NovelToon NovelToon
Dibuang Ke Danau, Aku Bangkit Dengan Sistem Memancing

Dibuang Ke Danau, Aku Bangkit Dengan Sistem Memancing

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Balas Dendam
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Amir adalah seorang pemuda yatim piatu yang selama bertahun-tahun hidup menderita sebagai menantu yang sama sekali tidak dianggap oleh keluarga istrinya, meskipun ia sudah bekerja keras banting tulang dari pagi hingga larut malam setiap harinya. Kesabarannya diuji hingga batas maksimal ketika ibu mertua dan adik iparnya dengan kejam menendangnya ke dalam danau saat ia sedang memancing, hanya demi memaksanya menceraikan istrinya yang hendak dijodohkan dengan pria kaya. Namun, di saat Amir tenggelam dan hampir kehilangan nyawanya, ia justru membangkitkan [Sistem Check-in Memancing] yang akan mengubah jalan hidupnya yang menyedihkan menjadi seorang legenda yang bergelimang harta dan kekuatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Uhuk! Uhuk!

Suara batuk keras memecah keheningan di dalam kabin yacht SeaFalcon yang hangat.

Pak Surya Adiningrat perlahan membuka matanya yang terasa sangat berat dan perih.

Pandangannya masih kabur, namun ia bisa merasakan hawa hangat dari pemanas ruangan yang menghangatkan tubuhnya yang sempat membeku.

Ia mencoba bangkit dan duduk bersandar di sofa kabin sambil memegangi kepalanya yang pusing.

"Anda sudah sadar Paman, minumlah teh hangat ini perlahan-lahan agar perut Anda tidak kram."

Sebuah suara berat dan tenang terdengar dari arah kursi kemudi.

Pak Surya menoleh dan melihat sesosok pemuda bertubuh tegap sedang berdiri menyodorkan secangkir teh panas padanya.

Pemuda itu memakai kemeja kargo biru yang rapi dan memancarkan aura wibawa yang luar biasa kuat.

Meskipun pemuda itu berpakaian santai, entah mengapa Pak Surya merasa sedang berhadapan dengan seorang pemimpin besar.

"Te... terima kasih anak muda, di mana aku sekarang?"

Pak Surya menerima cangkir teh itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar dan meminumnya teguk demi teguk.

"Anda berada di yacht sewaanku, kita sedang dalam perjalanan kembali ke Pelabuhan Tanjung Karang."

"Kapal pesiar Anda hancur dihantam badai Zona Merah, dan kebetulan aku sedang memancing di dekat sana."

Amir menjelaskan dengan nada datar seolah menyelamatkan nyawa orang di tengah badai adalah hal yang biasa ia lakukan setiap hari.

Mata Pak Surya terbelalak lebar mengingat kembali kejadian mengerikan beberapa jam yang lalu.

Kapal pesiar pribadinya tiba-tiba mengalami kerusakan mesin di tengah badai dan lambungnya pecah dihantam ombak raksasa.

Semua pengawalnya tersapu ombak, dan ia hanya pasrah mengapung menunggu ajal menjemputnya di laut lepas.

"Kau menyelamatkanku sendirian di tengah badai gila itu?"

"Bagaimana kau bisa menarikku dari gulungan ombak setinggi tiga meter itu anak muda?"

Pak Surya bertanya dengan nada tidak percaya karena tidak melihat peralatan penyelamat apa pun selain sebuah joran pancing.

Amir tersenyum tipis dan menunjuk joran Poseidon Pro miliknya yang bersandar di sudut kabin.

"Aku memancing Anda menggunakan joran karbon itu dari atas geladak."

"Untung saja kailku menancap kuat di jaket pelampung Anda sehingga aku bisa menarik Anda naik."

Mendengar penjelasan gila itu, rahang Pak Surya seolah mau lepas dan jatuh ke lantai kabin.

Ia adalah seorang konglomerat besar yang telah melihat banyak hal aneh di dunia ini.

Tapi dipancing layaknya seekor ikan dari tengah badai lautan adalah hal paling tidak masuk akal yang pernah ia dengar.

"Luar biasa, sungguh luar biasa, kau bukanlah pemuda sembarangan."

"Perkenalkan, namaku Surya Adiningrat, aku adalah pemilik Adiningrat Group."

Pak Surya mengulurkan tangannya dengan tatapan penuh rasa hormat yang sangat jarang ia berikan pada orang asing.

Amir membalas jabat tangan itu dengan genggaman yang mantap dan bertenaga.

"Namaku Amir, hanya seorang pemancing biasa yang kebetulan sedang mencari udara segar."

Amir menjawab merendah, namun aura Intimidasi dari Keris Naga Darah di inventarisnya membuat kata-kata itu terdengar penuh misteri.

Pak Surya bisa merasakan energi yang menekan namun melindungi dari tatapan mata Amir.

Sebagai seorang pebisnis kelas kakap, instingnya mengatakan bahwa pemuda bernama Amir ini adalah naga yang sedang menyembunyikan taringnya.

"Amir, kau telah menyelamatkan nyawaku, nyawa seorang Surya Adiningrat harganya tidak terhingga."

"Katakan padaku apa yang kau inginkan, uang puluhan miliar, mobil mewah, atau rumah bak istana?"

"Aku akan mengabulkan semuanya detik ini juga sebagai bentuk balas budi mutlak dariku."

Pak Surya merogoh saku celananya yang basah dan mengeluarkan sebuah buku cek kecil yang dilapisi plastik kedap air.

Amir hanya menatap buku cek itu sekilas lalu tertawa pelan.

"Simpan saja uang Anda Pak Surya, aku menyelamatkan Anda murni karena tarikan kail pancingku."

