanyanya dengan suara meninggi. "Kamu berubah karena sudah ada pria lain?"
"Aku gak bilang gitu," jawab Vira dengan nada cuek.
"Tapi kamu juga gak membantah!" sergah Daril. Ia menarik napas kasar. Emosi yang sejak tadi berusaha ia tahan akhirnya meluap.
"Kamu gak mungkin berubah hanya dalam satu malam, Ra! Nggak mungkin! Ada siapa? Siapa yang memengaruhi kamu?"
...✨"Orang yang benar-benar mencintaimu tidak akan meminta pengorbanan yang menghancurkan hidupmu."...
..."Jangan gadaikan masa depanmu demi mimpi seseorang yang bahkan belum mau berjuang dengan usahanya sendiri."✨...
.
To be continued
Ayahnya sebagai penyebab dari penderitaan yang mereka alami.
Sebagai suami selingkuh, sebagai seorang Ayah perlakuannya sangat biadap.
Mereka diusir. Menghina Ibunya. Ayahnya membawa perempuan yang katanya istri barunya.
Ibunya kena mentalnya. Arvin menjadi pincang.
Arvin akan menjaga Ibunya, yang menjadi tameng hidup baginya ketika angkara murka merasuki Ayahnya.
Arvin pergi ke warung untuk membeli obat flu. Tiba di warung langkahnya terhenti ketika ia mendengar pembicaraan di dalam warung.
Lagi-lagi gosip tentang Vira ??
Hartato juga sudah mendengar. Dia tidak percaya. Vira bukan perempuan seperti yang digosipkan.
Pak Kades juga belum tentu percaya.
Mengingat Bapaknya Hartato masih menjabat sebagai kepala desa, setiap keputusan yang di ambil pasti menjadi perhatian banyak orang.
Kebenaran dari gosip itu belum terbukti. Niat lamaran di tunda.
Hartato hanya bisa berdoa, semoga gosip tentang Vira hanya fitnah. Dia lebih baik menunggu daripada mempercayai gosip tanpa bukti.
Sembarangan Tari bicara dengan mengatakan Tuhan pun membantuku. Mana ada Tuhan membatu orang jahat.
Jadi orang jahat itu pilihanmu, Tari. Tuhan itu memberi pilihan - mau menjadi orang baik atau menjadi orang jahat. Nantinya tinggal menunggu mau mendapat karma baik atau karma buruk.
Jangan senang dulu Tari. Ditunggu saja karma menjemputmu.
Memang Daril ini tidak pantas menjadi suami Vira. Hidupnya seperti benalu, juga pengkhianat.
Di kesempatan kehidupan kedua Vira, jangan sampai menjalin hubungan dengan Daril lagi.
Terimakasih kak Nana...semoga sehat selalu
Yanti langsung tersedak mendengarnya.
Dia mengelak, tidak tahu.
Begitu Vira mau lapor polisi, Tari melarang. Vira tanya kenapa. Salah taruh katanya.
Tari mengelak tidak mengambil. Melarang Vira melihat lemarinya. Tetap kekeh tidak mengambil.
Tari langsung panik ketika Vira mau panggil Ketua RT. Baru mempersilahkan Vira mencari di lemarinya.
Vira nenemukan empat kotak skibcare miliknya.
Tari mengaku itu miliknya.
Ditanya beli di mana, harganya berapa.
Kebohongannya sudah tak ada obatnya ini Tari.
Tari menolak usulan salah satu ibu-ibu untuk melaporkan ke polisi. Ya jelas menolak. Orang dia berkata bohong.
Baru mendengar sepihak, semoga ibu-ibu itu ada yang bertanya baik-baik pada Vira kebenaran yang sesungguhnya. Benar menurut cerita bohong Tari atau benar Tari bohong 😄.
Es kelapa muda sudah di tangan masing-masing satu.
Bukannya merasa prihatin mendengar sepupunya di gibahin, ini bocah malah punya ide licik.
Waduuuuuh...Tari malah bikin fitnah, mengarang bebas tentang Vira. Berapa laki-laki yang tidur sama Vira, Tari ? Kok bisa ngomong suara laki-lakinya tidak sama. Fitnah yang sungguh amat kejam. Pakai nangis segala untuk meyakinkan kebohongannya.
Ibu-ibu, cari bukti dulu ya. Jangan percaya begitu saja.
Ucapan terima kasih cuma di bibir. Hatinya tetap busuk.
Naah ketahuan Tari telah mencuri krim siang, krim malam, pelembap, juga serum milik Vira.
Vira tidak sembarangan menuduh Tari yang mencuri. Dia butuh bukti.
Disuruhnya Tari membeli dua es kelapa muda.
Yanti pergi naik motor.
Vira masuk ke kamar Yanti. Ia menemukan barang-barang yang telah raib dari meja rias di kamarnya. Beberapa kotak skincare tersusun rapi di laci paling bawah lemari pakaian.
Vira masih bersabar untuk tidak menuduh Tari. Masih butuh bukti yang tidak bisa dibantah.
Sehat selalu untuk author, lancar rejekinya juga 😘🤲
Semangat selalu bikin karya² yang baru 💪
Ujung-ujungnya Yanti minta diberi kesempatan. Dia bakal belajar masak yang benar.
Di depan Vira memelas pasti wajahnya. Coba nanti di belakangnya Vira. Ngedumel.
Yanti dasar perempuan tidak tahu diri. Setiap masak disengaja tidak enak supaya Vira tidak menyuruhnya masak lagi.
Vira jadi curiga dengan Yanti yang tidak pernah ikut makan. Alasannya sudah makan lebih dulu.
Sukurin gajinya dipotong. Kalau tidak sanggup masak yang benar, berhenti kerja sama Vira. Dan pergi dari rumah Vira.
Sepupu mau enak numpang tanpa bekerja. Maunya jaga toko biar bisa ngutil uang. Itu maunya Yanti.
Vira tidak membiarkan Yanti hidup gratis di rumahnya.
Mirna langkahnya terhenti ketika mendengar dari dalam warung beberapa ibu sedang mengobrol tentang Hartato yang mau melamar Vira.
Dia mendengar semua pembicaraan ibu-ibu itu. Pikiran liciknya timbul demi kepentingan pribadi.
Mirna mulai beraksi dengan bicara bohong bahkan cenderung memfitnah Vira.
Mirna mengatakan Vira sudah tidak perawan. Itu terjadi sebelum pacaran sama Daril.
Gawat nih Mirna, cari masalah. Perlu di lakban sama Vira nih mulutnya.