Sejak istrinya memilih pergi demi pria lain, hidup Ages Sabiru hanya memiliki satu tujuan yaitu membesarkan putra semata wayangnya, Kalandra Sabiru. Dengan kasih sayang yang tak pernah berkurang, Ages berusaha menjadi ayah sekaligus tempat pulang terbaik bagi anaknya.
Tahun demi tahun berlalu. Kalandra tumbuh menjadi remaja yang ceria, sementara Ages menjelma menjadi sosok ayah yang selalu mengutamakan putranya di atas segalanya. Di balik candaan, sarapan sederhana, dan perjalanan pulang bersama, tersimpan ikatan yang tak tergantikan.
Namun, ketika masa lalu yang telah lama mereka tinggalkan kembali muncul, hubungan ayah dan anak itu akan diuji. Mampukah cinta dan kepercayaan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun bertahan menghadapi kenyataan yang selama ini disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara pematik,kertas dan angin
Hari demi hari berlalu.Nadira semakin sering datang ke kantor Ages.Awalnya, ia datang untuk membahas pekerjaan.Kemudian membawa makan siang.Lalu datang kembali dengan alasan ada beberapa dokumen yang harus dibicarakan.
Semakin sering Nadira muncul di hadapan Ages, semakin dekat pula hubungan mereka.Setidaknya, begitulah yang Nadira pikirkan.
"Pak Ages, saya membawa makan siang."
Ages yang sedang membaca dokumen hanya mengangkat wajahnya."Lagi?"
Nadira tersenyum."Memangnya tidak boleh?"
"Bukan begitu." Ages kembali melihat dokumennya. "Terima kasih."
Nadira meletakkan kotak makan di atas meja."Kalau begitu, nanti kita makan bersama."
Ages mengangguk."Baik."
Sederhana.Tidak ada senyum khusus, atau tatapan penuh arti,tidak ada pula sikap berbeda dari Ages.
Namun, bagi Nadira, persetujuan itu sudah cukup membuatnya tersenyum.Ia semakin yakin,Ages Sabiru perlahan mulai terbiasa dengannya.
Sementara itu, di rumah.Kalandra sudah menyiapkan meja makan,di atas meja terdapat beberapa makanan kesukaan Ages.
Hari ini ia bahkan sengaja meminta Tamara membuat makanan yang disukai ayahnya,ia ingin makan bersama sang ayah sebelum besok ia pergi berlibur ke rumah sang kakek.
"Papa pasti suka," gumam Kalandra sambil tersenyum.Ia kemudian mengambil ponselnya.
Pap,pulang jam berapa?
Beberapa menit kemudian, balasan masuk.
Mungkin agak malam, dek.
Kalandra mengerutkan kening.
Kenapa?
Papa masih ada pekerjaan.
Kalandra menatap layar ponselnya. "Padahal tadi bilang hari ini pulang cepat."
Ia menghela napas.Namun, tetap menunggu hingga dua jam.Bahka makanan di meja mulai dingin.
Akhirnya, Kalandra mengirim pesan lagi.
Papa udah makan?
Balasan Ages masuk beberapa saat kemudian.
Sudah.
Kalandra terdiam.
Sama siapa?
Beberapa detik kemudian, Ages membalas.
Di kantor.
Kalandra menatap meja makan di hadapannya.Makanan yang sejak tadi ia tunggu untuk disantap bersama ayahnya masih berada di sana.
"Ya sudah..."
Kalandra mengambil piringnya sendiri.Malam itu, ia makan seorang diri.Hal yang sama kembali terjadi beberapa hari kebelakang.Saat kemarin Kalandra pulang lebih awal dari sekolah,ia bahkan sempat mampir membeli makanan kesukaan Ages.
"Pap, nanti makan bareng, ya."
Pesan itu dikirim sebelum ia sampai rumah.Namun, balasan yang datang kembali membuat wajahnya berubah.
Maaf, Kala. Ayah sudah makan.
Sama siapa?
Rekan bisnis papa.
Kalandra masih mengingat balasan pesan sang ayah,ada sedikit rasa kecewa namun ia tak bisa marah.Ia tahu ayahnya bekerja keras untuk dirinya.Dan mungkin saja Ages sudah makan bersama para rekan bisnisnya.
Sedangkan Ages yang sedang berada di ruangannya membaca pesan terakhir dari sang anak tanpa curiga.
Kalandra tidak langsung membalas.Beberapa detik kemudian, ia hanya mengetik.
Oh.
Satu kata saja balasan dari Kalandra.Namun,Ages tidak menyadari perubahan kecil dalam pesan putranya.
Di atas meja, terdapat kotak makan yang baru saja dibawa Nadira.
"Mau aku ambilkan?"
Ages mengalihkan pandangannya dari hp. "Tidak usah."
"Oh Ok." Nadira sedikit kecewa,namun ia tidak kehabisan akal.Ia mengambil potongan ayam dan menyimpannya di piring Ages.
"Ayamnya khusus bikinan aku,jadi kamu harus makan banyak."
Ages terkejut namun ia berusaha untuk biasa-biasa saja."Terima kasih."
Makan bersama yang di selingi obrolan ringan itu nampak begitu intimate bagi Nadira,begitupun orang-orang yang melihatnya pasti akan mengira jika keduanya mempunyai hubungan lebih.
