NovelToon NovelToon
Obsesi Ketua OSIS

Obsesi Ketua OSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nalara amora

Kanaya Leticia Clarissa hanya ingin masa SMA-nya berjalan tenang tanpa gangguan. Namun, kecantikannya yang mencolok justru menjadikannya target perundungan oleh senior OSIS yang iri. Di tengah ketakutan itu, Alden Arsenio Malik—sang Ketua OSIS yang dikenal sempurna dan dingin—datang mengulurkan tangan. Letta mengira itu adalah sebuah perlindungan, tanpa menyadari bahwa di balik tatapan tegas Alden, ada obsesi gelap dan posesif yang siap mengurung seluruh hidupnya.

"Kamu aman di sini, Letta. Tapi ingat, kamu hanya milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

satu malam bagian 3

warning ⚠️ ya yang mau skip bagian ini skip mengandung 18+

Aleta meronta dengan sisa tenaga yang ia miliki, kepalanya menggeleng kuat ke kiri dan ke kanan, berusaha menghindari cairan di dalam gelas itu. Tapi, perlawanannya tidak berarti apa-apa di hadapan Alden. Dengan satu gerakan cepat dan cekatan, tangan Alden sudah berada di belakang tengkuk Aleta, mencengkeram rambut dan lehernya dengan kuat, mengunci posisi kepala gadis itu agar tidak bisa lagi menghindar.

"Jangan keras kepala, Aleta!" desis Alden, suaranya kini terdengar penuh dengan otoritas yang menakutkan.

Tanpa memedulikan isak tangis dan penolakan yang keluar dari tenggorokan Aleta, Alden menekan pinggiran gelas itu ke bibir Aleta, memaksa mulut gadis itu terbuka. Dengan kejam, ia menuangkan cairan yang sudah dicampur dengan obat itu ke dalam mulut Aleta.

Aleta terpaksa menelan. Cairan itu terasa dingin dan aneh saat mengalir ke tenggorokannya. Ia berusaha memuntahkannya kembali, namun Alden menutup mulut Aleta dengan tangannya yang bebas, memaksanya untuk menelan semuanya hingga tetes terakhir.

"Nah, begitu," bisik Alden setelah ia menjauhkan gelas yang kini kosong. Ia melepaskan cengkeramannya, membiarkan Aleta terengah-engah di atas bantal, tersedak dan terbatuk-batuk karena paksaan tadi.

Alden meletakkan gelas tersebut di meja nakas dengan suara dentuman pelan. Ia kembali menatap Aleta yang kini mulai tampak syok dan ketakutan. Perlahan, obat itu mulai bekerja—sensasi panas yang tidak wajar mulai menjalar dari perut Aleta, menyebar ke seluruh aliran darahnya dengan cepat.

Aleta merasakan kepalanya berputar. Dunia di sekelilingnya tampak semakin berputar tak terkendali, dan napasnya mulai terasa memburu karena detak jantungnya yang dipacu secara paksa oleh zat tersebut. Ia mencoba untuk bangkit, namun tubuhnya terasa lemas dan tidak lagi menuruti perintah otaknya.

🌍🌍🌍

Alden memperhatikan setiap perubahan pada wajah dan napas Aleta dengan mata yang berbinar penuh kepuasan. Ia menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, melipat tangan di depan dada, menatap mangsanya yang kini mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

"Kamu akan segera merasa lebih 'hidup', Aleta," ucap Alden dengan nada yang mematikan.

"Dan saat itu tiba, kamu tidak akan lagi punya keinginan untuk melawan. Kamu hanya akan menginginkan aku."

Rasa gerah yang hebat mulai menyerang Aleta dari dalam. Kulitnya terasa panas, seolah-olah darah yang mengalir di nadinya berubah menjadi cairan yang mendidih. Ia tidak bisa lagi mengendalikan suhu tubuhnya yang melonjak tajam. Napasnya kini tersengal-sengal, pendek dan berat, sementara keringat dingin mulai membasahi pelipis dan tengkuknya.

