Dikejar tenggat waktu menikah oleh sang nenek, Sari Maheswara CEO kaya raya yang dingin dan perfeksionis. Mobilnya mogok di dekat pasar subuh. Namun, kesialan itu membawanya bertemu dengan Arka, seorang duda tampan penjual kue basah yang karismatik. Hanya dengan sebutir kue klepon buatan Arka, lidah dan hati Sari langsung meleleh.
Terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang, Sari dengan angkuh menyodorkan Black Card-nya untuk membeli seluruh dagangan, gerobak, sekaligus sang penjual! Bukannya tergiur, Arka yang berprinsip justru menolak mentah-mentah keangkuhan sang CEO.
Penolakan itu malah menyulut jiwa kompetitif Sari. Demi menaklukkan hati sang duda, Sari rela menanggalkan gengsinya: bangun jam 4 subuh, menerjang beceknya pasar dengan high heels, hingga berebut kue dengan emak-emak berdaster. Meski Arka berulang kali memintanya mundur karena perbedaan kasta dan status dudanya, Sari justru makin tertantang untuk membuktikan bahwa cinta sejatinya tidak bisa dibeli melainkan diperjuangkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Di dalam taksi yang melaju membelah jalanan ibu kota yang mulai padat oleh aktivitas pagi, Sari menyandarkan kepalanya di kaca jendela.
Pandangannya lurus menatap telapak tangan kanannya sendiri.
Ia perlahan merapatkan jemarinya, mencoba mengingat kembali tekstur kasar, hangat, dan kapalan dari jabat tangan Arka beberapa saat lalu.
Rasa nyeri yang berdenyut di pergelangan kaki kanannya seolah mulai terabaikan, tenggelam oleh gejolak batin yang berkecamuk hebat di dalam dadanya.
Sari mengembus napas panjang, menatap bayangan dirinya yang tampak berantakan di kaca mobil.
Jas desainer bernoda lumpur, tanpa sepatu, dan rambut yang tak lagi rapi. Ia mulai mempertanyakan kegilaannya sendiri.
Apakah aku sudah tidak waras? batinnya menjerit.
Aku, Sari Maheswara, akan menukar takhta tertinggi Maheswara Group, fasilitas mewah, dan tidur nyenyakku demi hidup di rumah bocor dan menjadi istri seorang penjual kue basah?
Namun, di tengah keraguan yang mulai mengikis keyakinannya, kilasan wajah tegas dan tatapan mata teduh Arka kembali terbayang dengan begitu jelas.
Pria itu adalah teka-teki pertama yang tidak bisa ia pecahkan dengan uang.
Di saat yang sama, bayangan wajah buram sang nenek dan kalimat ancaman semalam kembali berdengung, membayangi posisinya sebagai CEO yang telah ia bangun dengan darah dan air mata.
Sari perlahan mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas pangkuan.
Sifat perfeksionis dan jiwa petarungnya kembali mengambil alih kendali.
Bagi seorang Maheswara, sekali keputusan diambil, maka pantang untuk ditarik kembali.
Dua minggu ini bukan lagi sekadar pembuktian cinta, melainkan sebuah pertaruhan harga diri.
Tidak ada jalan mundur. Roda taksi terus berputar membawa sang CEO menuju rumah mewahnya, tempat di mana ia akan menanggalkan seluruh kemilaunya untuk melebur ke dalam pekatnya malam pasar subuh.
Sari sampai di rumahnya yang megah dan langsung memanggil Nanda, sekretaris pribadinya, ke ruang kerja.
Sari memberikan instruksi mutlak yang tak boleh dibantah.
Nanda harus mengambil alih operasional harian dan menyaring semua keputusan perusahaan selama dua minggu ke depan.
Nanda terbelalak, memegang berkas di tangannya dengan gemetar.
"Ibu yakin? Ibu mau melepas semua ini demi taruhan dengan penjual kue itu?"
Sari mengangguk mantap, sorot matanya dingin tak terbantahkan.
"Aku tidak sedang bertaruh, Nanda. Aku sedang mengamankan masa depanku. Rahasiakan ini dari Nenek dan seluruh dewan direksi. Jika ada satu saja kebocoran, posisimu taruhannya."
Setelah Nanda keluar dengan wajah pucat, Sari melangkah ke dalam walk-in closet-nya yang megah—lemari pakaian yang luasnya sebesar kamar kos.
Ia mengabaikan deretan gaun sutra, tas Hermes, dan setelan blazer seharga puluhan juta.
Dengan kikuk, jemari lentiknya mencari pakaian paling kasual yang ia miliki: beberapa kaus polos dan celana training yang hampir tidak pernah ia sentuh.
Saat ia sedang memasukkan pakaian-pakaian itu ke dalam koper, ponselnya di atas meja bergetar.
Sebuah pesan singkat dari nomor Neneknya masuk, menanyakan perkembangan calon suami yang dijanjikannya.
Sari menarik napas dalam, mematikan layar ponsel, lalu menutup kopernya dengan bunyi klik yang keras. Waktunya telah habis.
Langit sore Jakarta terasa gerah dan temaram oleh matahari senja.
Di sebuah pemukiman padat, sebuah sedan mewah Rolls-Royce berwarna hitam mengilap perlahan merayap masuk ke dalam gang yang kian menyempit.
Kehadiran mobil seharga miliaran rupiah itu seketika mengundang perhatian warga kampung.
Anak-anak kecil berlarian mengejar dari belakang sambil bersorak takjub, sementara para ibu yang sedang mengobrol di teras rumah menatap dengan mata membelalak.