Namun tidak bagi Ages,semuanya nampak seperti biasa-biasa saja.Bahkan sikapnya pun masih wajar sebagai rekan bisnis
Sementara di rumah, Kalandra meletakkan ponselnya.Makanan yang sebagian masih utuh karena ia hanya makan sebagian saja
Ia menatap makanan tersebut.Lalu menghela napas.
"Padahal aku mau makan sama papa,karena besok dan beberapa hari kedepan kita gak akan ketemu."
.
.
.
"Nadira datang lagi?" Arsen yang kebetulan berada di kantor Ages menatap adiknya.
Ages mengangguk."Iya. Ada beberapa hal yang harus dibahas."
Arsen melirik kotak makan di atas meja."Dan itu?"
"Dia yang bawa."
"Setiap hari?"
Ages menatap kakaknya."Enggak setiap hari."
Arsen hanya mengangkat alis
Ages terdiam sejenak. "Ya... cukup sering."
Arsen menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Ges."
"Hm?"
"Kamu sadar nggak kalau dia sering datang?"
"Ya sadar."
"Dan kamu tahu dia sering membawakan makanan?"
"Iya."
"Terus?"
Ages mengerutkan kening."Terus apa?"
Arsen menatap adiknya cukup lama."Enggak apa-apa."
Ages kembali melihat dokumennya.Baginya, semua itu memang biasa saja.Nadira adalah rekan bisnis.Perempuan itu sering datang karena urusan pekerjaan dan membawa makanan hanyalah bentuk perhatian biasa.
Ages sama sekali tidak berpikir bahwa Nadira memiliki perasaan khusus kepadanya.Apalagi bahwa perempuan itu mulai menganggap dirinya semakin dekat dengan Ages.
Bahkan tadi sebelum Nadia pergi, Nadira berdiri sejenak di depan pintu ruangan Ages.
"Pak Ages."
Ages menoleh."Ya?"
"Besok saya datang lagi, ya."
Ages mengangguk. "Untuk membahas proyek kan?"
"Iya."
"Baik."
Nadira tersenyum."Kalau begitu, besok saya bawakan makanan lagi."
Ages hanya mengangguk. "Terima kasih."
Nadira keluar dari ruangan dengan senyum puas.Ia merasa hubungannya dengan Ages semakin dekat.
Sementara Ages sama sekali tidak menyadari apa pun.
Arsen kembali menatap wajah sang adik yang terlihat begitu tenang,sesekali ia melihat ke arah meja yang masih terdapat kotak makan.
"Gue cuma mau ingetin lo untuk tidak mencoba mematik api."
Ages menoleh. "Maksud lo?"
"Ingat kata-kata gue,Lo itu jadi pematiknya,Kala jadi kertasnya dan rekan bisnis lo adalah angin nya."
"Lo ngomong apaan sih bang,gue gak ngerti."
Arsen berdecak kesal."Lo itu emang jagonya bisnis,tapi soal ginian lo paling bego."
Ages tersenyum masam."Lo nya aja yang ngomongnya belibet,gue gak ngerti maksud lo apa.Pake bawa pematik,kertar dan angin segala.
Arsen menghela napas kasar."Intinya lo fokus aja sama Kala,dia prioritas hidup lo."
"Gue inget lah.Makanya gue kerja banting tulang kaya gini demi anak gue satu-satunya."
Arsen mengangguk."Gue pegang kata-kata lo!"
Ages hanya mengangkat bahunya cuek.Kakanya kali ini sungguh aneh,namun Ages tidak ingin ambil pusing.
Malam mulai larut,Ages akhirnya tiba di rumah.Ia langsung mencari Kalandra.
"Kala?"
Tidak ada jawaban.Ages berjalan menuju kamar putranya.Pintu kamar sedikit terbuka.Kalandra terlihat sedang berbaring di atas tempat tidur sambil memainkan ponsel.
"Belum tidur,dek?"
Kalandra menoleh."Belum."
Ages masuk dan duduk di tepi ranjang."Hari ini sekolah bagaimana?"
"Baik."
"Sudah makan?"
"Sudah."
Jawabannya singkat.Ages memperhatikan putranya."Kenapa?"
"Kenapa apa?"
"Kamu kenapa?"
Kalandra menggeleng."Enggak kenapa-kenapa."
Ages terdiam.Biasanya, Kalandra akan langsung bercerita tentang sekolahnya.Tentang Raka dan Jevan yang selalu ia usili.Tentang hal-hal kecil yang terjadi sepanjang hari.Namun malam ini putranya hanya menjawab seperlunya.
Ages mengulurkan tangan dan mengusap rambut Kalandra."Kalau ada apa-apa, cerita sama papa"
Kalandra menatapnya."Iya"
"Udah siap liburan di rumah kakek?"
"Udah."
Ages terdiam sejenak.Kemudian tersenyum."Have fun ya,kabari papa kalau ada apa-apa."
"Hm"
Walaupun bicara singkat,namun Ages sama sekali tidak tersinggung.Ia berpikir mungkin karena Kala capek dan ngantuk hingga mood nya menjadi jelek.
.......
.......
.......
...♡ Sabiru ♡...