NovelToon NovelToon
RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh

RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:539.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bundew

"Aku siapa?"

Adalah satu kalimat yang dilontarkan Rumi Rajendra Attala saat pemuda itu bangun dari komanya.
Bertahun-tahun setelahnya, Rumi hidup sebagai pria lumpuh yang bergantung pada kursi roda di tengah sekumpulan orang asing yang mengaku sebagai keluarga.

Hingga akhirnya, seorang perawat baru bernama Vivian yang pernah menjadi bagian dari masa lalu Rumi hadir di kehidupan Rumi dan membuat pria itu seolah menemukan tujuan hidupnya.
Rumi jatuh cinta pada Vivian.

Sayangnya, saat Rumi hampir mengungkapkan perasaannya pada Vivian, sebuah masalah datang hingga membuat Vivian kabur dari kediaman Attala tanpa memberi penjelasan apapun pada Rumi.

Lalu rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Vivian yang masih berkaitan dengan masa lalu Rumi?

Dan masalah apa sebenarnya yang membuat Vivian kabur dari kediaman Attala?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TEMANI AKU!

"Tidurlah, By! Atau kau akan membuatku tersedot ke dalam mulutmu jika menguap sekali lagi!" Ujar Rumi pada Ruby entah untuk keberapa kali.

Sejak tadi Ruby memang terus menguap karena sepertinya wanita itu ngantuk berat. Rumi sudah berulang kali menyuruh Ruby untuk tidur dan berbaring di sofa saja, namun Ruby malah tak kunjung beranjak dari sisi Ethan.

Sepertinya wanita itu ingin tidur di samping Ethan juga,atau mungkin di atas bed perawatan sekalian bersama Ethan?

Lebay sekali!

"Bagaimana kalau Ethan bangun saat aku tidur?" Tanya Ruby yang kembali menguap.

Astaga! Keras kepala sekali wanita satu ini! Apa Rumi perlu menyeretnya agar ia mau pindah ke sofa?

"Nanti aku bangunkan kalau Ethan sudah bangun dan sadar," jawab Rumi tegas.

"Kau tidak pulang?" Tanya Ruby pada sang saudara kembar.

"Nanti saja setelah kau tidur. Keluarga Ethan tidak ada yang kesini?" Jawab Rumi yang malah bertanya keberadaan anggota keluarga Sanjaya.

"Dad Alvin kurang enak badan sejak semalam, jadi Mom Ghea membawanya pulang dan mungkin sekarang sedang merawatnya di rumah. Lalu Sasha ada kuliah sampai sore. Jadi mungkin nanti malam mereka baru kesini," terang Ruby pada Rumi. Wanita itu akhirnya berpindah ke sofa dan mau merebahkan tubuhnya. Tak berselang lama, mata Ruby sudah terorjqm dan saudara kembar Rumi itu sudah langsung terlelap.

Rumi hanya diam setelah Ruby tidur. Tatapan mata pria itu tak lepas dari tubuh Ethan yang sepertinya masih menikmqtk tidur nyenyaknya. Mendadak ada sebuah perasaan yang menggelitik di hati Rumi. Apa dulu Rumi juga seperti Ethan saat dirinya koma?

Ceklek!

Suara pintu kamar perawatan yang dibuka membuyarkan lamunan Rumi. Seorang gadis yang wajahnya mirip Aunty Ghea masuk ke dalam.kamar perawatan.

"Abang Rumi disini?" Sasha terlihat kaget dengan keberadaan Rumi di dalam kamar Ethan. Padahal kemarin dan kemarinnya lagi Rumi juga sudah datang. Hanya saja, Rumi memang hanya sebentar dan tidak bertemu Sasha.

"Ya, kebetulan tadi pulang kerja aku mampir ke sini. Bagaimana kondisi Uncle Alvin? Kata Ruby kemarin kurang enak badan," Rumi berbasa-basi pada Sasha.

"Sudah baikan. Hanya perlu istirahat saja, jadi belum bisa kesini. Mungkin besok pagi Mom baru ke sini. Jadi malam ini Sasha yang akan menemani Kak Ruby menjaga Abang Ethan," terang Sasha pada Rumi yang hanya manggut-manggut.

