NovelToon NovelToon
Sistem Mata Dewa Raja Fengshui

Sistem Mata Dewa Raja Fengshui

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Di mata teman-temannya yang sombong, Saka hanyalah "si beban" yang lamban, miskin, dan tak punya masa depan, sering kali menjadi bahan rongsokan ejekan dan perundungan. Namun, di balik senyum polos dan sikapnya yang kelihatannya bodoh itu, Saka menyembunyikan rahasia besar: dia adalah pewaris tunggal kemampuan mistis Raja Fengshui yang mampu melihat aliran Qi, pendar aura barang antik tak ternilai, hingga nasib malang-mujur seseorang hanya dalam sekali tatap. Sambil membiarkan musuh-musuhnya tertawa di atas ketidaktahuan mereka, Saka diam-diam meraup keberuntungan dari barang-barang pusaka yang dianggap remeh, menunggu momen paling tepat di sebuah pelelangan elit untuk membongkar kedoknya, menghancurkan harga diri mereka, dan memaksa dunia berlutut di hadapan sang Raja Fengshui yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Rio ikut menoleh dan rasa malunya semakin berlipat ganda melihat kacung miskinnya itu menyaksikan kehancurannya. "Lo berani ngetawain gue Ka, lo pikir lo siapa berani berdiri di lobi mewah ini." Teriak Rio mencoba mempertahankan sisa harga dirinya yang sudah hancur.

Saka melangkah maju mendekati mereka berdua dengan langkah tenang tanpa rasa takut sedikitpun. "Tentu saja saya tertawa Bos Rio, karena pertunjukan badut kalian malam ini benar-benar sangat berkelas." Jawab Saka dengan nada sarkas.

"Jaga mulut lo gembel, gue masih bos lo dan gue bisa bikin lo menderita besok pagi." Ancam Rio dengan mata merah menahan amarah yang meledak-ledak.

Saka mendecak lidah pelan lalu menepuk debu imajiner di kemeja kusamnya dengan gaya arogan. "Bos yang mana nih, bos yang cuma bisa beli guci semen palsu seharga lima puluh ribu itu ya." Ejek Saka membalas telak.

Wajah Rio langsung pucat pasi teringat kembali pada penghinaan luar biasa di atas panggung lelang tadi. "Dari mana lo tahu soal guci itu Ka, lo pasti nguping dari luar pintu kan." Tuduh Rio dengan suara bergetar.

"Itu tidak penting Rio, yang penting sekarang adalah bersenang-senanglah di penjara malam ini kawan." Bisik Saka tepat di depan wajah Rio dengan senyum yang sangat mengerikan.

Saka tidak menunggu balasan Rio dan langsung berbalik berjalan keluar dari pintu lobi hotel tersebut. Dia meninggalkan Rio yang kini menjerit frustrasi saat kedua tangannya mulai ditarik paksa oleh petugas keamanan menuju ruang interogasi.

Sementara itu di pelataran parkir VIP sebuah mobil limusin hitam baru saja menyalakan mesinnya. Di dalam kursi penumpang belakang Anya duduk bersandar sambil terus memandangi Piring Kayu Gaharu Berdarah di pangkuannya.

Aroma wangi dari kayu kuno itu terus menerus membersihkan hawa dingin dari kutukan yang menggerogoti tubuhnya. Wajah pucat gadis itu kini perlahan mulai kembali merona merah menunjukkan tanda-tanda vitalitas yang sehat.

"Nona Anya, apakah Anda merasa lebih baik sekarang." Tanya seorang pria berjas rapi yang duduk di kursi depan mengawalnya.

"Jauh lebih baik Paman Surya, energi dari piring ini benar-benar luar biasa murni menekan penyakitku." Jawab Anya sambil mengelus permukaan piring kayu tersebut.

Paman Surya yang merupakan pengawal sekaligus tangan kanan keluarga Adijaya menghela napas lega mendengarnya. "Syukurlah Nona, uang lima miliar itu terasa sangat murah jika bisa menyelamatkan nyawa Anda."

Anya terdiam sejenak dan menatap ke luar jendela mobil melihat kerlap-kerlip lampu jalanan kota. Namun ada satu hal yang terus mengganggu pikiran gadis cerdas itu sejak acara lelang tadi selesai.

"Paman Surya, tolong kerahkan orang-orang kita untuk mencari tahu siapa pemilik asli piring ini." Perintah Anya dengan suara yang tiba-tiba berubah sangat serius.

"Maksud Nona mencari orang yang menitipkan barang ini ke balai lelang tadi." Tanya Paman Surya memastikan instruksi dari majikan mudanya itu.

Anya mengangguk pelan sambil terus memeluk piring pusaka itu ke dadanya dengan erat. "Iya, barang pusaka dengan energi semurni ini tidak mungkin ditemukan secara kebetulan oleh orang biasa."

"Aku yakin orang di balik piring ini adalah seorang Master Fengshui tingkat tinggi yang sedang menyembunyikan identitasnya." Analisis Anya dengan sangat tajam dan akurat.

"Energi piring ini mungkin hanya bisa menahan kutukanku sementara waktu, tapi Master Fengshui itu pasti tahu cara menyembuhkannya secara total." Lanjut Anya dengan mata berbinar penuh harapan baru.

Paman Surya langsung menundukkan kepalanya mengerti akan tugas penting yang baru saja diberikan kepadanya. "Baik Nona, saya akan segera meminta orang dalam kita di balai lelang untuk membocorkan data pemiliknya malam ini juga."

