"Apa?! Kak Rania kabur?!"
Surat di tangan Gladis bergetar hebat. Matanya membelalak tak percaya saat membaca tulisan tangan kakaknya untuk ketiga kalinya.
Maaf, Ayah, Ibu. Aku tidak bisa menikah dengan pria yang bahkan tidak aku cintai. Aku memilih hidupku sendiri. Jangan mencariku.
Tubuh Gladis mendadak lemas.
Malam itu seharusnya menjadi malam terakhir persiapan pernikahan kakaknya dengan seorang CEO ternama. Semua undangan telah disebar. Hotel mewah telah dipesan. Para relasi bisnis penting dijadwalkan hadir.
Namun sang calon pengantin justru menghilang.
"Ayah... bagaimana ini?" suara Gladis bergetar.
Di ruang keluarga yang megah namun terasa mencekam, wajah kedua orang tuanya tampak pucat.
Ayahnya terduduk lemah sambil memegangi dada.
"Kita tidak boleh membatalkan pernikahan ini."
"Tapi Kak Rania sudah pergi!"
"Kau tidak mengerti, Gladis!" bentak ibunya tiba-tiba.
Gadis itu terdiam.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat ketakutan pada orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moon28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi pertama menjadi seorang Ibu
Malam itu Gladis sulit tidur.
Terlalu banyak hal yang memenuhi pikirannya.
Tentang pernikahan mendadak.
Tentang Arsen.
Tentang ketiga anak yang bahkan tidak menginginkan kehadirannya.
Dan tentang dirinya sendiri yang masih belum percaya bahwa semua ini benar-benar terjadi.
Entah pukul berapa akhirnya ia tertidur.
Namun ketika membuka mata kembali, jam digital di meja samping tempat tidur menunjukkan pukul 03.07 dini hari.
Gladis mengusap wajahnya pelan.
Ruangan masih gelap.
Hanya lampu tidur yang menyala redup.
Ia duduk perlahan.
Kemudian mengambil air wudhu dan melaksanakan salat malam.
Sudah lama ia terbiasa bangun sebelum subuh.
Ibunya selalu mengajarkan bahwa ketika hati sedang berat, dekatlah kepada Allah.
Maka malam itu Gladis berdoa cukup lama.
Meminta kekuatan.
Meminta kesabaran.
Dan meminta agar ia bisa menjalani kehidupan barunya dengan baik.
Setelah selesai berdoa, ia masih mengenakan mukena putih sederhana.
Tenggorokannya terasa kering.
Ia memutuskan turun ke dapur untuk mengambil minum.
Lorong lantai dua sangat sepi.
Namun saat melewati salah satu ruangan, langkahnya terhenti.
Pintu ruang kerja Arsen masih terbuka.
Lampu masih menyala terang.
Gladis mengintip sedikit.
Dan matanya membulat.
Arsen masih bekerja.
Pria itu duduk di depan laptop dengan beberapa dokumen berserakan di meja.
Kemeja putihnya sudah tidak serapi tadi.
Lengan kemeja digulung sampai siku.
Namun wajahnya tetap fokus menatap layar.
"Masya Allah..."
gumam Gladis pelan.
"Wah..."
Orang kaya nggak pernah tidur ya?
Jam segini masih kerja.
Gladis menggeleng sendiri.
Lalu melanjutkan langkah menuju dapur.
Di dapur.
Ia menemukan madu dan membuat segelas air hangat.
Saat hendak kembali ke kamar, ia melewati ruang kerja itu lagi.
Dan entah kenapa.
Kakinya berhenti.
Mungkin karena rasa kasihan.
Atau mungkin karena didikan ibunya yang selalu mengajarkan untuk peduli.
Dengan sedikit ragu ia mengetuk pintu.
Tok.
Tok.
Arsen mengangkat kepala.
Tatapan tajamnya langsung menemukan sosok Gladis.
"Kamu?"
Gladis tersenyum canggung.
"Iya."
Arsen menutup laptop.
"Belum tidur?"
Pertanyaan itu membuat Gladis hampir tertawa.
Bukankah seharusnya dia yang bertanya seperti itu?
"Ehm..."
"Aku baru bangun."
"Salat malam."
Jawab Gladis sambil menunjukkan mukena yang masih dikenakannya.
Arsen memperhatikannya beberapa saat.
Lalu mengangguk.
"Aku mengerti."
Gladis mengangkat gelas yang dibawanya.
"Aku buat air madu."
"Lalu?"
"Ini untuk Mas."
Arsen terlihat sedikit terkejut.
Mungkin tidak menyangka ada seseorang yang memikirkan hal seperti itu.
Apalagi setelah dua tahun hidup sendiri.
Gladis meletakkan gelas itu di meja.
"Terima kasih."
Suara Arsen terdengar lebih pelan dari biasanya.
"Sama-sama."
Keheningan kembali hadir.
Namun kali ini tidak terlalu canggung.
Gladis memperhatikan beberapa berkas di meja.
Sangat banyak.
Pantas saja pria ini masih bekerja.
"Mas sering tidur jam segini?"
Arsen bersandar di kursinya.
"Sering."
"Bahaya."
Arsen mengangkat alis.
"Bahaya?"
"Iya."
"Kalau sakit nanti siapa yang kerja?"
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, sudut bibir Arsen sedikit terangkat.
Tipis sekali.
Namun Gladis melihatnya.
Pria itu benar-benar hampir tersenyum.
"Kamu terdengar seperti Bibik."
Gladis tertawa kecil.
