NovelToon NovelToon
Dihianati Setelah 20 Tahun

Dihianati Setelah 20 Tahun

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Ibu Pengganti / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:960.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: husna_az

Kenanga mengabdikan hidupnya pada sang suami dan anak sambungnya, tapi pada akhirnya dia dihianati juga. Suami yang dia kira mencintainya dengan tulus nyatanya hanya kebohongan. Di dalam hatinya ternyata masih tersimpan nama sang mantan yang kini telah kembali dari luar negeri.

Rahasia yang selama ini ditutupi sang suami dan keluarga pun terbongkar. Kenanga memilih mundur dan memulai kehidupan yang baru meskipun semua itu terasa sulit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon husna_az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Seperti hari-hari sebelumnya, Kenanga bersama kedua orang tuanya pergi ke kebun, tapi kali ini mereka hanya melihat-lihat saja, tidak ikut turun tangan langsung. Udara di perkebunan terasa sejuk jadi membuat siapa pun yang berada di sana merasa nyaman.

Para pekerja pun sama sekali tidak merasa terusik dengan kehadiran bos mereka. Baik Halim maupun Salma tidak pernah menuntut mereka untuk bekerja keras. Justru pekerja sendiri yang merasa sungkan jika harus bermalas-malasan karena atasan mereka begitu baik.

Mereka duduk di sebuah gubuk yang tersedia di sana. Kenanga memutuskan untuk tidak akan pergi kemana-mana. Dia akan tinggal di rumah kedua orang tuanya, mungkin untuk selamanya jika takdir berpihak. Hanya saja sekarang keamanan rumah dan kebun lebih diperketat.

Satpam akan membukakan gerbang rumah jika tamu tersebut memang benar-benar berkepentingan. Kenanga juga memberitahu siapa saja yang dilarang untuk datang ke rumah, siapa lagi kalau bukan Azka dan Bima beserta keluarganya. Pekerja pun tidak banyak bertanya karena mereka sudah sangat tahu apa yang menjadi alasannya.

Saat Kenanga dan kedua orangtuanya sedang berbincang, Toni tiba-tiba saja datang. "Maaf, mengganggu waktunya, Pak Ilham."

"Iya, Toni. Ada apa?"

"Ada tamu, Pak. Namanya Pak Ridwan, katanya sudah ada janji dengan Anda."

"Oh, Ridwan! Iya, suruh dia menunggu di ruang tamu. Aku akan segera ke sana. Kamu juga ikutlah bergabung untuk menjelaskan tentang hasil panen sayuran kita."

"Baik, Pak." Toni pun beranjak dari sana.

Halim beralih menatap sang istri dan Kenanga dan berkata, "Papa mau kembali dulu, kalian masih mau di sini atau ikut kembali juga?"

"Kami di sini saja, Pa. Papa saja yang pergi, sepertinya ada tamu penting," jawab Salma.

"Iya, itu Ridwan. Mama pasti ingat, dia teman Papa waktu kuliah dulu. Dia yang sering Papa ajak nyamperin Mama," ujar Halim dengan terkikik geli kala teringat masa lalu.

"Papa kenapa jadi bahas masalalu," sahut Salma dengan wajah memerah karena malu.

Dia melirik ke arah putrinya yang ternyata memang menatap kedua orang tuanya sambil menahan tawa. Kenanga tidak menyangka akan mendengar kisah tentang masa lalu kedua orang tuanya. Cerita itu terlihat sederhana. Namun, terasa manis untuk dikenang.

Berbeda dengan sang istri, Halim justru terlihat biasa saja. "Papa kemarin tidak sengaja bertemu dengannya. Dia punya usaha minimarket dan dia ingin bekerja sama dengan Papa."

"Ridwan suaminya Santi?"

"Iya, itu dia."

"Wah! Apa kabar mereka sekarang?"

"Papa juga tidak tahu. Nanti saja kalau sudah selesai membicarakan soal pekerjaan aku tanya dia. Mama nanti juga boleh ikut gabung."

"Iya, nanti Mama akan ke sana."

"Papa pergi dulu."

Halim pun pergi dari sana lebih dulu. Dia juga sudah tidak sabar ingin bertemu dengan teman lamanya itu. Mereka dulu sangat dekat, sudah seperti keluarga sendiri. Namun, sayang setelah sama-sama berkeluarga mereka putus komunikasi karena Ridwan harus pindah ke luar kota. Halim tidak menyangka jika temannya itu sudah kembali beberapa tahun ini.

"Mama juga kenal sama teman Papa? Bukannya Mama dan Papa beda kampus, ya?' tanya Kenanga setelah sang papa pergi.

"Iya, memang benar, tapi Ridwan dan papamu dulu sangat akrab, bahkan setelah lulus pun mereka masih berteman, tapi setelah Ridwan menikah dan pindah ke luar kota komunikasi mereka jadi terputus. Mama juga mengenal istrinya Ridwan, mereka orang yang baik jadi Mama mudah dekat."

