Aura Luminar bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Bangkit dari kematian akibat pengkhianatan tunangan nya dan selingkuhannya, dia datang dengan jiwa yang baru, membawa dendam untuk menghancurkan orang-orang yang sudah membunuhnya.
Kaisar Zane Caliber, dingin, dominan, dan tidak tersentuh. Pria kejam yang tidak pernah memberi ampun pada musuhnya, gila kerja, dan tidak pernah tertarik dengan wanita mana pun, membuat takhta Permaisuri kosong tanpa pendamping.
Sebuah permainan berbahaya dimulai saat Aura sengaja memancing perhatian sang Kaisar, untuk belas dendam dengan mantan tunangan nya, sang Pangeran yang telah mencampakkan nya.
Akankah Zane tetap berdiri kokoh sebagai penguasa yang tak tersentuh, atau justru terjerat dalam pesona dan perangkap yang diciptakan Aura?
_____________
"Lahirkan keturunan untuk ku, akan kuberikan kekuasaan di bawah kaki mu."~ Kaisar Zane Caliber
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERUBAHAN AURA LUMINAR
"N-Nona Muda... maafkan saya! Ini semua salah saya karena membiarkan Nona pergi sendirian!" ucap Sora langsung berlutut di depan kaki Aura, menangis sesenggukan sembari memegang gaun basah majikannya.
Aura melirik pelayan pribadinya itu dengan tatapan tenang, lalu memegang pundak Sora untuk menyuruhnya berdiri.
"Berdirilah, Sora. Ini bukan salahmu," ucap Aura datar.
Duke Daren menatap putrinya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Ada yang aneh dari cara bicaranya, Aura yang dia kenal biasanya akan menangis atau menjerit panik jika berada di situasi seperti ini, tapi gadis di depannya sekarang terlihat begitu tenang.
"Jawab Ayah, Aura. Apa yang dilakukan Pangeran Luis padamu sampai kamu pulang dalam keadaan seperti ini?!" tanya Duke Daren lagi, dengan nada menekan, rahangnya mengeras menahan amarah.
Aura menatap lurus ke dalam mata ayahnya. Tatapan matanya yang tajam dan tak gentar membuat Duke Daren sempat tertegun beberapa saat.
"Luis mendorongku ke danau," jawab Aura santai.
"APA?!"
Pekik Duchess Clara sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan, hampir saja pingsan kalau tidak ditahan oleh Sora.
"Pria bajingan itu... berani-beraninya dia!" teriak Duke Daren murka.
"Prajurit! Siapkan kuda sekarang juga! Aku sendiri yang akan memenggal kepala Pangeran bajingan itu malam ini!" teriak Duke Daren, pada para pengawal.
"Tunggu, Ayah," ucap Aura tegas, memotong langkah sang Duke.
"Aura! Pria itu hampir membunuhmu! Apa kamu masih mau membelanya hah?!" tanya Duke Daren, geram.
Aura menyunggingkan senyum tipis yang amat dingin, membuat orang-orang di ruangan itu merinding.
"Membelanya? Tentu saja tidak," jawab Aura pelan namun penuh penekanan.
"Tapi memenggal kepalanya malam ini hanya akan membuat keluarga kita disalahkan atas tuduhan pemberontakan," lanjut Aura, menatap Ayah nya.
Duke Daren menyipitkan matanya, kaget mendengar ucapan yang keluar dari mulut putri tunggalnya yang biasanya cuma tahu soal gaun dan pesta.
"Lalu kamu mau Ayah diam saja setelah dia mencoba membunuhmu?!" tanya Duke Daren tidak sabar.
"Sabar, Ayah. Permainan ini baru saja dimulai," jawab Aura sembari melangkah maju dengan tenang, mengabaikan gaunnya yang terus meneteskan air ke lantai.
"Bagi Luis dan selingkuhannya, aku sudah mati malam ini, biarkan mereka berpesta di atas kabar kematianku untuk sementara waktu," ucap Aura, tersenyum miring.
"Maksudmu bagaimana, Sayang? Selingkuhan? Siapa selingkuhan Pangeran Luis?" tanya Duchess Clara menatap putrinya bingung.
"Siapa lagi kalau bukan Lady Elisabeth Velis," jawab Aura tenang.
"Wanita bermuka dua itu?!" ucap Sora emosi, lupa akan tata kramanya karena terlalu kesal.
"Pantas saja selama ini dia selalu mendekati Nona Aura dengan pura-pura baik!" lanjut Sora, kesal.
"Benar," sela Aura singkat.
"Tiga hari lagi adalah perayaan ulang tahun Kaisar Zane, di saat itulah aku akan muncul dan membongkar semuanya di depan seluruh bangsawan kekaisaran, sekaligus untuk membatalkan perjodohan ini," ucap Aura, menatap Ayah dan Ibunya bergantian
Duke Daren tercengang, dia memandangi putrinya dari atas ke bawah, merasa seolah gadis di depannya ini bukanlah Aura yang sama yang selama ini dia rawat.