"Kak Ruby sudah lama yang tidur?" Gantian Sasha yang bertanya pada Rumi.

"Baru sekitar dua puluh menit. Dia terlihat kelelahan," jawab Rumi.

"Sasha akan mandi dulu kalau begitu. Tadi dari kampus langsung kesini soalnya dan belum sempat pulang ke rumah," ujar Sasha seraya membongkar tasnya.

"Kunci pintunya kalau begitu. Aku mau pulang sekarang," ujar Rumi seraya menjalankan kursi rodanya je arah pintu keluar.

"Mau Sasha antar ke lobi depan, Bang? Abang Rumi pulang naik apa?" Tanya Sasha khawatir.

"Sopir menunggu di bawah. Aku bisa ke bawah sendiri," jawab Rumi menolak tawaran Sasha.

"Baiklah kalau begitu. Hati-hati, Bang!" Ucap Sasha setelah mengantar Rumi sampai ke depan lift. Rumi hanya mengangguk samar bersama dengan pintu lift yang tertutup. Rumi berdecak berulang kali merasa sebal dengan kondisinya yang pasti akan membuat orang merasa iba saat melihatnya, lalu menawarkan bantuan seolah Rumi adalah pria cacat yang butuh dibantu dalam segala hal.

Menyebalkan!

Padahal Rumi tak selemah itu dan Rumi masih bisa kemana-mana sendiri meskipun dengan bantuan kursi roda sialan ini!

"Aku bisa sendiri!" Sentak Rumi galak saat supirnya hendak membantu dirinya berpindah ke dalam mobil. Meskipun harus bersusah payah dan nafasnya nyaris putus, Rumi tetap keras kepala dan berpindah sendiri ke dalam mobil. Padahal biasanya kalau ada Vivian, Rumi sangat malas melakukannya.

Lagipula, kenapa juga Rumi tadi malah menyuruh Vivian pulang duluan? Perawatnya itu juga tak peka. Disuruh pulang ya langsung pulang. Pasti sekarang sedang tidur nyenyak di kamarnya dan merasa merdeka karena tak ada yang menyuruh-nyuruh. Atau mungkin Vivian sedang menelepon pria yang tempo hari dipanggil Sayang oleh Vivian?

Ck!

Hati Rumi mendadak terasa panas memikirkannya.

Mobil sudah melaju meninggalkan rumah sakit dan Rumi hanya termenung menatap pada jendela samping mobil.

****

"Panggilkan Vivian dan suruh kesini cepat-"

"Kau sudah pulang, Rumi?"

Rumi belum selesai mmemberikan perintah pada supirnya, saat Vivian tiba-tiba sudah datang dan memotong kalimatnya. Rumi berdecak berulang kali.

"Kau belum mandi?" Tebak Rumi saat Vivian membantunya turun dari mobil. Setidaknya Rumi tak perlu ngos-ngosan, dan cengkeraman tangan Vivian terasa nyaman sekali.

"Kebetulan sudah," jawab Vivian seraya tertawa kecil.

"Lalu kenapa tak ganti baju?" Tanya Rumi menyelidik menunjuk ke arah seragam perawat yang dikenakan Vivian. Rumi sebetulnya sebal dengan seragam bodoh warna hijau toska itu dan Vivian malah selalu mengenakannya saat di rumah.

"Aku punya setengah lusin yang warna dan modelnya sama. Jadi-"

"Jadi jangan memakainya lagi karena aku benci baju itu!" Potong Rumi cepat dan galak.

"Lalu aku harus memakai apa?" Tanya Vivian bingung.

"Pakai saja bajumu yang lain. Baju rumahan. Gaun, terusan, tunik, seperti yang dikenakan oleh Ruby dan Kak Alsya!" Jawab Rumi panjang lebar.

"Maaf aku tak punya baju seperti itu," jawab Vivian cepat menolak perintah Rumi.

"Lalu yang tadi kau kenakan saat ke toko bersamaku. Itu apa?" Rumi sudah mendelik ke arah Vivian.

"Iya, itu cuma satu-satunya yang aku bawa. Selebihnya aku hanya membawa seragam perawat ini dan piyama yang aku pakai saat tidur," jelas Vivian seraya menggaruk leher belakangnya.