Kenanga pun hanya mengangguk, dia tidak begitu mengenal teman papanya itu. Semua teman papanya memang rata-rata orang baik, tidak pernah membanding-bandingkan status atau sejenisnya.

***

"Ridwan!" seru Halim yang kemudian berjalan ke arah temannya itu dengan langkah lebar.

Ridwan yang merasa dipanggil pun menoleh. Dia merasa bahagia bisa bertemu dengan temannya itu. Ridwan pun berdiri dan mereka saling berpelukan. Meskipun kemarin mereka sempat bertemu, tetap saja di pertemuan ini mereka merasa bahagia dan terharu.

"Akhirnya kita bisa bertemu lagi. Aku pikir kamu nggak jadi menemuiku," ujar Halim.

"Tentu saja aku akan menemuimu. Meskipun kita tidak jadi bekerja sama, tapi aku ingin menjalin kembali komunikasi kita. Aku ingin kita seperti dulu lagi."

"Baiklah, aku senang mendengarnya. Ayo, duduk-duduk!"

Halim pun memanggil bibi dan memintanya untuk menyiapkan cemilan dan minuman hangat untuk menemani mereka bersantai dan mengobrol. Entah itu mengenai pekerjaan atau kehidupan pribadi. Halim pun juga memanggil Toni saat mereka membicarakan mengenai pekerjaan karena beberapa pekerjaan juga di handle oleh pria itu. Toni juga yang menjelaskan tentang tata cara kerjasama mereka jika keduanya setuju.

"Nanti aku boleh 'kan melihat kualitas sayuran kamu. Yah ... meskipun kita berteman, tapi sebagai seorang pebisnis aku juga tetap harus melihat kualitas produk yang akan aku jual," ujar Ridwan.

"Tentu saja boleh. Semua orang yang ingin mengambil sayuran di tempatku pasti melihat sayurannya lebih dulu. Aku jamin kualitas sayuran dari kebunku pasti bagus-bagus karena kami merawatnya dengan baik. Mau melihatnya sekarang, sekalian jalan-jalan di kebunku."

"Boleh."

Halim menatap Toni dan berkata, "Toni, kamu lanjutkan pekerjaan kamu saja, biar Ridwan saya yang menemani."

"Baik, Pak."

Toni pun beranjak dari sana dan melanjutkan pekerjaannya, sementara Halim mengajak Ridwan untuk pergi ke kebun. Tidak lupa Halim memberikan sepasang sepatu boot untuk dipakai Ridwan, khawatir nanti akan becek dan terpeleset jika menggunakan sepatu milik Ridwan.

"Wah! Aku tidak menyangka kebunmu luas sekali. Ini semua benar-benar milikmu 'kan?" tanya Ridwan sambil melihat sekitar.

Dia tidak menyangka jika temannya ini benar-benar menjadi seorang petani yang sukses. Padahal dulu cita-cita Halim adalah menjadi seorang guru. Meskipun begitu dia tetap kagum dengan temannya itu. Apa pun yang dijalaninya, selama itu baik, membuatnya tenang dan bahagia pasti semuanya akan berjalan dengan lancar.

"Tentu saja ini milikku. Aku juga baru membeli lahan sebelah sana," ujar Halim sambil menunjuk lahan seberang. "Pemiliknya mau pindah ke luar kota, jadi mereka menjualnya. Kebetulan aku juga baru dapat uang dari hasil menjual saham dan hasilnya lebih dari cukuplah untuk membeli lahan tersebut."

"Saham? Kamu juga main saham?"

"Ya ... hanya iseng saja kemarin," jawab Halim dengan asal agar temannya tidak banyak bertanya.

"Iseng, tapi menghasilkan 'kan?"

"Ya ... begitulah! Ayo lihat ke arah sana! Di sana juga ada istriku, kamu masih ingat 'kan dengan Salma?"

"Tentu saja ingat. Saat kemarin aku cerita pada istriku, dia juga tidak sabar ingin bertemu dengan Salma. Sayang sekali tadi pagi putri bungsuku demam, jadi dia tidak jadi ikut."

"Berapa usia putrimu?"

"Tujuh belas tahun, tapi dia manja sekali. Sakit sedikit saja tidak mau ditinggal sama mamanya."

"Namanya juga anak perempuan. Semoga cepat sembuh dan keluarga kita bisa saling bertemu. Nah, itu istriku!" tunjuk Halim ke arah istrinya berada. "Ma, lihat siapa yang datang?" tanya Halim begitu mereka sudah sampai di gubuk tempat Salma dan Kenanga sedang bersantai.

"Ridwan! Apa kabar? Makin tua kamu semakin tampan, ya!" sapa Salma dengan memuji teman suaminya itu.

Ridwan pun tertawa terbahak-bahak mendengar candaan dari istri temannya. "Jangan memujiku seperti itu. Nanti ada yang cemburu, bisa-bisa dia akan membatalkan kerjasamanya denganku."

