NovelToon NovelToon
Sistem Pager Iblis

Sistem Pager Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:271
Nilai: 5
Nama Author: Sugesti

Ketika keluarganya hancur dihantam utang dan kehancuran finansial, Lin Fan tidak sengaja menemukan gulungan lontar tua milik leluhurnya yang tersembunyi di sudut rumahnya di desa terpencil. Gulungan itu membuka akses ke sebuah ritual terlarang yang membangkitkan entitas misterius bernama [Sistem Pagar Iblis], sebuah kekuatan kuno yang menuntut bayaran mahal untuk setiap keuntungan finansial dan perlindungan yang ditawarkannya. Demi menyelamatkan keluarganya dari ancaman orang-orang licik di sekitarnya, Lin Fan terpaksa melangkah ke dalam kegelapan, tanpa menyadari bahwa setiap keputusan yang ia ambil mulai mengubah dirinya dan membahayakan nyawa orang-orang yang berusaha ia lindungi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sugesti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 : Sisi Gelap Kemudahan

Matahari pagi menyinari tanah becek di halaman rumah keluarga Lin, memantulkan sisa-sisa embun yang belum menguap sepenuhnya.

Bekas jejak roda mobil jip milik Zhao Qiang masih tercetak jelas di atas tanah dekat pohon mangga.

Lin Fan menyapu halaman rumah menggunakan sapu lidi tua dengan gerakan santai dan konstan.

Wajahnya tampak jauh lebih segar dibandingkan dua hari lalu, warna kulitnya tidak lagi sekuning kertas kusam.

Penyerap energi kejahatan dari Zhao Qiang semalam benar-benar memulihkan sepuluh persen daya hidupnya.

"Gege! Lihat, Ibu membawa buah pir dari pasar desa!" teriak Lin Mei dari arah jalanan tanah.

Lin Mei berlari kecil mendekati Lin Fan sambil melambai-lambaikan kantong plastik berisi empat buah pir segar yang ranum.

Di belakangnya, ibu Lin Fan melangkah anggun membawa keranjang belanjaan dengan wajah penuh senyum hangat.

Sejak Lin Fan memberikan uang belanja yang lebih dari cukup pagi tadi, raut wajah ibunya yang biasanya layu kini tampak memancarkan kehidupan kembali.

"Kamu ini, Mei-mei, jangan berlari-lari begitu, nanti jatuh," tegur ibunya lembut sambil mengusap pelipisnya yang berkeringat.

"Ibu... aku kan senang, sudah lama sekali kita tidak beli buah pir manis," sahut Lin Mei sambil memeluk lengan ibunya.

Lin Fan meletakkan sapu lidinya di dekat dinding kayu rumah lalu tersenyum menatap adiknya.

"Makanlah buahnya bersama Ibu di dalam, Gege mau jalan-jalan sebentar ke balai desa," kata Lin Fan.

"Hati-hati ya, Lin Fan. Kalau ketemu Zhao Qiang, jangan cari masalah lagi dengannya," pesan ibunya dengan nada sedikit khawatir.

"Tenang saja, Bu. Masalah utang kita sudah selesai sepenuhnya," jawab Lin Fan meyakinkan.

Ia mengusap kepala adiknya pelan sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan pekarangan rumah.

Jalanan utama Desa Sungai Hitam terlihat cukup ramai pagi ini.

Para petani tampak mengangkut hasil panen menggunakan sepeda motor tua, sementara beberapa ibu rumah tangga berkumpul di depan warung kelontong sambil bergosip.

Begitu Lin Fan lewat, percakapan di warung kelontong itu seketika menjadi hening.

Pandangan mata para warga tertuju pada Lin Fan dengan tatapan heran bercampur curiga.

Rumor mengenai Lin Fan yang berhasil melunasi utang dua puluh ribu Yuan dalam semalam telah menyebar luas ke seluruh penjuru desa.

"Lihat itu, anak keluarga Lin yang ayahnya kabur..." bisik seorang wanita setengah baya di tepi jalan.