"Bibik pasti benar."
Beberapa detik mereka saling diam.
Lalu Arsen berkata,
"Kamu sebaiknya istirahat."
Gladis mengangguk.
"Mas juga."
Kemudian ia berpamitan.
Namun sebelum kembali ke kamar.
Kakinya justru bergerak ke arah kamar anak-anak.
Pintu kamar si kembar terbuka sedikit.
Gladis mengintip perlahan.
Raka dan Raina sedang tidur.
Wajah mereka terlihat jauh lebih lembut saat terlelap.
Tidak ada tatapan marah.
Tidak ada ekspresi menolak.
Mereka hanya dua anak kecil yang kehilangan ibunya.
Gladis masuk perlahan.
Selimut Raina terjatuh ke lantai.
Ia membungkuk dan membenarkannya.
Lalu memastikan AC tidak terlalu dingin.
Setelah itu ia keluar lagi.
Kamar berikutnya adalah kamar Rian.
Bocah kecil itu tidur sambil memeluk dinosaurus hijau kesayangannya.
Posisinya hampir jatuh dari ranjang.
Gladis buru-buru membenarkan posisi tidurnya.
Kemudian menyelimuti tubuh kecil itu.
Rian bergerak sedikit.
"Mama..."
bisiknya dalam tidur.
DEG.
Hati Gladis langsung terasa hangat sekaligus sedih.
Anak sekecil itu masih sangat merindukan ibunya.
Dengan hati-hati ia mengusap rambut bocah itu.
"Lanjut tidur ya."
Bisiknya pelan.
Lalu keluar tanpa membangunkannya.
Pagi hari.
Jam menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh menit.
Gladis sudah berada di dapur.
Mengenakan gamis rumah sederhana dan hijab berwarna krem.
Ia membuka map yang diberikan Arsen tadi malam.
Membaca kembali informasi tentang anak-anak.
Raka suka roti cokelat.
Raina suka omelet keju.
Rian suka susu hangat dan pancake mini.
Gladis tersenyum.
Setidaknya sekarang ia punya gambaran.
"Nyonya?"
Bibik yang baru masuk dapur langsung terkejut.
"Ya Allah."
"Nyonya sudah bangun?"
Gladis tertawa kecil.
"Dari tadi."
Bibik melihat berbagai bahan makanan yang sudah tersusun rapi.
"Nyonya mau apa?"
"Membuat sarapan."
"Biarkan saya saja."
"Tidak usah."
"Tapi ini tugas saya."
Gladis menggeleng lembut.
"Hari ini biar aku saja."
Bibik benar-benar tidak menyangka.
Biasanya wanita kaya yang datang ke rumah besar seperti ini justru menghindari dapur.
Namun Gladis berbeda.
Sangat berbeda.
"Nyonya yakin?"
"Yakin."
Akhirnya Bibik menyerah.
Setengah jam kemudian.
Meja makan dipenuhi aroma makanan hangat.
Omelet keju.
Roti panggang.
Pancake mini.
Buah potong.
Dan susu hangat.
Gladis tersenyum puas.
Mungkin tidak sempurna.
Namun setidaknya dibuat dengan tulus.
Setelah semuanya selesai.
Ia menarik napas panjang.
Saatnya menghadapi tantangan berikutnya.
Membangunkan anak-anak.
Dan itu jauh lebih menegangkan daripada memasak.
Gladis memutuskan memulai dari yang paling kecil.
Kamar Rian.
Pintu diketuk perlahan.
Tak ada jawaban.
Ia masuk pelan.
Bocah itu masih tertidur pulas.
Rambutnya sedikit berantakan.
Boneka dinosaurusnya masih dipeluk erat.
Lucu sekali.
Gladis mendekat.
Lalu berjongkok di samping ranjang.
"Rian..."
Tak ada respons.
"Rian sayang..."
Bocah itu mengerutkan hidung.
Namun masih tidur.
Gladis tersenyum geli.
Ternyata sulit juga membangunkan anak kecil.
"Rian..."
"Kita sekolah."
Mata kecil itu perlahan terbuka.
Beberapa detik ia tampak bingung.
Kemudian melihat Gladis.
Seketika wajahnya berubah.
"Kakak..."
Gladis berkedip.
"Kakak?"
Rian mengangguk.
"Mama bukan?"
DEG.
Pertanyaan polos itu membuat Gladis terdiam.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Karena jika menjawab iya.
Itu tidak benar.
Jika menjawab tidak.
Anak ini bisa sedih.
Akhirnya Gladis tersenyum lembut.
"Aku Gladis."
Rian masih memperhatikannya.
Lalu tiba-tiba bertanya,
"Kamu tinggal di sini?"
"Iya."
Bocah itu terlihat berpikir keras.
Kemudian berkata,
"Papa suruh?"
Gladis hampir tertawa.
Cara berpikirnya benar-benar sederhana.
"Iya."
Rian mengangguk.
Seolah itu jawaban yang cukup.
Namun beberapa detik kemudian.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka.
Dan suara tajam terdengar.
"Jangan dekat-dekat adikku."
Gladis menoleh.
Raka berdiri di sana.
Dengan wajah dingin yang sangat mirip Arsen.
Tatapannya penuh kewaspadaan.
Di belakangnya berdiri Raina.
Sama tidak ramahnya.
Mereka berdua memandang Gladis seolah ia adalah ancaman.
Dan Gladis langsung tahu.
Pagi pertamanya di rumah ini tidak akan berjalan mudah.