"Mulai dari sekarang kamu adalah putraku, kamu yang akan menduduki tahta naga. Gantikan posisi kaisar, injaklah keparat itu."
Sang permaisuri berbisik sembari tersenyum, menatap ke arah seorang pangeran kecil berpakaian lusuh di istana terbuang.
Lin Krisan, merupakan putri tunggal dari jendral yang berkuasa. Diangkat menjadi permaisuri, setelah mendukung suaminya dari status pangeran hingga menjadi kaisar.
Namun, kasih sayang tidak didapatkannya. Kaisar lebih menyayangi para selirnya. Hingga pada akhirnya permaisuri Lin meninggal di istana dingin, setelah diracuni oleh kaisar.
Wanita yang terlahir kembali, kembali mengulangi waktu.
"Aku tidak akan berusaha merebut cintamu lagi. Tapi aku akan merebut tahtamu."
Menjadikan istana bagaikan papan catur, melucuti kekuasaan kaisar pengkhianat. Menjadikan putranya yang manis sebagai kaisar baru.
Tapi lebih dari itu, mata perdana menteri mengawasinya...atau menginginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Iri
Mereka tumbuh besar bersama. Menghabiskan masa kecil hingga usia 12 tahun juga bersama, di wilayah perbatasan yang dingin. Hingga pada akhirnya Lin Krisan kembali ke ibukota.
Wanita itu diajari tata krama sebagai Putri bangsawan. Perlahan kemudian memiliki reputasi sebagai wanita paling berbakat dan cantik di ibukota.
Pada usia 14 tahun, Lin Krisan menikah dengan pangeran kedua. Pria yang kemudian diangkat menjadi putra mahkota, hingga berakhir menjadi Kaisar.
Sudah lama wanita ini terjebak. Dan kini bunga yang indah itu kembali merekah.
Wajahnya tersenyum ketika memegang pedang. Bagaikan ilusi Krisan yang berusia 12 tahun kembali pada ingatan perdana menteri.
Dua orang yang mulai bertarung sembari tersenyum. Suara pedang berbenturan terdengar, ketika permaisuri hendak menyerangnya. Perdana menteri menghindar, sedikit lagi wajah pemuda itu akan tergores. Namun hanya mengenai sedikit rambutnya.
“Sudah lama tidak menggunakan pedang. Ternyata kemampuan yang mulia tidak berkarat.” Ini perdana menteri yang menyerang. Mencoba menebas permaisuri, tapi wanita itu melompat menghindar.
Memiliki kemampuan meringankan tubuh. Bergerak berputar begitu indah, sempat menjadikan pedang perdana menteri sebagai pijakannya. Kemudian kembali melompat mendarat dengan cepat.
Wanita yang kemudian menyerang perdana menteri, pedang mereka kembali berbenturan. Perdana menteri memang memiliki kekuatan yang lebih daripada dirinya. Tapi Krisan sendiri memiliki kecepatan.
Dua makhluk ini bergerak begitu anggun. Padahal sedang bertarung. Karena ini adalah hal yang selalu mereka lakukan dari kecil.
Hingga pada akhirnya perdana menteri melakukan serangan bertubi-tubi. Krisan melompat mundur beberapa kali.
Wajah wanita itu yang tersenyum bahkan tertawa, membuat perdana menteri tertegun. Begitu cantik dan indah seperti bunga red spider Lily. Bunga yang dijuluki bunga dari neraka.
Benar-benar tidak konsentrasi, tiba-tiba saja permaisuri menyerang balik. Menendangnya, kemudian menjatuhkan tubuhnya ke tanah. Wanita yang mengacungkan pedangnya pada leher perdana menteri.
“Seperti biasanya William selalu mengalah.” Permaisuri mengangkat sebelah alisnya. Mengetahui kemampuan orang ini dari dulu sudah melampauinya. Tapi entah kenapa setiap bertarung dengan permaisuri selalu kalah.
“Kemampuanmu memang lebih hebat.” William hanya tertawa, memang kemampuannya lebih hebat. Kemampuan permaisuri dalam membuat seseorang terpesona lebih tepatnya.
Permaisuri mengulurkan tangan padanya. Membantunya untuk bangkit. Pemuda yang begitu dingin dan jarang tersenyum ini. Entah kenapa dapat tersenyum begitu hangat pada permaisuri…
“Woah…” suara seorang anak terdengar, membawa manisan yang begitu besar. Menatap ke arah permaisuri dan perdana menteri.
“Ibunda begitu mengagumkan.” Lian berlari memeluk ibunya.
Permaisuri berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan putranya.
“Lian sudah belajar hari ini?” Tanya sang Ibu menatap ke arah guru yang baru ditugaskan untuk mengajari pangeran kelima. Seorang guru yang tadinya mengajari pangeran pertama.
“Sudah, guru Li begitu hebat. Kemampuan Lian tidak ada apa-apanya.” Jawaban dari anak itu begitu antusias.
Sedangkan kakek tua yang mengikutinya, hanya dapat menghela nafas. Pria tua dengan janggut putih panjang.
“Hamba memberi hormat kepada yang mulia permaisuri.” Ucap guru Li Tio.
