Rizal, seorang pemuda yatim piatu yang baru saja dipecat dari pekerjaannya dan ditipu habis-habisan oleh mantan kekasihnya, mendapati hidupnya hancur berantakan di sebuah taman kota Jakarta. Namun, takdirnya berbalik seratus delapan puluh derajat ketika sebuah [Sistem Kebohongan menjadi Kenyataan] tiba-tiba masuk ke dalam kepalanya. Sistem ajaib ini mengubah setiap cacian, kebohongan, dan modus penipuan yang diarahkan padanya menjadi kenyataan yang sesungguhnya. Berawal dari pesan penipuan undian palsu, Rizal mendadak menjadi miliarder yang membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal, sekaligus menarik perhatian banyak wanita cantik yang terpikat oleh kesuksesan dan pesonanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Wush.
Angin sejuk dari pendingin ruangan rumah sakit menyapu wajah Rizal yang masih berdiri santai.
Pemuda itu menatap wajah Clara yang perlahan memerah karena ditatap sedemikian lekat olehnya.
Clara memang sangat cantik dengan pesona khas seorang CEO yang anggun dan berkelas.
Namun, Rizal tidak sedang memikirkan hal-hal mesum atau berniat mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Di dalam pikirannya, Rizal sedang menguji fitur baru dari sistem ajaib miliknya.
"Sistem, aktifkan fungsi Mata Deteksi pada Clara Wijaya."
Rizal membatin di dalam hatinya sambil terus menatap mata bulat wanita di depannya itu.
Ting!
[Mata Deteksi diaktifkan. Memindai target Clara Wijaya...]
Sebuah layar holografik biru muncul di samping wajah Clara tanpa bisa dilihat oleh siapa pun kecuali Rizal.
[Nama: Clara Wijaya.]
[Status Fisik: Kelelahan mental ekstrem, kurang tidur kronis.]
[Status Tersembunyi: Terdapat akumulasi racun penekan saraf dalam dosis mikroskopis di aliran darahnya. Diduga akibat sabotase perlahan melalui minuman harian.]
Mata Rizal sedikit menyipit saat membaca informasi rahasia yang ditampilkan oleh sistem.
Ternyata kehidupan seorang CEO muda dari keluarga konglomerat tidak seindah kelihatannya.
Ada seseorang yang diam-diam meracuni Clara sedikit demi sedikit dari jarak dekat.
"Tuan Rizal? Apakah ada sesuatu di wajah saya?"
Clara bertanya dengan suara pelan karena merasa canggung terus dipandangi tanpa henti.
Rizal langsung tersadar dari lamunannya dan kembali memancarkan senyum tipis yang menenangkan.
"Tidak ada apa-apa Nona Clara, saya hanya sedang memikirkan hadiah apa yang pantas saya minta."
Rizal memutuskan untuk menyimpan informasi tentang racun itu untuk saat ini.
Dia akan menggunakannya nanti sebagai kartu as di saat yang lebih tepat.
"Katakan saja Tuan Rizal, berapapun uang yang Anda minta, saya akan langsung mentransfernya."
Clara menjawab dengan penuh keyakinan karena dia merasa nyawa kakeknya jauh lebih berharga dari uang.
Tuan Besar Wijaya yang sedang bersandar di ranjangnya juga ikut mengangguk setuju.
"Benar anak muda, sebutkan saja angkanya dan Keluarga Wijaya akan memenuhinya."
"Saya rasa saya sudah punya cukup banyak uang di rekening saya saat ini."
Rizal menjawab dengan nada santai yang membuat Clara sedikit kebingungan.
"Lalu apa yang Anda inginkan dari saya, Tuan Rizal?"
"Saya hanya orang biasa yang baru saja mendapat sedikit keberuntungan, dan pakaian saya ini sudah sangat usang."
Rizal menunjuk kemeja flanelnya yang sudah pudar dan celana jeansnya yang koyak di bagian lutut.
"Saya butuh akses untuk memperbaiki penampilan saya hari ini tanpa harus repot."
Clara terdiam sejenak mendengar permintaan yang sangat sederhana dan tidak terduga itu.
Dia mengira Rizal akan meminta posisi tinggi di perusahaannya atau meminta uang puluhan miliar.
"Hanya itu saja? Anda yakin tidak ingin meminta hal yang lebih besar?"
"Untuk saat ini, itu saja sudah cukup bagi saya Nona Clara."
Senyum lembut perlahan mengembang di bibir Clara yang memerah.
Wanita itu merogoh tas tangannya dan mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam legam.
Terdapat ukiran seekor naga emas yang melingkar indah di tengah kartu tersebut.
"Ini adalah Kartu Naga Emas, akses VIP tertinggi yang dikeluarkan secara eksklusif oleh Wijaya Group."
Clara menyerahkan kartu itu ke telapak tangan Rizal dengan penuh rasa hormat.
"Dengan kartu ini, Anda bisa mengambil apa saja secara gratis di seluruh pusat perbelanjaan, hotel, dan fasilitas milik Wijaya Group tanpa batas limit."
Rizal menerima kartu itu dan merasakan tekstur logam dingin yang sangat premium.
"Menarik sekali, ini jauh lebih praktis daripada harus membawa setumpuk uang tunai."
