NovelToon NovelToon
Epos Tak Berujung: Pedang Sampah Terbang

Epos Tak Berujung: Pedang Sampah Terbang

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Action / Fantasi
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Liam Harrison

Kaelen—seorang pendekar dengan pedang besi berkarat yang menyimpan misteri dimensi lain—bersama Lyra, seorang alkemis cerdas berdarah dingin, nekat menerobos reruntuhan kuil kuno peninggalan Mazhab Pedang Purba.

Diintai oleh bayangan mematikan dari Faksi Tengkorak Darah dan desakan ancaman dari pengkhianat faksi lokal bernama Vance, perjalanan mereka bukan sekadar pelarian, melainkan perburuan berbahaya demi menemukan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit. Menghadapi entitas Qi gelap, formasi penjara kuno, dan bisikan purba yang menguji jiwa, Kaelen dan Lyra harus mempertaruhkan nyawa untuk mengungkap kebenaran di balik masa lalu yang terkubur, sebelum perangkap pengkhianatan merenggut nyawa mereka di ujung lorong yang sunyi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liam Harrison, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Babak Baru Perjuangan

Gua Naga Tersembunyi terasa dingin dan lembap, membawa aroma lumut dan mineral tanah yang pekat. Cahaya rembulan yang menembus celah sempit di atas memantulkan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding batu, seolah-olah arwah-arwah kuno tengah mengawasi dari kegelapan abadi. Kaelen duduk bersila dengan mata terpejam rapat, mencoba memulihkan energi spiritualnya yang terkuras habis hingga ke titik terendah. Di sampingnya, Pedang Besi Berkarat tergeletak, memancarkan aura samar yang tak terlihat oleh mata biasa, namun terasa berat dalam dimensi spiritual, seolah menyimpan rahasia alam semesta. Lyra, dengan jemarinya yang lincah dan terlatih, tengah meracik ramuan dari bahan-bahan herbal langka. Nyala api kecil dari tungku portabelnya menari-nari, menerangi wajahnya yang fokus namun memancarkan kekhawatiran mendalam. Keheningan gua itu terasa tebal, dipenuhi ketegangan yang belum terucap, seperti guntur yang tertahan di balik awan badai.

"Energi spiritualmu masih belum pulih sepenuhnya, Kaelen," Lyra memecah keheningan yang mencekam, suaranya lembut namun sarat perhatian tanpa mengalihkan pandangan dari ramuan yang mendidih perlahan. "Kita tidak bisa terus-menerus melarikan diri. Liliyana... dia seperti bayangan yang tak kenal lelah, selalu mengintai di ambang kegelapan."

Kaelen membuka matanya, menatap kosong ke dinding gua yang basah, pikirannya berkelana jauh. "Aku tahu, Lyra. Setiap langkah yang kita ambil, setiap napas yang kita hirup, terasa seperti jejak yang ia ikuti dengan ketepatan yang mengerikan. Jurus Telapak Bayangan Iblis miliknya bukan hanya tentang kekuatan mentah, tapi juga tentang kemampuan melacak yang kejam dan tak terhindarkan." Ia menghela napas berat, merasakan denyutan samar di lengannya yang masih pegal, sisa dari pertempuran terakhir yang nyaris merenggut nyawa mereka. "Kita harus menemukan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit sebelum dia. Itu satu-satunya cara menghentikannya, sebelum ia menggunakannya untuk tujuan busuknya, mengubah dunia ini menjadi medan perang para iblis."

