NovelToon NovelToon
Good Husband?

Good Husband?

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Beda Usia / Pengantin Pengganti Konglomerat / Tamat
Popularitas:58.1k
Nilai: 5
Nama Author: lely oktaviani

Diumurnya yang menginjak 20 tahun, Sheila harus rela untuk menikah menggantikan kakak perempuannya yang kabur meninggalkan tunangannya di hari H pernikahan mereka.

Rasa canggung pada awal pernikahan perlahan mulai mencair karena Bima, suaminya sangat baik dan juga perhatian.

Sayangnya Sheila tak tahu bahwa banyak yang tak suka dengan pernikahan keduanya. Membuat pernikahan mereka begitu banyak halangan dan mengharuskannya dipaksa memilih untuk tetap tinggal atau melepaskan semuanya.

Selamat membaca 🥰🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lely oktaviani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Enam (Pio Juga Ingin Punya Suami)

Sheila terlihat menuruni anak tangga dengan ragu. Dia tak ingin bertemu dengan Bima sekarang. Sheila bisa meledak malu dibuatnya. Tapi tidak mungkin kan dia lari kabur sekarang.

Mari dihadapi saja. Lagipula Bima adalah suaminya. Tidak ada yang salah dengan saling berciuman. Pasti Bima akan menganggapnya aneh jika bersikap berlebihan hanya karena sebuah ciuman.

Sheila menatap Bima yang kini tengah berada di dapur. Sheila tahu kalau Bima itu tampan, tapi dia ribuan kali lebih tampan saat lengan baju itu tergulung dengan kesibukannya di dapur.

"Tuhan, sepertinya hambamu ini akan segera jatuh cinta," ucap Sheila lirih pada dirinya sendiri.

Bima tersenyum saat melihat Sheila mendekat. Sheila membalasnya dengan senyuman canggung. "Apa kamu selalu memasak sendiri sebelumnya?"

"Tentu saja. Aku harus tahu apa saja makanan yang masuk ke dalam mulutku," jelas Bima sambil meletakkan sepiring pancake dan segelas susu murni tanpa gula untuknya.

"Tapi bukannya istri yang harusnya memasak?" tanya Sheila tak yakin. Dia ingin memasak untuk Bima, tapi dia takut masakannya tak sesuai dengan lidah suaminya yang mungkin terbiasa dengan makanan mewah.

"Kamu tak perlu khawatir. Kamu bisa memasak jika ingin memasak, tapi kamu juga tak perlu memaksakan diri jika tak ingin memasak."

"Sejujurnya aku memang tak pandai masak," ucap Sheila tertunduk malu sambil memotong bagian kecil pancake-nya.

Bima mengangguk mengerti. "Tak masalah."

"Tapi aku akan mencoba untuk belajar."

Bima mengangguk sambil tersenyum ramah. "Kamu bisa meminta tolong Tiwi untuk mengajarimu memasak."

Sheila menatap Bima tak percaya. Tiwi bisa memasak tapi kenapa Bima lebih memilih untuk masak sendiri. "Tiwi bisa memasak?"

"Tentu saja. Dia merupakan tenaga profesional, jelas memasak merupakan keahliannya."

"Tapi kenapa Mas Bima tak membiarkan Tiwi memasak?"

Bima terdiam dan menatap Sheila dingin. Sheila langsung merasa bersalah tiba-tiba. Apakah dia baru saja melakukan kesalahan atau mengatakan sesuatu yang harusnya tak dikatakannya?

"Aku harus tahu apa saja makanan yang akan masuk ke dalam mulutku."

"Ah..." Sheila mengangguk paham saat mendengar kalimat yang sama terulang kembali. Sepertinya Bima tak suka harus menjelaskan hal yang sama untuk kedua kalinya.

#

Mereka berdua berjalan keluar bersama dari pintu lift. Sheila merasa mungkin sampai dia tua nanti tidak akan pernah bisa dekat dengan tetangganya yang lain.

Bagaimana tidak jika dia takkan bisa berpapasan dengan mereka. Mengingat kalau penthouse Bima memiliki lift khusus yang langsung menuju ke arah ruangannya.

Sheila tidak akan pernah bisa mendengar adanya orang lain yang berjalan di lorong karena lantai paling atas hanya dihuni oleh mereka sendiri.

"Aduhhhh..."

Sheila melihat anak kecil yang tengah terjatuh tak jauh dari tempatnya berjalan. Anak itu merintih sendirian. Sepertinya anak itu juga merupakan salah satu penghuni di apartemen ini.

"Kamu tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?" tanya Bima yang datang membantunya.

Sebenarnya Sheila juga datang untuk membantu, tapi nyatanya langkah Bima jauh lebih cepat untuk mencapai anak itu.

Bima membantu anak itu memungut crayon yang terlepas dari tempatnya. Sheila juga membantu menyusun pewarna itu pada tempatnya.

"Terimakasih," ucap anak itu sopan kepada mereka berdua.