Salma yang mengerti pun melirik ke arah sang suami dan ikut tertawa juga. Mereka sudah seperti kembali ke masa lalu karena dulu saat Salma memuji pria lain, pasti Halim akan cemburu, bahkan jika itu sahabatnya sendiri. Ridwan dulu pun sering menjadi korban kecemburuannya.

Halim yang menjadi bahan tertawaan mereka pun hanya bisa memutar bola matanya malas. Dia sangat tahu jika istri dan temannya itu hanya bercanda, jadi dia tidak terlalu ambil pusing. Namun, tetap ada sedikit rasa kesal, mengingat usia mereka yang sudah tua, tapi masih saling ejek.

"Kalian ini baru sekarang bertemu loh, tapi kenapa malah menyudutkanku seperti ini?"

1
𝗔𝗧𝘂𝗮 𝗞𝗼𝗲𝗶𝗻𝗮𝘁𝗮
𝑯𝒂𝒎𝒊𝒍? 𝑴𝒂𝒎𝒂𝒌 𝒌𝒂𝒏𝒅𝒖𝒏𝒈𝒏𝒚𝒂 𝒊𝒕𝒖 𝒑𝒂𝒔𝒕𝒊 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒌𝒂𝒔𝒊𝒉 𝒔𝒂𝒓𝒂𝒏 𝒈𝒖𝒈𝒖𝒓𝒌𝒂𝒏 𝒂𝒋𝒂... 𝑺𝒊𝒎𝒑𝒍𝒆 𝒅𝒂𝒏 𝒑𝒓𝒂𝒌𝒕𝒊𝒔... 𝒘𝒌𝒘𝒌𝒘𝒌𝒌𝒘𝒌𝒘𝒌𝒘... 𝑺𝒆𝒕𝒆𝒍𝒂𝒉 𝒅𝒊𝒈𝒖𝒈𝒖𝒓𝒌𝒂𝒏, 𝒎𝒂𝒎𝒂𝒌 𝒌𝒂𝒏𝒅𝒖𝒏𝒈𝒏𝒚𝒂 𝒊𝒕𝒖 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒂𝒋𝒂𝒓𝒊 𝒑𝒖𝒕𝒓𝒊𝒏𝒚𝒂 𝒃𝒂𝒈𝒂𝒊𝒎𝒂𝒏𝒂 𝒄𝒂𝒓𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒅𝒊 𝒋𝒂**** 𝒔𝒆𝒋𝒂𝒕𝒊 𝒅𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒆𝒓𝒂𝒕 𝒑𝒓𝒊𝒂-𝒑𝒓𝒊𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒅𝒖𝒊𝒕 𝒏𝒂𝒏 𝒕𝒂𝒋𝒊𝒓... 𝒘𝒌𝒘𝒌𝒘𝒌𝒘𝒌𝒘𝒌𝒘𝒌... 😂😂😂
Soleh Sudarna
mampir nii thoorr.. moga ceritanya bukan cewek yg menye² yaa 😄
Punkpunk 234
ikut mampir ya thoorr.. cari novel yg bab nya singkat 🤭
Heni Setiyaningsih
dasar laki-laki pecundang bin parasit kau bima🤣🤣
Jamayah Tambi
Kamu muda lagi Davina.Bagaimana dgn kuliahmu Berkan syarat pada Alfian bahawa kamu boleh kembali tp benarkan kamu meneruskan kuliahmu.Bukan 24 jam juga bersama aTiara
Jamayah Tambi
Terus terang saja Davina bahawa kau akan kuliah lagi
Jamayah Tambi
Mahal klu uni swasta
Jamayah Tambi
Bagaimana nanti kalau Nia yg menggoda Alfian.Apa yg akan Lana buat.
Jamayah Tambi
Anak remaja seperti Lana tudak faham perasaan ayahnya.Ayahnya sudah lama menduda.Mungkin dia lebih rela ayahnya mencari perempuan bayaran.
Jamayah Tambi
kau tak tau apa2 Lana.Papamu masih muda.Dia perlu isteri
Jamayah Tambi
Ini apa lagi Rio
Jamayah Tambi
Kenapa kau nak cari pasal Davina.Jaga diri oau dan ayah mu saja
Dewa Nara
memangnya selama ini kenanga gak pernah periksa...
Jamayah Tambi
Macam2 hal dunia.Kaya yp suruh anak minta sedekah.
Dewa Nara
mahasiswa gak ada piket Thor, piket apaan
Dewa Nara
setau saya kalau sdh mahasiswa gak ada tuh yg namanya pertemuan orang tua, kan mahasiswa sdh dewasa
Dewa Nara
baru mampir Thor, mudah2an ceritanya bagus 👍
Jamayah Tambi
Ada emak pun mcm tak guna jer.Tak ada masa nk tengok anak
Jamayah Tambi
Masih muda boleh digugurkan kok
Jamayah Tambi
Hamil anak siapa kau Davina.Adakah mereka mau mengaku.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!