Ia mencoba menarik kerah gaunnya, berusaha mencari udara segar, namun gerakan tangannya terasa lamban dan tidak terkoordinasi. Efek dari cairan yang dipaksakan Alden padanya bekerja lebih cepat dari yang ia bayangkan. Kesadarannya mulai mengabur, digantikan oleh sensasi asing yang memuakkan namun tak tertahankan, yang menyiksa setiap saraf di tubuhnya.

Alden memperhatikan perubahan itu dengan tatapan yang semakin gelap. Ia melihat bagaimana Aleta mulai menggeliat gelisah di atas ranjang, bagaimana gadis itu mencoba mencengkeram sprei dengan jemarinya yang gemetar seolah sedang menahan gejolak yang tak dikenalinya sendiri.

"Sudah mulai terasa?" bisik Alden, suaranya terdengar berat dan serak, penuh dengan antisipasi yang kejam.

Ia merangkak mendekat, menaiki ranjang dengan tenang, seolah ia adalah predator yang tahu persis mangsanya tidak akan bisa lagi meloloskan diri. Alden menjangkau lengan Aleta, jemarinya yang hangat menyentuh kulit gadis itu yang terasa panas, menciptakan kontras yang membuat Aleta semakin terlonjak.

Aleta berusaha menepis sentuhan itu, namun gerakannya lemah, lebih mirip sebuah sentuhan pelan daripada dorongan. Matanya yang kabur menatap Alden dengan campuran antara ketakutan dan kebingungan yang mendalam.

"Jangan... jangan sentuh aku..." bisik Aleta, meski suaranya terdengar seperti rengekan yang hampir tidak berdaya.

Alden hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak menyentuh matanya sama sekali. Ia tidak memedulikan penolakan itu. Baginya, itu hanyalah reaksi fisik dari zat yang baru saja bekerja, ya perangsang.

Ia membelai pipi Aleta dengan punggung tangannya, merasakan panas yang memancar dari sana.

"Kamu terlalu panas, Aleta," gumam Alden, tangannya perlahan turun menyusuri garis leher Aleta, memberikan tekanan yang semakin membuat gadis itu merasa terjepit di antara ketidakberdayaan dan sensasi aneh yang terus menggerogoti akal sehatnya.

"Tapi jangan khawatir. Aku akan membiarkanmu merasa jauh lebih baik sebentar lagi."

Gerakan Alden lambat, sistematis, dan penuh dengan dominasi yang dingin. Setiap kali satu kancing gaun Aleta terlepas, suara gesekan kain terdengar begitu kontras di tengah ruangan yang sunyi, seolah menjadi penanda detik-detik terakhir bagi sisa-sisa harga diri yang masih dipertahankan Aleta.

Aleta bisa merasakan udara malam yang dingin menyentuh kulitnya saat gaun itu mulai terbuka, namun sensasi itu segera tertutup oleh panas yang membakar dari dalam tubuhnya—efek obat yang terus merangsang saraf-sarafnya hingga ia merasa sesak dan tersiksa. Ia mencoba menutup gaunnya dengan tangan yang gemetar, namun Alden dengan mudah menepis tangan tersebut dan menyematkannya ke atas kepala Aleta, mengunci gadis itu agar tidak bisa melakukan apa pun.

"Lihat dirimu, Aleta," bisik Alden, matanya yang kelam menelusuri setiap inci kulit Aleta yang kini terpapar. Suaranya terdengar serak, sarat akan gairah yang bengis.

"Kamu tidak bisa bersembunyi dari apa yang sedang terjadi pada tubuhmu sendiri. Semakin kamu mencoba menolak, semakin sulit bagi dirimu untuk bertahan."

Alden melanjutkan tugasnya dengan tidak terburu-buru, seolah ia benar-benar menikmati setiap detik kehancuran pertahanan Aleta. Ketika kancing terakhir terlepas, gaun itu merosot turun, memperlihatkan tubuh Aleta yang kini bergetar hebat—bukan lagi sekadar karena ketakutan, tetapi karena gejolak fisik yang dipaksakan oleh obat tersebut.

