NovelToon NovelToon
DxD : Sebagai Pawn Sona Sitri

DxD : Sebagai Pawn Sona Sitri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyudi0596

Tidak semua bidak catur bermimpi menjadi Raja. Yudi hanya ingin satu hal: bertahan hidup dan membangun wilayah kecilnya sendiri untuk kaum yang terbuang. Menjadi Pawn rendahan bagi Sona Sitri adalah langkah pertamanya. Dengan [Imperial Tiger Mantle] yang terikat di jiwanya, ia menahan auman sang harimau dan mengubahnya menjadi keheningan yang mencekik lawan.

update Harian 1 bab per harinya sambil menunggu keputusan kontrak., semoga berhasil ya, kalau udah fix dapet kontrak akan kembali normal. Kalau kelewat mungkin akan tambah satu bab di besoknya. semoga gak pernah terjadi dan kalian semua bisa terus membaca kisah ini dengan tenang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyudi0596, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17

Kepulan debu halus masih melayang-layang di udara, tersorot oleh cahaya lampu gantung di ruang utama OSIS. Serpihan kayu dari kursi yang hancur berserakan di atas lantai, berbaur dengan retakan panjang pada pintu kayu ek tebal tempat tubuh Yudi baru saja terhempas.

Bau ozon yang tajam—sisa dari ledakan energi iblis dan aura naga—menguar pekat, menyesakkan pernapasan siapa pun yang berada di ruangan tersebut. Begitu tubuh Yudi merosot tak berdaya ke lantai dan matanya terpejam sepenuhnya, sebuah bayangan hitam melesat membelah ruangan.

Tsubaki Shinra telah bergerak dengan kecepatan penuh, meninggalkan posisinya di samping jendela. Sepatu pantofelnya berdecit keras saat ia mengerem mendadak tepat di samping tubuh Yudi yang terkapar.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Tsubaki menjatuhkan kedua lututnya ke lantai kayu yang dingin. Tangan kirinya dengan sigap menahan belakang leher Yudi, sementara telapak tangan kanannya direntangkan tepat di atas dada pemuda itu.

Sebuah lingkaran sihir berwarna hijau zamrud, dipenuhi dengan ukiran aksara iblis yang rumit, seketika berpendar terang dari telapak tangan sang Wakil Ketua. Cahaya hijau itu menyorot wajah Yudi yang pucat dan ujung bibirnya yang meneteskan darah segar.

Tsubaki menekan energi penyembuhannya lebih dalam. Rahangnya terkatup sangat rapat hingga urat halus di lehernya menonjol. Di balik kacamata berbingkai tipisnya, alis Tsubaki menukik tajam. Matanya menatap luka memar yang mulai terbentuk di sisi wajah dan dada Yudi dengan intensitas yang tidak biasa.

Meski wajahnya tetap mempertahankan cetakan ekspresi datar yang kaku layaknya porselen, gerak-gerik tangannya yang menekan lingkaran sihir dengan kuat dan ritme napasnya yang tertahan memancarkan sebuah aura ketidaksukaan yang sangat kentara terhadap situasi tersebut.

Di seberang pecahan kursi kayu, Saji Genshirou masih berdiri mematung. Kepalan tangan kanannya masih terangkat di udara. Sisik-sisik ilusi berwarna hitam dan keemasan perlahan memudar dari lengannya, berubah menjadi partikel cahaya yang menguap ke udara. Helaian rambut pirangnya menutupi sebagian matanya yang memandang lurus ke arah tubuh Yudi yang tidak sadarkan diri.

"Kenapa kau menyerangnya dengan brutal seperti itu, Saji?!"

Suara teguran keras itu memecah keheningan. Reya Kusaka melangkah maju melewati meja bundar. Tangan kanannya menunjuk lurus ke wajah Saji, telunjuknya bergetar. Wajah gadis berambut cokelat itu memerah, napasnya memburu cepat.

