NovelToon NovelToon
JATUH CINTA SAMA ORANG YANG PALING NYEBELIN DI SEKOLAH

JATUH CINTA SAMA ORANG YANG PALING NYEBELIN DI SEKOLAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Idola sekolah / Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: silasepentin

Bagi Raina, sekolah adalah tempat untuk belajar dan mengukir prestasi, bukan untuk berurusan dengan makhluk ajaib bernama Devan Adhitama. Devan adalah definisi hidup dari kata "NYEBELIN". Dia berisik, pamer, sering melanggar aturan, dan entah kenapa, selalu punya cara untuk mengacaukan hari Raina yang tertata rapi.

Raina bersumpah akan menjaga jarak radius satu kilometer dari Devan. Namun, takdir berkata lain ketika mereka dipaksa bekerja sama dalam proyek besar sekolah yang mempertaruhkan reputasi mereka berdua. Di antara prank konyol Devan, hukuman bersama di perpustakaan, dan rahasia-rahasia keluarga yang perlahan terkuak, Raina mulai melihat sisi lain dari si raja nyebelin.

Apakah Raina bisa mempertahankan hatinya, atau justru dia akan melakukan hal paling konyol sedunia: Jatuh cinta sama cowok yang paling ingin dia tenggelamkan ke laut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon silasepentin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: PROYEK AKHIR TAHUN MUNCIUL

"Bagaimana kalau kita gabungkan?" usul Raina perlahan.

Devan mendongak, matanya menatap Raina heran. "Di-gabung?"

"Iya. Tema utamanya tetap 'Nusantara Modern', tapi panggung utamanya kita konsep seperti keinginanmu—ada street art, kompetisi dance dengan musik etnik modern, dan stan kuliner Nusantara kekinian," jelas Raina sambil mengambil buku catatan kecil dari sakunya. "Aku yang pegang kendali anggaran, struktur acara, dan perizinan sekolah. Kamu yang pegang kendali promosi, nyari sponsorship, dan merangkul anak-anak buat ikutan."

Devan tertegun menyimak penjelasan Raina. Senyum tipis perlahan terukir di bibirnya. "Kamu pinter juga ya, Bu Wakil."

"Aku memang pintar, Devan. Kamu aja yang baru sadar," sahut Raina kaku, walau ada sedikit binar lega di matanya. "Tapi ada syaratnya."

"Apa syaratnya?"

Raina mengambil pulpen dan merobek selembar kertas, lalu menuliskan tiga poin penting dengan cepat:

Dilarang membuat keputusan sepihak tanpa persetujuan bersama.

Rapat harus berjalan profesional tanpa emosi.

Sesi tutoring Fisika dan Bahasa Inggris tetap berjalan setiap sore.

"Tandatangani ini," Raina menyerahkan kertas dan pulpen ke arah Devan. "Ini perjanjian damai kita sampai Festival Seni selesai."

Devan terkekeh pelan. Tanpa ragu, ia meraih pulpen itu dan membubuhkan tanda tangannya yang besar di bawah tulisan Raina.

"Deal," ujar Devan sambil menyerahkan kembali kertas itu. Lalu, tanpa diduga, Devan mengulurkan tangan kanannya ke arah Raina. "Selamat bekerja sama, Partner."

Raina menatap uluran tangan Devan ragu-ragu sejenak, sebelum akhirnya menyambutnya dengan genggaman mantap. "Selamat bekerja sama, Devan."

Saat tangan mereka saling berjabat, sebuah getaran asing yang sangat tipis merambat di dada Raina—getaran yang cepat-cepat ia tepis dan abaikan.

BAB 15: DEVAN YANG SEBENARNYA

Sore itu, sesi tutoring harian terpaksa berpindah lokasi. Rumah Devan menjadi pilihan karena cowok itu harus menjaga adiknya setelah jam sekolah usai. Raina melangkah canggung memasuki halaman rumah berarsitektur hangat dengan taman kecil di depannya.

"Raina! Masuk, masuk," panggil Devan dari arah pintu depan. Penampilannya sangat santai—kaos oblong polos dan celana pendek, amat berbeda dari setelan seragam sekolah atau jersi basketnya.

Saat Raina melangkah ke ruang tengah yang penuh tumpukan buku dan mainan, seorang anak perempuan berusia sekitar delapan tahun berlari kecil menghampiri Devan sambil menarik-narik ujung bajunya. Gadis kecil itu memiliki tatapan polos namun sedikit bingung, jemarinya memegang erat sebuah boneka kelinci kusam.

"Mas Devan... pita kelincinya lepas lagi," bisik anak itu dengan suara pelan dan agak terbata.

Raina membeku di tempatnya. Ia langsung mengenali gestur dan pola komunikasi anak tersebut—adik Devan adalah anak berkebutuhan khusus (Down Syndrome).

Mata Raina bergerak menatap Devan, bersiap melihat respon cowok itu yang biasanya impulsif dan berisik. Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat dada Raina berdesir aneh

Devan berlutut perlahan hingga posisinya sejajar dengan sang adik. Wajahnya yang biasa dipenuhi cengiran konyol kini berubah menjadi teramat lembut dan penuh kesabaran. Tanpa sedikit pun nada jengkel, Devan mengambil boneka itu dari tangan adiknya.

"Sini, Mas Devan benerin ya, Ara," ujar Devan lembut, membelai halus rambut adiknya. Dengan jemarinya yang terbiasa memegang bola basket dengan kasar, Devan secara telaten mengikat kembali pita merah kecil di leher boneka tersebut hingga rapi.

"Nah, udah cantik lagi kelincinya. Sekarang Ara main di kamar dulu ya? Mas Devan mau belajar sebentar sama temen Mas," lanjut Devan pelan.

Anak perempuan itu tersenyum lebar, mengangguk cepat, lalu memeluk Devan singkat sebelum berlari gembira menuju kamarnya.

1
sila
novel goot
sila
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!