"Dengar-dengar dia dapat uang puluhan ribu Yuan dari kota, dari mana coba kalau bukan kerja kotor?" sahut wanita di sebelahnya dengan nada sinis.

Lin Fan mendengar bisikan-bisikan itu dengan jelas, tetapi ia memilih untuk mengabaikannya.

Mata Iblis milik Lin Fan yang tersembunyi di balik matanya mendeteksi aura warna keabuan tipis mengapung di atas kepala para warga itu.

[Indikator Niat Buruk: 15% - 20% (Rasa Iri Dan Kecurigaan Warga Desa)]

"Uang cepat memang selalu mengundang bau busuk kecurigaan," batin Lin Fan sambil menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.

Saat ia terus melangkah mendekati belokan jalan menuju balai desa, sebuah sosok berdiri di bawah naungan pohon beringin tua.

Sosok wanita muda dengan celana jeans biru dan kaos putih bersih sedang berdiri menyandarkan badannya ke batang pohon.

Rambut panjangnya diikat ekor kuda, memamerkan leher jenjang dan wajah cantiknya yang bersih tanpa riasan tebal.

Itu adalah Chen Meng.

Garis transparan berwarna kebiruan terang mendadak muncul mengapung di atas kepala Chen Meng begitu mata Lin Fan bertatapan dengannya.

[Nama: Chen Meng]

[Status: Teman Masa Kecil / Mahasiswi Kota]

[Tingkat Niat Buruk: 0% (Sangat Bingung / Curiga)]

[Keterangan: Menunggu Lin Fan Untuk Meminta Penjelasan Mengenai Kejadian Api Hitam Semalam]

Lin Fan menghentikan langkah kakinya tepat lima meter di depan Chen Meng.

Chen Meng mendorong tubuhnya menjauhi batang pohon beringin dan melangkah mendekati Lin Fan dengan tatapan mata yang tajam dan serius.

"Lin Fan," sapa Chen Meng dengan suara merdu namun bernada dingin.

"Sudah lama tidak ketemu ya, Chen Meng. Kapan kamu pulang dari kota?" tanya Lin Fan berusaha bersikap wajar dan santai.

"Aku pulang dua hari lalu," jawab Chen Meng singkat tanpa membalas keramahan Lin Fan.

Ia memandangi wajah Lin Fan dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah sedang mencari tanda-tanda keanehan pada teman masa kecilnya itu.

"Ada apa menungguku di sini?" tanya Lin Fan pura-pura tidak tahu.

Chen Meng melirik ke sekeliling jalanan desa untuk memastikan tidak ada warga lain yang berada di dekat mereka.

Ia kemudian memajukan langkahnya, mendekatkan wajahnya ke arah telinga Lin Fan hingga aroma harum sampo melati keluar dari rambutnya.

"Semalam... aku melihat semuanya, Lin Fan," bisik Chen Meng dengan nada bergetar.

Lin Fan tidak menggerakkan satu otot pun di wajahnya, mempertahankan ekspresi tenangnya yang datar.

"Melihat apa?" tanya Lin Fan datar.

"Jangan pura-pura bodoh!" potong Chen Meng sambil menatap lurus ke dalam mata Lin Fan.

"Aku melihat Zhao Qiang dan preman-premannya disiram api hitam di depan rumahmu!" tegas Chen Meng dengan napas sedikit terengah.

"Bensin yang disiramkan ke dinding rumahmu sama sekali tidak menyala, tapi bajunya Zhao Qiang justru terbakar api hitam gaib tanpa asap!" lanjutnya lagi.

Lin Fan menatap mata Chen Meng yang dipenuhi rasa takut sekaligus kecemasan yang mendalam.

"Kamu salah lihat, Chen Meng. Semalam hanya ada gertakan biasa dari Zhao Qiang dan mereka ketakutan karena ancaman lapor polisi," kilih Lin Fan berbohong secara halus.

"Aku tidak salah lihat!" bantah Chen Meng cepat sambil memegang lengan baju Lin Fan.