Mobil itu akhirnya berhenti tepat di depan halaman rumah kontrakan Arka yang kusam.
Sopir pribadi Sari turun dengan cekatan, berjalan ke belakang untuk membukakan pintu penumpang sekaligus menurunkan koper mahal milik sang CEO.
Sari melangkah keluar. Kali ini ia memakai kaus polos putih dan celana panjang longgar, dengan sepatu flat shoes rajut yang ramah untuk pergelangan kakinya yang masih dibalut perban.
Meski pakaiannya jauh lebih sederhana, aura kepemimpinan dan keanggunan seorang Maheswara tetap memancar kuat, sangat kontras dengan latar belakang pagar bambu di depannya.
Setelah memastikan kopernya aman, Sari memberi isyarat kepada sopirnya untuk pergi.
Sang sopir membungkuk hormat, lalu perlahan melajukan kembali mobil besar itu, meninggalkan Sari sendirian berdiri di mulut gang sempit yang senyap.
Krieeek...
Pintu bambu kontrakan terbuka. Arka berdiri di ambang pintu, masih mengenakan kaus oblong dan celemek kainnya yang ternoda sisa-sisa tepung.
Tatapan tajamnya langsung tertuju pada koper mahal bermerek di atas tanah, lalu beralih pada sisa kepulan asap dari knalpot Rolls-Royce yang baru saja melaju pergi.
Bukannya takjub atau sungkan melihat kemewahan tersebut, rahang Arka justru kembali mengencan.
Sebuah senyum sinis yang tipis terukir di sudut bibirnya.
Di mata Arka, kedatangan Sari dengan armada mewahnya barusan dinilai sebagai bentuk "pamer kekuasaan" gaya baru, sebuah intimidasi halus yang sengaja dibawa untuk menyindir dunianya yang miskin.
Arka melangkah maju beberapa tindak, sengaja berdiri tepat di tengah pintu untuk menghalangi jalan masuk.
Ia menatap Sari dengan mata yang sedingin es, siap memberikan sambutan pertama yang akan menguji mental sang CEO di detik pertama tantangan ini dimulai.
"Aku kira kamu akan mundur," desis Arka, suaranya baritonnya terdengar berat membelah keheningan sore.
Sari menegakkan bahunya, membalas tatapan intimidasi itu dengan binar mata yang berkilat penuh tantangan.
"Tidak ada kata mundur dalam kamus hidup seorang Sari Maheswara."
Arka terdiam sesaat, menakar kesungguhan di wajah cantik wanita di depannya.
Akhirnya, ia menggeser tubuhnya sedikit memberi jalan, lalu melirik jam tangan kainnya yang murah.
"Masuklah. Taruh kopermu," ucap Arka datar.
"Istirahatlah dulu. Nanti jam tujuh malam, kamu harus ikut aku ke pasar induk untuk belanja bahan-bahan kue."
Sementara itu, di sebuah rumah bergaya minimalis yang terletak tak jauh dari kawasan pasar, suasana terasa sunyi dan mencekam.
Niken duduk sendirian di tepi ranjang kamar utamanya.
Dengan tangan gemetar, ia membuka isi dompet kulitnya.
Tidak ada satu pun lembaran merah yang tersisa di sana, hanya ada beberapa struk belanjaan lama dan kartu identitasnya.
Niken mengembuskan napas frustrasi, lalu melempar dompet itu ke atas meja rias dengan kasar.
Wajahnya yang dilapisi riasan tebal tampak kusut dan kuyu.
Rasa lapar mulai melilit perutnya, namun ia tidak punya keberanian sedikit pun untuk melangkah keluar kamar, apalagi untuk meminta uang kepada Baron—si juragan ayam kaya raya yang dulu dipujanya.
Pernikahan yang ia bayangkan akan bergelimang kemewahan dan pembantu yang siap melayani, ternyata menjadi bumerang yang mengurung kebebasannya.
Baron memang kaya, namun pria itu sangat pelit dan temperamental.
Sialnya lagi, Baron hanya bersedia menikahinya secara siri.
Di mata hukum, Niken tidak memiliki hak apa pun atas harta kekayaan sang juragan ayam.
Setiap kali Niken meminta uang belanja lebih, Baron tidak ragu untuk membentaknya, bahkan mengancam akan mendepaknya begitu saja dari rumah tanpa membawa sepeser uang pun.
Kini, posisinya di rumah mewah itu tak lebih dari sekadar pajangan yang terkunci di dalam sangkar emas yang menyesakkan.
Kenangan saat ia masih menjadi istri Arka mendadak melintas di benaknya.
Dulu, meski hidup dalam rumah kontrakan kecil berpagar bambu, Arka tidak pernah sekalipun membiarkan perutnya kelaparan.
Arka selalu memperlakukannya penuh hormat, memberikan seluruh hasil keringatnya dari berjualan kue tanpa pernah menuntut apa-apa.
Niken meremas rambutnya sendiri, membiarkan air mata penyesalan perlahan merusak riasan matanya.
"Ah, kenapa aku bodoh sekali..." gumam Niken meratapi nasibnya dengan suara serak.
Ia telah menukar ketulusan dan kehormatan seorang pria berkarisma seperti Arka demi tumpukan harta semu milik pria lain, yang kini justru menginjak-injak harga dirinya setiap hari.
klo mas duda menolak cinta sih 1000 : 1...
di dunia kita laki2 tu ibarat kucing garong...ikan asin bejejer j di cuntan makinya awewe bungas ✌️✌️✌️🤎