seorang wanita yang hidup di zaman kerajaan,di usir oleh keluarga ibu dan ayahnya,dia bahkan terpaksa jadi seorang pengemis di jalanan.
bahkan tunangannya yang dia percayai mengkhianati nya.hidup sengsara membuat wanita itu putus asa,di harapan terkahir nya dia pergi kerumah ibu kandungnya,tapi justru ibunya mengusir nya dan lebih menyayangi putri dari suami kedua nya.
wanita itu begitu terpukul,dia teringat ayahnya yang di asingkan di perbatasan,hanya karna kejahatan yang di lakukan oleh ibunya.
putus asa,wanita itu memilih mengakhiri hidupnya,tapi tiba-tiba dia malah hidup kembali dan mendapatkan sistem yang membantu nya.
dari di remehkan dan di hina,menjadi wanita terkaya di seluruh negeri,namanya terkenal dimana-mana,bahkan sang kaisar yang berkuasa tunduk padanya.
bagaimana kah kelanjutan kisah selanjutnya ?
yuk mampir di cerita aku yah,, terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marwiyah Ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ketakutan
Kediaman Bupati Sanata
Sore itu,di teras kediaman Bupati dipenuhi aroma teh melati. Ajeng duduk di kursi rotan, mengenakan hanfu berwarna biru. Di hadapannya, Tiara, putri semata wayangnya, sibuk membolak-balik buku perjodohan.
"Ibu, bagaimana kalau Tuan Muda dari Kerajaan Barat? Katanya dia tampan dan hartanya tujuh turunan," ujar Tiara sambil tersenyum manja, sebenarnya dia sudah memiliki pria yang dia cintai,hanya saja melihat keadaan kakinya yang cacat membuat nya tidak percaya diri.
dia sangat mengangumi pria itu,dia bernama Dominic jenderal perang terhebat di kerajaan ini,tapi pria itu sudah lama pergi berperang di kerajaan musuh.
Ajeng mengangguk pelan. "Bagus, Nak. Keluarga kita butuh aliansi kuat. Apalagi sekarang ayah mu membutuhkan bantuan agar ayahmu cepat naik jabatan..
Belum selesai kalimatnya, langkah kaki tergesa terdengar dari halaman. Dua pengawal bupati masuk dengan wajah panik. Napas mereka tersengal.
Ajeng mengerutkan kening. "Kenapa kalian terlihat buru-buru? ada apa ? " tanya Ajeng menatap keduanya dengan serius.
Pengawal paling tua menunduk dalam-dalam. Suaranya bergetar. "Ampun Nyonya Bupati... kabar besar baru saja menyebar ke seluruh kerajaan."
"Berbicara saja, jangan bertele-tele!" bentak Tiara.
"Baik, nona. Pria bernama Bima... ia telah resmi ditetapkan sebagai Pejabat Tingkat Dua oleh Kaisar Sanata Ardian. Pengumuman itu baru saja dibacakan sendiri oleh Kaisar di Alun-alun di hadapan puluhan ribu rakyat."
Cangkir teh di tangan Tiara berhenti di bibirnya.
Pengawal itu menelan ludah lalu melanjutkan. "Tidak hanya itu, Nyonya. Ibu Suri... beliau diasingkan ke Kuil Gunung Salju. Kaisar sendiri yang memerintahkan. Alasannya, Ibu Suri terbukti memfitnah Bima delapan belas tahun lalu."
"Pranggggg"
Cangkir porselen di tangan Tiara jatuh ke lantai marmer dan pecah berkeping-keping. Air teh panas memercik ke kakinya, tapi ia tidak peduli.
Mata Tiara melot. Ia menggeleng keras, wajahnya tidak percaya. "Hana? Bagaimana mungkin! Itu pasti salah! Hana itu hanya anak miskin dan tidak diinginkan oleh Ibuku Ajeng! Hana hanya wanita lemah dan penakut! Bagaimana mungkin Hana bisa membuat Kaisar tunduk! Kamu pasti berbohong! Beraninya kau berbohong padaku! Aku akan menghukummu! Aku akan membunuhmu!" teriak Tiara seperti kehilangan akal sehatnya.
Ajeng yang sejak tadi mematung akhirnya tersadar. Tubuhnya bergetar hebat. Wajahnya pucat seperti mayat. Ia menatap pengawal dengan bibir bergetar. "Apa... apa itu benar? Bima menjadi pejabat? Dan Hana... Hana membuat Kaisar tunduk? Itu tidak mungkin! Aku sangat mengenal Hana. Dia hanya anak penakut yang hanya bisa menangis di dapur! Kau pasti salah dengar!"sangkal Ajeng.
Pengawal itu baru mau menjawab, ketika suara berat terdengar dari pintu.
"Apa yang dikatakan pengawal ku benar."
Semua orang menoleh.
Tuan Bupati masuk. Wajahnya serius, rahangnya mengeras. Ia melepas jubah kebesarannya dan melemparkannya ke pelayan.
