Bagi Adrian, Dira hanyalah seorang gadis jalanan yang pernah ia selamatkan. Namun bagi Dira, Adrian adalah alasan ia bertahan hidup, bangkit dari kemiskinan, dan mengubah takdirnya.
Malam itu, ia bertekad mengubah dirinya bukan sebagai gadis jalanan lagi, melainkan wanita yang siap melakukan apa saja demi memiliki pria yang telah menguasai hatinya.
"Sekecil apapun kesempatan itu, akan ku manfaatkan sebaik mungkin!" (Dira)
#CintaRomantis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Sore itu, setelah menyelesaikan inspeksi rutin di pabrik, Dira langsung mengarahkan mobilnya menuju kantor konsultan bisnis milik Beri. Sudah lama ia tidak datang sebagai murid yang meminta nasihat. Biasanya, mereka hanya bertemu saat rapat atau acara perusahaan.
Sesampainya di sana, sekretaris langsung mempersilahkannya masuk. Beri yang sedang membaca beberapa dokumen mendongak sambil tersenyum. "Wah, owner Dira Skincare datang sendiri."
Dira tertawa kecil. "Kak Beri, aku mau konsultasi."
Beri meletakkan dokumen di mejanya. "Untuk apa? Bukannya usahamu sudah sangat kuat?"
Dira menggeleng. "Bukan soal skincare."
"Oh?"
"Aku ingin membahas usaha lain."
Beri menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Hmm..." Ia mengusap dagunya seolah sedang berpikir keras. "Kalau begitu, konsultasinya beda."
Dira mengernyit. "Beda bagaimana?"
Beri memasang wajah serius selama beberapa detik. "Harus bayar."
Dira membelalakkan mata. "Hah? Kakak serius?"
"Sangat serius."
"Berapa?"
Beri berpura-pura membuka laci meja, mengambil kalkulator, lalu menekan-nekan tombol dengan ekspresi yang dibuat sangat serius. "Melihat statusmu sekarang..." gumamnya. "...tarif konsultasinya naik."
Dira menahan tawa. "Jangan-jangan lebih mahal daripada keuntungan sehari usahaku."
"Bisa jadi."
"Kak Beri..."
Akhirnya Beri tertawa. "Sudah, sudah. Aku cuma bercanda."
Dira menggeleng sambil tersenyum lega. "Hampir saja aku percaya."
Beri menunjuk kursi di depannya. "Duduk."
Dira pun duduk.
Beri menatapnya dengan ekspresi yang kini jauh lebih serius. "Baiklah, Bu Direktur. Ceritakan. Apa yang sedang kamu rencanakan?"
Dira menarik napas panjang. Sorot matanya menunjukkan bahwa ide yang akan ia sampaikan bukanlah keputusan kecil, melainkan langkah besar berikutnya dalam perjalanan hidupnya.
Dira menarik map dari dalam tasnya, lalu meletakkannya di atas meja Beri. "Aku sudah memikirkan ini selama beberapa minggu."
Beri membuka map itu. Di halaman pertama terpampang nama sebuah perusahaan. Maulana Group. Beri mengangkat alis. "Kamu ingin berinvestasi?"
Dira mengangguk mantap.b"Iya."
"Di bidang apa?"
"Maulana Group sedang membuka peluang investasi untuk salah satu proyek hotelnya. Aku ingin ikut."
Beri menatap Dira beberapa saat. "Maulana Group?"
"Iya."
"Hmm... aku kenal pemiliknya."
Dira langsung menegakkan punggung. "Serius?"
"Iya."
"Siapa?"
Beri tersenyum tipis. "Adrian Maulana? Hmm, aku kenal orang ini!"
Nama itu membuat jantung Dira berdetak begitu keras hingga ia merasa Beri pasti bisa mendengarnya. Tetapi ia pura-pura tidak tahu agar Beri tidak curiga. Hingga saat ini hanya Bu Emi yang mengetahui semua isi hati Dira pada Adrian Maulana.
Beri mengangguk santai, tanpa menyadari gejolak yang sedang terjadi di dalam hati Dira. "Dulu kami cukup dekat. Waktu masih kuliah kami sering mengikuti kompetisi bisnis bersama. Setelah itu dia berangkat ke Amerika mengembangkan perusahaan keluarganya, sementara aku membangun firma konsultasiku sendiri. Sejak saat itu kami jarang bertemu."
Dira menggenggam kedua tangannya di bawah meja agar tidak terlihat gemetar. Ia sudah tahu itu semua. Keluarga Adrian punya yayasan, keluarga Beri menjadi salah satu donatur.
Beri melanjutkan, "Setahuku, dia juga masih sering mendukung yayasan keluarganya, meskipun sekarang kesibukannya luar biasa."
Dira menatap Beri tanpa berkedip.
"Kalau memang tujuanmu investasi di Maulana Group..." Beri tersenyum. "...aku bisa mencoba menghubungkan kalian. Siapa tahu dia bersedia meluangkan waktu untuk bertemu."
