NovelToon NovelToon
Resep Cinta Setelah Akad

Resep Cinta Setelah Akad

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:750
Nilai: 5
Nama Author: Keysa Bom

Katanya, cinta harus datang sebelum menikah. Tapi bagaimana jika cinta justru lahir setelah akad terucap?

Menjadi seorang PNS membuat Satria Baskara terbiasa menjalani hidup dengan aturan dan tanggung jawab. Di sisi lain, Naira Azzahra, seorang pembuat kue rumahan, percaya bahwa setiap kue memiliki resepnya sendiri.

Namun, ia tak pernah menyangka takdir justru menuliskan resep cintanya melalui sebuah perjodohan.

Tanpa proses pacaran. Tanpa janji manis. Hanya sebuah akad yang menyatukan dua hati yang sebelumnya tak saling mengenal.

Di balik sarapan hangat, bekal makan siang, dan perhatian-perhatian kecil yang awalnya terasa biasa, perlahan tumbuh perasaan yang tak mampu mereka sangkal. Namun ketika cinta akhirnya hadir, ujian demi ujian mulai mengetuk pintu rumah tangga mereka.

Akankah Satria dan Naira berhasil mempertahankan cinta yang tumbuh setelah akad? Atau justru takdir kembali menguji hati mereka, saat keduanya mulai benar-benar saling mencintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesan yang Selalu Dinanti

Jam makan siang hampir usai. Satria menutup rantang hijau miliknya setelah memastikan makanan yang dimasak Naira habis tanpa tersisa sedikit pun.

"Mas..." panggil Naira yang sedari tadi memperhatikan suaminya sambil tersenyum kecil.

"Iya?" sahut Satria menoleh.

"Mas makannya banyak," goda Naira lembut.

"Karena enak," jawab Satria singkat sambil merapikan sendok ke dalam wadah.

Jawaban jujur itu seketika membuat pipi Naira menghangat. "Besok aku masak menu yang berbeda."

"Boleh," angguk Satria setuju. "Asal jangan terlalu repot."

"Memasak buat Mas bukan sesuatu yang merepotkan," sanggah Naira sambil menggeleng pelan.

Kalimat tulus itu membuat Satria terdiam beberapa saat. Ia memandang lekat wajah istrinya yang kini sedang sibuk merapikan penutup rantang.

"Terima kasih," ucap Satria lirih.

"Mas juga sudah bekerja keras. Jadi kita saling berterima kasih saja," balas Naira seraya mendongak dan tersenyum manis. Satria pun ikut tersenyum tipis.

Ting...

Bel pintu toko kembali berbunyi, menandakan beberapa pelanggan mulai berdatangan.

"Mas, aku harus melayani pembeli dulu," pamit Naira segera berdiri dari kursinya.

"Iya. Kamu lanjut bekerja," kata Satria yang ikut bangkit sambil menenteng tas kain bekalnya. Namun sebelum melangkah keluar pintu, ia menghentikan langkahnya sejenak. "Naira."

"Iya?" Naira menoleh.

"Nanti kalau pulang jangan terlalu malam. Aku akan menjemputmu," pesan Satria dengan nada tegas namun perhatian.

"Baik, Mas," angguk Naira pelan.

"Kalau ada apa-apa, kabari aku," tambah Satria lagi.

"Iya," jawab Naira.

Satria menganggukkan kepala sekali lalu melangkah keluar dari toko. Di balik etalase, Naira masih berdiri terpaku, memperhatikan sepeda motor suaminya yang perlahan menjauh hingga menghilang di tikungan jalan. Entah mengapa, ada rasa berbeda yang menghinggapi hatinya setiap kali melihat punggung lelaki itu pergi bekerja.

Sementara itu, sesampainya di kantor kecamatan, Doni langsung melirik tas kain yang dibawa Satria dengan tatapan usil.

"Pak," panggil Doni.

"Hm?" sahut Satria tanpa menoleh.

"Bekalnya habis?" tanya Doni penasaran.

"Habis," jawab Satria singkat.

"Hebat! suami idaman harus menghabiskan bekal buatan istrinya," puji Doni sambil menggeleng-gelengkan kepala kagum.

"Pak Satria sekarang pulangnya juga pasti lebih semangat," timpal Gea ikut tertawa kecil.

"Ya iyalah, ada yang nunggu di rumah," sahut Siska sambil menyenggol lengan Doni gemas.

Satria hanya tersenyum tipis menghadapi godaan bertubi-tubi itu, lalu kembali membuka berkas pekerjaannya. "Sudah. Jam istirahat selesai. Kerja."

"Siap, Pak Kasubag!" seru mereka kompak, dan ruangan pelayanan pun kembali dipenuhi aktivitas normal.

