Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".
Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.
Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.
*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*
Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 44: Wakil Rektor
Wakil Rektor Darmawan memilih jamuan akhir semester untuk menunjukkan kekuasaannya.
Puluhan dosen, kepala program, dan anggota yayasan berkumpul di aula rektorat. Kirana hadir sebagai perwakilan pementasan Hujan Terakhir bersama Winda. Arya duduk dekat Prof Hartono, sementara Rektor Sudibyo membuka acara.
Darmawan datang terlambat dengan Bu Sinta. Ia menyalami pejabat senior, mengabaikan Kirana, lalu berhenti di depan Arya.
Sebelum kedatangannya, acara berjalan formal. Rektor menyampaikan laporan capaian semester, Prof Hartono menerima penghargaan pengabdian, dan tim teater mendapat apresiasi karena menjual tiket terbanyak selama budaya kampus. Kirana naik bersama Winda untuk menerima piagam.
Ketika kembali ke meja, Prof Hartono berbisik, “Jangan takut pada jabatan yang dipakai terlalu keras. Biasanya isinya rapuh.”
Kirana belum memahami maksudnya sampai Darmawan memasuki aula dengan dua staf membawa map. Ia sengaja memilih meja utama dan meminta mikrofon setelah sambutan selesai, seolah hendak memberi pengumuman resmi.
Di sisi lain ruangan, ketua yayasan menerima pesan dari auditor dan mengangguk kepada Rektor Sudibyo. Arya sudah memastikan setiap bukti berada di tangan lembaga sebelum konfrontasi. Tidak ada ancaman yang bergantung pada kuasa pribadinya.
“Prof Arya,” sapanya. “Atau saya cukup memanggil Saudara karena status Anda hanya pengganti sementara?”
Percakapan di sekitar mereka mereda.
Arya berdiri sopan. “Panggilan apa pun tidak mengubah agenda malam ini.”
“Agenda bisa berubah. Terutama ketika dosen honorer memakai ruang kelas untuk mengejar mahasiswi.”
Kirana meletakkan gelas. Winda menahan lengannya agar tidak langsung maju.
Rektor Sudibyo memperingatkan, “Pak Darmawan, perkara etik sedang diperiksa. Jangan dibahas di forum sosial.”
“Justru nama universitas dipertaruhkan.” Darmawan menunjuk Kirana. “Mahasiswi ini memancing skandal, merekam dosen tanpa etika, lalu berlindung di balik pacarnya.”
Kirana berdiri. “Saya merekam percakapan yang mengancam saya dan menyerahkan bukti melalui jalur resmi. Saya siap diperiksa.”
“Anak muda selalu merasa berani karena punya koneksi.”
“Bukankah Bu Sinta yang memakai koneksi pamannya?”
Beberapa dosen menahan napas. Sinta memucat.
Darmawan melangkah mendekat. “Saya bisa memastikan kalian berdua tidak punya tempat di UN semester depan.”
Arya tetap tenang. “Apakah itu keputusan resmi berdasarkan aturan, atau ancaman pribadi di depan saksi?”
“Saya Wakil Rektor. Saya tahu aturan lebih baik daripada dosen yang masuk karena belas kasihan Prof Hartono.”
Prof Hartono hendak bicara, tetapi Arya memberi isyarat kecil agar menunggu.
“Kalau Bapak ingin membahas kelayakan saya, mari gunakan dokumen,” kata Arya. “Kalau ingin membahas laporan Kirana, jangan mengubah korban intimidasi menjadi terdakwa.”
Darmawan tertawa. “Kamu pikir setelan mahal membuatmu setara dengan pimpinan universitas?”
Rektor Sudibyo menutup mata sesaat. Beberapa anggota yayasan saling bertukar pandang. Mereka mengetahui kebenaran yang belum sampai ke sebagian besar dosen.
“Pak Darmawan,” kata Rektor, “saya sarankan berhenti.”
“Kenapa? Takut donatur kecil yang dibawa Prof Hartono tersinggung?”
Arya membuka map. “Karena pembicaraan ini juga menyangkut penggunaan dana kampus oleh kantor Bapak.”
Darmawan mencoba merebut map, tetapi Arya menariknya kembali. “Dokumen ini salinan. Bapak akan menerima akses melalui penasihat hukum.”