"Kau... kau malah melukai anggota baru di kelompok kita sendiri?!" sambung Momo Hanakai. Ia berdiri tepat di belakang bahu Reya. Kedua tangannya meremas ujung rok seragamnya dengan sangat kuat. Matanya membelalak menatap kehancuran di sekitar pintu.

"Tindakanmu barusan sama sekali tidak mencerminkan sikap seorang senior, Saji!" geram Tomoe Meguri. Gadis yang biasanya selalu tersenyum sumringah dan membentuk pose peace itu kini berdiri dengan postur tegap, matanya menyipit tajam menatap Saji seolah sedang melihat orang asing.

Nimura Ruruko melempar tubuh dengan lemas di bangkunya. Pandangan iris matanya menegang melihat kearah Yudi yang terpental lalu terjatuh di pintu masuk. Tumpukan map yang ada di meja jati berserakan di atas lantai karena tersentuh sikunya untuk mengendalikan tubuhnya yang terhuyung. Lalu Kedua tangannya menutupi mulutnya yang bergetar.

Air mata menggenang di pelupuk mata hijau zamrudnya, mengancam akan tumpah kapan saja. "Dia... Yudi-senpai bahkan belum selesai memberikan penjelasan akhirnya," ucap Nimura dengan suara parau yang bergetar hebat.

"Bukannya dia tadi sudah bilang kalau yang menyentuhnya lebih dulu adalah Sona Kaichou? Kenapa... kenapa kau tidak mau mendengarkan penjelasan dari Yudi-senpai terlebih dahulu sebelum menyerangnya?!"

Rentetan pertanyaan, protes, dan tatapan menyalahkan dari keempat gadis itu meluncur bertubi-tubi mengarah pada satu-satunya pemuda yang masih berdiri tegak di tengah ruangan. Namun, Saji sama sekali tidak menunjukkan perubahan postur yang menandakan rasa penyesalan.

Ia perlahan menurunkan lengan kanannya. Matanya membalas tatapan Reya, Momo, Tomoe, dan Nimura satu per satu secara bergantian. Bahunya ditegakkan, dadanya dibusungkan ke depan.

"Itu adalah balasan yang sangat pantas untuknya," ucap Saji dengan suara lantang yang menggema. Ia menyilangkan kedua lengannya di depan dada, mengangkat dagunya tinggi-tinggi. "Dia telah berani menggenggam tangan Sona Kaichou di depan umum dan menjadikannya tameng alasan. Aku hanya bertindak sebagai perpanjangan tangan dari keadilan; mewakili para siswa laki-laki di luar sana yang merasa muak dan kesal melihat ada remaja ingusan tidak tahu diri yang berani berjalan bergandengan tangan dengan salah satu Yondai Ojousama (Empat Gadis Terhormat) di akademi ini."

Saji menganggukkan kepalanya sendiri satu kali, mengunci pandangannya pada tubuh Yudi dengan tatapan merendahkan.

"Alasanmu itu sama sekali tidak masuk akal!" bantah Reya Kusaka, mengambil satu langkah maju lagi hingga ujung sepatunya menyentuh serpihan kayu. "Bukannya dia tadi sudah menjelaskan di awal kalau Sona Kaichou-lah yang secara sepihak menyentuh dan menggandeng tangannya? Itu murni bukan atas keinginan Yudi sendiri!"

Saji mendengus keras melalui hidungnya. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyum sinis. Ia mengibaskan sebelah tangannya di udara, menepis pembelaan Reya seolah menepis lalat yang mengganggu. "Alah, itu semua hanyalah alasan kosong yang dia buat-buat sendiri. Sebenarnya anak itu memang sengaja berpura-pura menjadi korban pasif agar motif aslinya untuk menyentuh Kaichou tidak dike—"

"Jadi, maksud dari pernyataanmu itu adalah... aku tidak diperbolehkan sama sekali untuk bergandengan tangan dengan pria lain selain dirimu? Begitu maksudmu, Saji?"

Sebuah suara memotong kalimat Saji dengan sangat tiba-tiba. Suara itu tidak diucapkan dengan nada tinggi, tidak pula disertai teriakan, namun intonasinya teramat sangat dingin, menembus tulang dan membekukan sumsum.

