Anisa adalah gadis yang gendut dan juga pendek, beda jauh dengan sang adik yang bertubuh langsing serta berkulit putih.
siapa yang tidak tertarik bila melihat Arumi, bahkan mulut para tetangga juga tak segan mencemooh Anisa yang beda jauh dengan sang adik.
Hingga suatu hari Anisa di temukan tewas tergantung di dalam kamar, membuat seluruh keluarga menjadi berduka, namun mereka menutupi kematian Anisa yang gantung diri itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Menemukan joko
"Ini bocah tidur peluk guling saja bisa kesiangan, apa lagi tidur peluk istri." Riski menggerutu di depan rumah Joko.
"Udah di bilang nggak usah jaga pos ronda sampai subuh tapi masih juga ikut." Riski terus aja menggerutu Dan Dia segera menggedor pintu rumah Joko.
Tok, Tok.
"Ko, buruan bangun kita mau berangkat kerja ini sekarang!" Riski berteriak agak keras dan dia juga mengambil ponsel untuk menghubungi Joko.
"Sialan, apa memang masih tertidur ya kok tidak ada diangkat sejak tadi dan tidak ada jawaban juga dari dalam." Riski mengeluh namun dia tidak ingin meninggalkan Joko karena nanti mereka bisa kena marah.
Mereka memang satu pekerjaan sehingga Riski seringkali menunggu Joko untuk berangkat bersama dan terkadang Joko yang menunggu teman dia ini, sudah berteman sejak dulu sehingga sudah tidak ada lagi hal yang perlu untuk saling ditutupi satu sama lain sehingga terus bersikap santai saja di antara mereka berdua dan terkadang juga masuk Arka.
Ini Riski udah mulai emosi karena jam masuk mereka terbatas dan bila Joko tak kunjung bangun maka yang ada mereka akan datang terlambat, sulit juga untuk membangunkan Joko karena dia sendirian di dalam rumah itu sehingga kebingungan dan tidak tahu harus bagaimana ini untuk menggedor pintu yang terkunci rapat.
Rasa ingin mendobrak agar bisa segera masuk dan menyeret Joko untuk mandi dan berangkat kerja karena sudah terlalu siang seperti ini, namun dia tidak bisa karena pintu rumah Joko juga sangat kokoh dan kemungkinan harus membutuhkan alat agar bisa masuk ke dalam rumah lalu membawa Joko keluar dari dalam sana.
Mendadak Riski ingat bahwa jendela kamar Joko yang ada di sebelah sana mudah sekali dibuka dari luar bila menggunakan parang, jadi pemuda ini segera mengambil barang dan mencongkel jendela tersebut agar bisa menarik Joko keluar karena ini memang sudah sangat terlambat dan membutuhkan waktu yang sangat cepat untuk berangkat dan bahkan mungkin saja Joko tidak sempat lagi untuk mandi.
"Kau lihat saja ini aku akan merusak jendela kamar kau!" Riski mendapatkan barang untuk mencongkel jendela tersebut.
"Ini kalau orang lain yang mencongkel maka pasti akan dibilang maling, tapi untung saja mereka semua sudah tahu kalau aku ini bestie dari Joko." Riski agak tertawa dan dia berhasil mencongkel jendela tersebut.
"Jok, bangun ayo kerja." Riski melangkah masuk ke dalam jendela dan seketika dia menjadi membeku di tempat.
"Jo...joko!" Riski gemetar karena tidak tahu harus bagaimana dan tidak tahu ingin berkata apa ketika melihat keadaan Joko yang terduduk di atas lantai kamar.
"Ya Allah." rintih Riski di antara rasa takut ini.
"Jok kau kenapa, Jok?!" Riski segera menyentuh tubuh Joko yang sudah mulai kaku.
"Tidak mungkin, siapa yang sudah melakukan ini terhadap Joko?" Riski panik bukan main dan dia segera mengambil ponsel untuk meminta pertolongan.
"Arka, mana nomor nya Arka sih." Riski gemetar karena dia memang sedang ketakutan sekali.
Untuk menghindari fitnah yang bisa membuat dia sebagai tersangka, maka Riski segera keluar lagi dari dalam kamar itu lewat jendela karena dia ingin menghubungi teman terlebih dahulu agar nanti Arka dan juga Digo segera mendatangi rumah Joko untuk memberikan pertolongan agar pria itu bisa mengetahui siapa yang sudah melakukan kejahatan terhadap Joko.
"Kau kalau ngomong yang benar sedikit, Ki." Arka berteriak karena mengira teman Dia sedang bercanda.
"Demi Allah, aku sedang sangat ketakutan saat ini di rumah dia." Riski ingin menangis karena panik.
"Tunggu aku di sana dan awas bila kau sampai berbohong!" Arka bergegas menghampiri rumah Joko karena rumah mereka tidak seberapa jauh.