"Aku berada di balik semak-semak dekat pohon manggam permainan korek api itu, suara jeritan Zhao Qiang, dan kata 'padam' yang kamu ucapkan... aku mendengar dan melihat semuanya!"

Cengkeraman tangan Chen Meng di lengan baju Lin Fan terasa makin erat.

"Lin Fan, katakan padaku yang sebenarnya... apa yang sedang kamu lakukan? Dari mana kamu dapat uang puluhan ribu Yuan itu?" tanya Chen Meng dengan nada penuh rasa cemas.

"Apakah kamu ikut aliran sesat? Atau... kamu memelihara ilmu hitam di gudang tua kakekmu?!" seru Chen Meng panik.

Lin Fan menghela napas panjang, lalu menepis tangan Chen Meng dari lengan bajunya secara perlahan namun tegas.

"Chen Meng, beberapa hal di dunia ini lebih baik tidak kamu pertanyakan demi keselamatanmu sendiri," ucap Lin Fan dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat dingin.

Sfx: Wuuusss...

Hawa dingin tipis berhembus pelan dari tubuh Lin Fan, membuat Chen Meng tersentak kaget dan melangkah mundur satu langkah secara refleks.

Chen Meng menatap Lin Fan dengan rasa tidak percaya.

Pria di depannya ini terasa sangat asing, bukan lagi Lin Fan si pemuda pemalu dan penyabar yang sering bermain dengannya di sungai saat kecil dulu.

"Lin Fan... kamu benar-benar sudah berubah," bisik Chen Meng pelan dengan raut kecewa.

"Aku tidak berubah, aku hanya berusaha melindungi keluargaku dari orang-orang jahat di desa ini," balas Lin Fan tanpa keraguan sedikit pun.

"Sekarang pergilah pulang dan lupakan apa yang kamu lihat semalam. Anggap saja itu cuma mimpi buruk," tambah Lin Fan sebelum melangkah melewatinya.

Chen Meng berdiri mematung di bawah pohon beringin, menatap punggung Lin Fan yang makin menjauh menuju arah balai desa.

Ia mengepalkan tangannya rapat-rapat di samping tubuhnya.

"Aku tidak akan membiarkanmu hancur sendirian, Lin Fan..." batin Chen Meng bertekad.

Lin Fan tiba di halaman balai desa sekitar sepuluh menit kemudian.

Suasana teras balai desa pagi ini tampak sangat sepi, tidak ada anak buah Zhao Qiang yang biasanya nongkrong sambil bermain kartu domino di sana.

Hanya ada Zhao Qiang seorang diri yang duduk menunduk kaku di atas kursi kayu teras dengan pergelangan tangan terbungkus perban putih tebal.

Wajahnya yang biasanya berminyak dan tengil kini tampak pucat pasi dan dipenuhi lingkaran hitam tebal di bawah matanya.

Begitu mendengar suara langkah kaki Lin Fan yang mendekat, Zhao Qiang tersentak kaget dan hampir meloncat dari kursinya.

"L-Lin Fan!" jerit Zhao Qiang gemetar sambil mundur menempel ke dinding.

"Mana surat-surat kepemilikan tanah keluargaku?" tanya Lin Fan tanpa basa-basi.

Zhao Qiang dengan cepat merogoh tas selempang kulitnya dengan tangan kanannya yang tidak terperban.

Ia mengeluarkan seberkas dokumen kertas tua yang sudah agak menguning dan menyodorkannya ke arah Lin Fan dengan tangan gemetar hebat.

"Ini! Ini semua surat tanah asli milik keluargamu dan surat pembatalan utang dari Tuan Tanah Li!" kata Zhao Qiang terbata-bata.

"Tuan Tanah Li... dia sudah setuju membatalkan semuanya?" tanya Lin Fan sambil mengambil dokumen-dokumen itu dan memeriksanya satu per satu.

Stempel resmi pemerintahan desa dan tanda tangan Tuan Tanah Li tertera jelas di atas kertas-kertas tersebut, mengonfirmasi bahwa seluruh klaim utang dan tanah keluarga Lin telah hangus secara hukum.

