Adrian Wijaya hanya ingin mendapatkan uang tambahan sebelum kuliah dimulai. Namun sebuah sistem misterius tiba-tiba memberinya akses ke berbagai pekerjaan dengan bayaran luar biasa.
Setiap pekerjaan memberinya uang, kemampuan, dan pengalaman baru.
Dari pekerjaan biasa hingga tugas berbahaya di berbagai penjuru dunia, Adrian perlahan menyadari bahwa sistem ini bukan sekadar alat untuk mencari uang.
Ini adalah awal dari kehidupan yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulu-Halus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 — Keberangkatan
Adrian menatap layar sistem yang masih terbuka di hadapannya.
[Kontrak Project Black Horizon berhasil diterima.]
[Waktu menuju keberangkatan: 16 jam 42 menit.]
Adrian menghela napas.
“Cepat juga.”
Dia tidak menyangka sistem akan langsung mengatur keberangkatannya.
Namun setidaknya satu masalah sudah selesai.
Transportasi, tempat tinggal, dan kebutuhan dasar selama menjalankan kontrak akan disediakan oleh pihak yang merekrutnya.
Adrian hanya perlu menyiapkan dirinya sendiri.
Dia menutup layar.
“Kalau begitu, pulang dulu.”
Malam itu, Adrian tidak banyak membuang waktu.
Begitu sampai di rumah, dia langsung mengambil tas besar yang biasa digunakan untuk bepergian.
Pakaian.
Perlengkapan mandi.
Charger.
Power bank.
Beberapa obat ringan.
Dan tentu saja makanan.
Adrian memasukkan semuanya satu per satu.
Dia tidak tahu seperti apa kondisi tempat yang akan didatanginya nanti. Daripada menyesal karena tidak membawa sesuatu yang dibutuhkan, lebih baik bersiap sedikit berlebihan.
Setelah selesai, Adrian menatap tas yang sudah penuh.
“Cukup.”
Dia mengangkatnya.
Berat.
Tapi masih bisa dibawa.
Baru setelah semuanya siap, Adrian teringat satu orang yang belum dia beri tahu.
Ibunya.
Adrian mengambil ponsel dan membuka percakapan yang paling sering muncul di daftar pesan.
Dia berpikir beberapa saat sebelum mulai mengetik.
> Bu, Adrian dapat pekerjaan sementara. Besok harus pergi ke luar negeri beberapa hari.
Dia berhenti.
Kemudian menghapus kalimat itu.
“Kalau bilang luar negeri, pasti langsung ditanya macam-macam.”
Adrian mengetik ulang.
> Bu, Adrian dapat pekerjaan sementara di perusahaan luar. Tempat tinggal dan makan ditanggung. Kerjanya cuma beberapa hari, setelah itu Adrian pulang.
Kali ini dia tidak menghapusnya.
Dia mengirim pesan tersebut.
Tidak sampai satu menit, balasan masuk.
> Hati-hati. Jangan lupa makan. Kalau sudah sampai, kabari Ibu.
Adrian tersenyum.
Rasa bersalah langsung muncul.
“Maaf, Bu.”
Dia tidak mungkin menjelaskan bahwa pekerjaan sementaranya berada di wilayah yang sedang mengalami konflik.
Kalau ibunya tahu, jangan-jangan tiket pesawatnya malah dibatalkan sebelum dia berangkat.
Adrian mematikan layar ponsel.
“Setelah pulang nanti, aku jelaskan.”
Keesokan harinya, Adrian menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mempersiapkan keberangkatan.
Dokumen perjalanan sudah tersedia di dalam sistem.
Tiket elektronik juga sudah masuk ke perangkatnya.
Bahkan hotel dan kendaraan dari bandara menuju lokasi sudah tercantum dalam informasi perjalanan.
Semuanya terlalu mudah.
Justru itu yang membuat Adrian sedikit waspada.
“Semoga nggak ada kejutan.”
Malam tiba.
Adrian berangkat menuju bandara.
Ruang tunggu penerbangan internasional cukup ramai.
Adrian duduk di sudut ruangan sambil memeriksa informasi Project Black Horizon sekali lagi.
Layar sistem muncul tanpa suara.
[PROJECT BLACK HORIZON]
Durasi: 72 jam.
Lokasi: Kota Darsen, Negara Varelia.
Posisi: Staf pendukung keamanan.
Persyaratan: Tidak membutuhkan pengalaman tempur.
Adrian menggulir layar.
Kali ini informasi yang muncul lebih lengkap.
[Wilayah operasi saat ini berada dalam kondisi tidak stabil.]
[Beberapa kelompok bersenjata aktif di sekitar area operasi.]
[Unit yang merekrut pengguna membutuhkan tambahan personel untuk menjaga perimeter luar.]