Layar presentasi dinyalakan atas perintah ketua yayasan. Bagan pengadaan memperlihatkan tiga vendor dengan alamat berbeda tetapi rekening tujuan yang terhubung pada kerabat Darmawan. Tagihan seminar Diana dua kali lipat dari standar, sementara daftar peserta mengandung nama fiktif.
Satu surat elektronik dari Sinta meminta staf mempercepat pembayaran karena “Paman sudah setuju”. Surat lain membicarakan posisi tetap sebelum lowongan diumumkan.
“Konteksnya dipotong,” kata Sinta.
Auditor eksternal berdiri dari baris belakang. “Kami menyimpan rangkaian lengkap dan sudah meminta klarifikasi tertulis. Sampai hari ini belum ada jawaban substantif.”
Winda berbisik kepada Kirana, “Mereka mengira Arya datang hanya dengan kartu nama. Ternyata bawa satu ruang audit.”
Kirana tidak tersenyum. Bukti itu menyangkut uang pendidikan yang seharusnya digunakan untuk mahasiswa. Kemenangan ini lebih besar daripada persaingan pribadi.
Ia menyerahkan salinan audit internal. Dokumen memperlihatkan pengadaan acara melalui perusahaan milik kerabat Darmawan, rekomendasi pengangkatan Sinta tanpa seleksi, dan anggaran konsultasi untuk Diana yang tidak memiliki keluaran kerja.
“Anda mencuri dokumen,” tuduh Darmawan.
“Dokumen diberikan pelapor dan diverifikasi auditor independen. Salinan asli sudah ada pada komite yayasan.”
Sinta berbisik bahwa ia ingin pulang. Darmawan menyuruhnya diam.
“Siapa kamu sampai berani mengaudit saya?” tanyanya.
Rektor Sudibyo akhirnya berdiri. “Beliau Arya Danuwangsa, Direktur Utama Danuwangsa Group.”
Ruangan membeku.
Rektor melanjutkan, “DG adalah donatur institusional terbesar UN dan mitra utama pengembangan pusat riset. Prof Arya mengajar atas permintaan Prof Hartono dan persetujuan saya.”
Darmawan menatap Arya seolah baru melihat orang lain. “Tidak mungkin.”
Arya meletakkan kartu identitas korporat di atas dokumen. “Jabatan saya tidak membuat bukti lebih benar. Tapi karena Bapak bertanya siapa saya, itu jawabannya.”
Beberapa dosen segera membuka ponsel. Foto Arya di situs DG muncul. Bisik-bisik memenuhi aula.
Darmawan mencoba mengubah arah. “Kalau begitu, ini penyalahgunaan kuasa donatur. Anda menekan kampus demi pacar.”
“Audit dimulai sebelum saya dan Kirana resmi berhubungan. Keluhan pertama datang dari staf pengadaan yang tidak pernah bertemu Kirana.”
Ketua yayasan maju dan mengonfirmasi. Darmawan untuk sementara dibebastugaskan selama pemeriksaan. Sinta dicabut dari proses rekrutmen, sedangkan kontrak Diana tidak dilanjutkan.
Keputusan sementara dibacakan lengkap agar tidak tampak sebagai hukuman sepihak. Darmawan masih memiliki hak memberi keterangan, didampingi penasihat, dan mengajukan keberatan. Namun akses ke anggaran serta sistem pengadaan dibekukan untuk menjaga bukti.
“Ini semua karena saya menegur pacar Anda?” tanyanya kepada Arya.
“Tidak. Ini karena transaksi yang harus dijelaskan. Hubungan saya hanya membuat Bapak memilih menghina pelapor di depan publik.”
Prof Hartono menambahkan, “Seandainya malam ini Arya tetap dosen biasa, ancaman Anda tetap salah.”
Kalimat itu penting bagi Kirana. Darmawan tidak tumbang karena kebetulan salah memilih lawan kaya. Ia tumbang karena bukti, proses, dan kesombongannya sendiri.
“Kalian menjebak saya,” kata Darmawan.
“Tidak,” jawab Kirana. “Bapak memberi ancaman di ruangan penuh saksi setelah bukti diserahkan.”
Wajah Darmawan berubah merah, lalu pucat. Ia meraih sandaran kursi. Seorang dokter kampus mendekat ketika tubuhnya limbung. Ia tidak pingsan sepenuhnya, tetapi harus didudukkan dan dibawa keluar untuk pemeriksaan tekanan darah.