Lyra mengangguk pelan, mencelupkan sehelai kain bersih ke dalam ramuan bening yang baru saja selesai ia racik, aromanya menguar menenangkan. "Ada sesuatu yang kutemukan saat kita singgah di pasar gelap terakhir, sebuah informasi yang tak biasa dan cukup mengkhawatirkan." Ia menyodorkan kain hangat itu pada Kaelen, yang segera mengompreskannya pada lengan yang sakit. "Rumor mengatakan Jiwa Artefak itu tidak hanya terkunci di satu lokasi, melainkan terpecah menjadi beberapa fragmen yang tersebar. Dan fragmen terbesar, jantung inti dari Jiwa Artefak itu sendiri, konon disembunyikan di dalam Kuburan Sepuluh Ribu Pedang, sebuah situs terlarang yang dijaga oleh ilusi purba yang menyesatkan dan roh-roh pedang yang haus darah dari ribuan kultivator yang gugur." Ekspresi Lyra mengeras, sorot matanya menajam. "Dan yang lebih mengkhawatirkan lagi, beberapa faksi sekte kuno, yang selama ini kita kira netral dan menjaga keseimbangan, ternyata telah diam-diam mengirimkan mata-mata terbaik mereka ke sana. Seolah-olah mereka tahu Liliyana akan bergerak, atau bahkan... bersekutu dengannya dalam pengkhianatan yang keji."

Kaelen menyipitkan mata, tatapannya kini dipenuhi determinasi tajam. "Pengkhianatan faksi sekte kuno..." Gumaman itu melayang di udara, membawa bobot realisasi yang pahit dan menusuk. Ini bukan lagi sekadar perburuan antara dirinya dan Liliyana semata. Ada kekuatan yang lebih besar, lebih tua, dan jauh lebih licik yang bermain di balik layar, menggerakkan pion-pion di papan catur nasib dunia kultivasi. "Jika rumor itu benar, Lyra, Kuburan Sepuluh Ribu Pedang akan menjadi medan perang yang sesungguhnya. Bukan hanya melawan Liliyana dan antek-anteknya, tapi juga para kultivator dari sekte-sekte yang haus kekuasaan dan terbutakan oleh ambisi."

Tiba-tiba, sebuah getaran samar namun jelas terasa di tanah di bawah mereka. Bukan gempa bumi biasa, melainkan resonansi energi spiritual yang asing dan dingin, memicu alarm di setiap sel tubuh mereka. Kaelen dan Lyra saling bertukar pandang; insting bertahan hidup mereka berteriak waspada.

"Kita tidak sendirian," bisik Lyra, tangannya tanpa sadar meraba kantung pinggangnya yang berisi aneka botol racikan mematikan. Aroma manis mematikan dari Tangan Pemurni Racun Api miliknya mulai menguar samar ke udara, siap dilepaskan kapan saja untuk menghancurkan musuh.

Kaelen bangkit berdiri dengan gerakan cepat namun tenang, tangannya secara refleks meraih gagang Pedang Besi Berkarat. Permukaan pedang itu, yang biasanya kusam dan berkarat, kini memancarkan kilauan merah samar yang tak wajar di bawah cahaya rembulan, seolah bersemangat menyambut tantangan yang akan datang. Di luar gua, suara langkah kaki yang lembut namun pasti mulai terdengar, disertai bisikan-bisikan dingin yang membelah keheningan malam, menyeruak masuk seperti pisau es. Liliyana telah menemukan mereka. Pertarungan tak terhindarkan; takdir telah memanggil mereka ke dalam babak baru perjuangan yang berdarah.

Di ambang gua, siluet ramping berbalut jubah gelap perlahan termanifestasi dari kabut malam yang dingin, seolah bayangan itu sendiri telah mengambil wujud. Liliyana berdiri di sana, di antara rerimbunan pepohonan yang bergoyang enggan, di bawah siraman rembulan yang pucat pasi. Matanya, bagai dua permata obsidian yang memancarkan kegelapan, terpaku pada Kaelen dan Lyra. Senyum tipis yang meremehkan terukir di bibir merahnya, sebuah ekspresi yang mampu membuat tulang punggung siapa pun bergidik. Di belakangnya, samar-samar terlihat beberapa figur lain—bayangan-bayangan yang bergerak senyap, mengelilingi pintu masuk gua dengan presisi mematikan. Aroma amis dari energi spiritual gelap yang menyertai Liliyana menusuk hidung, berpadu dengan bisikan-bisikan dingin yang kini lebih jelas terdengar, suara-suara yang menjanjikan kematian dan kehancuran.