"Berita itu sudah sampai ke telingaku satu jam lalu," kata Tuan Bupati, suaranya tegas. "Bima telah menjadi Pejabat Tingkat Dua. Namanya kini sejajar dengan para menteri. Dan nama Hana... nama itu sudah menyebar luas ke seluruh Sanata. Bahkan ke kerajaan tetangga. Rakyat memujinya. Para bangsawan takut padanya. Dan Kaisar sendiri menuruti ucapannya karena takut pada Hana."
"Deggggggg"
Ajeng dan Tiara terbelalak bersamaan. Ajeng menjerit keras, tidak percaya omong kosong suaminya. "Tidak! Suamiku! Kau berbohong! Kau membelanya karena dia kasihan padanya, kan!"
"Plakkkk"
Tamparan keras mendarat di pipi Ajeng. Kepalanya terhuyung ke samping. Suara itu menggema di seluruh teras.
Tiara terkejut dan menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ini pertama kalinya seumur hidupnya, Ayahnya memukul Ibunya.
Tuan Bupati berdiri tegak, dadanya naik turun karena marah. "Ajeng! Untuk apa aku berbohong! Saat ini seluruh Sanata membicarakan nama Hana! Dan kamu tunggu saja! Aku sangat yakin anakmu pasti akan datang menuntut balas dendam!"
Ajeng memegang pipinya yang kebas. Air mata mulai mengalir.
Tuan Bupati menunjuk wajah Ajeng dengan jari gemetar. "Aku sudah sering mengatakan padamu! Jangan perlakukan Hana dengan buruk! Rawat dia dengan baik! Karena dia juga adalah putri kandungmu! Tapi kamu malah tidak mendengarkan aku! Kamu malah mengancam akan menceraikan aku jika aku membela Hana! Sekarang, lihatlah! Hana bisa berdiri! Bisa membanggakan nama ayahnya! Bahkan bisa membuat Kaisar takut padanya! Kamu benar-benar bodoh, Ajeng! Kamu ibu kandung yang tidak punya hati!"bentak nya lagi,setelah mengatakan itu bupati pergi meninggalkan kedua wanita itu disana.
Ajeng menangis terisak. Bukan karena ditampar, tapi karena ketakutan yang mencekik dadanya. "Bagaimana ini... jika benar Hana akan balas dendam padaku... dia pasti akan membuat hidupku menderita... hiks... hiks... tidak... aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku harus menemui Ayah. Aku harus menemui Perdana Menteri sekarang juga!"
Ajeng berdiri terhuyung dan langsung berlari keluar tanpa memperdulikan putrinya. hanfu nya terseret tanah.
Tiara yang ditinggalkan mengepalkan tangannya erat-erat. Kukunya menancap ke telapak tangan hingga berdarah. Wajahnya berubah merah karena marah dan iri.
"Hana wanita sialan!" desis Tiara, giginya gemeretak. "Kenapa kamu bisa berubah seperti ini! Kenapa kamu tidak menjadi wanita lemah dan penakut saja seperti dulu! Hana, aku tidak akan tinggal diam! Kamu tidak pantas dibanggakan semua orang! Kamu harus hancur! Kamu harus mati!"
para pelayan yang mendengus mendengar ucapan nya,mereka sudah lama tidak menyukai Tiara karna angkuh dan semena-mena terhadap mereka.
---
Kediaman Mewah Milik duke,tapi kediaman itu hanya berisi cangkang kosong, karna Duke lama ini sudah lama bangkrut dan dilupakan oleh kaisar.
Di ruangan kerja yang dilapisi kayu jati, Edward berdiri mematung. Di hadapan, sahabatnya, Tuan Muda Raymond, baru saja selesai bercerita.
Edward tertawa kaku. "Kamu pasti salah dengar, Raymond. Dia tidak mungkin sehebat itu! Aku sangat mengenalnya. Hana itu gadis yang selalu menunduk kalau aku lewat. Dia bahkan tidak berani menatap mataku."
Raymond meletakkan gelas wine di meja. Wajahnya serius. "Edward, aku tidak berbohong. Tiga ratus prajurit elit Kaisar mati semalam. Satu orang yang melakukannya. Hana. Kaisar sendiri mengusir Ibu Surinya karena Hana menuntut. Sekarang Bima, ayahnya, jadi Pejabat Tingkat Dua."
Tawa Edward perlahan hilang. Ada rasa cemas yang merayap di dadanya. Selama ini ia mempermainkan perasaan Hana. Ia berpura-pura baik hanya untuk mendekati Luna, sepupu Hana yang kaya raya.
"Jadi... selama ini dia hanya pura-pura lemah?" gumam Edward pelan.
"Kurasa begitu," Raymond menatapnya tajam. "Dan aku peringatkan kamu, Edward. Dia pasti akan datang menuntut balas dendam. Karena selama ini kamu selalu menghina nya dan mempermainkan perasaannya di depan semua orang. Kamu bilang dia 'anjing tanpa tuan'. Ingat?"