Sinta mengikutinya sambil menangis. Tidak ada lagi pejabat yang membungkuk memberi jalan karena takut. Petugas komite justru meminta kartu akses keduanya.
Setelah aula tenang, Rektor Sudibyo meminta maaf kepada Kirana karena namanya diseret. Ia juga menegaskan bahwa hubungan pribadi dan penilaian akademik sudah dipisahkan secara resmi.
“Status Prof Arya sebagai donatur tidak boleh membebaskan siapa pun dari aturan,” katanya. “Namun aturan juga tidak boleh dijadikan senjata untuk kepentingan keluarga.”
Pernyataan itu dicatat notulis dan akan dirilis bersama ringkasan pemeriksaan, tanpa membuka data pribadi Kirana lebih jauh.
Beberapa dosen mendekati Kirana setelah acara. Ada yang meminta maaf karena sebelumnya percaya rumor, ada pula yang mengaku pernah ditekan Sinta tetapi takut melapor. Kirana mengarahkan mereka ke perwakilan etik, tidak menjanjikan perlindungan pribadi.
Pak Yudi menyerahkan piagam teater yang tadi tertinggal. “Kamu baik-baik saja?”
“Masih berusaha.”
“Besok kampus pasti ramai. Jangan masuk sendiri.”
Winda langsung mengangkat tangan. “Saya jemput.”
Arya berdiri tidak jauh, dikelilingi anggota yayasan yang kini memanggilnya Direktur Danuwangsa. Ia terlihat sama tenangnya dengan Prof Arya di kelas, tetapi seluruh ruangan memperlakukannya berbeda. Kirana mulai memahami kenapa ia pernah menyembunyikan jabatan. Nama besar mengubah udara bahkan sebelum orangnya bicara.
Namun saat Arya melihat Kirana, ia meninggalkan percakapan para pejabat dan datang tanpa ragu. Pilihan kecil itu lebih menenangkan daripada semua pengumuman.
Di balkon aula, Kirana menemukan Arya sendirian.
“Mas sengaja membiarkan dia bicara sampai selesai?”
“Saya memberinya kesempatan berhenti.”
“Tiga kali.”
“Dia tidak mengambilnya.”
Kirana menyentuh lengannya. “Sekarang semua dosen tahu siapa Mas.”
“Sebagian besar.”
“Mahasiswa akan tahu besok.”
“Mungkin malam ini.”
Arya memandang aula tempat ponsel sudah menyebarkan potongan kejadian. “Saya tidak ingin kamu mendengar identitas saya dari gosip lagi. Kuliah umum terakhir akan diadakan lusa. Saya akan mengatakannya sendiri.”
“Dan hubungan kita?”
Ia menatap Kirana. “Kalau kamu siap, saya juga ingin berhenti menyembunyikan itu.”
Kirana teringat semua ketakutannya tentang nama, nilai, dan omongan. Perlindungan akademik sudah tercatat. Fajar mundur. Diana dan Sinta kehilangan senjata. Kini keputusan benar-benar berada di tangannya.
“Aku siap,” katanya.
Arya tidak langsung tersenyum. “Saya akan menyebut identitas dan hubungan kita. Tapi saya tidak akan membuka rincian pribadi atau membuatmu berdiri di panggung kalau kamu tidak mau.”
“Aku mau berdiri kalau memang dipanggil. Jangan sembunyikan aku setelah meminta terbuka.”
“Baik.”
“Dan jelaskan pemisahan nilai sebelum mengaku pacaran.”
“Sudah masuk materi penutup.”
Tentu saja Arya telah menyiapkan semuanya. Kirana menyandarkan dahi sesaat ke lengannya, tersembunyi dari aula oleh pintu balkon.
“Dulu aku takut orang tahu,” katanya. “Sekarang aku lebih takut terus hidup berdasarkan ketakutan mereka.”
Arya mengecup rambutnya. “Lusa, kita berhenti.”
Di dalam aula, kabar tentang Direktur Utama DG yang selama ini mengajar sebagai dosen pengganti telah pecah di kalangan staf malam itu. Dua hari lagi, Arya akan membawa seluruh kebenaran itu sendiri ke depan seluruh kampus, bersama nama perempuan yang telah dipilihnya dengan sadar dan tidak akan pernah ia sembunyikan lagi dari siapa pun mulai sekarang.