Alden menjauhkan tangannya sejenak, menatap karya dari kekejamannya sendiri dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia melihat bagaimana napas Aleta semakin memburu, bagaimana matanya yang sayu kini berkilat oleh emosi yang bertentangan antara rasa benci dan dorongan fisik yang tak tertahankan.

"Sekarang," Alden berbisik tepat di samping telinga Aleta, napasnya yang panas menyapu kulit lehernya yang sensitif,

"mari kita lihat seberapa lama kamu bisa mempertahankan penolakan itu sebelum kamu akhirnya memohon padaku."

Ia tidak menunggu jawaban. Dengan satu gerakan dominan, Alden kembali menghimpit tubuh Aleta, memastikan bahwa tidak ada lagi jarak di antara mereka, dan bahwa malam ini, tidak ada lagi jalan keluar bagi Aleta untuk menjadi siapa pun selain miliknya sepenuhnya.

🌍🌍🌍

Sensasi itu semakin tak tertahankan. Rasanya seperti ada api yang menjalar di setiap pembuluh darahnya, membuat Aleta merasa seolah ia akan meledak jika tidak segera mendapatkan pelepasan. Pikirannya yang tadinya mencoba untuk tetap teguh, kini mulai kabur, tertelan oleh kabut panas yang menyesakkan. Ia benar-benar tidak tahu apa yang telah Alden berikan padanya, ia hanya tahu bahwa tubuhnya kini bukan lagi miliknya sendiri—ia dikhianati oleh indranya yang bergejolak hebat.

Air mata terus mengalir di sudut matanya, membasahi bantal, namun kali ini tangisan itu bercampur dengan isak yang penuh dengan keputusasaan yang memilukan.

"Kak... tolong..." rintih Aleta dengan suara yang nyaris tak terdengar, suaranya parau dan bergetar hebat. Ia mencengkeram lengan Alden, bukan lagi untuk mendorong, melainkan karena ia tidak punya pegangan lain di tengah dunianya yang terasa jungkir balik.

"Aku... aku tidak tahu apa yang terjadi... panas... tolong, ini sakit sekali..."

Alden yang berada tepat di atasnya, menatap Aleta dengan sorot mata yang penuh kemenangan—sebuah kemenangan yang dingin dan obsesif. Ia melihat bagaimana pertahanan terakhir Aleta runtuh, bagaimana gadis itu kini memohon padanya justru karena efek racun yang ia berikan sendiri.

Alden mendekatkan wajahnya, membiarkan napasnya yang berat menerpa wajah Aleta yang kini memerah karena tersiksa. Ia tidak merasa iba, justru sebaliknya, ia merasa semakin terangsang melihat Aleta yang kini berada di bawah kendalinya.

"Kamu mau aku menolongmu?" tanya Alden dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti bisikan setan. Ia membiarkan jemarinya membelai kulit leher Aleta yang panas, sebuah sentuhan yang membuat Aleta semakin menggeliat tersiksa.

"Katakan padaku apa yang kamu inginkan, Aleta. Katakan dengan jelas, agar aku tahu bahwa kamu memang memohon untuk menjadi milikku malam ini."

Alden menahan pergerakannya, memberikan tekanan yang cukup pada tubuh Aleta untuk membuat gadis itu semakin merasa terdesak.

 "Aku bisa membuat rasa panas itu berhenti, Aleta. Tapi kamu harus memintanya sendiri. Aku tidak akan memaksamu lagi jika kamu yang memintanya kepadaku."

Aleta memejamkan mata rapat-rapat, dadanya naik turun dengan cepat. Ia merasa hancur, namun rasa panas yang menyiksa itu benar-benar mengikis sisa-sisa rasionalitasnya. Dalam ketakutan dan penderitaan yang memuncak, ia akhirnya tidak punya pilihan lain.

"Kak Alden... tolong... aku tidak tahan..." bisik Aleta dengan isak yang menyakitkan, menyerahkan sisa harga dirinya di bawah tatapan tajam Alden yang kini siap untuk menuntaskan obsesinya.