"Kamu... benar-benar ingin melakukan itu, Aura? Kamu tidak takut bertindak sejauh itu? Dan apa kata mu tadi, kamu ingin membatalkan perjodohan mu dengan Pangeran Luis?" tanya Duke Daren ingin memastikan.
"Kenapa harus takut?" ulang Aura menaikkan satu alisnya, tersenyum miring.
"Mereka yang seharusnya takut, karena ini akan menjadi awal dari kehancuran mereka," ucap Aura tersenyum miring.
"Dan ya untuk perjodohan bodoh ini, aku akan membatalkan nya," lanjut Aura, dengan dendam yang berkobar di depan hati nya.
Duchess Clara yang masih cemas memegang tangan dingin putrinya.
"Tapi Aura, kesehatanmu-"
"Aku tidak apa-apa ibu, aku hanya butuh mandi air hangat dan istirahat," potong Aura lembut.
"Sora, siapkan air hangat di kamarku sekarang," perintah Aura, pada pelayan pribadi nya.
"B-baik, Nona Muda! Segera saya siapkan!" jawab Sora sigap dan langsung berlari cepat.
Aura berbalik menatap Duke Daren yang masih berdiri terpaku menatapnya.
"Ayah, sembunyikan keberadaan ku selama tiga hari ke depan, jangan biarkan ada satu orang pun di luar kediaman ini tahu kalau aku masih hidup," ucap Aura, tegas.
Duke Daren mengangguk pelan, menyunggingkan senyum tipis karena bangga melihat keberanian baru putrinya.
"Baik, Ayah akan pastikan tidak akan ada yang bisa membocorkan keberadaan mu," jawab Duke Daren, menepuk lembut pucuk kepala putri nya.
"Bagus," bisik Aura puas.
Aura melangkah pergi menuju kamarnya, menyunggingkan senyum dingin nya.
Setibanya di dalam kamar, Sora, pelayan setia nya itu, lansung sibuk menyiapkan air hangat dan juga pakaian tidur Aura.
"Nona, air hangatnya sudah siap, mari saya bantu melepaskan gaun Anda," ucap Sora cemas, menyentuh lengan Aura.
"Terima kasih, Sora, tapi biarkan aku sendiri di sini. Kamu boleh keluar," jawab Aura pelan, melepas jepitan rambutnya.
"Nona serius tidak mau dibantu? Biasanya Nona selalu minta saya menemani," ucap Sora menatap majikannya heran.
"Aku cuma ingin tenang sebentar, Sora," ucap Aura, menatap lurus ke mata pelayannya.
"Tolong jaga di depan pintu dan pastikan tidak ada pelayan lain yang masuk," lanjut Aura tegas.
"Baik, Nona. Saya akan jaga pintu di luar," jawab Sora menundukkan kepala dan mengangguk pelan.
Begitu pintu kamar tertutup rapat, Aura segera menanggalkan gaun mewahnya yang terasa berat dan dingin, lalu dia melangkah masuk ke dalam kamar mandi, untuk berendam, membiarkan air hangat meresap ke seluruh pori-pori kulitnya yang hampir membeku.
"Ah... lega sekali," gumam Aura sembari menyandarkan kepalanya di tepi bak mandi.
Sambil memejamkan mata, ingatan milik Aura yang asli dan pengetahuan Ester sebagai pengacara mulai beradu di kepalanya, dia harus menyusun rencana yang benar-benar rapi.
"Kalau cuma mengandalkan amarah Duke Daren, Luis paling hanya kena teguran dari Kaisar," batin Aura, menyunggingkan senyum miring.
"Tapi kalau aku memainkan kartu hukum dan posisi politik, aku bisa meruntuhkan posisinya sebagai Pangeran Mahkota," lanjut Aura, dengan rencana licik yang sudah tersusun rapi di otak kecil nya.
Setelah cukup berendam nya, Aura membilas tubuhnya dengan cepat, dan keluar dari dalam kamar mandi, tidak ingin membuang-buang waktu.
Setelah selesai, dia mengeringkan badan dan memakai gaun tidur sutra berwarna krem yang longgar dan nyaman.
Dia berjalan menuju meja kerjanya yang dipenuhi oleh tumpukan surat dan buku-buku catatan milik Aura yang asli, tangan lentiknya memilah-milah kertas tersebut hingga menemukan sebuah dokumen dengan stempel kerajaan.
"Surat perjanjian pertunangan," gumam Aura sembari membaca lembaran itu secara teliti.
Bibirnya tersenyum puas saat menemukan satu poin penting di dalam dokumen itu.
effort nya ga main-main loo
🥰🥰🥰
good luck kaisar💪
Coba ajak makan, klo jawabannya terserah, brati tambah runyam urusan menahklukan hatinya 😛