"Tidak mungkin aku berbohong dengan hal seperti ini." Riski menutup wajah dia yang mulai pucat.
"Ya Allah apa yang sudah terjadi ini dan kenapa Joko mengalami hal seperti itu?" Riski seperti orang yang kebingungan dan tidak tahu harus bagaimana.
"Ki, ngapain kau menangis di situ?" Ridwan kebetulan lewat karena dia juga akan berangkat kerja.
"Mas Ridwan, Mas tolong ke sini dulu karena aku membutuhkan bantuan dari kamu." Riski berteriak agak keras sehingga Ridwan segera datang mendekat.
"Ada apa?" Ridwan kebingungan ketika melihat Riski yang terlihat sangat panik sekali.
Riski memang panik dan ketika akan menjelaskan kepada Ridwan saja dia sampai kehabisan kosakata, bingung harus memulai dari mana karena menurut dia ini sangat diluar prediksi dan dia tidak tahu harus mengatakan kepada Ridwan tentang kematian Joko terlebih dahulu atau dia yang datang ke sini karena ingin mengajak Joko masuk kerja.
"Ada apa, Ki?" Ridwan mengulang pertanyaan itu kembali karena Riski masih saja tetap terdiam.
"Ak..aku tadi ingin mengajak Joko masuk kerja karena kami dapat shift pagi, tapi dia malah kaku di dalam rumah itu." Riski menunjuk dengan tangan gemetar.
"Kaku bagaimana maksud kau ini?!" Ridwan kebingungan namun dia juga agak kaget.
"Entah aku tidak tahu dan tidak ingin menjelaskan tentang keadaan dia saat ini, tapi kemungkinan Joko meninggal dunia." Riski menutup wajah yang terasa begitu dingin.
"Ki, mana Joko sekarang?" Arka datang bersama dengan Digo juga karena tadi mereka memang akan berangkat kerja bersama-sama.
"Ada di dalam, tolong kau lihat dia sekarang karena aku tadi sudah masuk ke dalam." ujar Riski.
"Ada apa sebenarnya Dan kenapa mendadak jadi seperti ini?" Digo kebingungan Dan Dia mendekati Riski.
"Demi Allah aku juga tidak tahu karena tadi aku mengira Joko kesiangan, jendela dengan parang ini dan saat masuk ke dalam dia terduduk kaku." jelas Riski.
Digo tertegun tidak percaya dan dia segera masuk bersama dengan Arka juga untuk memastikan keadaan teman mereka terlebih dahulu, dan saat itu mereka baru menyadari bahwa Jokowi memang sudah meninggal dunia dalam keadaan yang cukup parah karena pada bagian leher terdapat luka yang menganga cukup lebar.
"Ini siapa yang sudah melakukan perbuatan kejam?" Digo termenung sesaat.
"Bukan perbuatan manusia karena aku mencium aroma arwah yang ada di dalam rumah ini." Arka langsung mengetahui tentang hal itu.
"Arwah? arwah mana lagi yang mulai mencari masalah dengan desa kita!" Digo menoleh kepada Arka.
"Entah lah, aku belum bisa memastikan tapi yang jelas ini memang arwah jahanam mulai membuat masalah." jawab Arka.
Joko terduduk dengan tubuh kaku dan juga darah yang mengalir di atas lantai karena leher dia koyak cukup lebar, Arka dan Digo sebenarnya tidak menyangka bahwa Joko akan mengalami nasib seperti ini, sebab selama ini Joko sudah banyak melewati masa sulit bersama dengan rombongan setan dan ternyata malah sekarang dia harus gugur.
Selamat pagi besti, jangan lupa like dan komentar kalian semua ya.
aayooo thor..kita tunggu loh jodohnya Kiara. harus yg sakti melebihi Kiara ...biar gak dianggap remeh sama kiara nya..yang ganteng ..yang gagah..pokoke laki² yg sempurna yg cuma ada didunia novel../Facepalm/
siapa sebenernya iblis jahat itu...
apa motif drai rencannya bu ningsih ya... kenapa dia membangkitkan anisa dengan mengisi tubuh anisa dengan arwah jahat....
iblis ini sungguh licik karna bisa menghilahkan jejaknya sehingga para member kesulitan menemukan dan menangkapnya...
ayo Purnama mulailah melakukan penyelidika. karna anisa sudah hidup kembali....
Apakah ada tokoh baru untuk jodoh Kiara,,,Digo kurang pas lah ..tapi semua ada di tangan othor sih 🤭🤭
ya berjuang lebih keras lagi memantaskan diri
Sekelas Kiara tentu butuh pendamping yang tangguh mental baja
jangan sedih go,ucapan dua setan bodoh itu harusnya jadi motifasi kamu buat tambah kekuatan dgn cara trs berlatih biar tambah kuat💪👍
Digo dibuat sedih atas ucapan zora dan koswara...