Mo Tianxia pernah berdiri di puncak dunia.
Sebagai seorang kultivator yang telah mencapai Absolute Realm, tidak ada lagi lawan yang mampu menandinginya dan tidak ada lagi batas yang mampu menghalanginya. Namun, setelah mencapai segala sesuatu yang bisa dicapai, yang tersisa baginya hanyalah kebosanan.
Dalam sebuah keputusan yang tidak masuk akal bagi siapa pun, Mo Tianxia menghancurkan jiwanya sendiri dan memulai kembali kehidupannya dari nol.
Kini, ia terbangun dalam tubuh yang lemah dengan kultivasi paling dasar.
Tidak ada kekuatan absolut. Tidak ada kedudukan tinggi. Tidak ada nama besar.
Hanya pengetahuan tentang jalan yang pernah ia tempuh.
Dengan sikap tenang dan pengalaman yang jauh melampaui usianya, Mo Tianxia kembali melangkah di jalan kultivasi. Sekte, turnamen, dunia rahasia, para jenius, dan berbagai ancaman mulai muncul di hadapannya.
Namun kali ini, tujuannya bukan menjadi yang terkuat. Ia hanya ingin menikmati kembali perjalanannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Tiga hari perjalanan darat berlalu tanpa insiden berarti.
Rombongan kandidat—dua belas anak, dipandu oleh Chen Feng dan tiga disciple senior lainnya—menyusuri jalan setapak yang melintasi perbukitan dan hutan kecil, singgah di penginapan desa sepanjang perjalanan.
Dipagi hari keempat. Mereka tiba di kaki sebuah tebing besar, tempat sebuah kapal terbang kecil menunggu—sebuah perahu kayu yang dilapisi formasi berkilau, melayang beberapa kaki di atas tanah tanpa dukungan apa pun yang terlihat.
Beberapa kandidat berseru kagum. Wang Dazhi bahkan hampir jatuh saking terpananya.
"Itu—itu benar-benar terbang!" serunya, matanya berbinar tak percaya.
Mo Tianxia menatap kapal itu dengan tenang.
'Formasi kelas menengah,' pikirnya, menganalisis pola ukiran pada lambung kapal dengan sekali pandang. 'Cukup rumit untuk standar dunia sekarang. Tapi jauh dari formasi transportasi yang pernah kugunakan di kehidupan sebelumnya.'
Ia tidak mengatakan itu, tentu saja. Ia hanya menatap dengan ekspresi kagum yang dibuat-buat—cukup meyakinkan untuk anak seusianya, namun tidak berlebihan.
Perjalanan dengan kapal terbang memakan waktu setengah hari, melintasi hamparan hutan dan sungai yang tidak pernah terlihat dari desa mereka. Ketinggian yang mereka tempuh membuat beberapa kandidat pucat, sementara yang lain justru terpukau oleh pemandangan yang terbentang di bawah mereka.
...-----...
Langit mulai berwarna jingga dan gunung Qingfeng akhirnya terlihat di kejauhan—sebuah puncak yang menjulang tinggi, diselimuti awan tipis di bagian atasnya, dengan bangunan-bangunan sekte yang tersebar di beberapa tingkatan lereng gunung.
"Itu Tian Yun Sect," kata Chen Feng, berdiri di haluan kapal. "Rumah kalian yang baru."
Kapal mulai menurun mendekati gerbang utama sekte—sebuah gerbang batu besar yang diukir dengan simbol awan berputar, sama seperti lambang di jubah Deacon Song.
Ketika kapal mendarat, Mo Tianxia turun bersama para kandidat lain, mengamati sekelilingnya dengan seksama.
Bangunan-bangunan sekte tersusun rapi mengikuti bentuk gunung. Beberapa disciple senior terlihat berlatih di lapangan terbuka, gerakan pedang mereka mengoyak angin dengan suara mendesing.
'Menarik,' pikir Mo Tianxia, mengamati salah satu disciple yang sedang berlatih. 'Teknik pedang berbasis angin. Sederhana, tapi fondasinya cukup solid.'
Ia hampir tersenyum mengingat betapa jauh berbeda kualitas teknik ini dibandingkan dengan teknik-teknik yang pernah ia kuasai dulu. Namun ia menahan diri—bukan karena merasa direndahkan, melainkan karena ia menyadari sesuatu yang menarik.
'Aku sudah lama tidak melihat seseorang berlatih dengan susah payah seperti ini,' pikirnya. 'Di dunia sebelumnya, semua orang di sekitarku sudah berada di level yang sangat tinggi. Tidak ada lagi yang benar-benar "berjuang".'
Ada sesuatu yang menyegarkan dalam menyaksikan perjuangan murni semacam ini—sesuatu yang telah lama hilang dari hidupnya.
Deacon Song memimpin rombongan menuju sebuah aula besar di tengah kompleks sekte, tempat mereka akan menjalani upacara penerimaan resmi sebagai disciple luar.
Di pintu masuk aula, seorang anak laki-laki berdiri dengan pakaian sekte yang jauh lebih rapi dari pakaian kandidat baru—menandakan ia bukan kandidat, melainkan disciple yang sudah cukup lama berada di sekte ini.
Anak itu mengamati rombongan baru dengan tatapan meremehkan, terutama ketika matanya berhenti pada pakaian lusuh yang dikenakan sebagian besar kandidat dari desa-desa kecil.
"Kandidat baru lagi," gumamnya, cukup keras untuk didengar beberapa orang di dekatnya. "Dari desa udik mana lagi kali ini?"
Wang Dazhi, yang berdiri di dekat Mo Tianxia, meringis mendengar komentar itu namun memilih diam.
Mo Tianxia melirik anak itu sekilas.
'Zhao,' pikirnya, mengenali lambang kecil berbentuk kepala harimau yang disematkan di dada pakaian anak itu—lambang yang menandakan garis keturunan klan tertentu. ‘Sepertinya dia akan bikin masalah sebentar lagi'
Ia tidak salah.
Ketika rombongan kandidat baru melewati pintu aula, anak berlambang kepala harimau itu sengaja melangkah menghalangi jalan Mo Tianxia, menyeringai dengan percaya diri.
"Kau," katanya, menatap Mo Tianxia dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan. "Aku dengar ujian masuk tahun ini akan diikuti oleh disciple luar baru sepertimu. Sayang sekali—tempat pertama di antara kandidat baru sudah pasti milikku."
Mo Tianxia menatapnya dengan tenang, tanpa rasa terganggu sedikit pun.
'Ah,' pikirnya, mengenali jenis kepribadian ini dengan mudah. 'Rupanya ujian sesungguhnya baru akan dimulai.'
"Namaku Zhao Kuang," lanjut anak itu, dagunya terangkat sombong. "Ingat baik-baik nama itu. Karena itu akan menjadi nama orang yang mengalahkanmu."
Di belakangnya, beberapa disciple lain yang mengenal Zhao Kuang mulai berkumpul, penasaran melihat bagaimana kandidat baru ini akan bereaksi.
Mo Tianxia hanya tersenyum tipis—senyuman yang membuat Zhao Kuang mengerutkan kening, tidak yakin bagaimana harus menafsirkannya.
'Ujian masuk,' pikir Mo Tianxia. 'Sepertinya ini akan menjadi hal pertama yang benar-benar menarik sejak aku kembali.'