“Justru hamba yang kagum pada bakat pangeran Lian. Karena sudah belajar seharian ini. Dan membuat puluhan puisi. Bisa menghafal begitu banyak dalam waktu yang singkat. Pangeran Lian begitu jenius, hamba sampai harus memberikan hadiah manisan ini kepadanya. Takutnya, hanya dalam 2 tahun tidak ada lagi yang dapat hamba ajarkan pada pangeran Lian.” Guru Li menunduk memberi hormat kepada permaisuri.
“Apa kemampuannya melampaui pangeran pertama?” Pertanyaan yang begitu spesifik dari permaisuri.
Bukan karena dirinya berambisi putranya harus lebih pintar. Tapi dirinya berambisi untuk membuat pangeran pertama hidup dalam kesenangan. Melupakan belajar, dan prestasinya menurun perlahan.
“Tentu saja jauh melampaui pangeran pertama. Hanya saja tulisannya masih perlu dilatih sedikit demi sedikit. Agar menjadi lebih indah.” Jawaban dari Guru Li.
“Apa ibunda akan marah karena tulisan Lian tidak bagus?” anak itu terlihat bagaikan menunduk sedih.
Permaisuri menghela nafas, kemudian menggeleng pelan.”Untuk apa ibunda marah. Justru ibunda bangga…”
Anak yang mengangguk memeluk ibunya.”Ibunda…”
Benar-benar terlihat anak ini kurang kasih sayang. Begitu melekat pada permaisuri.
“Guru Li…” permaisuri sedikit mendekat. Kemudian memberikan kantong yang berisikan kepingan emas.”Rahasiakan dari siapapun tentang kemampuan pangeran kelima. Bahkan jika Kaisar bertanya, katakan saja kemampuan pangeran kelima seperti kemampuan anak pada umumnya. Baru mulai belajar menulis dan membaca. Jangan buat pangeran kelima terlalu menonjol.”
Guru Li segera menerima kantong pemberian permaisuri, kemudian menyimpannya. Pria tua itu mungkin sedikit paham. Perebutan tahta di istana kekaisaran begitu rumit. Jika ada anak yang memiliki kemampuan seperti pangeran kelima. Mungkin semua selir akan berusaha untuk membunuhnya.
“Hamba akan merahasiakannya.” Jawaban dari pria itu.
“Ibunda, apa nanti Lian bisa belajar menggunakan pedang seperti paman perdana menteri dan Ibunda?” Pertanyaan polos dari sang anak.
“Tentu saja, kamu itu memiliki darah naga. Jangan pernah menjadi kaisar yang pengecut. Jika ada perang, dalam keadaan tertentu Lian harus dapat memimpin perang.” Anak yang seharusnya hanya bermain dan tidak mengerti apapun.
Memakan manisan panjang yang ada di tangannya. Kemudian berucap kepada ibundanya.”Lian mengerti, Lian akan menjaga seluruh negeri dan menjaga ibunda.”
“Anak pintar…” permaisuri merapikan anak rambut putranya.
Mungkin inikah rasanya memiliki seorang anak yang berbakat. Pantas saja semua selir memamerkan anak mereka.
Perlahan perdana menteri melangkah. Menghela nafas kasar, kemudian mengeluarkan sesuatu dari kantong lengannya.
“Ini manisan untuk yang mulia pangeran.” Ucap perdana menteri memberikan manisan.
“Terima kasih Paman perdana menteri…” anak itu menunduk memberi hormat. Begitu manis lucu dan kikuk, berbeda karakter dengan pangeran-pangeran lainnya yang biasanya begitu sombong.
Riri menatap semuanya. Menipiskan bibir menahan tawanya, matanya sedikit melirik ke arah pengawal dari perdana menteri.
“Mereka terlihat seperti keluarga.” Ucapnya asal.
“Jika saja mereka menikah, mungkin sudah memiliki beberapa anak.” Sang pengawal menghela nafas kasar.
Sementara Riri mengangkat sebelah alisnya.”Apa maksudmu?”
“Bukan apa-apa…” sang pengawal kembali menghela nafas. Menatap ke arah majikannya, pria yang tidak pernah dekat dengan wanita manapun.
Pria yang hanya berkutat dengan pekerjaannya saja. Pria yang tidak pernah peduli apapun tapi menyimpan begitu banyak lukisan seorang wanita di ruang rahasia ruang kerjanya.
Perdana menteri adalah pria tidak tersentuh. Tentu saja hanya satu orang yang dapat menyentuhnya. Tapi orang itu juga tidak dapat disentuh oleh perdana menteri.
Mungkin perdana menteri akan berakhir tidak memiliki keturunan. Sudahlah…
***
Beberapa hari berlalu_
Pada akhirnya ulang tahun Kaisar akan diadakan. Pria yang terbangun dari tidurnya, menatap ke arah jubah naga yang ada di ruangan tersebut.
Seorang wanita memeluknya dari belakang. Hanya menggunakan pakaian minim.”Yang mulia…” bisik selir Wen yang tengah mengandung.”Hamba mendengar kabar dari beberapa dayang, yang mulia memberikan dupa beraroma khusus kepada permaisuri. Bolehkah hamba meminta hal yang sama?”
hayu pangeran kecil,segera beraksi
biar kapok kaisarnya
enak bener dah sekian purnama di anggurin tiba2 minta jatah dengan alasan tidak tega melihatmu dihina
lanjut KK author,semangat💪
kasian amet Krisan dapat barang bekas🫣🤣🤣
jgn lah
jangan biarkan ibundamu di temani si kaisar
hayo bersiasat