"Ah, jadi di sini rupanya tikus-tikus kecil itu bersembunyi," suara Liliyana melengking merdu namun penuh duri, memecah keheningan malam yang mencekam. Ia melangkah maju dengan anggun, setiap gerakannya memancarkan aura dominasi yang tak terbantahkan. "Menyia-nyiakan waktu berharga yang seharusnya kalian gunakan untuk memohon ampun. Tapi tak apalah. Kebodohan memang selalu menjadi teman setia para pecundang."

Pandangannya beralih ke Pedang Besi Berkarat di tangan Kaelen, lalu ke Lyra yang menggenggam erat botol racunnya. "Kau masih menggenggam sampah itu, Kaelen? Dan kau, Lyra, masih setia dengan ramuan mematikanmu yang picisan? Sungguh menyedihkan. Kalian pikir itu cukup untuk menghentikan ambisi seorang Liliyana?" Tawa kecilnya terdengar hampa, bergaung di antara bebatuan gua, seolah mengejek setiap napas yang mereka hirup.

Kaelen tidak bergeming. Tatapannya setajam bilah pedang, membalas pandangan meremehkan Liliyana tanpa sedikit pun keraguan. "Ambisi buta hanya akan mengantarkanmu pada kehancuran, Liliyana. Dan sampah ini," ia mengacungkan Pedang Besi Berkarat yang kini berpendar merah redup, seolah darah telah meresap ke dalam pori-pori besinya, "telah membuktikan berkali-kali bahwa ia lebih dari sekadar tumpukan karat."

Di sisinya, Lyra menyipitkan mata. "Kau datang sendirian, Liliyana? Atau para anjing sekte kuno yang berkhianat itu bersembunyi di balik jubahmu?" Nadanya dingin, penuh sarkasme yang menusuk. Ia tahu, pertanyaan itu akan menyentuh urat nadi kesombongan Liliyana.

Senyum Liliyana menghilang, digantikan kerutan jijik. "Lancang sekali kau, jalang! Memang bukan urusanmu siapa yang menjadi sekutuku. Yang jelas, Jiwa Artefak Reruntuhan Langit akan segera menjadi milikku. Dan kalian berdua," ia mengangkat tangan kanannya, energi spiritual hitam mulai berputar di telapak tangannya, membentuk cakar bayangan yang mengerikan, "akan menjadi santapan pertamaku malam ini. Jurus Telapak Bayangan Iblis akan mengoyak jiwa kalian hingga tak bersisa!"

Aura dingin dan menekan menyembur keluar dari tubuhnya, menghantam mereka seperti gelombang es. Pohon-pohon di sekitar gua berderit, dan dedaunan kering terangkat lalu hancur menjadi debu.

Kaelen mengencangkan cengkeramannya pada gagang pedang, urat-urat di tangannya menonjol. Ia merasakan getaran kuat dari Pedang Besi Berkarat, seolah pedang itu sendiri haus akan pertarungan yang akan datang.

"Lyra, bersiaplah!" perintahnya, suaranya mantap dan penuh otoritas.

Lyra mengnoduk tanpa kata, secepat kilat membuka salah satu botol kecil di pinggangnya. Asap hijau pekat dengan aroma mematikan segera mengepul, menyebar di udara, menciptakan tirai kabut beracun yang mulai menyelimuti area di antara mereka dan Liliyana. Ini bukan hanya tentang pertahanan; ini adalah serangan pembuka dari seorang ahli racun yang tak kenal ampun. Pertarungan hidup dan mati di bawah rembulan pucat telah resmi dimulai, dan takdir Kuburan Sepuluh Ribu Pedang terasa semakin dekat untuk terkuak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!