NovelToon NovelToon
Pembalasan Senyap Sang Istri Sah

Pembalasan Senyap Sang Istri Sah

Status: tamat
Genre:Pelakor / Cerai / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:667.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

Selama ini Tania hidup dalam peran yang ia ciptakan sendiri: istri yang sempurna, pendamping yang setia, dan wanita yang selalu ada di belakang suaminya. Ia rela menepi dari sorot lampu demi kesuksesan Dika, mengubur mimpinya menjadi seorang desainer perhiasan terkenal, memilih hidup sederhana menemaninya dari nol hingga mencapai puncak kesuksesan.
Namun, kesuksesan Dika merenggut kesetiaannya. Dika memilih wanita lain dan menganggap Tania sebagai "relik" masa lalu. Dunia yang dibangun bersama selama lima tahun hancur dalam sekejap.
Dika meremehkan Tania, ia pikir Tania hanya tahu cara mencintai. Ia lupa bahwa wanita yang mampu membangun seorang pria dari nol, juga mampu membangun kembali dirinya sendiri menjadi lebih tangguh—dan lebih berbahaya.
Tania tidak menangis. Ia tidak marah. Sebaliknya, ia merencanakan pembalasan.

Ikuti kisah Tania yang kembali ke dunia lamanya, menggunakan kecerdasan dan bakat yang selama ini tersembunyi, untuk melancarkan "Balas Dendam yang Dingin."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

"Nggak papa, Mas. Nggak perlu khawatir, Luna jemput aku, Mas, dia kan punya mobil," jawab Tania.

Kelegaan muncul dari wajah Dika, hal tersebut tidak luput dari Tania yang diam-diam mengamati.

Sarapan pagi mereka pun telah selesai, Tania mengantarkan Dika sampai ke depan rumah.

"Hati-hati di jalan ya, Mas," ucap Tania lembut, dengan senyum yang di paksakan. Gerak tubuhnya terencana.

"Tentu, Sayang. Kamu di rumah baik-baik ya, jangan nakal!" Dika mencubit pelan pipi Tania.

Tania merapihkan sejenak kerah kemeja yang Dika gunakan, meskipun sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal itu, Tania juga mencium lembut telapak tangan Dika, kemudian memeluk sejenak Dika.

Dika masuk ke mobilnya dan melambaikan tangan, Tania membalas lambaian tangan Dika dengan senyum yang kian meregang.

Selepas kepergian Dika, Tania masih berdiri di ambang pintu untuk beberapa saat. Senyuman yang tadi ia pamerkan perlahan memudar, menyisakan kerutan halus di sudut bibirnya.

Di balik ketenangan wajah Tania, roda-roda di kepalanya berputar kencang, dalam diamnya ia telah menyusun sebuah rencana rumit, sebuah skema yang rapi dan terperinci. Setiap kata manis yang baru saja ia ucapkan tadi adalah bagian dari strategi, setiap sentuhan lembut adalah taktik untuk menidurkan kewaspadaan Dika.

Tania mengambil napas dalam-dalam, sebelum akhirnya ia mendorong daun pintu lebar-lebar dan masuk kembali ke dalam.

Senyumnya yang menghilang bukan karena rencana jahat, tetapi karena tekad kuat untuk membuktikan kemampuan sebenarnya, membalikkan keadaan dan memastikan Dika merasakan kerugian yang sama.

Dibalik pintu tertutup itu, Tania bukan lagi istri yang lemah lembut, melainkan seorang yang siap melancarkan balas dendam, berjuang untuk keadilan versinya dan menunjukkan bahwa ia lebih dari sekedar bayangan Dika.

Bahwa hidupnya akan tetap berharga sekali pun tanpa andil dari suami yang telah mengkhianatinya tersebut.

...----------------...

Setelah kepergian Dika, kini giliran Tania bersiap untuk pergi ke salah satu perusahaan perhiasan yang cukup terkenal di Indonesia. PT Hartadinata Abadi Tbk(HRTA).

Beberapa tahun silam perusahaan tersebut belum terkenal seperti sekarang, kolaborasi tertutupnya dengan Tania sebagai desainer perhiasan, berhasil membawa perusahaan tersebut tercatat di bursa saham(IDX:HRTA).