Arah datangnya suara itu berasal dari kursi utama di ujung meja.

Sona Sitri masih duduk di posisi yang sama. Namun, kepalanya kini telah terangkat sepenuhnya. Lensa kacamatanya tidak lagi memantulkan cahaya lampu, melainkan memperlihatkan sepasang mata berwarna ungu tua yang berkilat tajam layaknya pedang yang baru saja diasah.

Pendaran aura berwarna ungu kehitaman, yang sedari tadi sempat ditarik kembali ke dalam tubuhnya, kini meledak keluar dengan intensitas dua kali lipat lebih pekat dari sebelumnya.

Udara di dalam ruang OSIS bergetar hebat.

Suhu ruangan anjlok secara drastis hingga embun tipis mulai terbentuk di permukaan kaca jendela. Reya, Momo, Tomoe, dan Nimura serentak mundur satu langkah, kedua tangan mereka memeluk lengan masing-masing saat hawa dingin yang tidak wajar itu menyapu kulit mereka, membuat seluruh bulu kuduk mereka berdiri tegak.

Satu-satunya yang tidak terpengaruh oleh ledakan aura intimidasi tersebut hanyalah Tsubaki, yang masih fokus menekan lingkaran sihir penyembuhannya ke dada Yudi, tak bergerak sedikit pun dari posisinya.

Bola mata Saji membesar maksimal. Mulutnya yang setengah terbuka untuk melanjutkan kalimatnya seketika tertutup rapat. Tangannya yang bersilang di dada perlahan merosot turun. Keringat dingin yang baru saja mengering kini kembali mengucur deras dari dahi dan pelipisnya, membasahi kerah kemejanya dalam hitungan detik.

"B-Bukan... bukan begitu maksudku, Kaichou!" ucap Saji dengan suara terbata-bata. Kakinya tanpa sadar melangkah mundur sejauh setengah meter. Matanya berkedip liar, bergerak ke segala arah mencari titik fokus selain wajah Sona.

"Lihat tepat ke arah mataku saat kau menjawab pertanyaanku, Saji."

Sona meninggikan volume suaranya tepat satu oktaf. Meski hanya satu oktaf, perintah mutlak yang terkandung di dalam frekuensi suaranya seolah membawa beban fisik berton-ton yang menimpa pundak Saji.

Tubuh Saji menegang kaku layaknya patung batu. Dengan gerakan leher yang patah-patah layaknya engsel berkarat, Saji memaksa otot-ototnya untuk bergerak. Ia memutar kepalanya, perlahan demi perlahan, hingga retina berwarna aqua mudanya bertemu langsung dengan mata ungu Sona yang menatap dari seberang meja.

Retina Saji bergetar hebat. Di balik mata ungu yang sangat indah dan memikat itu, Saji bisa melihat dengan sangat jelas sebuah tatapan pembunuh yang teramat dingin, sebuah keheningan mematikan yang siap menelan eksistensinya hidup-hidup.

Napas Saji tertahan di tenggorokan. Ujung jari-jarinya mulai mati rasa. Namun, di tengah kepungan rasa takut yang melumpuhkan itu, sebuah dorongan ego dan rasa ketidakadilan—menurut versinya sendiri—memberikan suntikan adrenalin palsu. Saji menelan ludah dengan kasar. Ia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di sisi paha, memaksa lututnya untuk berhenti bergetar.

"Bukan begitu maksudku!" balas Saji dengan volume suara yang tiba-tiba melengking tinggi, mencoba mengentaskan rasa teror yang menyelimutinya. Napasnya mulai kembang kempis, bahunya naik turun dengan agresif.

Saji mengangkat tangan kanannya, menuding lurus ke arah tubuh Yudi yang masih terbaring tak sadarkan diri di bawah pijakan Tsubaki.