Adrian mengusap dagunya.
“Jadi tugasku sebenarnya cuma menjaga perimeter?”
[Benar.]
“Dan tidak perlu pengalaman tempur?”
[Benar.]
Adrian mengangguk pelan.
“Kalau begitu, seharusnya tidak terlalu sulit.”
Sistem tidak memberikan jawaban.
Adrian menatap layar.
“Kok diam?”
Beberapa detik kemudian muncul satu kalimat.
[Informasi lengkap akan diberikan setelah pengguna tiba di lokasi.]
Adrian menghela napas.
“Sudah kuduga.”
Dia mematikan sistem.
Tidak lama kemudian, pengumuman keberangkatan terdengar.
Penumpang diminta menuju gerbang pemeriksaan.
Adrian berdiri dan mengangkat tasnya.
Sebelum berjalan, dia sempat melihat ponselnya sekali lagi.
Tidak ada pesan baru dari ibunya.
Adrian tersenyum kecil.
“Kalau sudah sampai, aku kabari.”
Dia memasukkan ponsel ke saku.
Lalu berjalan menuju gerbang.
Beberapa saat kemudian, Adrian melewati pemeriksaan terakhir.
Begitu kakinya memasuki lorong menuju pesawat—
TING!
Suara sistem terdengar.
Layar transparan muncul di depan matanya.
[Pengguna telah resmi memulai perjalanan menuju lokasi kontrak.]
Adrian berhenti.
Matanya langsung tertuju pada pemberitahuan berikutnya.
[Syarat aktivasi Paket Pemula telah terpenuhi.]
Adrian tersenyum.
“Nah, ini yang dari tadi kutunggu.”
Layar berubah.
[Paket Pemula sedang dibuka.]
Satu demi satu hadiah muncul.
[Selamat! Pengguna memperoleh kemampuan: Mastery Senjata Api.]
Adrian membeku.
“...Apa?”
Belum sempat dia mencerna hadiah pertama, pemberitahuan berikutnya muncul.
[Pengguna memperoleh peningkatan fisik: Basic Super Serum.]
[Pengguna memperoleh kemampuan tempur: Survival Combat.]
Adrian mulai serius.
Kemudian hadiah terakhir muncul.
[Pengguna memperoleh ruang penyimpanan khusus: Infinite Supply.]
[Ruang penyimpanan dapat digunakan untuk menyimpan perlengkapan yang diizinkan sistem.]
Adrian menatap layar tanpa berkedip.
Kemampuan menguasai senjata api.
Peningkatan fisik.
Kemampuan bertarung.
Ruang penyimpanan khusus.
“Ini baru namanya paket pemula.”
Senyum muncul di wajahnya.
Setidaknya sekarang dia memiliki sedikit modal untuk menghadapi pekerjaan pertamanya.
Namun sebelum Adrian sempat mencoba apa pun—
Tubuhnya tiba-tiba terasa panas.
“Hm?”
Rasa hangat muncul dari dalam tubuhnya.
Awalnya hanya seperti aliran udara panas.
Namun dalam beberapa detik, sensasinya semakin kuat.
Dari dada, rasa hangat itu menyebar ke bahu, kedua lengan, punggung, lalu turun hingga ke kaki.
Adrian mengepalkan tangannya.
Otot-ototnya terasa menegang.
Napasnya menjadi lebih dalam.
[Peningkatan fisik sedang berlangsung.]
[Mohon tetap tenang.]
Adrian menarik napas perlahan.
“Aku tenang.”
Meski sebenarnya jantungnya berdetak jauh lebih cepat.
Beberapa detik kemudian, rasa panas itu perlahan menghilang.
Adrian membuka dan menutup telapak tangannya.
Tidak ada perubahan yang terlihat.
Namun tubuhnya terasa berbeda.
Lebih ringan.
Lebih kuat.
Dan yang paling aneh...
Dia merasa seolah-olah seluruh tubuhnya baru saja mendapatkan energi baru.
Adrian menatap layar sistem.
“Jadi ini efek hadiah tadi?”
[Peningkatan fisik berhasil.]
[Kemampuan telah terintegrasi.]
Adrian tersenyum.
Pesawat sudah menunggu di ujung lorong.
Dia memasukkan kedua tangan ke saku jaket.
“Baiklah.”
Adrian melangkah menuju pesawat.
“Kalau begitu, mari kita lihat sebenarnya pekerjaan seperti apa yang sudah menungguku.”
Di balik kaca besar bandara, pesawat perlahan bersiap untuk lepas landas.
Adrian tidak tahu apa yang akan terjadi setelah dia tiba di Darsen.
Namun satu hal sudah berubah.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tidak lagi berangkat mencari pekerjaan.
Dia berangkat menuju kehidupan yang sama sekali berbeda.