Cerita ini bukan tentang siapa yang tercepat menjadi terkuat, melainkan tentang bagaimana seseorang yang dianggap paling lemah belajar memahami kekuatan yang sesungguhnya: kesabaran, ketahanan, kemampuan menahan badai tanpa tumbang, dan perlahan tumbuh melampaui batas yang dianggap mustahil oleh semua orang. Ia akan bertemu teman yang setia, menghadapi musuh yang meremehkannya, dan akhirnya mengungkap mengapa jalan kuno itu dihapus dari sejarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cldazxx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Jaringan Seluruh Dunia
Setelah keluar dari Pintu Asal Mula, rencana besar mulai terbentuk di benak Lin Mo. Ia tidak lagi berpikir menyelamatkan tempat demi tempat, atau mengalahkan musuh demi musuh. Kini ia mengerti satu hal: kekuatan terbesar dunia ini bukanlah senjata, bukan sihir, bukan juga kedudukan—melainkan hubungan yang erat antar segala sesuatu yang hidup.
Mereka berangkat dari Puncak Akar Pertama dengan arah baru: menjelajahi setiap sudut dunia, menghubungkan setiap benua, pulau, dan lembah ke dalam satu jaringan kehidupan yang tak terputus.
Perjalanan ini memakan waktu berbulan-bulan. Langkah kaki mereka menyusuri hutan purba yang tak pernah disentuh manusia, menyeberangi samudra yang dulu dianggap tak tertyeberangi, hingga mendaki gunung yang puncaknya menyentuh kabut langit. Di setiap tempat yang mereka kunjungi, Lin Mo melakukan hal yang sama:
1. Mendengar: Ia menempelkan telapak tangannya ke tanah, merasakan apa yang dibutuhkan tempat itu—apakah tanahnya retak, sumber airnya tersumbat, atau penduduknya takut dan putus asa.
2. Menyembuhkan: Ia menutup luka pada fondasi bumi, mengembalikan kesuburan yang hilang, dan menenangkan energi liar yang merusak.
3. Menyambung: Ia menanamkan benih ikatan khusus, sehingga akar energi dari tempat itu bisa menyambung ke tempat lain, berbagi kelebihan jika satu tempat kekurangan, saling menopang jika satu tempat melemah.
Di sebuah kepulauan kecil di selatan, misalnya, tanahnya sering bergejolak dan ombak besar sering menghancurkan ladang. Lin Mo tidak hanya menstabilkan bebatuan bawah laut, tapi juga menyambungkan fondasi pulau itu ke pegunungan besar di benua utama. Sejak saat itu, getaran gempa diserap dan disebarkan merata ke seluruh jaringan, sehingga tidak ada lagi kerusakan yang parah.
Di gurun pasir yang tak berujung di timur, ia menyambungkan sumber air dalam tanah dengan danau di Tanah Terbelah, sehingga air mengalir perlahan ke sana, menumbuhkan sabuk hijau yang memisahkan gurun dari pemukiman.
Bukan hanya alam yang disatukan. Lin Mo juga menyatukan hati manusia. Ia mengumpulkan pemimpin suku yang dulu saling bermusuhan, sekte yang dulu bersaing ketat, dan mereka yang dulu malu dengan asal-usulnya. Ia mengajarkan bahwa setiap orang memiliki kelebihan masing-masing: ada yang pandai membaca arah angin, ada yang kuat memadatkan tanah, ada yang pandai menyusun air—dan jika digabungkan, tak ada tantangan yang tak bisa dihadapi.
Suatu hari, saat mereka beristirahat di bukit yang menghadap ke Jembatan Bumi, Meng Chao bertanya:
"Lin Mo, bagaimana kita tahu jaringan ini sudah cukup kuat? Bagaimana jika Kekosongan datang sebelum kita selesai?"
Lin Mo menunjuk ke arah akar pohon besar di dekat mereka. "Lihatlah. Akar tidak tumbuh serentak semuanya. Satu tumbuh duluan, lalu yang lain menyusul. Yang penting tidak ada yang tertinggal sendirian. Selama kita terus menyambung, jaringan ini akan semakin kuat dengan sendirinya."
Namun tanda bahaya akhirnya datang.
Sore itu, langit di seluruh penjuru dunia tiba-tiba berubah warna menjadi kelabu kusam. Matahari seolah tertutup kabut tebal yang tak terlihat ujungnya. Tanah di bawah kaki bergetar lembut namun berirama—bukan gempa, melainkan seperti detak jantung yang panik.
Lin Mo segera menyebarkan kesadarannya ke seluruh jaringan yang telah mereka bangun. Wajahnya berubah serius.
"Kekosongan Tanpa Akar sudah mulai mendekat. Ia belum masuk sepenuhnya, tapi bayangannya sudah menyentuh batas dunia. Di tempat yang paling lemah—pulau terpencil di ujung barat laut—dinding penahan mulai retak."
Mereka tidak berlari panik. Selama berbulan-bulan membangun persahabatan dan kepercayaan, mereka telah menjadi satu tim yang tak tergoyahkan.
"Kita tidak pergi sendirian," kata Lin Mo sambil menatap teman-temannya. "Kita membawa seluruh kekuatan dunia yang sudah bersatu."
Mereka bergerak menuju ujung barat laut. Di sana, pemandangan yang menanti membuat bulu kuduk merinding. Di ufuk barat, batas langit dan laut seolah hilang, digantikan oleh kegelapan murni yang tidak memantulkan cahaya sedikit pun. Kegelapan itu perlahan meluas, menelan awan, menelan air laut, dan apa pun yang disentuhnya lenyap seolah tak pernah ada.
Dan di depan kegelapan itu, berdiri ribuan orang dari berbagai penjuru dunia—penduduk desa, ahli sekte, penjaga laut, bahkan binatang buas dan roh alam—semuanya datang tanpa disuruh, karena merasakan panggilan jaringan kehidupan yang mereka bangun bersama.
Mereka berdiri tegak, siap menghadapi ancaman terbesar yang pernah diketahui dunia.