"Lagi pula, aku sudah punya rumah dan mobilku sendiri, uang bukanlah masalah bagiku saat ini."

Amir dengan halus menolak tawaran fantastis dari orang paling kaya di kota itu.

Penolakan Amir justru membuat Pak Surya semakin kagum dan segan padanya.

Jika pemuda biasa pasti akan langsung meminta uang miliaran dan sujud syukur di depannya.

Tapi Amir menolaknya seolah uang miliaran rupiah hanyalah sekeping uang koin yang jatuh di jalanan.

"Kau benar-benar pemuda yang berprinsip dan memiliki harga diri tinggi Amir."

"Jika kau tidak mau menerima uang, maka terimalah benda ini sebagai tanda persahabatan seumur hidup dariku."

Pak Surya mengambil sebuah kartu berwarna emas murni yang berukir logo naga dari dalam dompetnya.

"Ini adalah Kartu Akses VVIP Adiningrat, jumlahnya hanya ada lima di seluruh negara ini."

"Dengan kartu ini, kau bisa masuk ke semua fasilitas mewah milikku gratis dan semua anak buahku akan tunduk padamu."

"Malam ini aku akan mengadakan pesta lelang amal tertutup di Hotel Nusantara untuk merayakan keselamatanku."

"Aku sangat berharap kau datang sebagai tamu kehormatan utamaku malam ini Amir."

Pak Surya menyodorkan kartu emas itu dengan kedua tangannya sebagai tanda penghormatan tertinggi.

Amir tersenyum dan kali ini ia menerima kartu emas tersebut lalu memasukkannya ke dalam saku kemejanya.

Koneksi tingkat tinggi yang dijanjikan oleh sistem akhirnya benar-benar ada di tangannya sekarang.

"Baiklah Pak Surya, aku akan datang ke pesta Anda malam ini untuk melihat-lihat."

"Sekarang duduklah dengan tenang, kita sudah hampir sampai di dermaga pelabuhan."

Amir memutar kemudi yacht-nya dan mengurangi kecepatan saat lampu-lampu pelabuhan Tanjung Karang mulai terlihat.

Di dermaga, puluhan mobil SUV hitam dan puluhan pria berjas hitam sedang berdiri dengan wajah panik.

Mereka adalah pasukan keamanan pribadi keluarga Adiningrat yang sedang mencari bos besar mereka yang hilang kontak.

Saat yacht Amir bersandar, Pak Surya berjalan keluar dari kabin didampingi oleh Amir.

Melihat bos mereka masih hidup, puluhan pria berjas hitam itu langsung berlari menghampiri dan membungkuk serentak.

"Syukurlah Tuan Besar selamat, kami sudah menyiapkan helikopter medis untuk Anda!"

Kepala pengawal Pak Surya melapor dengan suara gemetar menahan tangis kelegaan.

"Aku baik-baik saja, semua ini berkat pemuda hebat bernama Amir di sebelahku ini."

"Mulai sekarang, dia adalah tamu agung keluarga Adiningrat, perlakukan dia sama seperti kalian memperlakukanku!"

Pak Surya mengumumkan perintah mutlaknya di depan semua anak buahnya.

Puluhan pengawal berwajah sangar itu serentak menoleh pada Amir dan membungkuk sembilan puluh derajat tanpa ragu.

"Hormat kami Tuan Amir, terima kasih telah menyelamatkan Tuan Besar kami!"

Suara gemuruh dari puluhan pria itu menggema di seluruh area pelabuhan membuat orang-orang di sekitar menatap takjub.

Amir hanya mengangguk pelan menerima penghormatan itu dengan gaya seorang raja.

Setelah mengantar Pak Surya masuk ke dalam mobil mewahnya, Amir berjalan menuju tempat parkir mobil G-Class miliknya.

Ia menyalakan mesinnya dan melaju meninggalkan pelabuhan untuk bersiap menghadiri pesta malam ini.

Sementara itu, pemandangan yang sangat kontras dan menyedihkan terjadi di sisi lain kota yang kumuh.

Langit sore sedang turun hujan rintik-rintik menambah kesan suram di sebuah jalanan berlumpur.

1
💫Penjelajah Novel💫
Thor. kolo bisa jangan 1× mancing 1× dapet langsung balik. kolo bisa banyakin mancingnya
kiyoe: terimakasih atas masukan nya kak
total 1 replies
Author Melda
Gilaak bab 1 nya langsung nyesek kak 😭 Amir yatim piatu jadi menantu gak dianggap, eh dibuang ke danau pula. Tapi pas bangkit sama sistem mancingnya itu keren banget plot twistnya! Semangat terus kak kiyoe, mancing mania mantap! 🎣
kiyoe: heheh terimakasih kak author Selpi atas dukungan nya
total 1 replies
Wega Luna
mir ,mancing ditempat ku ada danau ajaibnya,danau pasir putih yg keluar dari tanah seperti lumpur Lapindo,, dikelilingi bukit ular dan perumahan Citraland Surabaya, pemandangan keren,
kiyoe: wuih keren
total 3 replies
Wega Luna
banyakin saldo mancing nya terus ditukar dengan uang beli Bugatti ,,,direalita Buggati lebih mahal dari Lamborghini🤣🤣🤣🤣kalo perlu beli Ferrari yg konon belinya ribet banget tapi berkelas karena belum tentu setiap pengusaha bisa beli Ferrari,,,🤭🤭🤭🤭
Wega Luna
💪💪💪 semangat para mancing mania,🏃🏃🏃tau GK Thor aku baca novel mu ini sambil mancing di kolam pemancingan😄
kiyoe: nanti kalau udah Mateng kabarin othor yak kak 🤣🤣
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!