"S-sudah! Tadi malam setelah dari rumahmu aku langsung menemui Tuan Tanah Li!" jawab Zhao Qiang ketakutan.

"Aku bilang padanya kalau tanah keluargamu punya kutukan berdarah dan siapa pun yang mencoba merebutnya akan mati terbakar api hitam!" lanjut Zhao Qiang berderai air mata ketakutan.

Lin Fan tersenyum tipis melihat pemandangan menyedihkan di depannya.

Seorang preman pasar yang selama tiga tahun ini menyiksa keluarganya, kini gemetar ketakutan bagaikan anak kecil di hadapannya.

"Bagus. Kamu sudah melakukan hal yang benar, Zhao Qiang," kata Lin Fan dingin.

Ia memasukkan dokumen-dokumen tanah tersebut ke dalam tas selempangnya dengan aman.

[Tugas Sampingan Tersembunyi Selesai: Pengembalian Hak Lahan Leluhur]

[Menerima Hadiah Tambahan dari Sistem: Peningkatan Tingkat Pagar Perlindungan Rumah ke Tahap 2]

[Efek Tahap 2: Mampu Menolak Serangan Gaib Tingkat Menengah Dan Mendeteksi Penyusup Dalam Jarak 300 Meter]

Garis-garis transparan dari sistem berkedip gembira di depan pandangan mata Lin Fan.

Kemudahan demi kemudahan terasa menghampirinya dengan sangat cepat sejak ia mengikat kontrak dengan [Sistem Pagar Iblis].

Uang ratusan ribu Yuan, kekuasaan untuk membuat musuh berlutut ketakutan, dan perlindungan mutlak bagi keluarganya... semua ia dapatkan hanya dalam hitungan hari.

Namun di saat Lin Fan menikmati perasaan puas di dadanya, sebuah desakan hawa dingin yang sangat menusuk mendadak menjalar di sepanjang tulang belakangnya.

Deg!

Jantung Lin Fan berdenyut sangat keras hingga membuat tubuhnya terhuyung satu langkah ke belakang.

Sfx: Bzzzzzt!

Layar transparan dari sistem yang tadinya berwarna biru terang mendadak berubah warna menjadi merah pekat seperti warna darah yang membusuk.

[Peringatan Darurat: Sisi Gelap Kemudahan Merekrut Tumbal Baru]

[Sistem Pagar Iblis Telah Menyerap Terlalu Banyak Dendam Dan Niat Buruk Dari Lingkungan Anda]

[Ketidakseimbangan Energi Terjadi: Sistem Menuntut Tumbal Darah Makhluk Hidup Dalam Waktu 12 Jam]

[Syarat Tumbal: 1 Ekor Hewan Ternak Berdarah Murni Atau 10% Energi Vital Pengikat Kontrak]

[Hukuman Jika Abaikan: Pagar Perlindungan Rumah Akan Rusak Dan Entitas Liar Hutan Terlarang Akan Memangsa Penghuni Rumah]

Lin Fan membelalakkan matanya membaca pesan darurat tersebut.

Rasa puas dan kemenangan yang baru saja ia rasakan seketika sirna menguap tanpa bekas, berganti dengan rasa ngeri yang membekukan darahnya.

"Sistem ini... ternyata tidak pernah memberi kemudahan secara cuma-cuma," batin Lin Fan dengan napas terengah-engah.

Makin banyak ia menggunakan kekuatan sistem untuk mengalahkan musuh dan meraih keuntungan, makin besar pula dahaga entitas iblis di dalam lontar tua itu untuk meminta tumbal balasan.

Jika ia tidak segera mendapatkan tumbal hewan dalam waktu dua belas jam, sistem akan kembali memotong energi vitalnya atau yang lebih buruk... membahayakan keselamatan ibu dan adiknya di rumah!

Lin Fan membalikkan badan dan berlari meninggalkan Zhao Qiang yang masih mematung ketakutan di teras balai desa.

Waktu dua belas jam terus berjalan, dan Lin Fan harus segera mencari tumbal sebelum kegelapan malam kembali menutupi desa tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!