"Pakai piyama saja kalau begitu!" Jawab Rumi enteng.

"Apa?"

"Pakai piyama saja!" Ulang Rumi lebih keras.

"Apa kalimatku masih kurang jelas?" Lanjut Rumi masih dengan suara keras.

"Aku tak akan berkeliaran di rumah ini seharian dengan memakai piyama," Tukas Vivian menolak ide konyol Rumi.

"Siapa yang menyuruhmu berkeliaran di rumah? Bukankah seharian kau hanya berada di dalam kamarku, membantuku memeriksa laporan," Rumi masih pantang menyerah.

"Iya, tapi aku harus ke dapur untuk mengambilkan kau makanan, lalu mengambil beberapa keperluanmu di luar kamar," Vivian menguraikan beberapa alasan.

"Lepaskan saja seragammu itu sekarang atau aku perlu membantumu melepaskannya sekarang?" Ucap Rumi tegas yang langsung membuat Vivian membulatkan bola matanya dengan lucu. Tawa Rumi hampir meledak hanya karena melihat wajah Vivian yang seperti itu, namun sekuat tenaga Rumi menahannya.

"Nanti saja aku ganti bajunya." Vivian masih mencoba bernegosiasi.

"Kau mau mandi sekarang atau makan malam dulu?" Tanya Vivian selanjutnya memberikan penawaran pada Rumi.

"Mandi!" Jawab Rumi cepat.

"Air hangat!" Sambung Rumi lagi.

"Baiklah," Vivian mengangguk dan segera masuk ke dalam kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk Rumi.

"Vian!" Panggil Rumi lagi yang langsung membuat Vivian melongokkan kepalanya keluar dari pintu kamar mandi.

"Aku mau berendam," ucap Rumi menatap Vivian dengan aneh.

"Baiklah!" Jawab Vivian santai.

"Temani aku!" Sambung Rumi yang langsung membuat Vivian terkejut.

"Apa?"

"Temani aku berendam!" Ulang Rumi yang membuat Vivian ternganga sekarang.

Apa pria ini sudah gila?

.

.

.

Maaf kalo belum bisa balas komen. Sinyal disini undlap undlup dan aku nggak bisa lihat komen 😭😭

Terima kasih yang sudah mampir.

Jangan lupa like biar othornya bahagia.

1
Siti patma
Ya udah habis aza padahal suka liat mereka lagi bawel lucu
Siti patma
Keren Rumi bawel saat berdebat sama vian
Fi Fin
jangan2 arcie anak vivian sama rumi waktu ketenu di gunung mungkin terjadi hubungan badan vivian n rumi
Jessica
Luar biasa
Maria Magdalena Indarti
happy ending
Maria Magdalena Indarti
wow...... sdh SAH
Maria Magdalena Indarti
semoga Rumi bs ktm vivian & archie
Maria Magdalena Indarti
baru sadar Rumi??
Maria Magdalena Indarti
wah Rumi malah percaya
Maria Magdalena Indarti
Rumi manja sekali
Maria Magdalena Indarti
kapan Rumi ingat Vivian
Maria Magdalena Indarti
knp Rumi ketus & suka marah marah. stres krn lumpuh ya
Maria Magdalena Indarti
kasian bgt kisah kasih Rumi & Vivian. Tragis sedih nyesek
Sulaiman Efendy
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Sulaiman Efendy
SI NAKA, ANAK DEAN DN FELICHIA..
Sulaiman Efendy
HRSNYA DGN KONDISI RUMI SKRG YG LUMPUH & AMNESIA, VIAN BSA SDKIT BRPIKIR KNP RUMI GK TEPATI JANJINYA
Sulaiman Efendy
KNP BODOH SKALI SI VIAN
Sulaiman Efendy
BKN HABIS SAKIT, TPI MEM*KNYA HBIS DITUSUK ERICK ANJING
Sulaiman Efendy
PADAHAL DTGNYA MLM2. DN LGSUNG ENT*T MAID..
Sulaiman Efendy
PSTI SI ERICK TU LGI ENT*TIN MAID..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!