Wajah Edward memucat. Ia terduduk di kursi. "Tidak... tidak mungkin dia masih ingat hal sekecil itu..."
"Untuk wanita seperti Hana, tidak ada hal yang 'sekecil itu'," jawab Raymond dingin. "Luna pun sudah mengirim surat padaku. Dia bilang dia takut. Takut Hana akan datang ke kediaman Duke."
Edward mengepalkan tangannya. "Kalau begitu... aku harus bicara dengan Luna. Aku harus minta maaf pada Hana sebelum semuanya terlambat."
Raymond menggeleng. "Terlambat, Edward. Kau sudah menyiram bensin ke api. Sekarang tunggu saja apinya membakarmu."
mendengar itu wajah Edward pucat Pasih,dia terduduk lemas di kursi,kediaman Duke sudah bangkrut dan sekarang Hana akan datang menghancurkan dia dan keluarganya,,dia gelisah dan panik.
---
Kediaman Hana
Di kamar luas miliknya, cahaya lilin memantul di tumpukan emas yang menggunung. Itu adalah hadiah dari Sistem Jahat setelah misinya selesai. Koin emas, batangan emas, perhiasan giok. Semua berkilau.
Hana duduk di depan meja rias. Ia tersenyum senang, tapi bukan karena emas. Jarinya mengetuk meja pelan.
[Sistem Jahat: Pilih hadiah tambahan.]
Hana tidak ragu. "Aku meminta obat ajaib untuk menyembuhkan ayahku."
Sekejap kemudian, botol kecil berisi cairan biru berkilau muncul di atas meja. Aroma herbal yang menenangkan menyebar ke seluruh ruangan.
Hana menggenggam botol itu erat. Ia bangkit dan berjalan ke kamar Bima.
Bima sedang berbaring di ranjang, tubuhnya masih kurus karena 18 tahun kerja paksa. Wajahnya tenang saat tidur.
Hana duduk di sisi ranjang dan mengguncang bahu ayahnya pelan. "Ayah."
Bima membuka mata. Ia tersenyum lemah saat melihat putrinya. "Hana... ada apa nak ?."
Hana menuangkan cairan biru ke sendok perak. "Ayah, minumlah ini. Ini akan menyembuhkan luka di tubuh Ayah."
Bima hanya mengangguk tanpa bertanya. Ia percaya sepenuhnya pada putrinya. Ia meneguk obat itu. Rasanya hangat, lalu menyebar ke seluruh tubuhnya. Rasa nyeri di tulang rusuknya yang sudah 18 tahun ia tahan perlahan menghilang.
"Terima kasih, anakku," bisik Bima. Matanya mulai terpejam karena kantuk yang nyenyak untuk pertama kalinya.
Hana menyelimuti ayahnya. Ia mencium kening Bima pelan. "Ayah, istirahatlah dengan nyenyak. Mulai sekarang tidak ada yang berani menyakiti Ayah lagi."
Setelah memastikan Bima tertidur pulas, Hana berdiri. Ekspresinya berubah. Senyum lembutnya hilang, berganti senyum dingin seperti iblis.
Ia berjalan ke luar dan memanggil dengan suara datar. "Dex."
Sekejap kemudian, Dex muncul dari balik bayangan. Ia menunduk hormat. "Ada apa, Nona?"
Hana menatapnya. Mata hitamnya kini memantulkan cahaya merah tipis. Senyumnya dingin dan mematikan.
"Dex," ucap Hana pelan tapi jelas. "Sekarang saatnya pergi ke kediaman Perdana Menteri."
Dex menegakkan tubuhnya. Matanya berbinar. "Perdana Menteri? Kakek Nona?"
"Ya," Hana mengepalkan tinjunya. "Aku akan membalas dendam pada mereka satu per satu. Pertama, kakek yang memperlakukanku seperti budak selama 15 tahun. Kedua, sepupuku yang menghina ku dan kesalahan nya semua dia limpahkan padaku !. Ketiga... Ajeng, ibu kandungku."
Dex mengangguk tanpa ragu. "Perintah Nona adalah perintah. 20 pengawal bayangan sudah siap di gerbang."
" aku tidak membutuhkan pengawal, sebaiknya perintahkan mereka menjaga kediaman ku ! aku sendiri bisa menghabisi semua orang yang ada di kediaman perdana menteri! " tekan Hana.
" baik nona " jawab Dex.
Hana melangkah keluar dari kamar Bima. Jubah hitamnya berkibar diterpa angin malam. Di belakangnya, Dex mengikuti.
Hana berhenti di gerbang. Ia menatap ke arah utara, ke arah kediaman besar milik Perdana Menteri.
"tidak akan ada yang bisa menghentikan ku !" bisik Hana. "aku akan menuntaskan balas dendam ku ! jika tidak,nama ku bukan Hana ! " tekan nya.
Angin malam membawa bisikannya jauh. Seolah seluruh kerajaan mendengarnya.
Perang pribadi Hana baru saja dimulai.