Aura Luminar bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Bangkit dari kematian akibat pengkhianatan tunangan nya dan selingkuhannya, dia datang dengan jiwa yang baru, membawa dendam untuk menghancurkan orang-orang yang sudah membunuhnya.
Kaisar Zane Caliber, dingin, dominan, dan tidak tersentuh. Pria kejam yang tidak pernah memberi ampun pada musuhnya, gila kerja, dan tidak pernah tertarik dengan wanita mana pun, membuat takhta Permaisuri kosong tanpa pendamping.
Sebuah permainan berbahaya dimulai saat Aura sengaja memancing perhatian sang Kaisar, untuk belas dendam dengan mantan tunangan nya, sang Pangeran yang telah mencampakkan nya.
Akankah Zane tetap berdiri kokoh sebagai penguasa yang tak tersentuh, atau justru terjerat dalam pesona dan perangkap yang diciptakan Aura?
_____________
"Lahirkan keturunan untuk ku, akan kuberikan kekuasaan di bawah kaki mu."~ Kaisar Zane Caliber
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PRIA MASA LALU
"Wah! Tuan muda Ethan?! Teman masa kecil yang dulu sering melindungi Nona dari anak-anak bangsawan usil itu?!" ucap Sora antusias.
Aura mengangguk pelan, rasa lelah akibat insiden di pasar mendadak lenyap terganti oleh rasa terkejut dan senang.
"Kenapa dia tidak bilang-bilang kalau mau pulang?" gumam Aura, lalu buru-buru mengangkat sedikit gaunnya.
"Ayo, Sora! Kita ke ruang tamu sekarang!" ajak Aura bergegas melangkah masuk ke dalam rumah.
"Baik, Nona!" jawab Sora senang mengekor di belakang majikannya.
Aura melangkah cepat, hingga akhirnya tiba di depan pintu ruang tamu utama yang terbuka setengah.
Di dalam ruangan itu, seorang pemuda dengan postur tubuh tinggi tegap dan mengenakan seragam militer gagah sedang duduk santai menikmati secangkir teh.
Pencahayaan dari jendela besar menyoroti wajah tampan dan tegas milik pemuda itu, membuat garis rahangnya terlihat sangat tajam.
Mendengar suara langkah kaki mendekat, pemuda itu langsung menoleh ke arah pintu.
Begitu melihat sosok Aura yang berdiri di ambang pintu, senyuman lebar yang sangat hangat seketika terukir di wajah tampan Ethan.
"Aura!" sapa Ethan riang, langsung bangkit berdiri dari sofa.
Aura terpaku sejenak, lalu balas tersenyum lebar menyambut kehadiran teman masa kecilnya itu.
"Ethan! Kamu benar-benar sudah pulang?!" seru Aura tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, lalu berjalan mendekat.
Ethan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar begitu Aura berdiri di hadapannya, menyambut gadis itu dengan sebuah pelukan hangat.
Grep
"Tentu saja, aku baru tiba di ibu kota subuh tadi, dan tempat pertama yang kudatangi tentu saja rumahmu, gadis cengeng" ucap Ethan lembut sembari menepuk pelan puncak kepala Aura.
Aura tertawa renyah, melepaskan pelukan itu lalu mendongak menatap sahabat lamanya dari dekat.
"Wah, rasanya sudah bertahun-tahun kita tidak ketemu, fisikmu sekarang makin mirip jenderal sungguhan ya," puji Aura memerhatikan seragam militer rapi yang dikenakan Ethan.
Ethan tersenyum bangga, melipat kedua tangannya di dada sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Tentu saja, di perbatasan aku di latih keras, tidak seperti kamu yang kerjanya cuma bikin pusing Duke Daren," goda Ethan dengan nada mengejek.
Aura mendengus pelan, memukul pelan lengan berotot Ethan menggunakan kipas lipat kecil di tangannya.
Bhuk
"Sialan, baru juga ketemu sudah berani mencari gara-gara ya," omel Aura pura-pura kesal, meski bibirnya tetap menyunggingkan senyum.
Sora yang berdiri di sudut ruangan ikut tersenyum lebar melihat keakraban kedua sahabat lama itu.
"Selamat datang kembali di ibu kota, Tuan muda Ethan," sapa Sora sopan.
Ethan menoleh ke arah Sora lalu mengangguk ramah.
"Terima kasih, Sora, sepertinya kamu makin pintar merawat nona muda mu yang cengeng ini ya," balas Ethan berkelakar.
Aura memutar matanya malas mendengar candaan Ethan.
"Sudahlah, jangan mulai, duduklah kembali," ucap Aura, duduk di sofa, berhadapan dengan Ethan.
Ethan ikut mendudukkan kembali tubuhnya, menatap lurus ke arah Aura dengan sorot mata yang mendadak berubah sedikit serius.
"Sebenarnya kedatanganku ke sini bukan cuma sekadar rindu, Aura," ucap Ethan pelan, membuat Aura menghentikan gerakan tangannya yang hendak menuangkan teh.