🌍🌍🌍

Alden tidak membuang waktu. Mendengar permohonan Aleta yang penuh keputusasaan adalah musik paling indah bagi telinganya. Dengan dominasi yang tenang namun menindas, ia kembali menunduk, bibirnya yang terasa panas kembali menyentuh permukaan kulit Aleta.

Ia memulai dari pangkal rahang, menyusuri garis leher Aleta dengan ciuman-ciuman yang terasa seperti klaim mutlak. Setiap sentuhan bibirnya di sana meninggalkan jejak panas yang seolah membakar saraf-saraf Aleta yang sudah tak berdaya. Alden bergerak perlahan, sangat lambat, menikmati bagaimana tubuh gadis itu bereaksi di bawahnya—menggeliat, gemetar, dan merespons sentuhannya dengan cara yang tak sanggup Aleta kendalikan lagi.

Saat bibir Alden turun lebih rendah, melewati cekungan leher hingga ke tulang selangka, Aleta tidak bisa menahan erangan yang lolos dari tenggorokannya. Erangan itu terdengar parau, perpaduan antara rasa sakit, ketidakberdayaan, dan sensasi memuakkan yang dipicu oleh pengaruh obat di dalam darahnya.

"Ahhh"

"Ssshh..." bisik Alden, suaranya parau dan sarat akan gairah yang gelap.

"Itu dia, Aleta. Lepaskan semuanya. Jangan mencoba menahan dirimu lagi."

Alden terus mengeksplorasi kulit Aleta dengan bibirnya, menghirup aroma tubuh gadis itu dengan rakus. Setiap kali ia memberikan tekanan lebih pada kulit sensitif Aleta, tubuh gadis itu akan melengkung secara tidak sadar. Aleta mencengkeram sprei kasur dengan jemari yang memutih, napasnya terputus-putus, dan erangannya kini terdengar lebih sering—suara-suara kecil yang menunjukkan bahwa ia sedang terseret ke dalam arus yang dibuat Alden.

Alden menjauh sejenak, menatap mata Aleta yang kini sayu dan kehilangan fokus. Ia membelai pipi Aleta dengan penuh posesif sebelum kembali menunduk, kali ini dengan ciuman yang lebih dalam dan menuntut, seolah ia ingin menyerap setiap sisa kesadaran yang masih tersisa di diri gadis itu, memastikan bahwa Aleta tidak akan pernah bisa melupakan siapa yang sedang menguasainya malam ini.

🌍🌍🌍

1
Putri Ayu/PqxxyZ
oh tidak bisa😭 sudah berkeliling pikiram
Nalara amora: di larang keras woy ka itulah 😭
total 1 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
mama aku takut banget sama Alden 😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
obat itu... ngeri sih..😭 agak lain memang
Putri Ayu/PqxxyZ
wah ini nih.. oke lanjut baca lah.. 😭
Putri Ayu/PqxxyZ
gak bang.. aku gak bang😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
seperti ada kebanggaan ya😭
Putri Ayu/PqxxyZ
ayo bisa ayo kabur mbak😭 takut banget hidup kek gitu
Putri Ayu/PqxxyZ
mas yang bener aja lah... cinta memaksa gitu gak baik toh mas
Putri Ayu/PqxxyZ
Aleta.. run mbak.. run 😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
ini betulan gak dibawa ke RS gitu? kasian banget lemes gini
Enz99
menarik
Putri Ayu/PqxxyZ
langsung di hap aja deh🤭
Putri Ayu/PqxxyZ
no no ya.. gak boleh gitu ama cewek toh bang
Putri Ayu/PqxxyZ
lohh ini mah hukuman seumur hidup namanya
Putri Ayu/PqxxyZ
Sangat di rekomendasi baca ini.. Keren banget
Putri Ayu/PqxxyZ
enak tau teh di UKS tuh 🤣 kek beda gitu rasanya
Putri Ayu/PqxxyZ
aw gentle sekali... bungkus deh 😭🤭
Nalara amora
seruu bgt
Nalara amora
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!