NovelToon NovelToon
Hanya Untuk Tuan Mafia

Hanya Untuk Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:614
Nilai: 5
Nama Author: Yann_Story

Kirana, seorang gadis yatim-piatu yang berakhir di bekerja di tempat seorang Tuan Muda dunia bawah yang terkenal dingin dan kejam, Derandra Arseto. Namun begitu, sebuah obsesi di hati Kirana seakan terpancing oleh sebuah tantangan baru...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Vonis Senyap di Ruang ICU

Kirana terkekeh pelan, sebutir darah segar mengalir dari sudut bibirnya yang indah. "Lihat... kita sekarang... impas, Tuan Adrian. Luka di rusuk kiri... sama seperti Anda kemarin. Bukankah kita... benar-benar berjodoh?"

"Kau benar-benar wanita gila! Dalam situasi seperti ini kau masih bisa bercanda?!" Adrian semakin mempererat dekapannya, membawa wajah Kirana mendekat ke dadanya. "Hendra!! Lebih cepat lagi!!"

"Dua menit lagi kita sampai di gerbang belakang Rumah Sakit Pusat, Tuan Muda! Jalur sudah disterilkan oleh tim medis kita!" sahut Hendra dari depan, matanya fokus menembus jalanan malam sembari sesekali melirik spion tengah dengan cemas.

"Saya gila... karena Anda, Tuan Muda..." bisik Kirana lagi untuk yang terakhir kalinya sebelum binar matanya perlahan-lahan meredup, cengkeraman tangannya di kemeja Adrian terlepas, dan kepalanya terkulai pasrah di dada bidang Adrian yang berdegup kencang seperti dikejar ajal. Kirana tidak sadarkan diri tepat saat mobil mengerem mendadak di depan pintu darurat.

Rumah Sakit Pusat Kota Metropolitan seketika berubah menjadi zona militer tingkat tinggi. Seluruh lantai lima area Intensive Care Unit (ICU) dikosongkan dan dijaga ketat oleh puluhan pengawal bersenjata dari keluarga Arseto. Tidak ada satu pun orang luar atau media yang diizinkan mendekat.

Adrian duduk di kursi tunggu di depan pintu ruang operasi yang lampu merahnya menyala terang selama berjam-jam. Kemeja hitamnya dan kedua telapak tangannya masih dipenuhi oleh darah Kirana yang sudah mengering. Pria itu menolak untuk membersihkan diri atau berganti pakaian; ia duduk dengan tubuh tegap namun pandangannya kosong menatap lantai marmer.

Hendra berjalan mendekat, meletakkan secangkir kopi hitam di samping Adrian. "Tuan Muda, Julian dan Tasya sudah diamankan di fasilitas bawah tanah sektor timur yang terisolasi. Mereka sedang diinterogasi untuk memastikan tidak ada sisa jaringan Siberia Hitam yang tertinggal."

Adrian tidak menyentuh kopinya. Ia mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, merasakan sisa kehangatan darah Kirana yang perlahan menguap dari kulitnya.

"Aku yang membawanya ke dalam kegelapan ini, Hendra," ucap Adrian, suaranya terdengar sangat parau dan rendah, sarat akan penyesalan yang mendalam. "Gadis itu... dia hanya seorang pelayan dapur yang menyebalkan beberapa minggu lalu. Mengapa dia harus bertindak sebodoh itu demi melindungiku?"

Tepat saat kata-kata Hendra selesai, lampu merah di atas pintu operasi padam, berubah menjadi hijau. Pintu ganda itu terbuka, dan dokter kepala dengan pakaian operasi yang bersimbah darah melangkah keluar sambil melepas masker hijaunya dengan gurat lelah yang pekat.

Adrian seketika bangkit berdiri, memotong jarak di antara mereka dalam satu langkah besar. "Bagaimana keadaannya?"

Dokter itu mengembuskan napas panjang, menatap Adrian dengan pandangan penuh simpati namun profesional. "Kami berhasil menghentikan pendarahan internalnya dan menjahit organ yang rusak, Tuan Muda Arseto. Namun... akibat syok traumatis yang terlalu berat, hilangnya darah dalam jumlah besar, serta efek sisa zat kimia kloroform di otaknya sebelum penusukan, tubuhnya menolak untuk bangun."

Rahang Adrian mengetat. "Apa maksudmu dengan menolak untuk bangun?"

"Nona Kirana saat ini berada dalam kondisi koma," jelas dokter itu dengan hati-hati. "Fungsi tubuhnya sekarang sepenuhnya bergantung pada alat bantu pernapasan dan mesin ventilator. Kami tidak bisa memprediksi kapan dia akan sadar kembali. Bisa dalam hitungan hari, minggu, atau... kita harus bersiap untuk kemungkinan terburuk."

Mendengar laporan tersebut, atmosfer di koridor rumah sakit terasa runtuh. Adrian tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia melangkah melewati dokter tersebut, mendorong pintu kaca ruang ICU privasi dengan langkah yang terasa begitu berat.

Di dalam ruangan yang sunyi itu, hanya terdengar suara ritmis dari mesin electrocardiogram (ECG) yang berbunyi malas. Kirana terbaring di sana, di balik dinding kaca. Wajah cantiknya yang biasa memancarkan binar nakal dan senyuman menggoda kini pucat pasi bagai pualam, tersembunyi di balik masker oksigen besar. Rambut hitamnya terurai di atas bantal putih rumah sakit.

Adrian berjalan mendekat ke sisi ranjang. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang singa Bukit Permai duduk di kursi samping tempat tidur seorang pelayan dengan bahu yang tampak merosot. Ia meraih jemari tangan kanan Kirana yang terpasang jarum infus, menggenggamnya dengan sangat lembut—takut jika cengkeraman tangannya yang biasa menghabisi nyawa musuh justru akan menyakiti gadis ini.

"Kau berjanji akan selalu mengantarkan kopi jaheku tanpa mengeluh, Kirana," bisik Adrian rendah, suaranya bergetar di tengah keheningan ruang ICU. "Buka matamu dan penuhi janjimu, Pelayan gila... Jangan biarkan aku menghancurkan seluruh kota ini hanya untuk mencari cara membangunkanmu."

Namun, tidak ada jawaban. Hanya suara mesin yang terus berdetak, mengiringi awal dari penantian panjang sang penguasa dunia bawah di sisi pelayan pribadinya yang tengah terlelap dalam tidur panjang tanpa ujung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!