Di dunia Murim yang dikuasai oleh sekte-sekte besar dan tipu daya, Mu Jin hanyalah seorang tukang kayu dari desa terpencil. Hidupnya berubah total ketika desanya dibantai dalam satu malam oleh pasukan yang tak dikenal.
Tanpa tenaga dalam dan tanpa latar belakang beladiri, Mu Jin memulai perjalanan panjang ke utara. Di tengah perjalanan, dia berhadapan dengan kenyataan kejam dunia Murim: orang kuat menindas yang lemah, keadilan hanyalah topeng, dan dendam adalah satu-satunya hal yang membuatnya terus melangkah.
Sementara itu, di Puncak Awan Putih, Lu Chen, sosok yang dipuja sebagai pelindung keadilan, menggerakkan pengaruhnya di balik layar. Di utara, pemberontakan perlahan menguat di bawah pimpinan Lin Yu, anak haram yang ditolak oleh dunianya sendiri.
Di antara salju, darah, dan konspirasi, seorang tukang kayu biasa terus berjalan. Tanpa mengetahui apakah dia akan menjadi pahlawan, monster, atau hanya satu lagi mayat di jalanan Murim.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 07 KEBENARAN
Asap tipis menari-nari menembus kegelapan malam. Mu Jin membuka matanya perlahan, merasakan bau minyak kayu traksan yang menyengat dan hawa hangat yang membakar kulit mukanya.
Dia terbaring di atas tumpukan daun kering di dalam sebuah gua dangkal. Bahunya yang tertusuk serta dadanya yang memar telah diikat erat menggunakan sobekan kain gaun biru. Di dekat kakinya, sebuah api unggun kecil gemeretak memakan dahan-dahan kayu basah.
Mu Jin mencoba duduk, namun rasa sakit yang menusuk di ulu hatinya memaksa pria itu menggeram pelan.
“Jangan banyak bergerak jika kau tidak ingin ikatan lukamu lepas,” suara wanita itu terdengar dingin dari balik nyala api.
Pendekar wanita itu duduk bersila di sisi lain perapian. Pedang ganda tipisnya tergeletak di atas pangkuan, sementara matanya yang sembab menatap kosong ke arah lidah api. Tidak ada lagi sisa-sisa kegeraman membara seperti saat mereka bertarung di pinggir tebing tadi pagi. Yang tersisa hanyalah bayangan kelelahan yang teramat sangat.
“Kau tidak membunuhku,” kata Mu Jin serak. Tenggorokannya terasa kaku.
“Aku memeriksa pergelangan tanganmu saat kau pingsan,” balas wanita itu tanpa mendongak. “Kapalan di jemarimu... itu bukan kapalan seorang pembunuh bertopeng. Dan pedangmu, kau bahkan tidak tahu cara menyalurkan qi dasar ke bilahnya. Jika kau anggota Sekte Bulan Merah atau pengawal topeng tembaga, aku sudah memotong lehermu sejak tadi.”
Mu Jin melirik ke sudut gua. Pedang besi hitamnya tergeletak di sana, bersandar kaku pada dinding batu.
Wanita itu mengambil ranting kayu, melemparkannya ke dalam api hingga memercikkan bunga-bunga api kecil. “Namaku Lu Xian. Aku... salah satu murid luar dari Sekte Burung Hong.”
Suara wanita bernama Lu Xian itu bergetar saat menyebut nama sektenya. Dia menarik napas panjang, menahan cairan bening yang berkumpul di sudut matanya.
“Dua hari yang lalu, Puncak Awan Putih mengirim utusan. Mereka menuntut seluruh tambang perak milik sekte kami diserahkan demi persiapan perang melawan utara,” bisik Lu Xian. Tangannya meremas gagang pedangnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. “Tetua kami menolak secara halus, meminta tenggat waktu... Tapi malamnya, mereka datang.”
Mu Jin menatap wanita itu kaku. Dia tahu cerita ini. Dia pernah melihat akhir dari cerita seperti ini tiga tahun lalu.
“Orang-orang bertopeng tembaga,” lanjut Lu Xian, suaranya kini melengking pelan menahan keputusasaan. “Mereka membantai semua orang. Guru, sesama murid, bahkan para pelayan dapur yang tidak bisa bertarung... Mereka membakar aula utama dan meratakan pemukiman di kaki gunung. Aku selamat hanya karena ditugaskan menjaga gudang penyimpanan di bawah tanah.”
Lu Xian meludah ke tanah, matanya memancarkan rasa benci yang pekat. “Aku melarikan diri menembus perbatasan timur, berharap bisa bersembunyi di rawa-rawa. Dan saat aku melihatmu—membawa pedang baja tebal tanpa ukiran dan jubah kusam—aku berpikir mereka mengutus pemburu untuk menghabisi sisa-sisa sekte kami.”
Keheningan melingkupi gua batu itu, hanya diisi oleh suara kayu terbakar dan deru angin malam di luar.
Mu Jin menyandarkan punggungnya ke dinding gua yang dingin. Rasa pahit yang meluap dari cerita Lu Xian terasa begitu akrab di dadanya. Pembantaian, topeng tembaga, dan alasan keadilan yang dipakai untuk membenarkan pemusnahan nyawa.
“Pendekar Pedang Suci Lu Chen,” kata Mu Jin pelan.
Lu Xian mendongak kaget, menatap Mu Jin dengan alis berkerut. “Bagaimana kau...?”
“Dialah yang berada di balik topeng-topeng itu,” potong Mu Jin datar.
“Dia dipuja sebagai pelindung Dataran Tengah! Tapi dia hanyalah iblis bertopeng manusia,” sergah Lu Xian dengan bibir gemetar. “Dia menghancurkan sekte kami lalu menuduh kami bersekutu dengan anak haram dari utara, Lin Yu. Seluruh Murim kini percaya bahwa Sekte Burung Hong adalah pengkhianat.”
Lu Xian menatap Mu Jin lebih lekat, memperhatikan sorot mata pria di hadapannya yang sama sekali tidak menunjukkan rasa terkejut. “Kau... kau sudah tahu sejak awal? Siapa kau sebenarnya?”
Mu Jin meraih pedang besi hitamnya, menariknya mendekat ke sisinya.
“Aku hanya seorang tukang kayu dari Lembah Nian,” jawab Mu Jin dingin, menatap lurus ke dalam nyala api unggun. “Dan desaku dibakar oleh orang-orang yang sama tiga tahun lalu.”