Mobil limusin mewah itu kemudian melaju perlahan meninggalkan area hotel membelah dinginnya malam kota. Anya tidak tahu bahwa Master Fengshui hebat yang sedang dia cari itu adalah pemuda berpakaian lusuh yang sempat direndahkan olehnya di pintu masuk tadi.

Di tempat lain Saka baru saja turun dari taksi di depan gerbang Rumah Sakit Harapan. Dia sengaja tidak naik bus lagi karena ingin segera melihat ibunya yang sedang terbaring koma.

Saka berlari kecil menyusuri koridor rumah sakit yang bau obatnya selalu membuat perutnya tidak nyaman. Dia langsung menuju ke ruang rawat inap kelas tiga yang berada di sudut bangunan tua tersebut.

Sesampainya di depan pintu kamar bangsal yang berisi enam pasien itu Saka langsung dihadang oleh seorang perawat kepala berwajah judes. Suster itu menatap Saka dengan pandangan merendahkan sambil memegang sebuah papan catatan medis.

"Baguslah kamu datang Saka, kami baru saja mau memindahkan ibumu ke lorong luar malam ini." Ucap suster judes itu tanpa basa-basi sedikitpun.

Saka mengerutkan dahinya tidak suka mendengar ucapan suster tersebut yang terdengar sangat tidak manusiawi. "Maksud Suster apa mau memindahkan ibu saya ke lorong, ibu saya kan sedang koma butuh alat bantu napas." Protes Saka dengan tegas.

"Kamu ini pura-pura bodoh atau gimana sih, tunggakan obat ibumu hari ini sudah mencapai tiga juta dan kamu belum bayar." Bentak suster itu sambil memukul pelan papan catatannya.

"Rumah sakit ini bukan yayasan amal, kalau tidak sanggup bayar ya silakan bawa pulang saja ibumu itu biar mati di rumah." Lanjut suster itu mengucapkan kalimat yang sangat kejam tanpa perasaan.

Tangan Saka refleks mengepal kuat mendengar ibunya dihina seperti itu di depan matanya sendiri. Namun dia menarik napas panjang mencoba mengontrol emosinya agar tidak membuat keributan di area rumah sakit.

"Siapa bilang saya tidak sanggup bayar Suster." Jawab Saka dengan nada suara yang tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin dan menusuk.

Saka merogoh sakunya dan mengeluarkan buku tabungan beserta kartu ATM barunya yang baru saja diaktifkan. Dia melemparkan kartu ATM itu tepat ke arah dada suster judes tersebut hingga suster itu kelabakan menangkapnya.

"Bawa kartu itu ke kasir sekarang juga dan lunasi semua tunggakan ibu saya sampai lunas tanpa sisa." Perintah Saka dengan aura wibawa yang sangat mengintimidasi.

"Halah gaya kamu saja yang selangit, palingan isinya cuma sisa lima puluh ribu perak." Cibir suster itu masih tidak percaya dengan kelakuan pemuda miskin di depannya ini.

Suster itu kemudian mengambil mesin EDC portabel dari saku seragamnya untuk mengecek saldo kartu tersebut secara langsung. Dia berniat mempermalukan Saka di depan pasien lain setelah melihat saldo kosong di dalam kartu itu.

Trit trit trit.

Suster itu menggesek kartu ATM Saka dengan kasar dan memasukkan kode akses rumah sakit.

Begitu layar kecil di mesin EDC itu menampilkan deretan angka saldo yang ada di dalam kartu mata suster itu langsung terbelalak lebar. Mulutnya terbuka menganga lebar seolah melihat hantu paling menyeramkan di malam hari.

"Em... empat miliar tujuh ratus juta rupiah." Gumam suster itu dengan suara gemetar hebat nyaris menjatuhkan mesin EDC di tangannya.

Suster itu menelan ludah paksa dan menatap Saka dengan pandangan yang kini dipenuhi oleh ketakutan dan rasa hormat yang luar biasa. Dia baru sadar bahwa pemuda berpenampilan gembel di depannya ini adalah seorang miliarder yang sedang menyamar.

"Ma... maafkan ketidaksopanan saya barusan Tuan Saka, saya benar-benar tidak tahu Anda punya uang sebanyak ini." Ucap suster itu langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Simpan permintaan maafmu itu, aku mau ibu saya dipindahkan ke kamar VVIP paling mahal di rumah sakit ini malam ini juga." Perintah Saka tanpa mempedulikan wajah pucat suster tersebut.

"Ba... baik Tuan, saya akan segera menyiapkan kamar VVIP Presiden Suite di lantai atas sekarang juga." Jawab suster itu berlari tergesa-gesa menyiapkan segala keperluannya.

Saka hanya tersenyum tipis melihat perubahan sikap drastis dari orang-orang saat melihat kekuatan uang. Dia masuk ke dalam ruang bangsal dan berjalan mendekati ranjang ibunya yang terlihat sangat menyedihkan.

Saka menggenggam tangan ibunya yang dingin dan mengecupnya pelan dengan penuh kasih sayang. "Ibu, penderitaan kita sudah berakhir malam ini, Saka janji mulai besok ibu akan dirawat seperti seorang ratu." Bisik Saka dengan air mata bahagia yang akhirnya menetes membasahi pipinya.

1
pricilia
sangat seru alur certanya
Angel
cerita nya tidak membosan kan😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!