Tania berdiri di depan cermin rias, menatap pantulan dirinya dengan seksama. Perlahan, senyum tipis terukir di bibir Tania. Bukan senyum sombong, melainkan senyum kepuasan—kepuasan karena merasa sepenuhnya siap.

Penampilannya hari ini lebih dari sekedar estetika; itu adalah pernyataan, Tania mengedipkan mata pada bayangannya sendiri, siap keluar dan memegang kendali hari ini.

Taxi yang Tania pesan pun sudah tiba di depan pagar rumahnya, Tania melangkah keluar dari rumah dengan keyakinan yang penuh.

Kali ini ia tidak akan lagi hidup dalam dunia yang dulu ia ciptakan sendiri; menjadi istri yang lemah lembut, setia dan berdiam diri di rumah, mengabdikan diri sepenuhnya sebagai seorang istri.

Tania mengambil napas dalam-dalam sebelum akhirnya ia masuk ke dalam taxi dan duduk dengan anggun.

Penampilannya kali ini benar-benar berbeda, andai saja Dika melihat, mungkin saja Dika akan terpana.

Siapa yang menyangka, seorang ibu rumah tangga yang kesehariannya memakai pakaian rumah, bisa tampil menawan.

Taxi yang Tania tumpangi pun perlahan melaju dengan kecepatan sedang membelah jalan raya, pagi ini jalanan seperti memberikan kemudahan untuk Tania.

Pagi hari yang biasanya di penuhi dengan kendaraan, karena macet, hari ini jalanan begitu lenggang, sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk Tania sampai ke tempat tujuannya.

Mobil taxi yang Tania tumpangi tepat berhenti di depan lobi utama, Tania keluar dengan elegan. Ia mengenakan gaun sheath berwarna biru safir yang memancarkan kesan profesionalisme dan kekuatan.

Dengan gestur yang sangat tenang, Tania merapikan lipatan kecil di roknya dan melangkah keluar sepenuhnya.

Tania tidak tergesa-gesa, setiap gerakan dibuat dengan penuh kesadaran, dari cara ia menutup pintu mobil hingga cara ia mulai berjalan.

Sepatu stilettonya menciptakan irama yang berwibawa di atas trotoar. Postur tubuhnya yang tegak dan dagunya yang sedikit terangkat menunjukkan kepercayaan diri yang mendalam.

Saat melangkah menuju gedung, pandangannya lurus ke depan, fokus pada tujuannya. Senyum tipis, nyaris tidak terlihat, tersungging di bibirnya—senyum seseorang yang tahu persis kapasitas dirinya dan siap mempertontonkannya.

Di balik sikap tenangnya, ada semangat membara untuk menghapus keraguan orang lain dan membuktikan bahwa ia siap memegang kendali. Hari ini—ia datang untuk menang.

"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu, Bu?" sampai di depan pintu masuk, Tania di sambut hangat, satpam yang berjaga di depan pintu masuk gedung.

"Pagi, saya ingin bertemu dengan Pak Rendi," jawab Tania tanpa ragu.

"Mari, biar saya antarkan ke resepsionis terlebih dahulu, karena saya tidak punya wewenang untuk mengantarkan Ibu langsung ke ruangan sekretaris pribadi bos," balas satpam tersebut.

Tania pun mengikuti langkah satpam di depan yang mengarahkannya ke bagian resepsionis di dalam gedung tersebut.

"Silahkan, Bu," ujar satpam tersebut dengan sopan.

"Terimakasih, Pak." Tania sedikit membungkukkan badannya.

"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya resepsionis.

"Pagi, saya mau bertemu dengan Pak Rendi."

"Baik, apakah Ibu sudah memiliki janji temu sebelumnya dengan Pak Rendi?" tanya resepsionis tersebut lagi.

"Iya," jawab Tania singkat.

"Baik, mohon di tunggu sebentar ya, Bu. Biar saya konfirmasi ulang, karena saat ini seharusnya Pak Rendi sedang menemani pak bos di ruang rapat."

Tania menunggu beberapa saat, sampai akhirnya Rendi turun ke lantai bawah sendiri, demi menjemput dirinya.

"Selamat pagi Bu Tania, mari saya antar ke ruangan pak Herry," sapa Rendi, sopan.