"Aku melakukan serangan ini semata-mata hanya untuk memberikan pelajaran fisik agar anak baru itu bisa bersikap jauh lebih sopan dan menghargaimu! Coba kau pikirkan kembali, Kaichou! Siang ini saja dia sudah berani mengabaikan perintahmu secara terang-terangan! Dia bahkan secara terbuka mengolok-olok dirimu di depan kami semua, hanya karena berhasil memenangkan kelebihan waktu sepuluh detik dari target awalmu. Yang ingin menyelesaikan pertandingan catur itu kurang atau tepat dalam waktu sepuluh menit!"

Suara Saji semakin keras, memantul di dinding-dinding ruang OSIS yang dipenuhi aura membeku. "Lalu, setelah dia merendahkanmu, dengan pengecutnya dia sama sekali tidak berani menjawab tantangan pertandingan ulang darimu, berlindung di balik alasan murahan bahwa jam pelajaran sudah masuk! Dan sekarang? Dia datang terlambat ke rapat penting, lalu dengan mudahnya menggunakan alasan bahwa kau-lah yang menyentuh tangannya sehingga membuat semua laki-laki di Akademi Kuoh membencinya!"

Dada Saji membusung, matanya membelalak lebar, memancarkan campuran amarah dan keputusasaan. "Bukankah semua runtutan kejadian itu sangat kurang ajar?! Dia seolah-olah sedang mempermainkan dirimu dan posisimu! Dan aku sangat tidak menyukai caranya dalam menjawab setiap pertanyaanmu, seolah-olah semua masalah yang terjadi di sekitarnya saat ini adalah mutlak karena kesalahanmu, Kaichou!"

Saji mengakhiri rentetan pembelaannya dengan napas yang memburu cepat. Keringat membasahi seluruh wajahnya.

1
Bayuon So7
anjirlah, kata garis miring ini kayak sebuah klu atau apa dah kok tetiba gitu ya😄
Bayuon So7
jantungan si Sona cuk🤭
Bayuon So7
ini reaksinya kayaknya lebih natural dari yang sebelumnya, karena gua bacanya juga kagum cuy am kekuatan nih karakter Falbium🤭
Bayuon So7
anjay dipancing
Bayuon So7
mana bisa anjir🤣
Bayuon So7
nah kan, kena Lo. di cibir langsung sam Fuiukaicho sama🤭
Bayuon So7
geli gua dengarnya 🤣
Bayuon So7
Damn, bro beneran gosong parah si Saji di sini brok. Lu bikinnya make sense lagi Thor, gua tadi berpikir lu lagi mau injak karakter ini serampangan tapi lu mendesainnya dengan apik. jadinya gak jadi gua hujat anjirlah 🤣
Bayuon So7
wah keren lu Thor, alih-alih mempermalukan dengan aneh. lu bikin ada reason pada tindakan Sona sebelumnya dan kemarahan dia di sini beneran make sense
Bayuon So7
damn, lu juga pernah dipegang tangannya kan. ah ealah
Bayuon So7
iya, abis chef Tsubaki. sekarang chef Sona. wah beneran dibuat gosong ini sajinya.
Bayuon So7
Thor, lu kayaknya punya dendam pribadi Ama saji deh. kok serem amat penghakimannya cok.
Bayuon So7
Absolute cinema, cukup chef ini sudah gosong jangan dilanjutkan.🤭
Bayuon So7
Weh ada chef yang mau masak, pastikan bikin masakan yang lezat dan bergizi. chef Tsubaki Shinra.
Bayuon So7
ngimpi lu anying gak logis banget dah pikirannya si saji ini ya.
Bayuon So7
gua juga ngedown kalau cewek paling polos tetiba natap dengan tajam gini. artinya lu bikin masalah super serius.
Bayuon So7
oh Ice king ini loh, kalau marah meski gak meluap-luap rasanya bikin berdebar-debar
Bayuon So7
waduh Sona udah mulai kepancing emosi nih
Bayuon So7
Alasannya masuk akal tapi entah kenapa rasanya jadi klise denger omongan lu saji🤭
Bayuon So7
Efek dibuat senyum tadi siang kah, kok tetiba jadi perhatian gini 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!