Di toko kue, pesanan sore itu mulai berdatangan lebih banyak dari biasanya. Brownies dan cheesecake kembali menjadi menu yang paling sering diburu pelanggan.

Di sela-sela kesibukannya, Naira tiba-tiba teringat usulan Doni tentang pai apel. Ia segera mengambil buku kecil dari saku celemeknya. Pada halaman yang masih kosong, jemarinya bergerak menulis:

> Ide menu baru:

> Pai Apel

> Kurangi rasa manis

> Cocok untuk teman kopi

> Minta Satria jadi pencicip pertama

Melihat baris tulisan terakhir yang ia buat sendiri, Naira tanpa sadar tersenyum geli.

"Ya ampun... Aku kenapa, sih?" gumamnya meraba pipinya sendiri.

"Mbak Naira?" panggil salah satu pegawainya, membuat Naira buru-buru menutup buku tersebut karena terkejut.

"Iya?" sahut Naira gugup.

"Ada pelanggan di depan," lapor si pegawai.

"Iya, aku ke depan," jawab Naira berusaha bersikap biasa.

✨✨✨✨

Sore hari, jarum jam menunjukkan pukul setengah lima. Ponsel Naira yang berada di saku celemek tiba-tiba bergetar pelan. Ia segera mengeluarkan ponsel dan membuka layarnya.

Satria Baskara❤️

"Pekerjaanku sudah selesai. Sekitar tiga puluh menit lagi aku sampai di toko untuk menjemputmu. Jangan pulang sendiri.✉️✉️"

Senyum Naira kembali merekah membaca pesan formal namun manis itu. Jemarinya dengan cepat mengetik balasan.

Naira❤️

"Baik, Mas. Aku tunggu.✉️✉️"

Tak butuh waktu lama, sebuah balasan baru kembali muncul di layar.

Satria Baskara❤️

"Terima kasih sudah menungguku."

Hanya sebuah kalimat sederhana. Namun, efeknya cukup untuk membuat jantung Naira berdetak sedikit lebih cepat. Ia mematikan layar ponselnya sambil tersenyum malu-malu ke arah lantai.

"Mbak..." goda seorang pegawai toko yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik atasannya itu.

"Iya?" Naira menoleh salah tingkah.

"Dari Mas Satria, ya?" tebak si pegawai sambil menyengir nakal.

"Kok tahu?" Naira membelalakkan mata, heran rahasianya terbongkar.

"Soalnya senyum Mbak beda banget kalau dari Mas Satria," kekeh pegawai itu.

Naira spontan menutup kedua pipinya yang mulai terasa memanas. "Banyak kerja, sana!" usirnya pura-pura galak. Pegawai itu hanya tertawa kecil lalu kembali melayani pelanggan.

Di sudut toko, Naira kembali melirik layar ponselnya yang kini sudah gelap. Tanpa ia sadari, ia mulai menyukai kebiasaan baru ini. Sebuah pesan singkat dari suaminya setiap sore. Pesan sederhana yang selalu berhasil membuat hari-harinya terasa jauh lebih hangat.

Berikut adalah tambahan adegan di bagian akhir bab yang menyambung langsung setelah Naira menyimpan ponselnya:

Naira segera membereskan meja kasir dan bersiap-siap. Tepat tiga puluh menit kemudian, suara deru motor yang sangat ia kenal berhenti di depan toko. Satria datang tepat waktu.

"Mas," sapa Naira begitu melangkah ke luar toko dan menghampiri suaminya.

"Sudah siap?" tanya Satria sambil menyerahkan helm cadangan kepada Naira.

Naira menerima helm itu, namun tidak langsung memakainya. Ia mendongak menatap Satria dengan sedikit ragu. "Mas, sebelum pulang... kita bisa mampir ke supermarket sebentar?"

"Mau beli sesuatu?" Satria membenarkan posisi duduknya di atas motor.

"Iya, mau belanja keperluan bulanan. Stok bahan makanan di rumah sudah mau habis. Lagipula kita kan baru pindahan dua hari yang lalu, jadi belum sempat isi kulkas dengan benar," jelas Naira, merasa agak sungkan karena takut merepotkan suaminya yang baru saja pulang kerja.

Satria terdiam sejenak, membuat Naira sempat menahan napas. Namun, sedetik kemudian Satria justru mengangguk wajar. "Kebutuhan rumah memang harus diutamakan. Ayo, kita belanja sekarang."

Jawaban santai Satria seketika menerbitkan senyum lega di wajah Naira. Ia segera memakai helmnya dan naik ke boncengan. Sore itu, perjalanan mereka tidak langsung menuju ke rumah, melainkan ke supermarket terdekat memulai babak baru lainnya sebagai sepasang suami istri yang sedang menata rumah tangga mereka bersama.

Bersambung..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!