Koridor kantor yang sibuk seolah terdiam saat Tania juga Rendi mulai melangkah.

Keduanya berjalan beriringan tapi tidak terlalu dekat.

Langkah kakinya yang tenang memecahkan keheningan di area bilik kerja. Dengan punggung tegak dan dagu terangkat, Tania melenggang mulus melewati jajaran meja karyawan yang tertegun. Gaun sheath biru safir miliknya seolah mengalir mengikuti irama gerak tubuhnya yang penuh kendali.

Setiap mata memandang, diam-diam mengagumi aura kewibawaan yang terpancar dari Tania.

Para karyawan hanya bisa mencuri pandang, terpikat oleh pesona alaminya yang memancarkan kepercayaan diri.

Setiap langkahnya penuh perhitungan, tidak tergesa-gesa, menunjukkan kendali penuh atas dirinya dan situasi.

Beberapa karyawan menatapnya dengan rasa ingin tahu bercampur gentar. Keanggunannya adalah perisai—dingin dan efisien. Fokusnya hanya pada pintu kayu mahoni besar yang ada di ujung lorong.

Tania bergerak di antara kubikel dengan aliran yang mulus, seolah lantai marmer itu adalah panggung pribadi baginya.

Hingga akhirnya ia menghilang di balik pintu kayu mahoni besar bertuliskan 'CEO'.

Bersambung...

1
chacha aca
infoin cara buat abis baca tuh di geser gue gk bisa ini, pemula bett gua
Dewa Nara
makanya Thor, bukan makannya
Dhira: hehehe iya bener...makasih buat koreksiannya kak..kalo makannya mah lagi makan yaa kak.hehehehe🙏
total 1 replies
M3 Man
baru pernah baca novel yg ceo nya kyak ga guna.. maaf stuck d sni boring klo lanjut🙏🙏🙏
Anonim
Dika benar "parah
Anonim
Ya ampun ..... Dika ....
Kau bawa ke rumahmu selingkuhanmu
dan ibuu juga tahu ....
berani sekali dika
Anonim
Tania mantapkan langkahmu
Mungkin suamimu saat ini sedang menduakan posisimu sebagai istri
Anonim
Salut
Anonim
Dika bahagia mana yang masih kau cari
sedang hidup yang kau jalani bersama istrimu sudah tertata
Anonim
Masih awal Min baru baca karysmu
Anonim
Kayaknya seru nih
Suka tenangnya Tania dalam menghadapi suami yg selingkuh 👍
Dhira: hehehe...makasih kak...masih panjang perjalanan Tania kak wkwkwk...semoga gak bosen di tengah jalan🤭
total 1 replies
Atjeh ponsel
alur ceritanya sangat menarik
Dhira: makasih kak🙏
total 1 replies
Mu Shofihin
ceritanya agak monoton menurutQ terus kebanyakan masalah meskipun penyelesaiannya langsung sat set ga tunda" c semangat terus thor
Dhira: hehehe iyaaa makasih kak🙏
total 1 replies
echa purin
👍👍
Detie Kurniawati
ceritanya sangat setu karena bintang utamanya sangat cerdik author pintar ceritanya bikin banyak ketawa dan terharu 👍😍
Dhira: makasih kak...
total 1 replies
Puji Wati
kok lama si gak segera bertindak Tania,,

udah gak sabar oengen baca kehancuran Dika...
Dhira: hehehe...masih panjang babnya kak hihihi...dbikin slow biar bisa memenuhi target bab hehehe
total 1 replies
Mama Gezkara
gaun mandi itu gimana ya kak
Dhira: ituloh kak baju mandi yg kaya dhotel2 😄
total 1 replies
Hariyanti
ceritanya bagus dan menarik 🥰🥰🥰
Dhira: Makasih kak...❤️
total 1 replies
Thewie
tamat🙏🤭 baru aja aku bahagia thor🤭
Dhira: blm loh kak hehehe..masih 42 bab lagi kak...ayo semangat hihihi...makasih yaaa
total 1 replies
Thewie
kasihan tuh pelakor.. makan hati sendiri wkwkw
PNC
kenapa ga ngomong terus terang aza ke suami
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!