"Kenapa kamu sendirian? Dimana Mamamu?" tanya Sheila khawatir dan merasa mungkin anak itu terpisah dengan Mamanya.

"Mama lagi kerja, Kak. Kerja jauh dan baru pulang nanti siang. Pio sedang menunggu Mbak Santi datang. Mbak Santi mungkin kesiangan," jelas Pio polos.

Sheila menatap Pio bingung. Sheila menebak mungkin yang dimaksud Mbak Santi ini suster yang merawat Pio selama Mamanya bekerja. Walaupun apartemen ini terbilang cukup aman penjagaannya, tapi Pio terlihat begitu polos dan seperti mudah untuk dibujuk. Sheila takut anak ini kenapa-kenapa nanti.

"Mas, bisa kita tunggu di sini sebentar? Kita temani Pio sampai susternya datang?"

Bima mengangguk mengerti. Lagipula mereka juga masih memiliki banyak waktu.

Drrt... Drrt...

"Aku angkat telepon dulu," ucap Bima yang sepertinya mendapat telepon. Sheila mengangguk sebelum Bima pergi menjauh.

"Kakak cantik tinggal di lantai berapa? Kok Pio nggak pernah ketemu?"

"Oh itu, kakak tinggal di lantai atas."

"Lantai atas? Kakak naik lift itu." Tunjuk Pio pada lift yang selalu Sheila naiki. Sheila mengangguk mengiyakan sebagai balasan.

"Woahhhh... Pasti kakak kaya banget ya? Soalnya kata Mbak Santi yang bisa naik lift itu orang yang uangnya buanyak banget. Jadi Pio harus banyak-banyak belajar biar bisa naik ke lift itu."

"Hahaha..." Sheila tertawa canggung mendengar celotehan Pio. Bagaimana tidak. Sheila mengingat otaknya sendiri tak begitu pandai tapi dia masih bisa menaiki lift itu. Sayangnya tidak mungkin kan dia mengatakan hal yang sebenarnya kepada anak ini.

"Kakak cantik, kakak ganteng tadi siapa? Suami kakak ya?" tanya Pio penasaran.

Sheila menatap Pio kaget. Apa iya anak di kelas kanak-kanak sudah banyak yang mengerti arti suami-istri. Bahkan Sheila seperti tak percaya saat mendengar pertanyaan itu telah diucapkan oleh bocah umur 5 tahun.

"Iya, itu suami kakak."

"Suami kakak ganteng banget. Nanti kalau Pio sudah besar Pio juga pengen punya suami seganteng kakak itu."

Sheila hanya tertawa bangga mendengar ucapan Pio. Bima memang tampan, sangat tampan. Dan pria tampan itu adalah suaminya. Benar-benar hal yang luar biasa. Sheila terkejut bahwa menikah dengan Bima membuatnya seperti memiliki sesuatu yang berharga yang ingin dimiliki semua orang.

Sheila masih sibuk tertawa sampai tak sadar bahwa Bima sudah berada di sebelahnya.

"Apa yang kalian tertawakan?" tanya Bima heran melihat Sheila bisa tertawa selepas itu.

"Tidak, hanya Pio sangat lucu," jelas Sheila kikuk. Tidak mungkin kan Sheila jujur mengatakan bahwa mereka sedang membahas ketampanannya.

"Pio lucu? Tapi Pio..."

"Pio?" ucap seorang perempuan dengan seragam suster mendekat ke arah mereka

"Mbak Santiiii..." Pio berlari memeluk Mbak Santi gembira.

"Maaf ya, Mbak Santi telat datang. Tadi kena mancet."

"Iya nggak pa-pa kok. Tadi Pio ditemani sama kakak-kakak ini. Mereka berdua yang tinggal di lantai atas loh, Mbak."

Mbk Santi melihat ke arah Sheila dan Bima kemudian tersenyum ramah sebelum akhirnya berterimakasih dan buru-buru pamit pergi karena hampir telat ke sekolah.

Sheila dan Bima juga membalas keduanya dengan senyuman ramah.

"Dadah kakak cantik, nanti main sama Pio lagi ya..." ucap Pio riang sebelum masuk ke dalam taksi.

Sheila hanya tersenyum riang sambil ikut melambaikan tangan pada Pio.

Bima menatap Sheila yang masih tersenyum riang bahkan sampai taksi yang membawa Pio sudah pergi. "Kamu suka anak kecil?"

"Enggak terlalu. Kalau mereka nangis aku pasti bingung cara mengatasinya. Tapi kalau seumuran Pio sepertinya udah bisa diajak ngobrol, jadi lebih mudah buat interaksi."

Bima mengangguk mengerti, kemudian mereka juga akhirnya berangkat sebelum kesiangan.

#

1
Iis Watiningsih
Dasar suami bejat yg tdk bs menghargai istri. sabar iya sheilah kamu hrs kuat😭
Octa Febian Nii
ya ampun sela koyol yah diri mu😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!