"Kartu itu hanya dipegang oleh lima orang di seluruh Indonesia, dan sekarang Anda adalah orang keenam."
Tuan Besar Wijaya menambahkan penjelasan dengan suara beratnya yang sudah mulai pulih.
"Gunakanlah sesuka hati Anda anak muda, anggap saja itu tanda persahabatan dari kami."
"Terima kasih atas kemurahan hati Anda berdua, saya akan menggunakannya dengan baik."
Rizal memasukkan kartu hitam itu ke dalam saku celananya dengan gerakan santai.
Dia kemudian menoleh ke arah Direktur Gunawan yang sedari tadi berdiri mematung di sudut ruangan.
"Dokter Gunawan, saya serahkan urusan administrasi rumah sakit kepada Anda untuk sementara waktu."
"Baik Tuan Rizal, saya akan mengurus semuanya dengan sempurna."
"Bagus, kalau begitu saya permisi dulu Nona Clara, Tuan Besar Wijaya."
Rizal menganggukkan kepalanya sedikit lalu berbalik dan berjalan keluar dari ruang VVIP tersebut.
Langkah kakinya terdengar ringan menyusuri lorong yang dijaga ketat oleh para pengawal berjas hitam.
Setelah punggung Rizal menghilang dari balik pintu, Tuan Besar Wijaya menatap cucunya dengan pandangan serius.
"Clara, perintahkan orang-orang kita untuk mencari tahu latar belakang pemuda itu."
"Kakek curiga padanya? Bukankah dia baru saja menyelamatkan nyawa Kakek?"
"Bukan curiga, tapi kakek merasa dia bukanlah pemuda sembarangan yang hanya mengandalkan keberuntungan."
Mata tua yang penuh pengalaman itu menatap tajam ke arah pintu yang sudah tertutup.
"Ketenangannya saat menghadapi Dokter Handoko dan saat menolak uang kita tadi menunjukkan bahwa dia memiliki mental seorang raja."
Clara mengangguk pelan menyetujui ucapan kakeknya tersebut.
Dia sendiri merasa bahwa aura pemuda berpakaian lusuh itu sangat mendominasi dan penuh misteri.
"Baik Kek, aku akan mencari tahu segalanya tentang Tuan Rizal."
Sementara itu, Rizal sudah berada di dalam sebuah taksi yang membawanya menuju pusat kota.
Tujuannya saat ini adalah Grand Wijaya Mall, salah satu pusat perbelanjaan paling elit dan mahal di Jakarta.
Ciiiit.
Taksi itu berhenti tepat di lobi utama mall yang dipenuhi oleh deretan mobil-mobil sport mewah.
Rizal turun dan langsung melangkah masuk melewati pintu kaca otomatis yang terbuka lebar.
Udara dingin bercampur aroma parfum mahal langsung menyambut indra penciumannya.
Rizal berjalan menyusuri lantai dasar yang dipenuhi oleh deretan butik dari merek-merek ternama dunia.
Pilihan matanya jatuh pada sebuah butik pakaian pria berdesain klasik yang terlihat sangat elegan.
Tap... Tap... Tap...
Sepatu kets kusam Rizal berbunyi saat dia melangkah masuk ke dalam butik berlantai karpet merah tersebut.
Dua orang pelayan wanita berseragam rapi yang sedang berdiri di dekat pintu masuk langsung saling berpandangan.
Mereka melihat penampilan Rizal dari atas sampai bawah dengan raut wajah penuh penilaian.
Salah satu pelayan memutar bola matanya malas dan membuang muka ke arah lain.
Pelayan yang satunya lagi bahkan mendengus pelan tanpa berniat menyambut Rizal sama sekali.
Rizal hanya tersenyum tipis melihat respons klasik dari orang-orang yang menilai orang lain hanya dari sampulnya.
Dia mengabaikan mereka dan mulai melihat-lihat deretan jas mahal yang dipajang di rak kaca.
"Hahaha, mataku tidak rabun kan? Lihat siapa yang nyasar ke tempat mewah ini."
Sebuah suara pria paruh baya yang terdengar sangat menjengkelkan tiba-tiba menggema di dalam butik.
Rizal menoleh dan mendapati seorang pria buncit dengan kepala sedikit botak sedang berjalan ke arahnya.
Pria itu mengenakan kemeja sutra mencolok dan sedang merangkul pinggang seorang wanita muda yang berpakaian sangat minim.
"Pak Hendra?"
Rizal menyebut nama pria itu dengan nada datar tanpa emosi.
Pria itu adalah mantan bos yang memecatnya secara sepihak dan memotong uang pesangonnya tadi siang.
"Wah wah, ternyata benar ini kamu Rizal si pengangguran miskin."
Hendra tertawa keras hingga perut buncitnya berguncang naik turun.
Wanita muda di sebelahnya ikut terkikik genit sambil bersandar manja di bahu Hendra.
"Siapa dia Sayang? Tukang sapu di kantormu yang dulu ya?"
"Bukan Sayang, dia ini mantan pegawaiku yang baru saja aku pecat beberapa jam lalu karena kerjanya sangat bodoh."
Hendra menunjuk wajah Rizal dengan jari telunjuknya yang dihiasi cincin batu akik besar.