Aura mengangkat wajahnya, menatap tajam ke dalam mata sahabatnya itu.
"Ada apa? Jangan bilang kamu membawa kabar buruk dari perbatasan?" selidik Aura langsung to the point.
Ethan menghela napas pendek, menyandarkan punggungnya pada sofa.
"Bukan soal perbatasan, tapi soal rumor yang kudengar di perjalanan menuju ke sini tadi," jawab Ethan serius.
Aura mengerutkan keningnya, merasa tidak asing dengan arah pembicaraan ini.
"Rumor apa maksudmu?" tanya Aura penasaran.
Ethan menghela napas pendek, lalu menyandarkan punggungnya pada sofa mewah itu sembari menatap Aura lekat-lekat.
"Soal pembatalan pertunanganmu dengan Pangeran Luis," ucap Ethan serius.
Ethan mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Aura dengan sorot mata penuh perhatian dan kebingungan.
"Begitu dengar kabar itu, aku langsung melesat ke sini, aku takut kamu mengurung diri atau menangis sesenggukan gara-gara pria bajingan itu," lanjut Ethan meneliti raut wajah gadis di hadapannya.
Namun, bukan raut wajah sedih yang Ethan temukan, Aura justru tertawa pelan, sebuah tawa santai dan terkesan meremehkan yang terasa sangat aneh bagi Ethan.
Aura merapikan posisi duduknya, menyilangkan kaki anggun sembari menopang dagu dengan sebelah tangan.
"Menangis gara-gara Luis?" ulang Aura menyunggingkan senyum miring yang amat tajam.
"Untuk apa aku membuang air mata berhargaku cuma demi sampah seperti dia, Ethan?" cibir Aura santai tanpa beban sedikit pun.
"A-apa!?"
Ethan membelalakkan matanya kaget, sampai terlompat kecil dari sandaran sofanya, pria itu menatap Aura dengan alis mengkerut.
"A-Aura? Ini benar-benar kamu, kan?" tanya Ethan terbata-bata, menyipitkan matanya heran.
"Tentu saja ini aku, memangnya menurutmu siapa lagi?" jawab Aura menaikkan sebelah alisnya.
Ethan menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya, mengamati gaya bicara Aura yang mendadak sangat berani, dan tajam.
Sangat berbeda dengan Aura yang dikenalnya dulu, seorang gadis, cengeng, lembut, pemalu, dan selalu menangis tiap kali disakiti oleh Pangeran Luis.
"Seperti nya aku telah melewati banyak hal, kamu terlihat sangat berbeda, Aura," bisik Ethan, memegangi keningnya yang mendadak pusing.
"Dulu kalau nama Luis disebut sedikit saja, matamu langsung berkaca-kaca. Tapi sekarang, kamu malah menyebutnya sampah?" tanya Ethan ragu-ragu.
Aura menyadari tatapan penuh keheranan dari Ethan, jiwa Esther yang cerdik langsung memutar otak, menyunggingkan senyum manis untuk menutupi perbedaan sifatnya.
"Manusia kan bisa berubah, Ethan," jawab Aura santai, menepuk pelan meja teh di hadapannya.
"Lagipula, setelah hampir mati dibodohi oleh pria brengsek itu, masa iya aku harus tetap jadi gadis polos yang bodoh?" lanjut Aura menatap lurus mata Ethan penuh penekanan.
Ethan terdiam sejenak, mencerna ucapan bernada tegas dari sahabatnya itu.
"Benar juga," ucap Ethan, mengangguk kan kepala nya.
"Baguslah kalau begitu! Berarti otakmu sudah berfungsi dengan benar sekarang!" puji Ethan terkekeh puas.
Aura melayangkan tatapan galaknya, mengibaskan kipas lipatnya ke arah Ethan.
"Mulutmu itu ya, baru pulang sudah cari masalah terus!" gerutu Aura berpura-pura kesal.
"Lalu, apa rencanamu sekarang setelah lepas dari Pangeran sialan itu?" tanya Ethan penasaran, kembali menyesap teh hangatnya.
Aura tersenyum miring, kilatan licik dan penuh rasa percaya diri memancar jelas dari manik matanya.
"Rencanaku?" pancing Aura pelan.
"Tentu saja menikmati hidup bebas, sambil melihat satu per satu musuhku hancur sampai ke akar-akarnya," jawab Aura dengan nada suara manis tapi teramat mematikan.
Uhuk
Uhuk
Uhuk
Ethan sampai tersedak tehnya sendiri, batuk-batuk kecil sembari memandangi Aura dengan tatapan takjub.
"Wah... sahabat kecilku sekarang benar-benar berubah jadi penjahat yang sangat menyeramkan," batin Ethan menyunggingkan senyum bangganya.
effort nya ga main-main loo
🥰🥰🥰
good luck kaisar💪
Coba ajak makan, klo jawabannya terserah, brati tambah runyam urusan menahklukan hatinya 😛