Mata Dira membelalak. "Apa?"
"Aku bilang, aku bisa mengenalkanmu."
Dira spontan bangkit dari kursinya. "Cukup!"
Beri terkejut. "Hah?"
"Cukup... cukup... cukup!" Dira menutup mulutnya sendiri, berusaha menahan luapan kegembiraan yang hampir tak terkendali. Lalu ia tersenyum lebar. "Aku tertarik."
Beri tertawa melihat reaksi Dira yang tidak biasa. "Baru kali ini aku melihat kamu begitu bersemangat."
Dira berdeham, berusaha kembali tenang. "Ya... ini kesempatan bisnis yang sangat bagus. Aku sudah tak sabar mengembangkan usaha bisnisku."
Beri mengangguk tanpa menaruh curiga. "Baiklah. Aku akan menghubungi Adrian. Kalau jadwalnya memungkinkan, aku akan mengatur pertemuan."
Dira mengangguk berkali-kali. "Terima kasih, Kak." Keluar dari kantor Beri, langkah Dira terasa jauh lebih ringan. Selama bertahun-tahun ia hanya mampu melihat Adrian dari kejauhan, lalu kehilangan jejaknya. Kini, takdir seolah kembali membuka sebuah pintu. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia memiliki kesempatan untuk bertemu lagi dengan lelaki yang telah mengubah seluruh hidupnya.
***
Dua minggu kemudian, undangan gala dinner Maulana Group akhirnya tiba. Acara itu dihadiri para investor, pemilik perusahaan, direksi, serta sejumlah pengusaha yang menjadi mitra strategis.
Malam itu, Dira tampil berbeda. Ia mengenakan gaun hitam sederhana dengan potongan elegan. Rambutnya disanggul rapi, sementara riasannya tetap natural. Penampilannya memancarkan kepercayaan diri tanpa terlihat berlebihan.
Di sampingnya, Beri mengenakan setelan jas berwarna gelap. "Deg-degan?" tanya Beri sambil tersenyum.
Dira tersenyum tipis. "Sedikit."
"Tenang saja. Anggap saja ini forum bisnis seperti biasanya."
Dira hanya mengangguk. Padahal, jantungnya berdebar jauh lebih kencang daripada ketika pertama kali meluncurkan produk skincare miliknya.
Begitu memasuki ballroom, pandangannya langsung mencari satu sosok. Dan ia menemukannya dengan sangat mudah. Adrian Maulana. Berdiri di tengah para tamu dengan setelan jas hitam yang rapi, Adrian tampak berbincang dengan beberapa investor asing. Wibawanya jauh berbeda dibanding pemuda yang pernah ditemuinya bertahun-tahun lalu. Kini, Adrian benar-benar memancarkan aura seorang pemimpin.
Dira tanpa sadar tersenyum. "Mas Adrian..."
Tak lama kemudian, Beri mengajak Dira mendekat. "Adrian."
Mendengar namanya dipanggil, Adrian menoleh. Ekspresinya berubah menjadi senyum hangat. "Beri." Keduanya berjabat tangan. "Lama sekali kita tidak bertemu."
"Ya. Sejak kamu pulang dari Amerika, jadwalmu selalu penuh." Mereka tertawa singkat. Lalu Beri menoleh kepada Dira. "Perkenalkan. Ini Dira."
Adrian mengulurkan tangan. "Senang bertemu dengan Anda."
Dira menyambut uluran tangan itu. "Senang bertemu dengan Anda juga, Pak Adrian."
Tatapan Adrian tetap ramah, tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia mengenali perempuan di hadapannya. Baginya, Dira hanyalah salah satu tamu undangan malam itu. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa perempuan elegan tersebut adalah gadis jalanan yang pernah diselamatkannya bertahun-tahun silam.
Beri mulai memperkenalkan. "Dira adalah pendiri Dira Skincare. Salah satu pengusaha muda yang pertumbuhannya paling cepat beberapa tahun terakhir."
Adrian tampak sedikit terkejut. "Oh?" Ia menoleh kepada Dira. "Selamat. Saya sempat membaca tentang perusahaan Anda di majalah bisnis."
"Terima kasih."
"Di usia semuda ini sudah mampu membangun merek sendiri bukan hal yang mudah."
Mereka kemudian berbincang mengenai strategi pemasaran, pengembangan produk, hingga ekspansi bisnis. Adrian beberapa kali mengajukan pertanyaan yang cukup tajam. Namun setiap pertanyaan dijawab Dira dengan tenang dan berdasarkan data.
Adrian memperhatikannya dengan saksama. Jarang sekali ia bertemu pengusaha muda yang mampu menjelaskan strategi bisnis dengan begitu terstruktur. Setelah beberapa menit berbincang, Adrian tersenyum. "Saya harus mengakui." Dira menatapnya. "Cara berpikir Anda sangat matang."